TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
132


__ADS_3

Karena saya bukan orang yang terlalu ngerti agama, jadi saya tidak jelasin itu secara rinci cara usir setan. Maaf kalau bab ini kurang berkenan.


Zakaria sedang berada di rumah Anggara. Ia memandangi rumah itu dengan teliti. Anggara berdiri di belakangnya. Dua pemuda memiliki pakaian sama, yaitu koko putih itu ibarat saudara beda wajah.


"Rumahmu jelek, ya," goda Zakaria.


"Kayak kamu ada rumah saja!" omel Zakaria.


Zakaria tidak menanggapi, ia sibuk melihat-lihat rumah Anggara. "Ada Al-Qur'an? Kita ngaji, yuk!" ajaknya. "Oh, ya. Jangan lupa panggil beberapa orang datang ke sini."


Anggara segera menuju keluar. Zakaria mengatur sofa agar berada di pinggir ruang. Ia ingin orang-orang duduk di lantai saja. Tidak lama Anggara datang mengajak beberapa orang bersama Pak RT.


"Bisa minta tolong pada kalian, kita mengaji di rumah ini?" tanya Zakaria.


"Boleh," jawab Pak RT. "Tunggu saya ambil Al-Qur'an di rumah saya dulu."


"Kami juga pulang, mau ambil!"


"Emangnya nggak ada gitu cara kayak tim pemburu hantu?" bisik Anggara.


"Ada yang mudah kenapa dibuat repot? Lu kebanyakan nonton film bohongan kayak gitu."


Tidak lama mereka telah duduk dan mulai mengaji. Zakaria yang memimpin pengajiannya.


***


"Percuma kita bersihkan rumah kalau ternyata setannya kita sendiri. Percuma kita melakukan pembersihan bila ternyata kita tidak giat melakukan perbaikan. Dia akan datang lagi dan lagi." Itu pesan Zakaria yang masih diingat Anggara saat ia sedang menuju kamar istrinya.


Dara itu anak Toni, otomatis dia juga punya sifat jahat. Anggara tidak dapat tidur. Ia terus memikirkan Dara. Shabita terjaga dari tidurnya. Ia memandang Anggara yang kini mengusap sayang kepala Dara.


"Jam berapa tibanya?" Shabita memandang jam dinding.


"Baru pulang."


"Kamu kayaknya lemas, kenapa?"


"Capek, tadi kami pengajian. Aku diceramahi Zakaria dari A hingga Z. Kuat betul mulut anak itu. Mungkin tu anak mulutnya dilatih pencak silat biar jago cingcong!"


"Ngawur!" ledek Shabita. "Udah makan?"


"Belum, sih. Lagi pengen puasa biar tambah ganteng."


Gila orang ini! "Serius, aku tadi masak ayam rica kesukaan tetangga," goda Shabita.

__ADS_1


"Bukannya masak buat aku, kamu malah masak buat tetanggamu!"


"Lah, puasa, kan?"


"Nggak jadi!"


"Ya, sudah. Aku nggak mau bikin dosa dengan membuat orang batal. Ini aku tinggal tidur dulu. Mempung lagi mimpiin cowok di sebelah tadi," katanya seraya memejamkan mata. "Moga aja ada sambungannya," lanjutnya.


"Emangnya film berseri?!" Anggara turun dari tempat tidur. Ia menuju ke dapur. "Mana ricanya? Katanya tadi masak itu?" Ia mencari-cari di panci, penggorengan hingga lemari penyimpanan bumbu. "Ah, dibohongi aku ini!" Ia kemudian membuka kulkas. Bermaksud akan meminum sebotol susu. "Rezeki!" Ia segera mengambil semangkuk rica kegemarannya.


Shabita terbangun saat Dara mengigau. Ia kemudian mengusap lembut kepala anak itu. "Kamu dari mana?" tanya Shabita saat Anggara kembali.


"Makan," jawab Anggara.


"Kenapa nggak bilang. Nanti aku siapkan."


"Udah, oh, ya ricanya enak lo."


"Eh, kau makan rica di kulkas itu?" Shabita nampak cemas.


"Iya, emangnya kenapa?"


"Itu punya om! Dia sengaja simpan di situ untuk sarapan pagi. Dia belum makan bahkan."


"Rakus, sebanyak itu habis."


"Ah, gampang. Bilang saja dimakan tikus."


"Mana ada tikus masuk kulkas."


***


Esok harinya saat Anggara akan berangkat kerja. Ia sempat mendengar paman dan tantenya ribut membahas rica yang hilang di kulkas.


"Itu ulahmu," singgung Shabita.


"Sussst, aku pergi dulu." Anggara segera pergi dengan motornya.


"Aneh, ke mana perginya rica itu. Perasaan tadi ... oo, Anggara pasti. Nggak mungkin Shabita. Saya tahu sifatnya sama dengan omnya. Gilanya pun sama!" Karina segera berbalik saat tadi ia hendak ke ruang tamu.


"Kenapa, Mam? Udah dapat ricanya?" tanya Zulfikar.


"Aku yakin Anggara malingnya. Siapa lagi yang suka makan itu di rumah ini."

__ADS_1


"Ah, masa?"


"Itukan ponakanmu. Gilanya juga nurun dari kamu!"


"Asam! Ngena betul hinaannya."


"Sudah, ah. Nanti aku masak yang banyak biar kalian berdua makan sampai meletus perutnya."


***


Adi sedang menangis, uang setoran motornya kurang bulan ini. Anggara datang seraya memandang ke wajah Adi yang mendung bergerimis.


"Lah, kan uang buat nikah ada. Pinjam dulu itu. Lagian kamu nggak tahu kapan nikahnya. Mungkin bujang lapuk!" kata Tono seraya mengipas kertas ke wajahnya. "Ah, panas banget. Padahal masih pagi."


"Enak aja kalau ngomong. Itu kalau dipakai bisa habis. Belum tentu aku bisa ganti."


"Milih memertahankan uang tabungan daripada bayar motor?" sindir Tono. "Alamat jalan kaki kamu kerjanya."


"Ah, ada nggak ya kerja sampingan? Aku pengen tambah-tambah ini?" gumam Adi.


"Jualan pulsa aja. Nanti aku utang, bayarnya kiamat!" sahut Ridwan.


"Punya teman gila itu susah!" omel Adi.


Adi memandang Anggara. "Pak, pinjam uang, dong. Gajian saya bayar!"


"Udah gini kamu baru ingat kalau aku ini atasanmu. Kemarin-kemarin kamu seenaknya. Enggak, aku nggak ada uang lebih buat minjamin kamu!"


"Pelit!" decitnya.


Di rumah Shabita membantu Karina memasak sedangkan Dara bermain di atas meja.


"Tante, masak banyak ada acara?"


"Buat om sama Anggara."


"Sebanyak ini?"


"Tante tahu kemarin yang makan itu siapa."


Shabita hanya diam ia tertawa dalam hati. Ternyata tantenya tahu tanpa harus diberitahu.


"Dara jangan turun!" tegur Shabita saat Dara akan turun dari meja.

__ADS_1


Dara tersenyum saat memandang hantu perempuan duduk di depannya sedang memainkan boneka kesayangannya. Shabita sama sekali tidak curiga, dipikirnya Dara sedang berbicara dengan boneka.


__ADS_2