
Masih ingatkah kalian dengan dukun beranak yang berhasil digagalkan oleh Shabita dalam aksinya hendak memangsa bayi yang sedang dibidaninya di penginapan Shabita waktu itu. Tepat di tengah lapangan luas sedang
mengadakan upacara menghidupkannya kembali. Ritual itu tepat diadakan pada malam hari saat bintang-bintang bersinar bertebaran di langit. Sebuah altar terbaring tubuh tidak bernyawa yang tidak lain dan tidak
bukan adalah dukun beranak yang menjadi kisah kita kali ini. Seorang dukun lelaki berusia enam puluh tahun dengan pakaian adat khas Dayak pedalaman sedang berdiri di depan jenazahnya. Membaca mantra dan
meneteskan sebuah minyak bersinar yang terdapat di dalam botol kecil seukuran jempol kaki ke bagian tubuhnya yang terluka parah. Ia juga membuka mulutnya dan meneteskan minyak itu ke dalam mulut si mayat.
Kratak! Kratak! Secara ajaib luka itu menutup dengan sendirinya dan tulang-tulang yang patah menjadi utuh seperti semula. Tubuhnya tidak lagi pucat, tetapi malah sekarang tampak segar seperti orang yang sedang tertidur.
"Ibu saya sudah kembali!" seru seorang gadis berbaju merah dengan rambut dicepol ke atas dengan kegirangan.
"Khasiat minyak Bintang ini sangat luar biasa, Anakku. Bila dia sudah sadar, tolong jangan menceritakan hal buruk padanya, anggap saja dia hanya bermimpi. Ingat! Dendam itu tidak menyelesaikan masalah," nasehat Dukun itu seraya menepuk bahu gadis itu.
"Iya, Kek," jawab gadis itu. Aku gak akan melepaskan orang yang membuat ibu begini. Akan kubuat ibu membalas perbuatannya!
"Ingat pesan saya baik-baik, Cu. Jangan sekali-kali itu dilanggar, karena sangat berbahaya bagi dirinya dan orang lain. Tuhan itu maha melihat dan tahu apa yang kita pikirkan, tidak ada kejahatan yang akan kekal selama kebaikan itu masih ada," nasehatnya lagi.
Aku tidak peduli! Selama dendam ini belum terbalaskan, aku tidak bisa tenang! Niat jahat gadis itu. Samma tersenyum licik sambil memandang sang Ibu yang sedang terbaring dan nampak tertidur pulas dalam rawatan kakeknya.
****
Di kantor mereka sedang memerhatikan Shabita yang sedang memakai perban di kepalanya. Akibat kejadian waktu itu, kepalanya terpaksa diperban karena terlalu parah, beruntung ia masih sadar dan tidak mengalami cedera otak apa pun. Dengan percaya dirinya ia memasuki kantor tanpa peduli dengan tatapan mereka dan pertanyaan mereka mengenai kepalanya. Semua itu hanya dibalas dengan senyuman dan mengatakan bahwa ia tidak apa-apa dengan keadaannya sekarang.
Chang datang dan terkejut bahwa Shabita telah masuk kerja hari ini. "Van, kok udah masuk kerja?" tanyanya heran saat melihat perban yang dililit di dahinya.
__ADS_1
"Nggak enak nganggur melulu. Saya bosan jadi pengangguran di rumah," jawabnya sembari membuka berkas di meja kerjanya.
"Kok gitu?" Chang mendekati gadis itu dan memerhatikan wajah Shabita. "Sebenarnya ini kepala kenapa?" tanyanya seraya menunjuk dahi gadis itu.
"Saya mainannya keterlaluan, makanya begini," jawab gadis itu seenaknya sendiri.
Chang tertawa mendengar ucapan Shabita barusan dan tanpa sadar ia menepuk dahi Shabita yang sakit itu. "Eh! Maaf!" Chang segera sadar akan kecerobohannya dan segera mengusap luka Shabita seraya meniupi untuk
mengurangi rasa sakitnya.
"Hah!" Shabita menyingkirkan Chang agar menjauh darinya. Ia menyisir poni panjangnya naik ke atas dengan jemari, kemudian menggerutu tidak jelas.
Chang tahu kalau Shabita sekarang sedang mengomelinya, tetapi gadis itu mengomelnya pelan sekali sehingga ia hanya samar-samar saja mendengar suaranya. Saat ia mencoba menghampiri Shabita lagi, gadis itu sudah
mengangkat tasnya tinggi-tinggi untuk melempar Chang. Pemuda itu mundur dan lebih memilih ke tempatnya daripada dilempar tas oleh Shabita.
Duduk manis, bibirnya mencibir, "Sadis!" ejek Chang pelan seraya membuka program komputernya. "Eh! Kok aku malah buka Google terus nulis kata 'sadis' di sini?!" kata Chang yang kaget karena tidak sadar akan perbuatannya.
"Jari tidak tahu diri! Main ketik tanpa disuruh. Ini juga komputernya ikut-ikutan gila!" makinya seraya menampar pelan layar komputer.
Shabita tertawa diam-diam mendengar Chang mengomeli komputer dan tangannya sendiri. Gadis itu tidak habis pikir dengan tingkah atasannya yang terlalu berlebihan dalam bersikap. Shabita baru diam saat Chang tidak sengaja melihatnya sedang tertawa. Sinting.
Di tempat lain, Anggara sedang makan bersama rekan-rekannya di kantor. Mereka memesan jasa antar makanan online untuk makan siang. Menurut hemat Ali sebagai rekannya yang paling kritis dan pelit dalam hal keuangan, memesan online itu lebih menguntungkan daripada ke warteg karena di warteg kita akan lapar mata dan lapar perut, alias ingin segala-galanya tidak terkecuali sama si Wati anak penjual nasi uduk langganan mereka.
"Angga, kamu udah ngelamar Shabita belum?" tanya Irwan dengan mulut penuh nasi. Ada yang menyembur hingga Anggara sempat menampar mulut Irwan dengan sendok.
"Gak tau, kayaknya bakal ditolak kalau aku ngelamar lagi," jawab Anggara seraya menyuap nasinya. Tidak peduli Irwan telah mendongkol karena perbuatan usil Anggara. Pemuda itu hanya melotot.
"Udah sedekat itu?" tanya Tono.
"Ditolak?" Ali menyambung pertanyaan Tono tadi.
"Em ... nggak tau deh." Anggara menaikkan bahunya pertanda tidak mengerti dengan hubungannya dengan Shabita.
"Makan! Makan! Tidak usah mengobrol," tegur Komisaris Arya.
Mereka saling senggol karena tidak enak kalau sedang makan ada atasan mereka di sebelahnya, apalagi mereka saat ini makan di teras kantor polisi, bukan di dalam kantor. Duduknya pun di lantai depan.
__ADS_1
"Kau ya, yang undang dia makan di sini?" Ali mencurigai Tono.
"Mana mungkin. Dia datang sendiri tanpa diundang," elak Tono seraya membalas bisikan Ali.
Tono dan Ali sama-sama melempar tatapan curiga pada Irwan yang sedang asyik makan. Irwan sadar dipandangi oleh dua orang itu yang memberi isyarat mata mengarah pada Komisaris Arya. Irwan langsung menggeleng dan
matanya tertuju pada Anggara yang sedang makan.
"Bukan aku, dia datang sendiri!" kata Anggara dengan nada kesal karena dicurigai begitu.
"Makan! Makan!" perintah Atasan mereka.
Mereka terpaksa makan tanpa bicara lagi. Mereka sangat tidak suka dengan atasan yang satu ini, beliau selalu memerintah seperti itu. Berkata "Makan! Makan!" atau "Kerja! Kerja!" atau "Jijik! Jijik!" Pokoknya bikin jengkel orang. Atasan mereka juga cerewet dan senang ikut campur setiap kegiatan mereka. Mana bisa mereka senang-senang kalau sudah begini.
Jangan lupa like ya, rate juga... semoga banyak rezeki deh yang dukung novel ini. Apalagi sampai vote... bahagia sekali
hehehe.... Edisi ngemis elegan. WKWKWK....
__ADS_1