
Shabita sekarang sedang mengaji di Masjid dekat penginapannya. Mereka dipimpin oleh Zakaria. Anggara masih setia menunggunya di luar Masjid sambil sesekali melirik Shabita.
"Halo, Pak. Iya saya segera ke sana!" kata Anggara saat ia tiba-tiba menerima telepon dari atasannya.
Shabita baru saja keluar dari Masjid setelah bersalaman dengan mereka. Zakaria memandang Anggara yang dengan cepat menarik tangan Shabita agar menjauh.
"Kenapa?" tanya Shabita bingung.
"Hari ini kamu tidur sendiri saja ya, soalnya aku ada tugas lembur malam ini. Kamu gak papa, kan kutinggal sendirian?" tanya Anggara.
Shabita terpaksa mengangguk. Terus terang ia takut sekali tidur sendirian, mengingat Toni akan mengganggunya lagi, tapi ia pun tidak bisa mengekang Anggara untuk menjalankan tugasnya sebagai polisi.
"Yakin, gak mau kusuruh Zakaria atau siapa gitu untuk menemanimu?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi Shabita tersenyum dan menggeleng lemah. Ia berharap Anggara tidak pergi darinya. Ia sudah sangat ketergantungan dengan pemuda di depannya ini.
Anggara mengusap lembut pipi Shabita dan pergi. Shabita memandangnya dengan perasaan kecewa. Anggara menghentikan langkahnya tepat 5 meter dari tempatnya berjalan tadi. Anggara segera berbalik dan berjalan cepat.
"Ikut saja, aku takut kamu kenapa-napa," katanya seraya menarik Shabita untuk pergi bersamanya.
Shabita tersenyum senang saat Anggara menariknya tadi. Mulanya kaget, tapi sekarang ia sangat senang. "Betul tidak apa-apa kalau aku ikut?" Shabita berbasa-basi. Pura-pura merasa tidak enak, padahal dalam hati girang sekali.
"Naik cepat," kata Anggara.
Shabita segera menaiki motor Anggara. Ia tertawa diam-diam. Anggara melihat itu dari kaca spion motornya. Pemuda itu tersenyum diam-diam. Motor mereka melaju di jalan raya, karena jam sudah menunjukkan pukul 21:00, maka jalanan menjadi sepi dan seluruh aktivitas menjadi berkurang. Shabita merangkul Anggara dari belakang, merasa dingin.
Angara segera menghentikan motornya. "Dingin?" tanyanya seraya melepaskan jaket hitamnya. "Pakai ini," perintahnya sambil menyerahkan jaket kulit itu pada Shabita.
Shabita menerimanya dan segera mengenakan jaket itu. "Kamu gak dingin?" tanya Shabita.
"Gak keren kalau polisi cuma dilihat jaketnya doang. Mending gini, biar tampan," canda Anggara sembari menghidupkan mesin motornya.
"Pede," sindir Shabita sambil mendorong punggung Anggara.
Yang didorong hanya tersenyum saja sambil menjalankan kembali motornya. "Kalau masih dingin, peluk aja knelpot motor ini. Dijamin hangat!" serunya.
"Dasar," cibir Shabita. Tak ayal ia pun ikut tertawa.
Mereka memasuki sebuah persimpangan jalan. Ada banyak rambu peringatan dari polisi dan di depan sana sudah banyak wartawan yang berusaha meminta izin memasuki kawasan itu.
"Anggara, sudah ditunggu sama Pak Zamal di dalam," kata rekan kerja Angara pengganti Asaka dulu.
"Oke, saya masuk dulu ya," kata Anggara. Ia segera menjalankan pelan motornya untuk memasuki gerbang rumah tua di sana.
__ADS_1
Kilatan-kilatan fotret saling berganti-ganti. Para wartawan masing-masing memfoto korban pembunuhan yang terjadi di dalam gedung itu. Anggara berjalan sambil berpegangan tangan dengan Shabita ke TKP. Ia masuki tali pembatas kepolisian dengan cara menunduk. Shabita juga melakukan hal yang sama dengan Anggara.
"Lapor, Pak. Saya sudah tiba!" lapor Anggara seraya memberi hormat, namun jemarinya tetap tidak melepaskan Shabita.
Inspektur Zamal memandang pada Shabita, kemudian beralih pada jari-jemari mereka yang masih menyatu. "Mau kerja, apa pacaran?" singgungnya.
"Menikah-eh, bukan! Mau kerja, Pak!" ralat Anggara dengan cepat.
"Tangannya itu loh, bikin saya cemburu. Mentang-mentang saya lagi LDR-an sama bini saya di kampung," singgungnya.
Anggara yang sadar segera melepaskan tangannya dari Shabita. Ia terbatuk sebentar kemudian bersikap normal kembali. Shabita membuang wajahnya ke lain arah karena malu.
"Coba kamu lihat di sana. Ada beberapa kejadian aneh di sekitar sini." Tunjuk Inspektur Zamal pada dinding di ujung sana yang dikerumuni para wartawan.
Anggara segera menuju ke sana dan Shabita mengikuti mereka dari belakang. Para polisi lain meminta para wartawan itu agar memberi jalan pada mereka untuk memeriksa korban. Sebuah mayat dengan banyak belatung dan lalat menghinggapinya. Baunya membuat mereka harus menutup hidung.
"Ini korban dibuang di sini. Kamu lihat mayatnya sudah busuk begitu, hampir mencair. Padahal kemarin-kemarin kata warga mayat ini tidak di sini," jelas Inspektur Zamal. "Makanya saya panggil. Kamu, kan yang biasa patroli di sekitar sini," tambahnya lagi.
"Saya baru tahu kalau ada janazah di sini. Kemarin-kemarin tidak ada," jawab Anggara.
"Justru itu kami kebingungan. Mana mayat ini tanpa edintitas lagi," keluh Inspektur Zamal.
"Kita melipir di sana saja sambil cerita-cerita. Kasihan istri kamu wajahnya pucat begitu," ajaknya.
"Kira-kira mayat itu siapa yang buang ya?" tanya Inspektur Zamal dengan nada suara menggumam.
"Dia jalan sendiri," ucap gadis itu tanpa sadar. Ia segera tertawa canggung untuk menutupi kecerobohannya tadi.
"Hahaha... bisa aja kamu, Dek," kata Inspektur Zamal yang dibarengi tawa.
"Maaf, saya bercanda," ralat Shabita.
"Gak papa, kok. Daripada bosan, terus terang saya dari tadi mau muntah dan pusing sekali. Gak ada yang ngajak saya mengobrol, semua sibuk bekerja," katanya.
Shabita hanya menunduk patuh seraya tersenyum. Ia kelepasan bicara, entah kenapa ia merasa mengetahui siapa sebenarnya jenazah tersebut. Anggara diam-diam meraih jemari Shabita yang terasa dingin.
"Satu pun, apa tidak bisa diambil, Pak. Misalnya kartu nama atau ponsel?" tanya Anggara.
"Kamu lihat tadi. Isinya belatung semua. Mana bisa kita cari identitasnya di situ. Lagian dikorek saja sudah meleleh mirip bubur. Bingung saya, bagaimana cara bawanya ke Rumah Sakit."
"Disekop saja," saran Anggara.
"Iya, disekop tapi mencair. Dapat apa? Belatung. Mau tidak mau kita biarkan saja atau kita bersihkan saja. Anggap tidak ada jenazah di sini," tangkis Inspektur Zamal.
__ADS_1
"Pak, kami tidak menemukan apa pun di jenazah itu. Yang ada mayatnya malah meleleh saat kami berusaha menyentuhnya dengan ranting," lapor bawahannya yang mengenakan baju hitam dan masker serta sarung tangan.
"Nah, dengarlah apa katanya. Kamu tanyalah sama belatungnya, siapa tahu belatung itu tahu siapa yang mati itu." Inspektur Zamal membenarkan pernyataannya tadi. Ia tidak bercanda hanya saja dari kata-katanya yang lucu membuat Shabita tertawa diam-diam.
"Pak, bagaimana selanjutnya?" tanya bawahannya tadi.
"Minta bagian forensik yang tangani itu. Kita hanya menunggu laporan saja, bila dalam beberapa hari belum ada juga tolong dibersihkan area ini biar baunya tidak mengganggu warga."
"Baik, Pak." Setelah menghormat bawahannya kemudian pergi dan berdiskusi pada rekan-rekannya.
"Kamu sebaiknya ke sana saja, sambil menuggu dipanggil. Sekalian bawa dia, kasihan," saran Inspektur Zamal.
"Yuk," ajak Anggara.
Shabita menurut ketika dituntun Anggara untuk duduk di teras pojok rumah besar tidak berhuni itu. Shabita memandangi area sekitar rumah yang sangat megah, namun sayang sudah terlihat rusak dan menyeramkan.
"Kamu haus?" tanya Anggara.
"Em," jawab Shabita.
"Gak ada air mineral atau sejenisnya lagi." Anggara mencari-cari dengan lirikan matanya, siapa tahu para rekannya ada yang membawa air minum.
"Gak usah, kalau gak ada," kata Shabita saat Anggara beranjak akan meninggalkannya untuk mencari minuman.
"Biar-"
"Aku takut sendirian," mohonnya lirih.
"Oke, gak haus." Anggara terpaksa kembali duduk.
"Anggara," panggil Shabita.
"Hem," jawab Anggara sembari memainkan hanphone-nya. Matanya tetap tertuju ke layar HP.
"Aku ngerepotin kamu ya? Aku ini cuma bisa bikin kamu susah," kata Shabita.
Anggara berpaling menatap gadis itu yang memandangnya. "Ngomong apa sih kamu. Mana ada yang begitu kalau sudah menyangkut kamu," jawabnya.
"Buktinya beberapa hari ini kamu gak bisa tidur karena harus menjagaku. Lihat matamu merah begitu gara-gara kurang tidur." Shabita menujuk mata Anggara yang tampak putihnya menguning. "Kalau kita nikah kamu pasti tambah sengsara karena 24 jam harus menjaga aku," lanjutnya.
"Ngomong saja kalau kamu lagi naksir sama seseorang. Gak usah pakai alasan bilang begitu. Dari kemarin juga hubungan kita juga tidak jelas, entah kamu itu suka atau gak sama aku. Aku bingung dengan sikapmu itu Van, ditambah lagi kamu itu akrab dengan beberapa lelaki," kata Anggara dengan wajah datar. Ia tidak menyebutkan siapa mereka yang pasti ia diam-diam selalu mengawasi Shabita.
"Bu-bukan gitu maksudku-" Shabita kelabakan sendiri dan menyesali perkataannya tadi.
__ADS_1
"Aku cemburu! Kamu itu tidak sadar atau apa?!" potong Anggara. "Sudah, gak perlu dibahas lagi. Pokoknya aku gak bakal ninggalin kamu, titik!" janjinya.