TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
91


__ADS_3

Mereka telah sampai di kampung nelayan. Anggara mengajak Shabita untuk menyusuri pantai yang banyak terdapat para pencari ikan di laut.


"Masih jauhkah?" tanya Shabita. Ia telah kembali seperti semula.


"Sebentar lagi," jawab Anggara.


Shabita memandangi lautan, ia kemudian memandang ke daratan sambil menghirup udara di sana.


Sariani tiba-tiba hadir di sebelahnya. Ia memandang lurus ke depan sana. Apa yang dipikirkannya? Sariani memikirkan pesan Sean.


Di tempat lain Sean memikirkannya pula. "Ngomong apa tadi aku sama dia?" Ia memukul mulutnya sendiri. "Gimana caraku bertemu dia lagi? Ehg! Mulut ...!" Ia duduk di sofa dengan gelisah. Ia kemudian tertawa sendiri.


"Sar, kenapa kamu melamun?" tanya Shabita pelan sambil bergandengan tangan dengan Anggara.


"Aku benci dengan seseorang. Ingin mukul rasanya!" jawab Sariani dengan nada kesal.


"Apa kata temanmu?" tanya Anggara. Ia tahu dengan siapa Shabita berbicara, walau ia sendiri tidak mampu melihat Sariani.


"Enggak tahu. Dia bilang ingin mukul seseorang. Dari yang kutahu orang yang membuatnya kesal selain Toni, Talia, pasti Sean," bisik Shabita.


"Sudah diam saja. Terus terang aku ngeri dengan temanmu itu. Dia galak," bisik Anggara.


"Bicara kalian sepertinya menjurus pada mengejekku," sindir Sariani.


"Di mana lagi arahnya?" Shabita mengalihkan sindiran Sariani pada Anggara.


"Dekat, tinggal berbelok ke daratan sana," jawab Anggara.


"Dari tadi selalu itu jawabnya. Bilang saja kita sudah tersesat dari tadi," sindir Sariani. Hari ini ia hanya ingin marah dan marah saja.


"Di situ!" tunjuk Anggara sambil menarik Shabita menuju sebuah rumah sederhana berhias pohon kelapa di setiap sisi rumah. "Rumah itu tidak dihuni selama beberapa tahun. Mungkin sangat kotor."


Mereka berjalan ke rumah bambu yang dituju Anggara. Rumah yang sering dibangun para nelayan di dekat pantai. Anggara membuka pintu, tiba-tiba asap debu menerpa wajah mereka. Shabita menutup wajahnya sembari mengebas telapak tangan untuk menjauhkan debu dari dirinya. Anggara memandang kain putih penutup kursi dan lemari, ia menyingkap mereka.


"Uhuk! Uhuk!" Anggara terbatuk lantaran debu yang berterbangan dari kain yang disingkapnya tadi.


"Ekstra bersih-bersih, nih." Shabita memandang Anggara dengan isyarat lain.


Anggara mendesah. "Aku lagi!"


"Hahaha ...." Shabita tertawa.


Anggara menghela napas kemudian merangkul Shabita. "Dia tidak ada, kan?" bisik Anggara.


Sariani berdecih kesal. Ia harus pergi agar tidak mengganggu kemesraan mereka berdua. Akhirnya ia lenyap.


Sean sedang memandang Sariani yang memandangnya dengan wajah kesal. Sariani diam saja saat pemuda itu memintanya untuk duduk di dekatnya.


"Kenapa kamu bilang gitu di telepon?" tanya Sariani.

__ADS_1


"Yang mana, ya?" Tiba-tiba ia amnesia.


Dasar sinting manusia satu ini. Ingin kuhajar rasanya orang ini! Sariani duduk di sebelah Sean. Ia masih menatap Sean yang mengalihkan pandangannya ke bawah. "Aku sudah datang menuruti janjiku. Namun, aku nggak janji akan mundur untuk menghadapi Toni."


"Kenapa tidak menurut, Sar? Apa kamu tidak takut dengannya?" tanya Sean lemah.


"Tidak ada yang kutakuti."


Sean memandang Sariani, ia memperhatikan wajah roh itu. Tidak ada kesan ragu saat melontarkan niatnya barusan. "Kamu tidak bisa merasuki Vanesa saat dia sedang sekarat. Maksudku ketika ia sedang dalam keadaan menunggu kelahiran."


Sariani berkerut dahi, ia memandang Sean. "Lalu bagaimana caraku melawan Toni?"


"Tidak ada cara," jawab Sean.


Sariani mendesah kecewa. "Aku mesti apa sekarang?" gumamnya. Sariani bersandar dan melipat kedua tangannya.


"Istiratlah. Untuk masalah itu biar Tuhan yang menentukan. Yang jelas aku akan membantu mereka dari jauh," janji Sean.


"Oke, aku pamit."


"Eh, mau ke mana?" cegah Sean.


"Istirahat."


"Tapi jangan ngilang, dong. Kamu tidur saja di kamar bekas Anggara dan Vanesa bermalam kemarin."


"Huh!" Sariani menghembuskan napasnya. Ia kemudian berdiri. "Aku akan ke sana," pamitnya.


"Orang gila!" hina Sariani sambil berlalu.


Sean hanya tertawa tanpa suara sambil bersandar pada sofa. Sariani mendongkol. Sebuah dress selewat lutut berwarna hijau daun, berlengan sesiku, tersedia di atas kasur saat ia akan berbaring.


__________________________________


Pakai baju ini . Aku bosan melihatmu memakai pakaian norak itu. Tertanda Sean.


___________________________________


"Norak katanya!" Sariani meremas surat dari Sean. Ia kemudian memandang dirinya. "Dasar gila!" Ia kesal. Memang sudah puluhan tahun tidak pernah ganti dan ini adalah baju yang memang umum dipakai oleh roh sejenis dirinya.


Shabita tertawa saat memandang Anggara yang bersin-bersin karena membersihkan ruangan tersebut. Anggara berkali-kali berdecih kesal karena menjadi tertawaan Shabita.


"Aku ingin masak, tapi di sini tidak ada apa-apa," keluh Shabita saat mendengar suara perut Anggara.


"Tunggu di sini," pesan pemuda ini sambil berjalan ke luar.


Shabita hanya memandangnya kemudian menggantikan tugas Anggara membersihkan debu di kamar mereka. Tidak lama Anggara datang dengan membawa ikan.


"Beli?" tanya Shabita. Tidak mungkin pemuda itu bisa mendapatkan ikan secepat ini.

__ADS_1


"Menombak!" jawabnya.


"Bisa?" tanyanya ragu.


"Menombak pakai receh," jawab Anggara. Otomatis jawaban itu membuat Shabita melemparkan kain penutup barang tadi ke arah Anggara.


"Dasar," ejek Shabita. Namun, ia pun tertawa karenanya.


"Kita bakar saja di depan rumah," kata Anggara.


Shabita hanya diam. Ia memperhatikan Anggara yang sedang menyiapkan pembakaran ikan. Sementara dirinya hanya di dalam membersihkan debu.


Malam telah tiba. Anggara dan Shabita memakan ikan yang dimasak mereka di depan rumah.


"Van, apa kamu menyesal ikut denganku di sini? Di sana kamu hidup mewah sedangkan di sini cuma bisa makan beginian?"


"Makanya kalau miskin jangan sok," ejek Shabita sambil menggigit ikan bakar.


"Eh, beraninya." Anggara menyentuh arang kemudian disentuhkan ke wajah Shabita.


Shabita merengut, ia melakukan hal yang sama seperti Anggara. "Rasakan!"


Anggara meraup arang ia ingin membalas Shabita. Namun, gadis itu segera berlari sambil tertawa.


Sariani mengenakan baju Sean. Awalnya ia risih, tetapi mau bagaimana lagi. Ia ingin sekali mengenakan baju indah itu. Saat pemuda itu berjalan menghampiri kamar. Sariani segera bersembunyi, tidak ingin penampilannya diketahui Sean. Langkah Sean menjauh, ia bernapas lega sambil mengurut dada.


"Bajunya bagus, ya?" goda Sean.


Sariani tersentak, ia segera berbalik memandang marah pemuda itu. "Cuma sekadar nyoba. Ini, mau dicopot!" bantahnya.


"Ngapain dicopot, pakai saja," kata Sean.


"Bajunya jelek. Masih bagus bajuku tadi," kata Sariani sambil meraih bajunya di atas kasur. Sean melenyapkannya. "Mana dia?!" bentaknya.


"Oh, yang mana, ya? Yang kain putih mirip lap kaki itu, ya?" sindir Sean.


"Asam! Itu bajuku dari dulu, ayo kembalikan!" Ia coba menyentuh Sean, tetapi tembus dan hanya dapat menyentuh udara. Ia lupa keterbatasannya. Namun, ia tersentak kaget saat Sean ternyata mampu menyentuhnya.


"Semua yang ada di sini bisa kamu pegang karena kesaktianku, termasuk aku kalau kamu mau, tapi bukan disakiti juga, kali. Disayang," godanya.


"Kepalamu perlu dibenturkan ke tembok biar waras sedikit." Sariani menjauh. "Aku lebih pantas jadi nenekmu, tahu!"


"Baik, Nek. Tidak papa," goda Sean sambil meraih pinggang Sariani.


"Lepas!" Sariani meronta. Ia mencoba melenyapkan diri, tetapi tidak bisa. Ia coba memukul Sean, tetapi malah hanya menembusnya. "Sean, plis. Lepas!" mohonnya.


"Eh, khilaf!" kata Sean sambil melepaskan Sariani. Ia keluar kamar dengan bersiul.


"Asam betul dia!" Sariani menghentakkan kaki. Ia geregetan lantaran Sean berhasil membuatnya tidak berdaya.

__ADS_1


  


__ADS_2