TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
17 DUKUN SESAT


__ADS_3

Shabita berjalan gontai saat akan masuk ke kamar penginapannya. Gadis itu sangat kelelahan karena harus lembur semalaman. Bosnya memberikan dia libur satu hari untuk beristirahat di rumah, makanya saat ini ia bisa pulang pagi.


Seorang bapak yang pernah membuatnya kesal karena meninggalkan bayinya di kamar sebelah, datang menghampirinya sambil membawa bayinya. "Nona," sapanya.


Shabita yang akan masuk segera menatap orang itu. "Ya," jawab Shabita.


"Ingin berangkat kerja?" tanyanya.


"Tidak, saya libur hari ini. Kebetulan saya malam tadi sudah lembur dan baru datang," jawab Shabita.


"Kalau begitu saya mengganggu waktu istirahat Anda." Bapak itu merasa serba salah.


"Tak masalah." Shabita tersenyum. "Bagaimana dengan anakmu, apakah dia sudah ceria?" tanya Shabita seraya mencubit pipi si bayi dengan gemas.


"Baik, Nona siapa nama Anda?" tanyanya.


Shabita memandang orang itu dengan senyum ramah. "Shabita," jawabnya.


"Endraw," balas orang itu.


"Nama yang bagus, tapi bayi ini perempuan, kok namanya Endraw?" gumam Shabita heran.


"Bukan, itu nama saya," ralat orang itu. "Nama anak saya Rumi," tambahnya.


Shabita tertawa sekilas dan menggeleng menyadari kesalahannya. "Maaf, saya pikir nama anakmu," katanya.


Saat sedang asyik berbincang, seorang dukun beranak melewati mereka, dukun itu sempat menatap tajam bayi yang ada digendongan Endraw. Shabita sempat melihat sekilas, tapi kemudian perasaan lain menjadikannya tertarik untuk mengikuti gerak-gerik bidan itu dengan pandangan matanya.


"Nona," tegur Endraw saat dirasa gadis itu tidak fokus pada pembicaraan mereka.


"Ya," jawab gadis itu cepat.


"Anda melamun?" tanyanya.


"Maaf, jangan tinggalkan bayimu sendirian. Tetap siaga dan selalu dekatkan dia pada Tuhan. Taruh peniti atau sejenisnya di dinding dekatnya, kau bisa juga mengantung gunting. Pokoknya asal jangan sampai melukai bayi dan jangan juga jauh darinya," pesan Shabita.


"Kenapa?" tanya Endraw heran.


"Siapa pun bisa saja menjadi iblis ini," jawabnya. "Saya permisi dulu, ada urusan," pamitnya. Ia segera berjalan cepat mengejar si dukun beranak itu.


"Iblis, maksudnya apa sih?" Endraw bingung ia sempat menatap bayinya yang sedang tertidur pulas.


Bayi itu tidur dengan damai karena Shabita sudah menyentuhnya. Kalau tidak dia pasti akan menangis sekeras-kerasnya karena keberadaan dukun beranak tadi.


"Gunakan kekuatanmu untuk menolong orang, Van." Pesan itu masih tergiang di ingatan Shabita. Pesan dari sahabatnya Sariani titisan putri Kuyang.

__ADS_1


Shabita sampai pada pintu yang sedang dituju si dukun beranak tadi. Gadis itu segera masuk saat pintu akan dikunci oleh pemiliknya. "Saya dokter, mana istrimu?" tanya Shabita cepat untuk menghindari diusir secara kasar oleh si pemilik kamar.


"Saya sudah memanggil bidan dan tidak pernah menghubungi dokter," kata lelaki itu.


"Nemu di mana bidan model begitu?" sindir Shabita. "Dengan saya saja, gratis," lanjutnya seraya masuk untuk memeriksa ruangan itu. Ia melihat sebuah kamar terkunci dan seseorang berteriak kesakitan.


"Tapi--"


"Tenang," potong Shabita.


Di dalam seorang dukun yang menjadi incaran Shabita, tidak menyadari bahwa ia telah diintai gadis itu. Dukun itu fokus menatap pada wanita yang tengah kesakitan.


"Bu, cepat ... saya sudah gak kuat lagi!" desak wanita itu.


Kasur beralaskan kain putih dengan wanita itu berbaring dan seorang dukun yang menjagainya. Tidak ada reaksi apa pun dari dukun itu, ia tetap diam sambil sesekali tersenyum menyeramkan menunggu si bayi lahir dengan sendirinya. Tidak peduli si ibu yang sedang meregang nyawa antara hidup dan mati.


Shabita diam ia mendengar bisikan gaib di telinganya. "Hallah, mau menolong orang. Memangnya kau siapa, sama saja dengannya," bisik iblis itu. "Lebih baik kau segera masuk dan rebut bayi itu. Kita akan jadikan ia sebagai makan siang kita, hihihi...," lanjutnya. Gadis itu tidak tergoyahkan, ia tidak mempan lagi dengan bisikan itu. Segala suruhannya ditepisnya jauh-jauh. Ia tidak mau nasibnya berulang seperti Sariani.


Dukun itu nampak tidak sabaran karena menunggu lahirnya bayi, maka dengan cepat ia segera memijat perut itu, pijatannya menurun ke bawah memaksa janin untuk segera lahir.


"Aduh! Bu! Sakit sekali! Jangan digitukan!" teriak memohon si ibu.


Namun si dukun yang kepalang tanggung sudah sangat tidak sabar, tidak mengindahkan teriakan memohon itu. Dia tetap saja melanjutkan aksi brutalnya, malah semakin kasar dan cepat.


"...ahk!!" erang kesakitan dari si ibu memenuhi segala ruangan.


Si dukun tersenyum senang saat si bayi lahir, sedang si ibu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dukun itu kemudian membuka selendang lehernya dan sesuatu yang mengerikan terjadi, lehernya mengeluarkan darah dan giginya mulai bertaring. Sedikit demi sedikit kepalanya terangkat dan memisah dari badan. Kini ia sudah menjadi Kuyang seutuhnya. "Hihihi...," kikiknya. Matanya merah dan senyum angker terhias di wajah cantiknya. Ia merendah untuk memakan bayi itu, dengan lebih dulu menjilatnya.


Bayi itu menangis histeris karena tahu apa yang akan menimpanya nanti. Saat mulutnya melebar akan melahap si bayi, Shabita datang dengan cara mendobrak pintu. Si suami sempat membentaknya, tetapi kemudian membisu dan ketakutan karena melihat Kuyang di kamar istrinya. Nampaknya si dukun terkejut melihat kehadiran gadis itu, ia marah dan diam mematung sambil menatap tajam Shabita.


"Jangan ganggu aku! Pergi!" usirnya dengan suara kecil namun serak.


"Shabita mendekat tanpa takut dia akan menyerangnya. Gadis itu sempat membisikkan sesuatu pada sang suami, dan segera diturutinya.


"Apa yang kamu lakukan?!" bentaknya marah saat menyadari Shabita yang menabur sebungkus garam pada lehernya.


"Dibumbui dulu biar enak," ucap gadis itu santai.


"Sialan!" makinya. Si suami segera membuka tirai jendela dan matahari masuk dari sana. Si Kuyang kepalanya mengasap karena terkena bias matahari. "Kurang ajar!" teriaknya gusar. Ia ingin kembali ke tubuhnya, tetapi ia tidak tahan dengan tajamnya garam.


Bayi yang menangis itu segera diambil Shabita dan diberikan pada ayahnya. Kuyang itu menatap marah dan hampir saja menyerang gadis itu, kalau saja Shabita tidak mengacungkan sebuah gunting padanya. Ia meraung-raung seperti harimau yang sedang marah, kadang juga mendesis. Wajahnya mulai berasap dan saat ini sedang meraung kesakitan. Ia paksakan untuk kembali ke tubuhnya namun yang terjadi adalah ia makin kesakitan karena merasakan pedih dari luka di lehernya, bekas ditabur garam oleh Shabita tadi. Ia berlari ke sana-kemari sambil membawa tubuhnya keluar ruangan itu. Para penghuni penginapan itu keluar untuk melihatnya. Dukun itu berteriak meminta tolong.


"Dia kenapa?!" teriak mereka.


"Dia Kuyang!" seru si Suami seraya membawa anaknya keluar.

__ADS_1


Endraw yang menyaksikan kejadian di luar juga sempat mendengar kalau si suami berteriak menyebut 'kuyang'. Ia memeluk erat bayinya dan merinding saat mengingat ia juga memiliki seorang bayi.


"Akan kubalas kau!!" teriak si Dukun pada Shabita. Namun belum sempat membalas tubuhnya sudah dihajar warga dengan menggunakan balok dan apa saja yang dapat melukainya. Ia menjadi bulan-bulanan mereka.


Shabita memandang kejadian itu seraya geleng-geleng. Ia menghela napas kasihan, tetapi juga mengutuk pada si dukun yang memanfaatkan kedukunannya untuk melahap bayi.


Ditengah riuhnya pengadilan secara adat oleh para penghuni penginapan pada si dukun. Seorang pemuda datang dan langsung menarik lengan Shabita untuk menjauh dari keramaian.


"Anggara," sebut Shabita.


"Iya, ini aku," jawabnya. "Apa kabar, Van?" tanyanya.


"Maaf, Anda salah orang. Saya Shabita," ralatnya.


"Shabita apa Vanesa," godanya dengan senyum menawan.


Amboy, senyumnya. Gadis itu membatin kagum. "Mau apa kamu datang ke sini?" tanyanya dengan wajah ketus.


Anggara diam memerhatikan Shabita. Ia malah sekarang menyingkap kerah baju Shabita. Ia perhatikan luka memanjang pada leher gadis itu. "Pasti sakit," ucapnya lirih. "Semenderita itukah, sayang?" tanyanya dengan tatapan pengertian.


Shabita menepis tangan Anggara dan segera menjauhinya. "Dari mana kamu tahu?" tanya gadis itu panik.


Anggara tersenyum. "Tau aja, kan aku tidak pernah melepaskanmu," jawabnya.


"Terus, kamu mau menangkap aku. Kalau begitu tangkap saja," tantangnya sembari memberikan kedua tangannya pada Anggara.


"Kamu bukan orang jahat, Van. Aku sudah menyelidikimu. Kamu begitu karena dipilih, bukan memilih," jelasnya.


"Kalau begitu, mau apa kamu kemari?" tanya Shabita sinis.


"Em, mau apa ya," goda Anggara dengan senyum manis dan tingkah yang membuat Shabita jengkel.


"Kalau tidak ada yang perlu disampaikan, sebaiknya saya segera pergi," ucapnya sembari melangkah meninggalkan Anggara.


"Van," panggil Anggara.


Shabita menghentikan langkahnya dan diam di sana. Anggara segera melangkah mendekatinya. Gadis itu menatap Anggara yang kini sedang meraih bahunya.


"Menikahlah denganku. Aku akan menjagamu," janjinya.


Shabita menepis tangan Anggara yang berada di bahunya, dan berkata, "Aku gak suka sama kamu. Lagipula aku ini bukan manusia baik. Aku ini iblis," katanya.


"Apa pun itu, aku terima. Asal kamu mau denganku," kata Anggara serius.


"Sinting!" ejek Shabita seraya menyingkirkan tubuh Anggara yang menghalagi jalannya.

__ADS_1


Pemuda itu tersingkir dan hanya menatap Shabita dengan tatapan kecewa. Ia tidak tahu kalau mata Shabita sudah berkaca-kaca karena sakit harus menolaknya.


Di kejauhan sana mereka berdua tidak tahu bahwa Endraw mengawasi mereka dengan cara sembunyi-sembunyi. Ia mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan berdua. "Kenapa dia sangat baik. Bukankah Kuyang itu semuanya jahat?" gumamnya. Ia tidak mengerti dengan Shabita saat gadis itu malah membantu bayi yang seharusnya menjadi mangsanya.


__ADS_2