
Shabita meraba dirinya yang telah terbebas dari belenggu sinar perak yang membawanya ke tempat yang asing baginya. Sebuah kamar mewah yang mempasilitasi semua kebutuhan tamu. Ia memandangi semua itu dengan terheran. Di mana ini? Saat tangannya hendak menyentuh ganggang pintu, saat itu pula ia tersengat. Ia mencoba kembali, dan hasilnya sama, ia tersengat lagi.
"Kamu sudah sadar?" tanya Pemuda itu. Ia memiliki baju kemeja hitam longgar dan berwajah sangat tampan.
Shabita berbalik melihatnya. "Siapa kamu?" tanyanya heran. Tidak sama sekali terpengaruh oleh ketampanan pemuda itu.
"Bagaimana kabar Anggara?" Ia balik bertanya.
"Aku bertanya kenapa kamu balas bertanya?" Shabita tidak senang.
"Yang boleh bertanya hanyalah aku. Kamu tidak boleh bertanya."
"Sial!" umpat gadis itu.
"Bagaimana kabar pemuda itu, apa kamu sudah ingat atau masih dirasuki?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Apa hubunganmu dengan dia?!"
"Tidak boleh bertanya!" tegas pemuda itu.
"Gerr!" Shabita mulai panas hati. Ia memanjangkan kukunya.
Pemuda itu tersenyum melirik kuku panjang gadis itu. "Masih rupanya," gumamnya.
Shabita segera memasukkan kembali kukunya ke dalam daging. Sebaiknya aku pura-pura sadar saja, biar dia melepaskanku. "Dia baik-baik saja," jawab Shabita.
"Bukannya kamu nyaris memakannya?" singgung pemuda itu sambil menghampirinya.
"Apakah itu benar?! Aku tidak tahu!" Wati dalam diri Shabita berpura-pura kaget dan cemas. "Biarkan aku melihat keadaannya!" Mencoba lari dengan alasan itu.
"Masa, tidak tahu. Bukannya kamu masih sadar?" sindirnya.
"Apa maksudmu?" tanya Shabita.
"Apa kamu lapar?" tanya pemuda itu.
"Tidak," jawab Shabita.
"Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, kok." Pemuda itu menunjuk meja di ujung sana.
Darah dan daging segar! Sial dia mau menjebakku! "Aku kamu suruh makan itu? Tidak, aku masih waras untuk makan-makanan begitu," tolaknya cepat seraya berpaling.
"Ya, sudah. Dibuang saja!" kata pemuda itu sambil mengambil makanan dan membuangnya ke jendela.
Shabita melotot, ia sangat lapar. Pemuda itu tersenyum padanya setelah membuang makanan, ia pun terpaksa tersenyum walau di dalam hati menyumpahi sikap pemuda itu. Pemuda itu kembali pada posisinya semula yaitu menghadap Shabita.
"Cuma Anggara yang kutahu bisa menyadarkanmu. Jadi aku masih belum yakin kalau kamu sepenuhnya sadar?" gumam pemuda itu sambil memerhatikan wajah Shabita begitu dekat.
Shabita membalas tatapan pemuda itu dengan dahi berkerut. "Siapamu Anggara itu?"
__ADS_1
"Kakakku, lebih tepatnya kakak tiri," jawab pemuda itu sambil menjauh.
Shabita terkejut mendengar itu dari pemuda di depannya. Ia mundur dan takut sekali dengan orang di depannya. Bagaimana bisa Anggara memiliki adik sesakti ini?
"Bingung?" tanya pemuda itu. Shabita mengangguk. "Ibu Anggara menikah dengan ayahku saat ayah masih menjadi dukun. Setelah tua ia memberikan semua kesaktiannya padaku, jadi kesimpulannya adalah Anggara bukan kebetulan berani denganmu, tapi memang tidak takut lagi lantaran pernah melihat ayahku mengatasi roh jahat. Itulah sebabnya dia tidak peduli kalau kamu adalah Kuyang."
Pantas saja dia tahu tentang Anggara, sial! Aku terjebak di antara kakak beradik ini.
"Kamu pikir aku tidak tahu tentangmu, tidak peduli dengan gadis pilihan kakakku! Kamu salah karena dia selalu bercerita padaku tentang Shabita yaitu yang kamu pakai ini." Pemuda itu menunjuk dada Shabita. "Kamu semakin parah, dia memanjakan kamu sehingga menolak tawaranku untuk membantunya."
Shabita melirik pemuda itu yang mengitarinya, ia was-was kalau pemuda itu akan membalas dirinya karena telah menyakiti kakaknya.
"Kamu memang cantik, pantas kakak lebih memilih hidup bersama denganmu walau harus sengsara." Pemuda itu berhenti di depan Shabita. "Aku terus memerhatikanmu dan terus terang menyesal kenapa kakak yang bertemu denganmu lebih dulu," ucapnya lirih.
Jangan-jangan dia suka padaku?! Ini bahaya! "Apa kamu tega menikung kakakmu sendiri?" tanyanya untuk memastikan dugaannya.
"Boleh juga idemu," jawab pemuda itu sambil tersenyum.
Gawat! Dia bisa membuangku dari tubuh ini kalau sampai dia bersama dengan gadis ini! "Aku cuma bercanda, tolong jangan dijadikan ide pertanyaanku," ralat Shabita.
"Lagipula aku tidak mau menikah dengan orang yang dirasuki, ah. Tunggu Anggara menyadarkanmu dulu, baru ..." Pemuda itu menggantung kata-katanya.
Wati dalam diri Shabita berdebar, ia berpikir yang bukan-bukan tentang pemuda di depannya. "Apa?" tanyanya tidak sabaran.
"Aku akan membunuhmu!" bisik pemuda itu dalam ancaman. "Tidak akan kubiarkan kamu kembali ke tubuh ini lagi." Ia menjauh dan tersenyum manis.
Shabita ingin memakan pemuda itu, namun ia tidak berani lantaran mengingat kesaktian yang nyaris membuatnya tidak mampu berkutik sama sekali.
"Asam! Apa tadi katanya, aku benalu?" Shabita tersinggung. Shabita mencoba mencari cara untuk lepas dari sana, ia pun belum ingin pergi dari tubuh ini. Masih banyak dendam yang harus dibalasnya terutama pada ratu Krasue.
***
Talia meminta pelayannya untuk memerbaiki dinding rumah yang runtuh akibat pertarungan kemarin. Ia tidak sengaja melihat Anggara lewat di antara mereka yang sedang sibuk bekerja.
"Anggara," panggil Shabita.
"Ada apa?" tanyanya sambil menghampiri Talia.
"Aku perlu bicara." Talia memintanya mengikuti. Setelah sepi Talia berbalik. "Apa hubunganmu dengan ibu tiriku?" tanya Talia dengan dahi berkerut.
"Tidak ada," jawab Anggara.
"Kenapa waktu itu ibuku bilang kamu kekasihnya?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, mengenalnya juga baru sewaktu kamu memintaku membawanya lari."
"Benarkah?" Talia sangsi dengan jawaban pemuda itu.
"Aku serius, tidak mengenal Rani."
"Rani?" tanya Talia. Ia asing dengan nama itu.
"Iya, nama ibumu Rani, kan? Dia bilang namanya Rani waktu itu." Anggara berkerut dahi karena melihat Talia kebingungan.
Apa itu nama lainnya atau apa? Kenapa dia menyebut dirinya Rani, sedangkan ayah memanggilnya Shabita?
"Apa ada yang salah?" tanya Anggara.
"Tidak, kembalilah membantu di sana." Talia tidak ingin memerpanjang lagi.
"Di mana kamu, Ran?" gumam Anggara. Ia kembali lagi membantu mereka.
"Siapa sebenarnya ibuku itu?" tanya Talia di kamarnya saat Sariani sedang berdiri di depan jendela kamar.
"Cuma gadis biasa, kenapa?"
"Apa hubungannya dengan Anggara?" tanya Talia penasaran.
Aku tidak bisa memberitahunya, aku tidak tahu kepada siapa dia akan berpihak nanti. "Tidak ada, hanya saja Anggara dekat dengannya sewaktu di pelarian."
"Kenapa kamu bilang cuma Anggara yang bisa menyadarkannya?" tanya Talia.
"Bukannya waktu itu kamu tidak percaya?" sindir Sariani.
"Oh, ayolah! Dijawab saja kenapa sulit sekali?!"
"Mereka memiliki ikatan batin yang cukup kuat, itulah sebabnya kenapa kubilang begiitu."
"Kenapa begitu?!" tuntut Talia penasaran.
Sariani tidak menjawab, ia lenyap begitu saja. Membuat Talia kesal setengah mati dengan roh itu.
__ADS_1