TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
ANGGARA


__ADS_3

karena pratinjau sangat lama jadi saya buat episode di bab ini, Kalau itu lolos pasti dobel jadi harap maklum bila mengulang 124-125


Anggara geram, ia segera meraih kunci motor di atas meja pos. "Aku pulang, ada kucing garong di rumahku!" Ia bergegas menuju pulang.


 


 


"Mau ke mana orang itu?" tanya Revando saat melihat Anggara terburu-buru mengendarai motornya.


 


 


"Urusan penting," jawab Irwan. Tanpa mau membeberkan aib Adi dan Anggara.


 


 


Em," gumam Revando.


 


 


Anggara menyumpah-nyumpah dalam hati. Ia ingin sekali membunuh Adi. Bagaimana tidak, di saat dirinya sedang ingin berbaikan dengan Shabita, malah Adi masuk ke urusan pribadinya.


 


 


Shabita tertawa gelak saat Adi menceritakan hal yang lucu padanya. Ia tidak sadar bahwa Anggara kini tengah mendorong motor agar tidak diketahui oleh mereka tentang keberadaannya. Ia ingin menangkap basah Adi dan istrinya itu.


 


 


"Lihat saja. Akan kubunuh dia!" Anggara berjalan pelan. Ia membuka pintu yang sengaja tidak dikunci Shabita.


 


 


"Hihi ... kamu bisa aja. Geli, ah!" Suara Shabita terdengar dari arah dapur.


 


 


"Apanya yang geli?" Suara Adi menyahuti.


 


 


"Apa itu pakai geli-geli segala?!" Anggara segera berjalan menuju dapur.


 


 


Terlihat Shabita sedang mencuci piring sendirian. Ia heran, ke mana Adi. Orang yang tengah berbicara dengannya tadi.


 


 


Anggara berbalik, ia mencari Adi sebelum diketahui oleh Shabita keberadaannya. Ia membuka kamar Dara. Bayi itu tengah terlelap.


 


 


"Ah, kamu. Anggara mana tahu kalau kita berdua ..."


 


 


"Kalau dia marah, kita kawin lari aja, yuk!"


 


 


Ia mendengar suara mereka dari arah dapur. Anggara segera berjalan ke dapur. Tak mau ia sampai kehilangan Adi lagi. "Di mana orang itu?" tanya Anggara. Otomatis suaranya mengagetkan Shabita. Hingga gadis itu tersentak.


 


 


"Kamu pulang? Kupikir tadi jam sepuluh," katanya seraya mendekati Anggara.


 


 


"Hah! Nggak usah pura-pura. Mana Adi?"


 


 


"Adi?" Shabita berkerut dahi.


 


 


"Tidak ada. Dia sudah pulang."


 


 


"Jangan bohong. Aku dengar suaranya tadi!" bentak Anggara.


 


 


"Cari saja kalau tidak percaya!" tantang Shabita.

__ADS_1


 


 


Anggara diam, ia tidak ingin membahas. Awas saja kalian! Anggara mengganti pakaiannya. Ia tidak menegur Shabita. Pemuda itu membelakanginya. Ia terheran mendengar dan merasakan pergerakan gadis itu. "Mau ke mana dia?" gumamnya. Ia mengikuti Shabita berjalan ke teras rumah sambil menerima telepon.


 


 


"Gimana, Anggara marah?"


 


 


"Iya, kayaknya dia tahu hubungan kita," jawab Shabita sambil melirik Anggara yang bersembunyi di balik pintu.


 


 


"Biarin aja. Kalau tahu lebih baik, kita bisa menikah." Shabita sengaja mengeraskan suara teleponnya.


 


 


"Asam! Mereka bukan lagi main belakang, tapi sudah pengen main depan!" Anggara meremas daun pintu.


 


 


"Udah dulu ya, aku ngantuk. Pengen bobo," kata Shabita.


 


 


"Mimpiin aku, ya."


 


 


"Pasti!" jawab Shabita.


 


 


"Bagus, ya? Sekarang sudah bisa selingkuh. Belajar dari mana, tuh!" sindir Anggara saat Shabita melewatinya.


 


 


"Apaan, sih? Nggak jelas!" Shabita melewatinya hendak menuju ke kamar. Namun tubuhnya diraih Anggara.


 


 


 


 


"Suka-suka aku, dong. Kamu aja nggak peduli, sibuk sama kerjaan dan pelakor di sebelah," ungkit Shabita.


 


 


"Aku nggak gitu!" bantah Anggara. "Aku tetap fokus ke kamu!"


 


 


"Ngegas terus, ni orang. Makan cabe?" sindir Shabita.


 


 


"Bukan! Makan hati!" Anggara berteriak. Ia menangis lantaran kesal dengan Shabita.


 


 


"Hem," jawab Shabita. Ia meninggalkan Anggara di ruang tamu. "Aku mau tidur mempung Dara sudah tidur," kata Shabita.


 


 


"Enggak boleh tidur!" larang Anggara.


 


 


"Kenapa?" tanya Shabita ia tetap berbaring walau masih dilarang. Ponsel Shabita di atas meja kembali berdering. Ia hendak meraih, tetapi segera diraih Anggara. "Eh, balikin!" Ia coba meraih kembali ponselnya. Anggara memegang tangannya sehingga Shabita tidak bisa meraihnya.


 


 


"Apa ini?!" Anggara marah saat membaca 'nanti kita bikin adek buat Dara' ia segera memandang Shabita. "Kamu mau buat apa sama dia?"


 


 


"Nggak ada," jawab Shabita enteng.


 


 


"Bikin ade Dara katanya! Kalian mau sejauh ini?"

__ADS_1


 


 


"Eh, masa dia nulis gitu?" Shabita tidak percaya. Adi gila, orang ini keterlaluan bercandanya! "Aku nggak ada maksud begitu ke dia. Kami memang ada hubungan, tapi tidak sampai ke sana!" ralatnya.


 


 


"Apa kurangku sampai kamu mau sama kunyuk pelit, bau dan gila itu?"


 


 


"Dia perhatian sedang kamu nggak," jawab Shabita pelan sambil mengalihkan pandangannya ke samping.


 


 


"Perhatian yang kayak apa lagi?" tanya Anggara. Ia tidak habis pikir dengan gadis itu. Semua sudah dikorbankanya, termasuk nyawanya. Sedangkan dia malah berkata Anggara kurang perhatian padanya.


 


 


Wajah Shabita memerah, ia bingung harus menjawab apa.


 


 


"Apa karena aku nggak pernah nyentuh kamu?" Akhirnya Anggara mampu berucap demikian.


 


 


Shabita memandang Anggara. Ternyata benar kata Adi, Anggara harus dipancing agar mampu mengutarakan isi hatinya. Sebab pemuda itu selama ini malu untuk meminta haknya pada Shabita. Akhirnya Shabita mengangguk, ia membenarkan pertanyaan Anggara.


 


 


"Maaf," kata Anggara sambil mengusap kepala Shabita. "Bukannya aku tidak ada nafsu, tapi aku ..." Masa bilang malu, sih!


 


 


"Malu," sambung Shabita sambil tersenyum. "Adi bilang kamu sering cerita," beber Shabita.


 


 


"Tu, anak!" Akhirnya ia sadar kalau Adi dan Shabita mengerjai dirinya.


 


 


"Nggak usah dipaksa, Anggara. Kalau malu bilang, aku cuma mau tahu saja isi hatimu tidak ke cewek lain."


 


 


Anggara tidak menjawab, ia mencium Shabita dengan mesra. "Boleh, ya?" tanyanya. Shabita hanya mengangguk.


 


 


Adi datang dengan bersiul, ia menghentikan langkahnya saat memandang Anggara yang tersenyum-senyum sendiri. "Wah, kayaknya mendung ini hari, tapi kok, ada yang lagi cerah ini hari?" sindirnya.


 


 


"Aku malam tadi ... hihihi!" Ia tertawa malu sambil menaruh kepalanya di meja.


 


 


"Hem, kayaknya adeknya Dara bakal lahir," sindir Adi. "Boleh, tidak aku ikut tamam saham," oloknya.


 


 


Seketika Anggara melepas sepatunya kemudian melempar Adi. "Asam!" umpatnya. Namun, sepatu malah mengenai Revando. "Gawat!"


 


"Anggara, Pak!" tuding Adi cepat.


 


"Wah, ini penghinaan. Kalau mau lempar, sepatu baru, dong." Tono menimpali.


 


"Berdiri kamu Anggara! Tuh, di bawah tiang bendera!" perintahnya.


 


Anggara terpaksa keluar. Ia sempat memandang Adi yang sedang mengejeknya. "Awas!" gumamnya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2