
Maria sedang melambai tersenyum pada Leo yang akan berangkat bekerja. Mesra sekali, hingga Shabita melirik sinis pada mereka. Ia baru tersenyum saat Maria tersenyum padanya.
"Kamu tidak mandi?" tegur Maria. Ia masih melihat Shabita dengan baju yang sama. Shabita hanya menggeleng lemah. "Mandi dan ganti bajumu. Akan kusiapkan," katanya. Ia menuntun Shabita untuk ke kamar mandi.
Shabita menurut dan mengunci pintu kamar mandi. "Bau apa ini?" gumamnya. Ia mengendus ruangan itu dan sampai pada dinding kamar mandi di sebelah bak mandi.
Tok, tok, tok! Suara pintu menyentakkannya, menghentikan aktivitas yang ia lakukan saat ini. "Ya," jawabnya.
"Kamu sudah selesai, aku lupa memberimu handuk!"
"Aku belum mandi," jawab Shabita sambil berjalan menuju pintu.
"Ini," berinya saat Shabita membuka kamar mandi.
Gadis itu tersenyum menerimanya dan kembali menutup pintu. "Bau ini sangaat enak. seperti bau mayat busuk!" gumamnya. Shabita hanya berkata, tetapi tidak mencari lagi karena tidak ingin terlalu lama di kamar mandi itu.
"Kamu harus makan yang banyak, ya. Demi anakmu," katanya sambil tersenyum dan menaruh kue ke piring Shabita.
Shabita yang telah mandi, menggunakan pakaian yang dibeli Leo untuknya. Ia dijamu dengan manja oleh Maria. "Saya tidak bisa makan sebanyak ini," tolak halus Shabita. Kalau darah aku pasti mau sekali!
"Makan saja." Maria malah menambahkan lagi roti. Ia tersenyum dan menumpukan kedua lengannya di atas meja untuk menyangga dagunya. "Makan pelan-pelan." Dasar gembel, tidak tahu diri! Awas saja!
"Baiklah," jawab gadis itu sambil tersenyum. Dimakanan ini ada racunnya, sial! Dia mau menghabisi kami berdua! Walau tahu itu beracun, Shabita tetap mengunyahnya sambil tersenyum.
"Bagaimana rasanya?" tanya Maria.
"Enak!" jawab Shabita dengan mulut penuh. Ia menelan makanannya dan bertanya, "Kamu tidak makan, Kak?"
__ADS_1
"Melihatmu makan, aku sudah kenyang!" jawabnya cepat. Ayolah, sakit perut!
Kring! Kring! Kring! Suara telepon rumah yang berada di meja hias berbunyi. Maria tersenyum memandang Shabita, sebelum ia menerima telepon. "Ada apa, Yang, tumben nelepon?" Ia berbicara romantis sambil melilitkan tali telepon dengan jari telunjuknya.
"Gadis itu sudah makan?" tanya Leo sambil menandatangani dokumen penting.
Wajah Maria berubah sinis, ia mengerucutkan hidungnya. Dihelanya napas lantas tersenyum manis. "Dia sedang makan. Apa kamu tidak bertanya apakah aku sudah makan atau belum?" rengeknya dengan nada manja. Tut ... tut.... Sambungan telepon terputus. Maria meremas telepon dan memandang benci Shabita. "Sial! Dia mengabaikanku karena perempuan gembel itu!" Akan kubuat dia keguguran dan Leo pasti kecewa lantas membuangnya!
"Siapa, Kak?" tanya Gadis itu.
Seperti bunglon, itulah wajah Maria. Sangat cepat berubah manis. "Leo, dia biasa meneleponku. Padahal kami baru saja bertemu," ujarnya.
"Ooo," gumam Shabita. Ia meminum segelas susu. "Saya sudah kenyang," adunya. Ia mengambil tisu dan menyeka bibirnya.
"Kamu ingin apa?" tanya Maria sambil mengusap sayang rambut gadis itu. Ia menyiapkan tangannya untuk mencengkram kepala gadis itu. Namun ditahannya.
Kenapa dia baik-baik saja, apa obat itu tidak bereaksi?
"Kak?" tanya Shabita.
Maria tersentak saat lengannya ditepuk Shabita. "Eh! Ya?" Ia kembali memandang wajah Shabita.
"Bolehkah saya ke kamar?" ulang Shabita.
"Oh, hahaha...." Ia tertawa sekilas. "Silakan," izinnya.
Shabita tersenyum dan menuju kamarnya. Munafik!
__ADS_1
Maria berjalan ke sofa dan menggertak pegangan kursi. "Sial! Aku benci seperti ini. Aku benci bila Leo selalu mencari perempuan bunting untuk diambil anaknya. Aku tidak mau keinginannya untuk mengambil bayi itu malah berubah arah menjadi menyingkirkanku sebagai istri sahnya! Shabita ...! Kamu harus kusingkirkan segera!"
Shabita memusatkan pikirannya pada Leo. ia ingin memengaruhi lelaki itu dengan guna-gunanya. Shabita berbaring dan memikirkannya sambil menerawang.
Leo sedang berbicara di luar kantor dengan stafnya. Ia tengah asyik berbincang hingga kadang tertawa mendengar lelucon mereka. Angin tiba-tiba berhembus di wajahnya, ia memerhatikan mereka yang tetap tidak terpengaruh akan hembusan angin yang sepertinya hanya berhembus ke arahnya saja. Wangi seseorang yang baru dikenalinya terhembus lewat udara, menjadikannya mengalihkan pandangan ke lain arah. Di sana di antara banyaknya mereka yang sekadar lewat dan beraktivitas, Shabita sedang berjalan pelan. Leo mengerutkan dahinya, ia tersenyum dan meminta izin untuk meninggalkan percakapan mereka. Leo berlari kecil menghampiri gadis itu, tetapi Shabita telah hilang dari pandangan. Ia berputar mencari-carinya, hingga punggungnya ditepuk oleh perempuan berbaju jingga. "Pak, dokumen yang diminta," katanya sambil menyerahkan dokumen di tangan.
Leo hanya menerima dengan perasaan setengah linglung. Aku seperti melihat dia di sini? Ia memberi isyarat agar perempuan itu meninggalkannya.
Shabita tersenyum karena telah berhasil mengambil alih pikiran Leo. Bau busuk tercium oleh penciumannya yang tajam. Ia segera berdiri dan menembus dinding kamar. Berjalan ke luar kemudian berbelok ke belakang. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik dan matanya memandang bahagia.
***
Maria berteriak memanggil Leo yang kini sedang duduk Santai di teras sambil menikmati kopi pagi harinya. Pada hari Minggu itu ia sempatkan waktunya untuk membaca koran harian.
"Leo!" Terdengar suara Maria dari belakang rumah mereka. "Ada apa itu?" gumam Leo.
Leo segera berdiri dan mendatangi Maria. "Kenapa teria--hah! Apa-apaan ini?!" Ia tercengang melihat tanah yang rata kini menjadi rusak seperti digali seseorang.
Maria panik dan menghampiri suaminya. "Aku takut ada yang sudah membongkar dan mencuri mayat mereka lalu menjadikannya sebagai bukti untuk melaporkan kita pada polisi!"
"Siapa yang tahu di sini kita menguburnya? Bukankah kita sudah sepakat kalau rumah ini dihuni hanya kita berdua saja?" tanya Leo. Ia mencurigai istrinya. Shabita tidak mungkin berbuat begini. Dia masih baru dan gadis hamil itu mana kuat menggali. Kalaupun dengan orang, masa kami tidak mendengar suara galian? Pasti Maria! Dipandanginya Maria dengan raut wajah curiga.
Lain di pikiran Leo, lain pula di pikiran Maria. Pasti gadis itu! Di sini mana lagi orang yang ... tapi tidak menutup kemungkinan Leo sendiri yang berbuat! Maria memandang Leo, curiga dengan lelaki itu.
Mereka berdua saling menaruh curiga, sementara Shabita tertawa melihat kegamangan mereka. Kalian tahu, mayat itu sudah kumakan tadi malam. Carilah kalau kalian bisa. Hihihi. Shabita mengelus perutnya yang terasa kenyang. "Simpan saja banyak jenazah, biar kumakan semuanya," ucapnya di balik pintu belakang.
Mereka berdua tampak saling menuding diam-diam. Saling pandang dan saling tebak. Leo meninggalkan Maria yang kebingungan untuk merapikan taman belang itu sendiri. Shabita segera bersembunyi di belakang lemari ketika Leo masuk dan menuju teras. Ia kembali mengintip Maria yang mengomel sambil merapikan tanah dengan serangan sekop.
__ADS_1