
Anggara sepulang dari perawatan terheran memandang kamar miliknya. Di sana tidak ada lagi foto Shabita atau kenangan lain tentang gadis itu. Ali dan Adi telah membuangnya, namun perasaan yang dalam masih membekas dan sangat sulit untuk abaikan olehnya. Ia merasa pernah mendengar tawa dan bicara seorang gadis. Ia menghampiri kasur dan menaruh mantelnya di sana, ada sesuatu yang terlupa oleh mereka, yaitu sebuah jaket kulit yang tergantung di kastok dinding, jaket hitam yang pernah dikenakan Shabita sewaktu mereka bermalam di rumah tua sewaktu penyelidikan Toni. Aromanya masih sama, aroma yang khas Shabita masih melekat di sana. Ia meraihnya dan menikmati aromanya, lembut dan sangat dirindukan.
"Kamu sudah pulang?" tanya Endraw. Pria itu masuk karena pintunya tak dikunci oleh Anggara.
Anggara berbalik dan meletakkan jaket itu di atas kasur kemudian tersenyum. "Ya, saya baru saja pulang."
"Bagaimana perasaanmu, sehat?"
"Alhamdulillah," jawab Anggara.
"Lalu ... Shabita?"
"Shabita?" Terheran Anggara.
"Kekasihmu itu, bagaimana dia sekarang?"
"Kekasih ...?"
Endraw heran, ia memandang Anggara yang kebingungan. Tidak ada wajah sengaja berpura-pura di balik tanyanya tadi. "Kamu lupa siapa Shabita?"
"Siapa dia, kenapa Anda bertanya tentang orang yang tidak saya kenali?"
Endraw menghela napas dalam. "Apakah gadis bernama itu tidak pernah datang untuk menjengukmu?"
Anggara menggeleng sambil berkerut dahi. "Tidak, tolong katakan siapa dia?" harapnya dalam rasa penasaran yang tinggi.
"Seandainya aku memiliki fotonya?"
Anggara segera membuka dompetnya, memeriksa kenangan di sana, ia pula membuka galeri ponselnya, tak ada sesuatu yang mengingatkannya kembali tentang gadis itu. "Aneh?" gumamnya.
"Apa yang kamu ingat tentang dia?" tanya Endraw.
Anggara mengenang suara tawa, ucapan dan aroma gadis itu. "Saya tidak bisa mengingat wajahnya," akunya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, kurasa masih sangat lelah," saran Endraw. Ia ke luar lalu menutup pintu.
Anggara mematung, tidak dapat mengenang. Ia segera duduk di atas kasur dan memeluk erat jaket itu. "Shabita, siapa dia ...?
__ADS_1
Seorang gadis berpakaian ungu menghampirinya, wajahnya tidak tampak jelas oleh Anggara. Hanya saja senyumnya tampak indah dipandangnya. "Anggara, hey! Kapan kamu akan datang menjemputku? Anggara akan meraihnya, namun gadis itu telah menghilang ditelan kabut putih.
"Vanesa! Vanesa!" igaunya dalam tidur. "Van, Van!"
"Anggara! Anggara! Bangun!" Ali mengejutkannya. Melihat Anggara mengigau menyebut nama gadis itu, membuatnya ingin membongkar rahasia mereka.
"Vanesa!" teriak Anggara saat ia tersadar dan memandang ke seluruh sisi kamar, pandangannya terhenti saat melihat Ali. "Siapa Vanesa, siapa Shabita itu? Katakan!" Ia guncang kedua bahu Ali dan menatapnya penuh harap dibalas dengan jawaban yang ia harapkan.
Ali meraih lengan Anggara dan menurunkannya. "Tidak ada yang namanya Vanesa atau Shabita, itu hanya dalam mimpimu."
Anggara tertunduk lesu, namun sekejap kembali merenggut paksa pundak Ali dan matanya menuntut untuk dibalas. "Plis, bantu aku. Katakan siapa dia. Kumohon, hikz... hikz ...." Anggara melepaskan Ali dan menangkupkan wajah dengan kedua telapak tangannya.
Ali menepuk punggung Anggara, getaran terasa saat isak tangis pemuda itu makin menjadi. "Maaf," katanya segera berdiri dan pergi.
Anggara menatap pintu yang Ali tinggalkan, ia mengusap kedua matanya yang basah dan mengambil kunci motornya. Sebelum pergi ia sempat berpapasan dengan Abraham, si pemilik penginapan.
"Baru pulang?" sapa Abraham.
"Apa Anda mengenal Shabita?" tanya Anggara tanpa menjawab pertanyaan Abraham barusan.
"Apakah Anda punya kuncinya?" Lagi-lagi Anggara tidak mengubris pertanyaan pemilik rumah.
"Kuncinya ada padamu, kamu pernah meminta duplikatnya padaku. Seingatku kamu satukan di kuncimu," kenangnya.
Anggara segera meraih kantung celananya dan memeriksa kunci yang ia simpan. Benar saja ada kunci yang sama yang ia pakai untuk pintu kamarnya. "Terima kasih," ucapnya seraya berlari menuju kamar Shabita.
Anggara masuk ke kamar itu dan memandang tidak asing, ia masih ingat seorang gadis tengah tertidur di sebelahnya. Ia ingat bentuknya, tetapi sulit mengingat wajahnya. Pemuda itu duduk di atas kasur putih dan mengusap, sangat hangat bagai kehangatan Shabita. Ia kemudian memandang pada meja kerja. Pasti ada sesuatu di sana. Dicarinya baik di atas meja maupun di dalam laci, tak satu pun tersisa. Ia kemudian beralih pada lemari pakaian, dibuka dan kosong, hasilnya nihil. Tak ada apa pun, Anggara mendesah marah.
"Vanesa!" tekannya dalam nada kesal dan juga sedih.
Vanesa! Suara itu terdengar di telinga Shabita. Gadis itu berdebar dan memandang kamarnya. "Anggara," ucapnya lirih. "Kenapa aku merasa dia memanggilku?" Shabita meraih bantal guling, ia menjadikannya sebagai boneka. Dipeluknya sebagai Anggara.
Sedangkan Sariani masih memandang rumah itu. Masih setia menunggunya keluar dari sana. Seandainya Shabita tahu bahwa ia tidak sendiri, pastinya ia tidak akan bersedih seperti ini.
***
"Huek! Huek!"
__ADS_1
Terdengar suara dari kamar mandi, Talia heran dan langsung mendatangi. "Kamu hamil?" tanyanya saat Shabita ke luar dari sana.
"Masuk angin," sangkalnya. "Tidak mungkin, aku baru menikah dua hari mana mungkin hamil," terangnya.
"Anak manusia mungkin saja perlu waktu berminggu, tetapi anakmu bukan manusia. Dia bisa lahir meskipun baru berusia tiga bulan dalam kandungan," jelas Talia.
Shabita terkejut, ia baru menyadari bahwa kenyataannya Toni bukanlah manusia. "Ini pasti salah! Aku tidak mau hamil!" teriaknya.
"Kamu pikir aku tidak tahu. Aku sama seperti ayahku, bisa merasakan bayi di dalam sana. Sebagai Kuyang kami memiliki ketajaman penglihatan, Sha. Ku yakin kamu juga," katanya.
Shabita menggeleng kuat-kuat. Airmatanya mengalir, berlari sekuat tenaga menuju kamarnya. "Aku enggak mau anak darinya! Aku tak sudi anakku jadi dia!" teriaknya sambil merenggut seprai dan bantal lalu dibuang ke lantai.
Talia mendengar teriakan histeris gadis itu. Ia semakin heran dengan tingkah ibu tirinya. Apa yang sebenarnya papa pikirkan dengan menikahi gadis itu?
Anakku, seandainya kamu ada, mama harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Shabita mengusap perutnya. Saat ini ia tengah duduk di bawah samping ranjang.
Di sisi lain tempat yang gelap
"Anak Toni akan segera lahir!"
"Kita harus memakannya sebelum ayahnya kembali!"
"Tunggu dulu, kita jangan gegabah! Ada Krasue yang berasal dari tempatnya yang mendiami tubuh itu. Saat ini ia memang masih terkekang oleh keinginan gadis itu, kalau sampai segelnya terbuka maka akan sangat bahaya bagi kita."
"Kenapa kamu takut dengan satu Krasue saja? Kita bisa menghabisinya bersamaan!"
"Tidak! Gadis itu memiliki kekebalan tersendiri, tidak mempan senjata. Bila ia bersatu dengan Krasue dalam tubuhnya maka dia bisa membunuh kita dalam sekejap."
"Sebenarnya Krasue jenis apa itu?"
"Kuyang! Lebih ganas bila dipadukan dengan minyak Bintang!"
"Apa itu minyak Bintang?"
"Ada yang bilang dari tumbuhan, ada juga yang bilang dari bangkai ular atau hewan berbisa, adapula yang menyebutnya dari mayat musuh yang dibunuh kemudian dibakar dan diambil minyaknya sebagai obat yang dapat menyembuhkan luka dan membangkitkan orang mati. Rumor itu tidak jelas kebenarannya, tetapi khasiat minyak tersebut terbukti ampuh!"
"Sebaiknya gunakan cara lain."
__ADS_1