TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
RENCANA RATU KEGELAPAN


__ADS_3

"Bunuh gadis itu dengan cepat!" perintahnya pada para pengikutnya.


Mereka menunduk menghormati kepala tanpa tubuh yang sedang berada di atas batu besar. Tubuh mereka lengkap selayaknya manusia biasa, namun garis luka memanjang pada leher mereka, tidak dapat disembunyikan kecuali mengenakan kerah baju atau selendang.


"Dalam minggu ini juga, habisi dia! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya kalian bertindak yang pasti aku hanya akan mendengar kabar kematian dari kalian!"


Mereka melirik satu sama lain. "Baik," jawab mereka secara bersamaan.


Di sisi lain, Shabita sedang di kamar mandi. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandinya. "Siapa, Talia, kah itu?" sahutnya sambil mengenakan pakaian handuk. Sembari mengikat tali pinggang ia berjalan mendekati pintu. Tok, tok, tok. "Iya, siapa?" Apa Anggara yang mengetuk kamar mandiku. Lancang sekali kalau begitu?! Suara pintu diketuk kembali terdengar. "Tung--ah!" Ia terpeleset jatuh ke lantai. "Ah!" jeritnya sakit.

__ADS_1


Tok, tok, tok! Suara pintu itu membuatnya kesal. Ia tiba-tiba meringis sakit dan memeriksa pahanya. "Darah!" Shabita terkejut. Ia panik dan berteriak, "Tolong! Tolong!" Shabita berusaha bangkit berdiri. Namun tak mampu dan akhirnya hanya mampu mengesot untuk sampai ke dinding. "Akh!" Kakinya sangat sakit saat ia mencoba berdiri dengan berpegangan pada pintu. "Tolong!" teriaknya lagi. "Anggara! Angara!" Ia coba membuka pintu, namun hasilnya pegangan pintu tidak mau bergerak sama sekali, seperti ada yang memeganginya dari luar.


Air mengucur deras membanjiri kamar itu. Shabita lupa mematikan airnya tadi. Ia panik, ingin menggapai ke sana, namun lagi-lagi dirinya kesulitan untuk bergerak. "Tolong! Talia! Anggara! May, Noy!" Tidak ada satu pun yang datang ke kamarnya. Shabita nyaris putus asa. Ia mencoba kembali dengan menyasar pada dinding. "Aduh!" Kembali ia terjatuh dan kesulitan menggerakkan kakinya. Merayap dengan miring hingga ke kran air. Darah mengalir deras memenuhi air yang menggenanginya. Shabita mencoba berdiri walau harus meringis menahan sakit. "Akh! Tooo--" Shabita terjatuh ke dalam bak mandi. Ia coba berdiri, namun kakinya terasa mati. Akhirnya ia tenggelam di bak itu. Darah telah bercampur dengan air, merembes hingga ke luar membanjiri kamarnya.


Anggara berjalan melewati kamar Shabita. Kakinya menginjak air, ia terkejut melihat air bercampur darah keluar dari bawah pintu kamar gadis itu. "Rani! Rani!" Ia mengetuk pintu gadis itu, namun tidak ada jawaban sama sekali. Anggara segera mengambil kunci dari kantung celananya dan membuka. Ia terkejut saat membuka, air mengalir deras ke luar hingga menyerang kakinya. "Rani!" Anggara segera berlari ke dalam dan mencari gadis itu. "Ke mana dia?" Anggara segera menatap kamar mandi. Ia mencoba membuka pintu, namun lagi-lagi pintu itu terkunci. Ia kembali menggunakan kunci cadangan. Air menyembur ke arahnya bagai ombak besar membasahi bajunya. Anggara menyapu tubuh dan menyapu wajahnya yang basah dengan tangan. "Rani!" Ia berlari cepat menuju ke dalam. "Rani!" Ia kebingungan karena gadis itu tidak ada di mana-mana. Anggara segera mematikan air bak mandi dan tidak sengaja melihat ke bawah. "Rambut?" gumamnya heran saat melihat rambut berada di permukaan air. Rani! Ia menyadari gadis itu di dalam. Anggara segera meraih Shabita di dalam sana, ia merasakan tangan gadis itu dan menariknya dari permukaan Air. "Rani!" Digendongnya gadis itu dan diturunkannya. "Rani, bangun, Rani! Sadar!" Anggara menepuk pipi Shabita.


Ia memeriksa napas dan nadinya. Kemudian mengguncang tubuh Shabita. Gadis itu tidak sadar juga. Anggara kebingungan, ia memompa dada Shabita. Darah mengalir kembali di sela pahanya, membuat Anggara makin panik. "Rani, sadar!" Anggara memberinya napas buatan dan mencoba lagi memompa dada gadis itu, namun hasilnya tetap sama. Shabita tidak bergerak sama sekali. Anggara mendesah, nyaris pasrah, ia segera menghisap hidung Shabita untuk mengeluarkan air yang menyumbat pernapasannya. Nihil tidak terjadi hasil yang diinginkan olehnya. Darah terus mengalir cukup deras hingga mengenai Anggara yang duduk di sampingnya.


Mata Shabita terbuka lebar. Gadis itu memandang ke atas dengan tatapan kosong. Anggara segera mengalihkan perhatiannya pada gadis itu. "Rani, Rani!" Ia mengguncang tubuh Shabita agar sadar dan mau mengedipkan mata. "Rani, dengar aku!" Anggara coba menutup mata gadis itu, tetapi hasilnya sia-sia, Shabita tetap begitu. Anggara mulai panik, ia mengguncang lagi tubuhnya. "Jangan begini!" mohonnya sambil memeluk Shabita.

__ADS_1


Mata Shabita berputar ke atas dan memutih semua. Kini gadis ini terlihat menyeramkan. Anggara memandang Shabita, tersentak dan memegang kepala gadis itu. "Rani!" teriaknya prustasi. Darah merah berganti dengan cairan hitam, membasahi bagian bawah Shabita. Anggara terkejut saat melihat itu. Ia memeriksanya dan tersentak karena ternyata itu darah hitam yang keluar dari milik Shabita. Ia membuka pakaiannya dan menyekanya dengan itu. "Bangun, Rani!" harapnya.


Anggara segera memandang ke sana-kemari mencari ponsel gadis itu. Tidak ada maka ia segera berlari ke luar untuk menghubungi dokter. Saat menekan nomor yang ada di telepon rumah itu, saat itu pula Shabita ke luar melewatinya. Anggara segera menaruh telepon dan berteriak mengejarnya. "Rani, mau ke mana?!" Ia meraih tangan Shabita, namun segera terlepas karena terkejut saat Shabita memandangnya dengan mata merah menyala.


"Akan kuhabisi mereka yang telah mengganggu rumahku dan keturunannya!" ucapnya dengan suara serak menyeramkan.


"Rani, sadarlah. Apa yang merasukimu hingga kamu begini?" Anggara mencoba meraih gadis itu.


Shabita mendorong Anggara agar menjauh darinya. Namun pemuda itu tetap menghalagi. "Jangan menantangku, Anggara. Aku bisa saja menghabisimu, tapi karena dia kamu masih hidup hingga sekarang."

__ADS_1


Anggara terdiam mematung saat Shabita melompat dari lantai atas menuju ke bawah dengan berdiri tegak. Berjalan ke luar rumah.


"Rani!" panggilnya setelah sadar. Ia mengejar Shabita, namun gadis itu telah menghilang dari sana.


__ADS_2