TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
MASA LALU TONI


__ADS_3

Shabita bersandar pada kepala ranjang sementara Toni sedang duduk di sisi ranjang sambil memegang tangan Shabita. Gadis itu mulanya enggan mendengar cerita pemuda itu, namun demi membuat Toni tenang maka ia mau mendengarkan.


"Dulu aku tidak seperti ini. Aku pemuda baik dan sederhana."


"Lalu kenapa kamu bisa begitu?" tanya Shabita. Ia mulai serius mendengarkan cerita Toni.


"Mau dengar kisahku selanjutnya?"


Shabita hanya mengangguk. Toni mulai bercerita sambil menerawang ke masa silam.


Seorang pemuda manis berkulit kemerahan bertubuh bagus dan berhidung mancung, berbaju putih lengan buntung sedang mencari ikan di laut. Ia adalah Toni sendiri.


"Toni! Toni!" panggil seorang gadis cantik berkulit kuning langsat, berbaju kuning kepadanya.


Toni memandang dari kejauhan dan setelah mengenali siapa yang memanggilnya maka ia segera berlari kecil. "Ada apa, Dek?" tanya Toni.


"Pacar datang malah bertanya ada apa?" Santi cemberut.


"Cuma bercanda," kata Toni sambil mencubit hidung Shanti.


"Kapan kamu mau melamarku?" tanya Santi pelan.


Toni mendesah, ini adalah pertanyaan kesepuluh yang ia dapatkan di bulan ini. Bukannya tidak mau serius, tetapi ia belum mempunyai cukup modal untuk melamar anak orang. "Kakak belum berani melamar. Kamu, kan tahu kakak ini miskin harta dan pekerjaan yang tidak menghasilkan banyak uang."


Santi cemberut mendengar alasan Toni. "Aku bosan mendengarmu bicara seperti itu di setiap kita membahas masalah lamaran. Kalau kamu memang serius datanglah ke rumah, lamar aku."


"Aku takut ditolak."


"Nyalimu saja yang tidak ada," sindir Santi.


"Kakak cuma belum siap, tabungan kakak belum cukup." Toni memegang kedua pundak Santi, meminta agar dimengerti olah gadis itu.


"Datanglah, bila kamu tidak datang juga dalam minggu-minggu ini aku terpaksa menerima calon dari ayahku!" paksa Santi.


Toni bimbang, ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mencegah Santi dinikahkan dengan orang lain. Jangankan modal untuk melamar, makan pun paspasan. Malamnya Toni berbicara dengan kedua orang tuanya.


"Ingat Toni, dia itu siapa dan kita ini apa?" Ayahnya berbicara sambil merokok.


"Jangankan mau melamar, modal hidup untuk makan sehari-hari saja sudah susah," timpal Ibunya seraya melipat pakaian.


"Tapi hubungan kami sudah berlangsung lama. Mana mungkin diputus begitu saja," bantah Toni.


"Anak orang kaya, ingat itu Toni. Menikah tidak hanya modal beberapa ribu saja, tidak cukup hanya ke KUA saja. Kita perlu modal untuk dana pesta dan modal seserahannya." Ayah kembali menghisap rokoknya.

__ADS_1


"Tabunganmu sudah berapa?" sindir Ibunya.


Toni memandang kedua orang tuanya yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, sementara dirinya termenung memikirkan masa depannya dan Santi.


Keesokan harinya Toni datang dengan memakai kemeja putih rapi ke rumah Santi. Gadis itu melihatnya dari jendela kamar. Kebetulan kamarnya berada di loteng maka gadis itu segera berlari menuruni anak tangga dan membuka pintu untuk Toni.


"Aku datang, ayahmu ada di rumah?"


"Ada, masuk!" Santi menarik Toni untuk duduk. "Aku panggilkan, tunggu di sini," pesannya.


Toni memandang seluruh ruang tamu itu. Terdapat benda-benda mahal yang tidak mampu ia miliki di rumahnya. Patung, guci, televisi dan benda-benda berharga lainnya.


"Ayah, dia datang!" kata Santi penuh semangat.


"Kamu tidak boleh keluar menemuinya, biar ayah saja."


Santi mengangguk. "Baik, Ayah."


Ayah Santi menuju ruang tamu, Toni segera berdiri ketika melihat seorang lelaki berusia lima puluh tahun datang menghampirinya.


"Kamu, Toni?"


"Iya," jawab Toni seraya mengangguk dan menyatukan tangannya ke depan.


"Iya," jawab Toni.


"Maksud kamu datang kemari ingin melamar putriku?"


"Iya, saya serius ingin menikahi anak, Bapak."


Ayah Santi berjalan melewati Toni. Kedua tangannya disatukan ke belakang. "Berapa modalmu mau melamar dia dan apa pekerjaanmu?" Secara tidak langsung pertanyaan itu menohok bagi Toni, ia merasa sakit dan malu ditanya seperti itu. "Hanya berbekal cintakah, mana bisa anak saya hidup dari itu semua."


"Saya akan berusaha," jawab Toni.


"Berapa tahun? Memangnya kamu lulusan apa, kudengar SD pun tak lulus sedangkan anak saya sarjana. Jangan-jangan kamu bakal pinjam ijazah dia buat bikin ijazah palsu. Enak benar hidupmu itu kalau sampai menikahi anak tunggal saya."


"Saya akan berusaha sendiri," jawab Toni tenang. Namun di hatinya sangat tersinggung dengan hinaan ayah Santi.


"Buktikan dulu baru ngomong. Saya tidak suka mendengar gombalan, saya suka bukti." Setelah berkata ia meninggalkan Toni begitu saja tanpa memandang wajah atau meminta Toni duduk kembali.


Toni tidak pamit tidak pula menunggu hingga Santi menemuinya, pemuda itu pulang dengan hati yang panas.


"Kenapa lagi kamu?" tanya Ibunya yang sedang memasak di dapur. Ia heran melihat Toni datang dengan wajah marah.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa," jawab Toni. Ia harus memendam sendiri sakit hatinya agar kedua orang tuanya jangan sampai membenci Santi. "Saya perlu modal usaha," kata Toni kemudian setelah hatinya mendingin kembali.


Ibunya menghentikan kegiatannya mengulek sambal. "Dapat modal dari mana, orang kita ini miskin tidak berharta?"


"Saya juga bingung kalau begini." Toni menggaruk kepalanya.


"Oh, ya. Di kampung sebelah ada tanah kita, coba kamu garap."


"Perlu modal untuk benih," jawab Toni prustasi.


"Pinjam saja pada temanmu," saran Ibunya.


"Semuanya juga sama seperti kita."


"Kalau tidak mampu kenapa memaksa? Jalani saja hidupmu apa adanya. Masalah jodoh itu Tuhan yang atur. Tidak di waktu ini akan ada waktu berikutnya," nasehat Ibunya. Perempuan itu kembali mengulek sambal.


Toni terdiam, mendesah. Ia harus bagaimanalagi untuk membuktikan pada ayah Santi.


"Ayah tidak suka kamu berhubungan dengan Toni. Dia miskin dan tidak berpendidikan!" Ayahnya berbicara di kamar putrinya.


"Tapi Santi cuma sayang sama Toni," jawab Santi.


"Memangnya cinta bisa bikin perutmu kenyang?"


"Tapi-"


"Tidak ada kata tapi! Kamu sudah ayah pilihkan dengan seorang dokter dan ayah akan segera mengatur pernikahan kalian."


"Tidak mau!" tolak Santi. Dadanya terasa sesak nyaris menangis karena keputusan ayahnya.


"Memangnya sampai kapan kamu terus mengharapkan lelaki itu mapan. Itu mustahil!" sangkal Ayahnya.


"Beri dia kesempatan," mohon Santi.


Ayahnya mendesah dan berbalik menghadap Putrinya. "Hidup tidak sekadar cinta, awal mula kalian bahagia, tetapi anak membuat kalian menderita. Orang tua bisa menahan lapar, lalu bagaimana bisa sebagai orang tua membiarkan anaknya kelaparan. Apalagi Toni itu miskin mana bisa dia membiayai sekolah anak kalian, jangankan membiayai mungkin membeli mainan sederhana saja dia tidak mampu."


Betapa mengena sindiran itu, membuat Santi merasa sakit dan kecewa. "Apa yang Ayah katakan padanya?" Ia ingin tahu apakah Toni mendengar sindiran ayahnya.


"Seperti yang saya jelaskan padamu barusan."


Malu juga sedih dirasakan Santi. Ia tidak dapat membayangkan perasaan Toni dan pantas saja pemuda itu pergi tanpa pamit padanya. Airmatanya mengalir tanpa ia sadari.


Bersambung say. Jangan lupa banyakin like biar saya semangat up.

__ADS_1


Episode berikutnya akan posting sore ini. Saya usahakan posting sehari dua episode untuk bulan ini. Jadi terus dukung cerita ini hingga tamat.


__ADS_2