
Shabita sedang menangisi nasibnya di kamar di saat Sariani berada tepat di belakangnya. Roh halus itu memandangi Shabita dan mendesah melihat kemalangannya.
"Tidak ada yang kekal di dunia ini, tapi kau harus bisa memanfaatkan itu semua walaupun hanya sedetik." Suara Sariani mengagetkan Shabita.
"Sar, Sariani!" Shabita segera duduk dan melihat Sariani telah berada di hadapannya.
"Sudah lama aku menunggumu, Vanesa. Lama hingga mungkin kau lupa bahwa aku terus ada untukmu."
"Sar," sebutnya lirih.
Roh itu mendekat dan duduk di sebelahnya. "Aku tahu perasaanmu saat ini, sangat sulit membuat Anggara mengingatmu, tetapi sangat sulit jua melepaskannya. Jodoh tidak akan ke mana kalaupun dihindari."
"Aku mau dia lupa, lupa semua. Pergi bersama yang lain. Jangan ingat aku lagi!" tegas Shabita. Walau begitu airmatanya tetap mengalir deras.
Sariani mengusap airmata Shabita yang tak mampu disapunya karena kekurangannya sebagai roh tak dapat menyentuh benda di dunia nyata, akhirnya ia menembus kepala gadis itu. "Seandainya aku mampu menghapus airmatamu, aku ingin pula merangkulmu." Sariani memandang telapak tangannya yang tak dapat menyentuh gadis itu tadi. Terlihat sangat terluka karena keadaannya.
"Tidak apa, adamu membuatku senang, kok." Shabita coba menghibur.
"Rani! Rani!" panggil Anggara dari luar.
"Dia memanggilmu," bisik Sariani kemudian ia lenyap dari pandangan Shabita.
Shabita segera mengusap kedua belah matanya dan mendatangi Anggara. "Ada apa?" Ia terlihat acuh.
"Coba lihat, apa yang kudapat?" Anggara menyembunyikan sesuatu di belakangnya. "Ikan!" Ia memerlihatkan ikan gabus hasil perangkap dan memancingnya.
"Ya, terserah," jawab Shabita. Gadis itu acuh dan tidak ingin mendengarkan Anggara lagi.
Anggara merasa tersinggung, ia menaruh keranjang ikan ke bawah dan mendekati Shabita yang akan masuk ke kamarnya kembali. Diraihnya lengan gadis itu. "Kamu marah?"
"Tidak," jawab Shabita mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Anggara melihat bekas airmata gadis itu kemudian disapunya. "Kamu nangis?"
"Jangan ikut campur!" Shabita segera melepaskan Anggara dari dirinya. Ia marah dan membentaknya.
"Kenapa kamu bersikap begini, Rani? Apa salahku padamu, apakah omonganku menyakitimu, apa salahku, Rani?" tanya Anggara lirih.
Kamu tidak salah, kamu bahkan terlalu baik buatku. Bagaimana aku bisa membenci orang yang selama ini mendukungku, tidak Anggara. "Tidak ada, mungkin bawaan janin," dalih gadis ini.
Anggara mendekati gadis itu dan Shabita lagi-lagi terpaksa mundur menjauhinya. "Jangan jauhi aku, plis. Biarkan aku di sisimu." Anggara memohon dengan meraih tangan gadis itu. "Walaupun kau bersama suamimu aku tak masalah bila harus menjadi pelayanmu," sedianya.
"Gila!" bentak Shabita. "Siapa kamu siapa aku?! Kenapa bersikap begitu, aku tidak pernah mengenalmu. Baru beberapa hari kamu sudah seperti ini, apa kamu sudah tidak waras?!"
Anggara tertunduk kedua airmatanya mengalir, ingin rasanya Shabita menyapu da merangkulnya, tetapi ditahan olehnya. "Aku bingung, aku tak tahu. Setiap kali aku bermimpi selalu mengingatnya, dia begitu samar bagiku, tapi kamu nyata dan begitu jelas dan seperti dirinya. Aku tidak tahu siapa Shabita, di mana dia dan apa dia. Tapi aku merasa itu kamu, Rani. Kamu!" Ia menatap mata Shabita, mencoba mencari kebenaran di balik mata gadis itu.
"Aku Rani! Bukan dia, ingat itu!" bentaknya. "Lagipula apa kamu pernah melihat dia, tidak, kan. Kemudian kenapa membandingkan aku dengannya, kenapa?!" Gadis ini pun ingin tahu bagaimana Anggara yang seharusnya melupakannya bisa mengingat cintanya.
Anggara tak mampu menjawab, tapi sebagai jawaban ia meraih Shabita dan merangkulnya. "Seperti dekapan ini, aku merasa pernah mendekapmu sebelumnya. Seperti ... ini Aku pernah!" Anggara menyentuh bibir gadis itu lebih dalam dan meluapkan rasa rindunya.
Anggara berdiri di belakang pintu Shabita, ia bersandar dan merosot duduk di sana. Menyesali perbuatannya. "Maaf," ucapnya lirih. Kemudian karena kesal ia meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
....
May memandangi jenazah yang berantakan di gudang. Ia mendesah kesal sementara Noya sedang memerintahkan pelayan lelaki untuk membungkus mereka semua dan mengubur masal mereka di halaman belakang rumah.
"Kita harus berdiskusi dengan Ratu kita," saran Noy saat ia telah kembali.
"Kurasa juga begitu. Gadis itu mesti ditangani lebih cepat sebelum bayinya lahir ke dunia."
"Malam ini kita berkumpul di ladang, sekarang kita urus ini dulu," saran May.
Dering ponsel Talia berbunyi, gadis itu segera menerima telepon dari ayahnya. "Ya, Papa?"
__ADS_1
Toni saat ini berada di depan perkantoran sedang melihat para karyawan yang bekerja. "Bagaimana kabar ibumu?" tanyanya seraya memasukkan tangan satunya di balik saku celananya.
"Baik, saat ini sedang makan," jawab Talia berdusta.
"Papa akan pulang sebentar untuk melihatnya, kemudian kembali ke sini lagi," katanya seraya menyapa salah satu rekan yang tersenyum saat berpapasan dengannya.
"Kapan?"
"Tiga hari lagi."
"Baik, Papa." Talia segera menutup ponselnya. "Gawat!" Ia kebingungan sementara Shabita tidak jelas ada di mana. "Aku harus segera mencari mereka berdua, jika tidak papa akan murka!"
"Talia akan mencarinya, cepat ikuti dan dapatkan gadis itu sebelum ia menemukannya!" perintah May di telepon dengan seseorang.
Talia segera ingat ia memiliki GPS di mobilnya. Langsung saja diaktifkan kembali dan mencari titik keberadaan mereka. "Sangat sulit dijangkau. Sepertinya amat jauh," gumamnya. Akan kucari di pasar itu, siapa tahu sinyalnya tidak jauh dari sana. Ia segera pergi n mobil hitam cadangan di dalam bagasi miliknya. Melaju tanpa mengetahui ada seseorang yang sedang mengekorinya dengan mobil hitam pula.
Shabita terbangun dari tidurnya, perutnya menagih minta diisi. Ia pergi diam-diam ke dapur dan mencari-cari apa yang bisa ia makan. Membuka tudung saji di meja, namun ia tak bersela menyantap ikan bakar hasil pancingan Anggara. Ditutupnya kembali tudung saji itu. Ia mengelus perutnya yang mulai membuncit. Akan segera pergi, namun sesuatu mengalihkan perhatiannya, ikan yang dikurung pemuda itu berada di dalam ber berisi air. Sedang berenang, ia hampiri dengan pandangan nafsu. Diambil kemudian dimakan dengan rakus ikan yang masih hidup itu. Bergerak-gerak ekor ikan menahan sakit karena disiksanya. "Nyam! Nyam!" Seperti bukan Shabita, ia tampak berbeda.
"Apa yang kamu lakukan di sana?" Suara Anggara membuatnya tersentak dan menghentikan kegiatan makan. "Apa kamu ingin makan ikan? Aku sudah menyajikannya di atas meja," kata Anggara.
Apa yang harus kuperbuat sekarang? Shabita bingung bila harus pemuda itu mengetahui tingkahnya barusan.
"Apa ini?!" bentak Anggara saat pemuda itu melihat tingkah aneh gadis yang membelakanginya. "Kamu makan ikan mentah?!" Ia tak habis pikir setelah membalik tubuh Shabita.
Wajah Shabita kotor penuh darah dan daging mentah. Anggara segera membawa gadis itu ke kamar mandi dan menyeka wajah itu. Shabita bingung ia hanya diam menyaksikan perbuatan Anggara padanya.
"Kamu tidak jijik?" tanya Shabita lirih setelah Anggara selesai dengan pekerjaannya.
"Kenapa harus jijik kalau sudah sayang," balasnya sambil mengusap lembut pipi Shabita.
Shabita terenyuh ingin menangis dan menumpahkan segala keluh kesahnya pada pemuda itu, tapi apa daya dirinya yang terbatas.
__ADS_1