TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
RAHASIA KELUARGA BAGUS


__ADS_3

Anggara kembali menghubungi Bagus. "Kenapa tidak diangkat juga?" Ia mencoba menghubungi kembali.


"Bagus, papa aku ini. Aku harus bagaimana?" Dara panik. Ia tidak ada pakaian untuk berganti.


Bagus meraih ponsel yang diberikan Dara. "Tunggu sebentar, Om, saya segera ke sana bersama Dara!"


"Cepat keluar atau saya masuk!"


"Iya, Om!" Bagus segera menaruh ponsel di atas kasur kemudian mencari kemeja untuk Dara, karena hanya bagian baju saja yang ternoda. "Ganti!" Dara meraih kemeja ungu. Ia hendak berganti, tetapi malu ada Bagus. "Aku tidak bisa keluar. Ada orang tuaku. Kamu ganti saja, anggap aku tidak ada."


"Tidak ada apanya, jelas-jelas kamu hidup!"


"Nih, aku balik badan. Sana ganti!" omel Bagus.


"Awas, mengintip!" Ia kemudian segera mengganti pakaiannya.


"Sudah belum?"


"Bentar, ini baju kapan, kok sempit?" Ia berusaha mengancingkan bagian dada.


"Badanmu kegemukan!"


"Asam!"


"Cepatlah. Itu ada jaketku digantung di depanmu. Pakai itu untuk tutupi baju kekecilanmu!"


Dara kemudian meraih jaket merah. Ia segera mengenakan. "Kamu ada bungkus, aku ingin membawa pulang ini?"


"Itu biar aku yang cuci. Kamu cepat!" Ia segera membuka pintu dan memandangi sekitar. Dirasa aman Bagus segera menarik Dara. "Papamu udah di hadapan."


Dara dan Bagus berlari kecil menuju pintu utama. Namun, mereka terhenti saat melihat ayah Bagus. Dara segera bersembunyi di belakang Bagus.


"Kamu kenapa berani keluar-masuk kamar dengan gadis itu, siapa dia?"


"Dia teman, Pa."


"Teman hingga masuk ke kamar?"


"Om, kami ini hanya te-"


"Diam!"


"Papa, Bagus, tidak macam-macam sama dia."


"Diam! Papa menyesal kamu tinggal di rumah ini. Harusnya kamu ikut kami saja ke kota."


"Bagus, juga tidak minta kalian menemani. Bagus, ingin sendiri!"


"Kamu-" Ia hendak mengecam Bagus, tetapi langkah ibunya mendekat. "Cepat pergi!" Ia mendorong Bagus dan Dara keluar.


"Pa, lihat anting mama, tidak? Hilang sebelah."


"Tidak. Mungkin jatuh. Papa bantu cari, deh."

__ADS_1


"Papamu kenapa berubah sikap pada kita saat mendengar langkah kaki?"


"Sebaiknya tidak usah tahu. Itu papamu!" Ia menunjuk Anggara dengan mulutnya.


"Kalian lama sekali, ngapain di dalam?"


"Tidak ada, Pa."


"Kenapa bau amis?" Anggara mengendus leher dan rambut Dara dari jarak sejengkal. "Kamu apain anak saya?"


"Tidak ada, Om. Tanya sendiri sama anaknya."


"Benar dia ini baik? Dilihat terus, mukanya makin ngeselin sekali?"


"Papa, jangan gitu, ah! Dara baik-baik saja."


Anggara memandang Dara sembari memberi isyarat agar Dara naik motor. "Kalau terjadi sesuatu kamu saya nikahkan sama dia. Awas, kabur!"


"Iya, Om."


"Papa, Dara nggak mau, ah!" protesnya.


"Pegangan! Papa, ngebut!" Anggara tidak ingin mengubris protes Dara.


Fine mengendus bau darah saat meraba lantai untuk mencari antingnya. Ia lantas berdiri kemudian membuka pintu kamar Bagus. Melihat pakaian Dara tergeletak di sudut lemari. Ia segera memungutnya. "Dara!" Sangat antusias hingga matanya berbinar. "Hum, darah!"


"Mama!" Bagus terkejut. Ia segera merampas baju Dara.


"Eh, Mama lagi cari anting yang hilang satu. Kamu lihat anting mama?" Matanya berubah normal kembali.


"Kenapa baju itu kotor, Gus? Sini, Mama cucikan!"


"Biar, Bagus sendiri saja, Mam!" Ia mundur.


"Sekalian mama mau nyuci." Ia tersenyum manis, tetapi tak dapat menipu mata Bagus karena mata Fine yang seperti sedang melihat makanan.


"Jangan, Mam." Bagus segera melempar baju ke belakang. Ia kemudian mendorong perlahan Fine hingga di pintu.


"Tapi--" Pintu telah ditutup kembali. "Tapi, bau darah itu membuatku lapar."


Bagus kebingungan. Ia mencari sesuatu di meja. Sebuah parfum. "Mungkin tidak akan ada pengaruhnya bila mama melihat baju itu. Paling tidak baunya dapat disamarkan." Ia lantas menyemprotkan baju itu dengan parfum.


***


Shabita memandang Dara yang baru pulang bersama Anggara. Ia tampak tidak senang.


"Kenapa baru pulang, kan ini sudah mau jam 5?"


"Tadi ada urusan," bela Anggara.


"Oh, bukan lagi jalan-jalan?"


Dara yang terdiam tak berani membela diri. Ia tahu Shabita tidak suka padanya setelah ada Lani.

__ADS_1


"Dara, masuk!" pinta Anggara. Dara masuk kamar. Ia duduk terpaku di sisi ranjang. Anggara menghampiri Shabita yang sedang mengganti saluran televisi. "Kamu kenapa selalu begitu padanya?"


"Aku merasa ada yang kalian sembunyikan."


"Apa dia akan marah bila anaknya memiliki ilmu bapaknya? Aku hanya takut dia akan sedih saat mendengar itu," batinnya. Anggara duduk bersandar sembari merangkul lengan kiri Shabita. "Apa pun yang terjadi nanti. Apa kamu akan memilih Dara dan aku?"


"Kenapa dari dulu pertanyaanmu itu dan itu terus?"


"Aku cuma dapat firasat akan jauh darimu, Van. Bukan aku yang mau."


Shabita berkerut dahi. Ia memandang Anggara. "Kamu nggak cinta lagi sama aku?"


"Sangat cinta."


"Kenapa bilang begitu?"


"Sikap kalian yang buat aku begitu. Kamu dan Dara yang akan membuat aku menjauh."


Lani berhenti saat hendak meraih sesuatu dari dapur. Ia tidak jadi kemudian memutuskan untuk bersembunyi di sekat ruang tengah. "Kenapa dengan Kak Dara, kenapa papa dan mama harus bertengkar lagi?"


"Jujur saja denganku Ang, apa maumu?"


Dara yang mendengar pertengkaran itu segera meraih pakaian. Ia memasukkan ke dalam ransel. Gadis ini segera keluar dari kamar.


"Kakak, mau ke mana?" cegah Lani.


"Mau pergi saja. Buat mengurangi beban hidup mereka. Aku udah nggak tahan lagi!"


"Dara, mau ke mana kamu!" cegah Shabita.


"Dara cuma beban. Nggak bisa mengurangi beban kalian. Dara, tahu dari dulu Dara bukan anak Papa. Makanya mama cemburu. Daripada itu mending Dara pergi!"


Anggara tidak mencegah, ia diam saja. Shabita terdiam. Ia tahu telah berlaku tidak adil. Hanya karena selama ini dihantui oleh mimpi buruk. Ia tega mencurigai anak kandungnya sendiri. Terus terang ia trauma dengan Dara. Gadis kecil itu dulu pernah hendak melukai Anggara.


"Dara, pergi!" Dara segera membuka pintu.


"Tunggu!" Shabita segera merangkul Dara. "Maafin, Mama, ya, Nak. Mama terlalu kejam!"


"Nggak, kok, Ma. Dara, paham." Dara melepaskan Shabita. "Dara, tidak bisa terus membuat mama marahan sama papa. Dara, mungkin sudah harus mandiri."


"Tapi-"


"Kenapa dilarang? Biarkan saja dia pergi. Jadi gelandangan atau yang lain juga tidak masalah," sindir Anggara.


Shabita panik. Ia segera meraih Dara. "Jangan! Aku nggak bisa biarkan dia tanpa kita di luar sana!"


Anggara memejamkan mata sembari bersandar. "Sayangi dia, Ma!"


"Aku sayangi. Mulai sekarang aku sayang!" Shabita berlinang air mata.


Dara terdiam. Ia menerima dirangkul Shabita. "Mama, jangan marah lagi, ya? Dara, janji tidak akan pergi."


"Iya-iya! Mama nggak akan marah lagi."

__ADS_1


Lani hanya diam di tempat persembunyiannya.


__ADS_2