TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
CALON MANTU


__ADS_3

Lani terkejut saat membuat segelas susu. Ia mendengar teriakan Dara. "Hah, kakak kenapa?" Lani segera berlari ke kamar Dara. Tok, tok, tok! "Kakak, buka pintumu! Kenapa kakak berteriak?!" Namun, tidak ada sahutan yang terdengar hanyalah suara jeritan kesakitan. "Kakak, buka!" Lani mencoba mendobrak pintu. "Awh!" Lengannya terasa sakit. "Kakak Bagus!" Ia segera berlari ke kamar. Meraih ponselnya. "Kakak!"


Bagus yang sedang bekerja di supermaket kini menjauhkan ponsel dari kuping. "Aduh, kenapa kamu teriak-teriak, Lan?"


"Ini, Kakak Dara kesakitan. Lani, nggak mungkin telepon mama papa. Biaya roamingnya mahal! Sini, Kak! Kak Dara kesakitan. Dia nggak mau buka pintu!"


"Tapi, kakak masih kerja, Dik!"


Kak Bagus jahat!" Lani segera menutup telepon. "Jahat sekali. Padahal pacarnya!" Ia kembali lagi. "Kakak, buka pintumu!"


"Agh, sakit!" Dara bergulingan di kasur. Ia kesakitan. Luka di leher makin memanjang. "Ya, Tuhan, sakit!"


Bagus menyimpan ponselnya. "Budi, aku izin dulu. Cewekku lagi sakit parah. Tolong kasih tahu sama Papamu, ya. Nanti aku balik lagi. Ambil waktu malam!" Budi yang asyik merokok hanya mengangguk sembari bermain ponsel di samping kasir. Bagus segera meraih kunci motor milik Budi. "Aku pinjam!"


"Jangan lama, aku mau jalan juga!"


"Oke!"


"Papa!" Dara nyaris tidak dapat bertahan.


"Kakak!" Lani nyaris putus asa. Ia bahkan menangis. "Kakak, buka pintunya!" Motor bagus terdengar. "Kak Bagus!" Dara segera berlari ke pintu. "Kakak!"


"Mana Dara?"


"Di kamarnya, Kak!" Lani segera menarik Bagus ke kamar. "Tapi pintunya dikunci."


Bagus mencoba membukanya. Akhirnya bisa setelah didobrak. "Kamu jangan masuk, tunggu di sini!" cegahnya saat Dara hendak masuk. Bagus segera mengunci pintu. "Dara! Dara!"


Dara tidak sadarkan diri dengan selimut membelit tubuh. Darah mengotori kasur dan pakaian.


"Dara, bangun!" Bagus segera merapikan tidur Dara. Ia mengambil alas kasur dan selimut kemudian disembunyikan di bawah kolong. "Dara!" Namun, Dara tidak jua bangun. Bagus menggaruk kepalanya. Ia segera menuju ke luar.


"Gimana, Kak?" Lani segera menyerbu.


"Bisa ambilkan air hangat?"


"Kak, Dara kenapa?"


"Demam. Ambilkan cepat!"


"Baik, Kak." Lani segera menuju ke dapur. Ia menyiapkan apa yang diminta. "Kak, biar La-"


"Kamu di luar saja. Kakak, urus ini!" Bagus segera menutup kembali pintu. Ia membersihkan luka dan membalut dengan perban yang sengaja disiapkan Dara di lacinya. "Dara, bangun!" Namun, Dara tidak jua bangun. Bagus melirik jam weker di atas meja. Pukul 18:00. Ia hela napas. "Dara, maaf." Bagus segera mencari pakaian Dara di lemari. Menggantinya dengan piyama biru laut. Setelah usai ia bingung akan diapakan pakaian kotor itu. Bagus mencari-cari sesuatu. Ia menemukan sebuah keranjang pakaian. Langsung saja sebua digulung kemudian dimasukkan ke sana. Berikut dengan yang di kolong tadi.


Dara meringis, ia memijit kening kemudian meraba leher. "Aduh."


"Eh, bangun. Kukira mati. Hampir saja aku jadi duda."


"Ish, ngomong apa, sih?!" Dara segera duduk. "Loh, ke mana sepraiku, selimutku dan bajuku kok, ganti? Eh, kamu ngapain di sini?"


"Eh, lupakan?" Bagus berlagak kaget.


"Apanya?"


"Kemarin kita nikah."


"Ah, ngaco! Kamu ngapain di sini, serius aku nanya?"


"Tadi Lani telepon aku. Eh, aku lupa!" Bagus menepuk keningnya.


"Apa?"


"Lani itu ember nggak? Jangan-jangan dia cerita aku di sini sama papa mertua."


"Ah, nggak. Lani orangnya baik." Dara amat yakin. Ia bahkan mengangguk-angguk.


Di kamar sebelah Lani sedang menerima telepon. "Ih, Pa. Tadi Kak Bagus datang. Dia masuk kamar kakak. Sampai sekarang dia belum juga keluar. Aduh, aku penasaran, Pa!"


"Eh, sontoloyo! Ngapain dia di situ?!" Anggara yang saat ini berada di balkon kamar Shabita yang lama kini nampak marah.

__ADS_1


"Anggara, kamu ngomong sama Dara apa Lani?" tanya Talia. Gadis ini sedang duduk sembari menonton televisi bersama Shabita di kamar tersebut.


"Jangan tanya!" bentak Anggara.


"Sha, kenapa suamimu galak sekali? Gila?"


"Tau, ah! Tensinya selalu tinggi."


"Tadi Kak Dara kesakitan. Pintunya dikunci jadi Lani telepon Kak Bagus!"


"Tunggu, Papa ke sana!"


"Anggara, mau ke mana?" tanya Talia saat Anggara akan keluar.


"Mau pulang. Anak-anak lagi butuh aku."


"Eh, ini di mana?" sindir Shabita.


Anggara menggaruk kepala. Ia baru ingat. "Tak jadilah."


"Dasar pikun!" ledek Talia.


"Ha, papa mau kemari?" Lani heran. Ia segera menaruh ponselnya. "Kok, suara Kakak berdua itu senyap? Mereka sedang apa, apa jangan-jangan seperti di film romantis?"


"Kamu sudah nggak papa, kan? Aku mau pergi bekerja dulu."


"Kamu kerja?" Dara berkerut dahi. Ia belum tahu Bagus sedang bekerja.


"Iya, aku mau mandiri."


"Wah, keren! Terakhir makan bakso kalau gajian, ya?"


"Airnya aja."


"Pelit!" Dara cemberut.


"Maunya gitu. Biasanya Papa yang selalu ada."


"Mamamu?"


"Mama nggak tahu masalahku."


"Baiklah. Eh, ponsel kamu getar, tuh."


Dara melirik ponsel di atas meja. Ia meraihnya. "Papa?"


"Nah, lo. Ember Lani ternyata," duga Bagus.


"Hus! Nggak boleh fitnah. Adik aku baik, tahu!"


"Halah, ember! Bagus segera mengusap rambut Dara. "Aku pergi dulu. Kamu SMS aku kalau ada apa-apa."


"Ya." Dara segera menerima telepon. "Ngapain Bagus di kamarmu?" tanpa basa-basi lagi.


"Lani!" Dara mengecam dalam hati. "Nggak, kok, Pa."


"Kamu awas kalau sampai ketemu dia lagi!"


"Tapi, kami sekampus, Pa."


"Suruh dia jangan kuliah!"


"Mana bisa begitu!"


"Pokoknya mau melihat atau tidak. Jauhi sampai ada izin dari papa. Paham!"


"Iya, deh."


"Papa, tutup dulu!"

__ADS_1


Dara meremas ponsel. "Lani, ember!"


"Kak Bagus kok, pulang? Tadi ngapain di dalam, Lani, kok nggak diajak masuk? Lagi apa, hayo?"


"Ha, kamu mau tahu?" goda Bagus.


"Ah, jangan! Lani malu!" Lani segera mengunci pintu.


"Dasar ember!" Bagus segera menaiki motor dan pergi.


Dara sedang merapikan tempat tidur dengan seprai baru. Lani datang. "Kamu ngapain telpon papa?"


"Kakak, marah?"


"Iya, lah."


"Papa tadi telepon Lani. Tanyain Kakak. Lani, nggak tahu kalau papa bakal marah ada Kak Bagus di sini."


"Lain kali kamu jangan cerita."


"Kak, kenapa papa marah?" Lani duduk di ranjang.


"Kakak juga bingung." Sembari merapikan bantal.


"Bukannya papa setuju Kakak sama Kak Bagus?"


"Kakak bingung." Dara duduk di dekat Lani.


"Kak, sebenarnya sakit apa?"


Lani menutup lehernya. "Nggak ada. Tadi cuma kakak sakit perut."


"Sampai segitu?"


"Ya."


"Kak, lehernya?"


"Sudahlah Lani. Kakak mau mandi dulu!" Dara segera mengambil handuk dari belakang pintu. "Bentar lagi salat. Ayo, keluar dari kamar!" Dara menarik Lani.


Lani terpaksa keluar walau wajahnya cemberut. Bagus tiba di market. Ponselnya berdering. "Halo, Om?"


"Kamu ke rumahku?"


"Iya, cuma memastikan saja."


"Kan, sudah kularang."


"Om, saya janji akan menjaga Dara. Om, tidak perlu cemas. Om, bersenang-senang saja di sana."


"Siapa kamu, berani atur aku?" sindir Anggara sembari bersandar pada pagar balon.


"Calon menantumu!" Bagus segera mematikan sambungan telepon.


"Emosi sekali. Lagi ngomong sama siapa, sih?" Talia berseru.


"Calon mantu!"


"Eh, siapa, Dara?" Talia bingung.


"Siapa lagi." Shabita menjawab sembari matanya mengejek Anggara.


"Eh, sudah mau nikah dia. Berlomba denganku rupanya."


"Berisik!" Anggara segera keluar.


"Kok, suamimu marah terus, gila kah dia?"


"Iya, kali!" Shabita tertawa pelan.

__ADS_1


__ADS_2