TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
KAK DARA MENYERAMKAN


__ADS_3

Beruntung hujan mereda. Bagus segera mengantar Dara pulang. "Ngapain?" tanya Dara saat Bagus hendak masuk ke rumahnya.


"Entar kemagriban. Aku numpang sini dulu."


"Oh, oke." Ia memersilahkan pemuda itu masuk. "Ma-Pa!"


"Kamar mandimu di mana?"


"Ikut aku!" Ia segera menunjukkan jalan. "Eh, Papa?" Ia heran saat hendak melintasi pintu. Ada Anggara di sana.


"Papa lagi bersihin kamarmu."


"Gus, kamar mandi di ujung sana."


"Ada, Bagus?" Anggara segera keluar.


"Om," sapa Bagus. Ia segera menuju kamar mandi.


"Kenapa kamar, Dara, Pa?"


"Ada darah," jawabnya pelan.


"Perasaan Dara udah beresin sebelum berangkat, Pa?"


"Nggak tahu, nih. Papa merasa ada yang aneh saja. Darah itu dari dapur ke sini."


Dara berkerut dahi. Ia terkejut saat ada Bagus. "Kamu ngagetin aja!" Ia memukul lengan Bagus.


"Om, numpang Magrib di sini, ya?"


"Kamu alimnya pas ada saya atau di rumah saja?" sindir Anggara.


"Eh, Papa, kok, ngomong gitu?"


"Cuma mau tahu saja. Tabiat dia emang baik atau kayak anak lelaki lain."


"Om, juga anak lelaki dulunya. Sok, alim juga?"


"Eh, kok, kalian pada berbalas sindir, sih?" Dara gondok dengan kelakuan mereka.


"Enggak papa, cuma mau tahu saja, apa papamu itu sama dengan aku."


"Sudah, ah! Kalian ini seperti anak kecil saja!" Dara menarik Bagus ke ruang tamu. "Kamu duduk di sini dulu. Nanti kalau kamarku beres. Kamu salat di sana aja."


Bagus diam saja. Ia bersandar sembari meraih remote TV. "Filmnya kok, gini?"


"Apaan, sih?" Dara yang sedari bermain ponsel menjadi penasaran.


"Oh, itu. Nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini filmnya tentang Kuntilanak dan Kuyang. Nggak adalagi film."


"Aneh."


"Apanya yang aneh?"


"Di rumahku filmnya beragam. Saluran televisinya juga sama. Wah, aku curiga ini disabotase sama mereka si do K!"


"Eh, apa, dua K?"


"Kuyang Kuntilanak."


"Ah, ngaco!" Dara melempar bantal sofa ke wajah Bagus. Disambut Bagus kemudian dipangkunya.


"Papa, sudah beresin kamarmu." Anggara melirik Bagus ketika memandang Dara.


"Iya, Pa." Dara kemudian beralih pada Bagus. "Yuk, ke kamar!"


"Eh, ngapain orang ini masuk ke kamarmu?" cegahnya saat Dara hendak meninggalkan ruang tamu.


"Biasa, Om. Nggak tahu aja, sih."


"Wah, kebangetan anak ini. Nggak bisa!"


"Dia mau salat, Pa."


"O, salat." Anggara kemudian menarik Bagus.


"Apa, Om?"


"Kamu punya mimpi jadi calon mantuku, nggak?"


"Eh, nggak ada, Om. Cuma te-"


"Nggak boleh teman."


"Lah?"


"Mumpung kamu di sini. Jadi imam, ya?"

__ADS_1


"Aduh, saya mana bisa, Om. Grogi."


"Dara, besok nggak usah berteman sama dia."


"Kenapa, Pa?"


"Dia nggak cocok denganmu."


Dara menggaruk kepala. Ia bingung dan bertanya pada Bagus lewat pandangan.


"Om, bukannya nggak mau. Saya masih belajar. Saya masih menghafal doa."


Anggara melirik Bagus. "Sana, katanya mau salat!"


"Nggak jadi, deh, Om. Saya di masjid atau Langgar dekat sini saja." Bagus nampak tersinggung. Ia pergi begitu saja.


"Papa, kok, gitu?"


"Biar saja." Anggara kemudian pergi juga.


"Kok, jadi begini?" Dara mendengar suara motor Bagus. Ia berlari ke luar. "Papa!" Dara marah.


"Apa?" Anggara meraih botol minum di kulkas.


"Kok, Papa, begitu? Teman Dara cuma dia, Pa. Kalau dia marah, Dara nggak punya teman lagi. Cuma dia yang paham sama Dara, Pa. Cuma Bagus yang tahu kondisi Dara."


Anggara terdiam. Ia menunduk. "Kamu yakin dia tidak sedang mendekatimu hanya untuk sesuatu?"


"Yakin."


"Apa kalian pacaran?"


"Kami hanya berteman."


"Perasaanmu?"


"Tidak lebih dari itu."


"Dara, yang harus kamu tahu. Tidak mudah bagimu untuk mendapatkan lelaki pengertian. Jika Bagus hanya menganggap kamu teman maka lupakan, tetapi bila Bagus menganggapmu lebih, maka pertahankan."


"Jadi Dara, tidak boleh berteman?"


"Boleh, tapi sampai seakrab itu jangan. Papa, cuma nggak mau kamu sakit hati."


"Kalian ngomongin apa, sih?" tanya Shabita.


"Itu di ruang tamu."


"Memangnya kenapa dia?" tanya Dara.


"Nggak papa. Oh, ya, tadi kenapa?"


"Ini, Ma. Papa larang Dara berteman sama Bagus."


"Kok, gitu? Bagus, ada salah apa?"


"Nggak ada." Anggara menyimpan kembali botol minum.


"Terus?" tanya Shabita.


"Kuliah dulu yang benar." Ia segera pergi.


"Mama!" rengek Dara.


"Kan, bisa diam-diam," bisik Shabita.


Dara tersenyum manis. "Mama, nggak larang?"


"Ah, biasa aja. Dulu papamu juga berteman sama mama. Awalnya berteman akhirnya kalian ada."


"Ih, mama. Gimana pertemuan kalian, cerita, dong."


"Nanti saja. Oh, ya, mama ke kamar dulu. Kamu tidur sama mama atau sendiri?"


"Sen--"


"Kak Dara!" Lani berlari merangkul Dara. "Lani, takut! Tidur sama Kakak, ya?"


Dara bingung. Tidak mungkin Lani tidur di kamarnya yang sering membuatnya kadang merinding sendiri. "Kakak, tidur di kamar Lani saja, ya?"


"Sesekali tidur di kamar Kakak."


"Nanti, ya. Kakak, mau tidur di kamar Lani."


"Oke, lah." Lani kemudian memandang Shabita. "Lani, tidur sama Kakak."


"Iya, terserah."

__ADS_1


Anggara merapikan kamar. Ia melirik Shabita yang langsung mengunci pintu. "Kok, dikunci, Lani tidak tidur di sini?"


"Sama Dara, katanya."


"Asyik!" Anggara melompat ke kasur. "Kukira akan tidur di sofa."


"Kayak anak kecil aja."


"Biarin."


"Kamu kenapa, sih, melarang Bagus?"


Anggara yang sedang berenang di kasur kini berhenti. "Mereka cuma teman."


"La, kenapa kalau cuma teman?"


"Aku cuma mau menguji mereka saja. Kalau Bagus serius pasti nggak akan nyerah."


"Kayak kamu dulu?"


"Hem."


"Terus kalau dia ternyata marah dan nggak mau dekat lagi?"


"Cari lagi."


"Dasar!" Shabita melempar Anggara dengan bantal.


Lani kegirangan saat Dara berbaring di kasurnya. "Kakak, sudah lama Lani ingin tidur berdua."


"Ya."


"Kak, Lani boleh tahu rahasia cantik, Kakak?"


"Lani, juga cantik, kok. Lani, kan mirip kakak."


"Tapi, orang melihat Kakak."


Mereka yang saat ini mengenakan piyama putih berbaring sembari menatap lampu.


"Kak, terus terang aku suka sama Bagus."


"Oh. Kenapa tidak bilang?"


"Itu, kan punya Kakak?"


"Sudah tahu punyaku, kenapa kamu suka?"


"Nggak tahu. Oh, ya, ini kenapa?" Ia memiringkan tubuh menyingkap kerah baju Dara tanpa permisi.


"Eh!" Dara segera mengancingkan baju.


"Kakak, kok, ditutup, Lani belum lihat?"


"Kamu jangan gitu. Ini bukan apa-apa!" Ia kemudian membelakangi Dara.


"Aku, salah, ya?" Dara garuk kepala. Ia kemudian berbalik membelakangi Dara.


Malam makin larut. Lani terjaga. Ia menggaruk kepala sembari menguap. Lani menyingkap selimut. "Kakak, Lani mau pipis!" Ia coba bangunkan Dara. Namun, terbelalak saat melihat Dara tanpa kepala. "Aaaaaaa!" Lani segera berdiri. Ia melompat melangkahi Dara. "Papa-Mama!" Lani menggedor pintu kamar orang tuanya.


"Lani ... Lani!" Dara terlihat meringsut dengan hanya mengandalkan isi perutnya sehingga darah mengotori lantai kramik.


"Papa!" Lani makin panik. Bagaimana tidak, bila Dara makin cepat menuju ke arahnya.


"Kenapa, sih, kok, ribut tengah malam?" tanya Shabita.


"Itu ... tadi, Lani lihat Kak Dara!" Ia terdiam saat melihat Dara tidak adalagi.


"Mana?" tanya Shabita.


"Kak Dara nggak ada badannya!"


"Ah, sembarangan saja."


"Kalau Mama, nggak percaya. Sini, ikut Lani!"


"Mana?" Shabita tertarik oleh Lani untuk segera ke kamar.


"Itu dia--eh!" Ia terkejut saat melihat Dara masih utuh. Bahkan tidur dengan damai.


"Nih, kebanyakan nonton film. Jadi gini otakmu. Sudah, ah, Mama mau tidur lagi. Besok pagi sekali harus berangkat ke tempat tante kalian."


Lani menggaruk kepala. Ia merasa tadi itu memang nyata. Lani memeriksa Dara. "Kak, bangun."


"Ah, Lani, kamu ini. Kakak, mau tidur!" Dara terlihat kesal dan menarik selimut sehingga menutupi kepalanya.


"Fiuh! Ternyata cuma khayalanku saja." Ia segera berbaring kembali. "Kak, Lani tadi salah pa---aaaa!" Kembali ia berteriak saat melihat banyak darah di selimut bagian penutup kepala Dara. Lani segera tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2