TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
25 DIINCAR


__ADS_3

Malam telah larut, namun Shabita belum juga bisa pulang dari kantornya dikarenakan ada rapat mendadak yang diajukan oleh Pramuda. Gadis itu awalnya heran kenapa mereka menyetujui rapat pada malam hari yang biasanya diadakan pada siang hari, tetapi yang namanya bawahan ia tidak mampu menolak. Dari tadi ia selalu melirik ponselnya, Shabita mengamati detik jam di pergelangan tangannya. Rasanya terasa lambat sekali, padahal baru jam 9 malam.


Chang menguap, pemuda itu beberapa kali menyenggol kaki Shabita dengan kakinya. Kebetulan gadis itu selalu duduk di sebelahnya. Akhirnya mereka bermain kaki untuk menghilangkan ngantuk berat yang sudah melanda.


"Pak, kapan selesainya ini? Saya sudah tidak tahan. Pantat saya panas kalau begini?" bisik Shabita.


"Jangan tanya saya. Saya juga penat nih," keluh Chang.


"Kalau begitu karena sudah larut kita akhiri saja sampai di sini pembicaraan kita. Sekian dan terima kasih," kata Winda seraya berdiri dan diikuti oleh kedua orang yang selalu bersamanya.


Mereka saling bersalaman dan Chang serta Shabita mengantarkan tamunya lebih dulu sampai ke depan teras kantor. Setelah mereka pergi Chang menghirup udara dan membuangnya sepuas-puasnya.


"Baru ini saya ketemu orang macam mereka. Rapat tidak kira-kira," keluh Chang.


"Lain tempat lain pula ikannya. Mungkin mereka ikan, Pak," canda Shabita.


"Hahaha... pribahasamu itu lucu. Orang kok disamakan ikan."


"Pak, permisi kami pulang dulu," pamit para OB yang masih berada di sana.


Chang mengangguk dan memandang kepulangan mereka semua. Kini tinggal ia dan Shabita yang masih tersisa. "Malam begini tidak ada taksi. Kebetulan saya ini punya mobil," kata Chang pelan. Ia berharap didengar Shabita.


"Dadah, Bapak. Saya cabut dulu!" seru Shabita dari dalam taksi yang sudah berjalan keluar.


"Woy! Taksi kurang ajar! Kenapa kamu narik di sini?!" Chang berteriak marah sambil menuding-nuding taksi yang sudah menghilang dari pandangannya. "Gagal rencanaku mengantar dia pulang," omelnya.


"Pak, sama saya saja dong," desah sebuah suara di belakangnya.


"Wah, kalau gak Kuntilanak pasti Sudal Bolong," kata Chang. Pemuda itu memerkirakan siapa yang menyapanya di belakang.


"Kok tahu?" tanya suara itu.


"Gak, saya sukanya tempe bukan tahu," jawab Chang seraya berjalan cepat dan tidak membalikkan tubuhnya sama sekali. Ia segera melajukan mobilnya dan baru di jalan ia berteriak, "Setan!!"


"Manusia aneh, teriaknya, kok belakangan." Sariani mengikik geli melihat tingkah Chang. Memang Sariani yang tadi menggodanya dengan menyamar menjadi Kuntilanak.


****


SHABITA pulang dengan membuka pintu kamarnya perlahan sekali. Ia tidak mau membangunkan Anggara yang sedang tidur. Baru saja ia akan menaruh tas, di belakangnya sudah berdiri Anggara.

__ADS_1


"Kamu bikin aku kaget!" Shabita memukul pelan lengan Anggara.


"Kenapa kamu pulangnya larut?" tanya Anggara.


"Lembur, 'kan aku sudah kirim pesan tadi," jawab Shabita seraya menempelkan punggung telapak tangannya pada kening pemuda itu. "Mendingan daripada kemarin," gumamnya setelah dirasa tubuh Anggara tidak panas lagi.


Shabita masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara Anggara diam saja tidak melakukan apa pun.


"Kenapa tidak menonton televisi saja?" tanya Shabita saat ia sudah berganti baju.


Anggara menatap Shabita sejenak kemudian mengalihkan pandangannya pada kasur. Ia kembali tidur lagi tanpa menghiraukan gadis itu. Shabita merasa tidak enak diacuhkan begitu oleh Anggara. Ia segera menghampiri pemuda itu yang sedang berpura-pura tidur.


"Maaf, soal yang kemarin. Aku memang salah," mohonnya seraya mengguncang lengan Anggara.


Anggara menarik lengannya dari Shabita. Ia bergeser menjauh dan menutupi kepalanya dengan bantal. Shabita mendesah pasrah dan terpaksa diam saja. Malam semakin larut, Shabita lelah karena menunggu reaksi Anggara yang tetap membelakanginya. Akhirnya ia putuskan untuk tidur saja. Setelah dirasa Shabita telah terlelap, barulah Anggara berbalik dan memandangnya. Seperti biasa pemuda itu selalu menjaga Shabita di saat gadis itu telah terbuai oleh tidurnya.


Shabita terbangun dan menyadari pemuda itu sudah tidak ada di sampingnya. Gadis itu menghela napas jengkel karena diacuhkan Anggara lagi. "Bosan!" keluhnya seraya bangkit dan bersiap berangkat ke kantor. Saat keluar ia sempat melihat Anggara yang sudah siap dengan motornya di depan penginapan mereka. Shabita diam tidak menyapa, ia ingin Anggara sendiri yang menegur duluan. Lama Anggara diam di motornya, karena Shabita tidak juga naik karena tidak ditegur, maka Anggara segera menjalankan motornya dengan kecepatan maksimal. Gadis itu terperangah tidak percaya dengan sikap pemuda itu. Ia sempat menghentakkan kakinya beberapa kali ke tanah dan menggerutu tidak jelas.


"Hey, Bro. Ada kabar apa nih, tumben lebih cepat datangnya?" sapa sahabat baik Anggara bernama Irwan.


Anggara hanya tersenyum hambar mendengar basa-basi temannya itu. Shabita yang selalu membuatnya terlambat ke kantor karena harus mengantarnya bekerja lebih dulu. Kini gadis itu sudah tidak bersamanya, ia hanya sendiri dan tidak mau diganggu oleh Shabita lagi.


Anggara menepis lengan Irwan. Pemuda itu masuk begitu saja ke kantor dan duduk di kursinya. Irwan tersenyum maklum akan perasaan sahabatnya yang baru terkena patah hati.


"Yang razia di jalan baru kemarin siapa?" tanya Inspektur Zamal.


Semua menggeleng tidak tahu. Masing-masing dari mereka saling tatap satu sama lain. Inspektur Zamal mendesah seraya memijit keningnya.


"Kemarin itu ada razia dan saya belum pernah menaruh orang kita di sana," kata Inspektur Zamal.


"Mungkin Komisaris yang suruh atau Bintara tinggi yang mau." Ali mengambil kesimpulan sendiri. Pemuda berhidung bangir dengan mata bulat itu sekarang dipandangi oleh Inspektur Zamal.


"Mana mungkin melewati saya. Orang itu area kita kok," elak Inspektur Zamal. "Lagian Bintara tingginya lagi kalut gitu, mana bisa dia kerja. Dari kemarin melamun saja."


Semua memandang pada Anggara yang sedang menatap mereka dengan pandangan bingung. Ia kemudian menunduk malu karena mereka mendesah secara bersamaan melihat kondisinya. Di tempat lain Shabita sekarang sedang menunggu taksi. Ia sengaja berjalan sedikit menjauhi penginapannya agar mudah mendapatkan taksi. Sebuah mobil merah keluaran terbaru tahun ini singgah tepat di hadapannya. Mobil itu terbuka dan sepertinya memberi isyarat agar Shabita masuk ke sana. Awalnya ia ragu tapi, setelah menyadari siapa yang memberinya tumpangan, maka ia putuskan untuk masuk saja.


"Hups...." Shabita menghembuskan napas lega ketika ia sudah duduk di bangku bagian belakang mobil.


Gadis itu melirik kaca spion di depannya, mencoba melihat wajah si pengemudi. Mata biru itu ia kenali betul milik seseorang yang baru saja ditemuinya di kantor beberapa hari yang lalu. "Mister, apakah Anda juga akan ke kantor kami hari ini?" tanya gadis itu.

__ADS_1


Pemuda itu hanya melirik Shabita dari kaca spion. Ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis itu barusan. Shabita merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, perasaan takut dan juga merinding. Kepala pun tiba-tiba sangat pusing, namun ditahannya agar tidak mengganggu Pramuda.


"Terima kasih," ucap gadis itu saat mobil telah tiba di depan kantornya. Ia keluar dari mobil itu.


Mobil berlalu meninggalkannya begitu saja. Shabita mengerutkan alisnya, heran dengan sikap Pramuda yang tidak pernah berbicara padanya kecuali hanya bertanya nama, itu pun hanya sekali.


Kepala Shabita makin bertambah pening. Gadis itu hampir pingsan dan terjatuh, kalau saja satpam tidak sigap menahannya tentu ia akan terjatuh ke tanah. "Terima kasih," ucap Shabita lemah.


"Mau diantar pulang saja, Non. Nanti saya mintakan izin sama Pak Chang?" tawar satpam itu.


Shabita memandang pria berumur empat puluh tahun itu dengan senyum. "Terima kasih, tidak perlu." Shabita segera menegakkan tubuhnya dan berjalan masuk ke kantor dengan pandangan berkunang-kunang.


Semua memandangnya dengan was-was takut Shabita terjatuh karena jalannya sudah sempoyongan. Shabita hanya tersenyum dengan mengatakan, " Saya baik-baik saja." Tetapi ucapannya itu berlawanan dengan kondisinya sekarang, terbukti ia langsung ambruk ke lantai dan tidak sadarkan diri lagi.


Semua orang heboh dan mengangkat Shabita ke ruangan Pak Chang. Pemuda itu heran kenapa orang-orang menyerbu masuk ke ruangannya tanpa permisi. Pemuda itu bangkit dari duduknya dan melihat apa yang mereka bawa.


"Ini kenapa?" tanyanya setelah mereka membaringkan Shabita di sofa panjang miliknya.


"Pingsan tadi, Pak," kata salah seorang dari mereka.


"Sakit?" tanya Chang pada yang lain. Tidak ditujukan pada siapa pun asal sudah mendapat jawaban ia akan merasa tenang.


"Mungkin, Pak. Jalannya tadi sudah sempoyongan gitu," sahut Sina.


"Coba telepon keluarganya atau siapa yang dekat dengannya!" perintah Chang.


Lani segera membongkar tas Shabita dan mengambil handphone gadis itu. "Halo, ini saya Lani. Teman sekantor Shabita," kata Lani di telepon.


"Memangnya dia kenapa?" tanya suara di dalam telepon.


"Dia tidak sadarkan diri dan kami akan membawanya ke Rumah sakit bila ia belum juga siuman."


"Tunggu saya, jangan ke sana dulu. Biar saya yang urus!"


Hubungan telepon terputus. Lani memberitahukan pada Chang agar menunggu orang itu datang untuk menjemput Shabita. Chang yang sedang memberikan minyak kayu putih ke hidung. Shabita hanya diam saja.


"Kenapa kamu, kok tergesa-gesa begitu?" tanya Ali saat melihat Anggara yang segera bangkit dan memakai topinya.


"Dia sakit. Tolong izinin saya sama atasan, ya?" kata Anggara dengan terburu-buru pergi menaiki motornya.

__ADS_1


Anggara melajukan motornya, ia takut terlambat sampai ke sana. Ia takut mereka membawa Shabita ke Rumah sakit. Bagaimana kalau mereka melihat guratan luka di leher gadis itu, apa yang mereka pikirkan nantinya. Itulah yang menjadi pertimbangan Anggara untuk mengesampingkan perasaan marahnya.


__ADS_2