
Ditemukan kembali mayat yang sama dengan yang mereka temukan di rumah kosong beberapa hari yang lalu. Mayat busuk kini berada di tengah perkebunan. Meleleh dan dimakan ulat. Mereka menutup mulut serta hidung dengan apa pun yang mampu menghalau bau yang memasuki saluran udara mereka.
"Ini mayat ditemukan baru pagi tadi," kata salah seorang petani ketika ia ditanya oleh Ali. "Kemarin sewaktu kami bekerja di sini, mayat ini belum ada," tambahnya lagi.
Ali mencatat setiap perkataannya. "Kalau malam, apa kalian tidak melihat ada orang yang datang kemari?" tanya Ali.
Petani lelaki berusia lima puluh tahun itu menggeleng lemah seraya kerutkan keningnya pertanda ia pun heran dengan pristiwa yang menggemparkan pagi ini.
"Baik, apa selain Bapak adalagi yang tinggal di area sini?" tanya Ali lagi. Kini pemuda itu menyimpan catatannya.
"Barham dan Mia. Mereka juga tinggal di sini," jawabnya.
"Di mana mereka sekarang, Pak?" tanya Ali.
"Sudah beberapa hari ini mereka pulang kampung dan belum kembali lagi," jawabnya.
Ali menghela napas sesekali merasa sesak karena pada saat mengambil udara ia harus terpaksa mencium bau busuk itu. "Maksud saya orang yang berada di sini sewaktu peristiwa ini terjadi selain daripada Bapak?" tanya Ali.
"Oh, kalau itu saya tidak tahu lagi," jawabnya.
"Kalau begitu yang ngebunuh orang ini adalah Bapak," kata Ali.
Petani itu terkejut dan melompat mundur. "Mentang-mentang polisi, sembarang tuduh!" tudingnya.
Ali mau tidak mau tertawa juga melihat tingkah lucu si bapak. "Cuma bercanda, Pak. Habisnya Bapak tegang sekali," ucap Ali dibarengi dengan tawa yang tertutup saputangannya.
"Dasar." Petani itu mengomel dan omelannya hampir tidak terdengar oleh Ali.
"Li, Sini!" Inspektur Zamal memanggil Ali dengan isyarat tangan juga untuk memintanya datang.
"Pak, saya ke sana dulu ya." Ali menepuk pelan pundak bapak itu dan segera mendatangi atasannya.
"Coba kamu lihat mayat ini. Kalau diperhatikan hampir sama dengan tubuh korban yang dibunuh dan dipakai raganya waktu itu, ya?" kata Inspektur Zamal sambil menutup hidungnya dengan kerah bajunya sendiri.
"Sepertinya memang begitu, Pak. Yang jadi masalahnya bagaimana kita mengetahui korban berikutnya, terus cara mengatasi mayat hidup begini bagaimana?" tanya Ali.
"Soal hantu per hantuan kau jangan tanya saya. Saya juga bingung dan belum ada pengalaman menghadapi mayat hidup macam begini," kata atasannya.
"Kalau ditarik dari kesimpulannya, saya tidak ada kesimpulan, Pak." Ali memangut serius.
"Ngaur! Mana ada orang menyampaikan kesimpulan, tapi nggak punya kesimpulan." Atasannya menyentil dahi Ali.
Ali terkekeh dan mengusap dahinya yang disentil oleh atasannya tadi. "Bercanda, Pak. Daripada mati karena menghirup bau busuk di sini," alasannya.
Inspektur Zamal berlari menjauhi kerumunan orang yang juga penasaran ingin melihat jenazah di sana. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya agar tidak kehabisan udara saat kembali lagi memeriksa jenazah tersebut.
__ADS_1
****
Shabita terbaring di Rumah sakit, gadis itu sekarang sedang menjalani pemulihan di sana. Anggara dengan setia menemaninya dan sengaja mengambil cuti satu minggu untuk merawat Shabita di sana.
Dering telepon pemuda itu berbunyi. Anggara segera menerimanya. "Halo, Pak. Ada apa?" tanyanya.
"Cewekmu udah bangun belum, saya mau ke sana? Ada hal yang mau ditanyain sama dia," kata orang di dalam telepon.
Anggara menatap Shabita yang sekarang sedang menatapnya pula dengan pandangan bertanya-tanya. "Sudah, tapi dia baru sadar," katanya.
"Oke! Saya ke sana!" kata orang di telepon dengan suara penuh semangat.
Sambungan telepon terputus dan Anggara memberikan ponselnya pada Shabita. Gadis itu menerimanya dan menunggu Anggara yang keluar sebentar. Setelah beberapa menit Anggara datang lagi dengan membawa seikat mawar untuk Shabita. Gadis itu tersenyum menerimanya. "Buat kamu," katanya tadi sewaktu memberikan bunga tersebut.
"Anggara," panggil Shabita.
"Ya," sahutnya. Pemuda itu memandang Shabita.
"Dapat dari mana kembang ini, kok cepat sekali belinya?" tanya Shabita hanya sekadar berbasa-basi saja.
"Itu tadi ada yang membuangnya ke tempat sampah. Aku pungut terus kukasih ke kamu, lumayan hemat." Anggara menjelaskan.
"Ah, kamu bisa aja." Shabita tertawa kecil karena jawaban Anggara.
"Eh, benar kok. Itu tadi memang ada yang buang," katanya serius.
"Nggak bisa dibilang sampah juga, sih. Masih layak kok," bela Anggara.
Shabita memukul kepala Anggara dengan seikat bunga tersebut dan berbalik membelakanginya. "Dasar cowok gak modal! Mau ngasih bunga aja mesti ngorekin sampah dulu." Shabita mengomel.
Bunga-bunga mawar itu berhamburan di lantai. Anggara serba salah, ia ingin menyentuh gadis itu, tapi takut kalau Shabita bertambah marah lagi. Terpaksa ia diam sembari membersihkan bunga-bunga yang berserakan di lantai. Setelah membersihkan ia pergi lagi, berselang beberapa menit ia datang lagi dengan membawa sekuntum mawar merah.
"Ini buat kamu. Bukan dari sampah apalagi hasil mencuri dari kebun sebelah, itu asli dari membeli di toko depan," kata Anggara.
"Iya," jawab Shabita dengan nada ketus seraya menerima mawar dari Anggara.
"Cantik," goda Anggara sembari menumpukan kepalanya ke ranjang dengan sebelah tangan kanannya.
"Iya, bunganya cantik," jawab Shabita dengan malu-malu.
"Bukan bunga yang aku maksud." Anggara kembali menegakkan tubuhnya di bangku yang ia duduki sekarang. "Aku gak lagi muji bunga itu, tapi kamunya," katanya.
"Kupikir ngomongin ini," kata Shabita bingung. Ia sempat salah paham dengan pujian Anggara.
Tok, tok, tok. Pintu diketuk oleh Inspektur Zamal. Pria berusia hampir setengah abad itu masuk dan langsung menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Serius amat. Lagi lamaran ya," godanya.
"Cuma ngomongin hal lain, Pak." Anggara segera merebut mawar dari tangan Shabita dan menyimpannya di dalam laci meja tempat biasa perawat menaruh sesuatu di kamar pasien.
"Gak usah bohong. Itu mawar kenapa pula pakai disembunyikan, terus terang saya tidak akan mengambilnya kok," canda atasannya.
"Ekhem. Maksud Bapak datang ke sini apa?" tanya Anggara mengalihkan candaan orang itu.
Inspektur Zamal menepuk pelan lengan Anggara dan sekarang beralih menepuk tangan Shabita. "Eh, kemarin itu, 'kan. Ada mayat lagi dan jenazahnya meleleh lagi. Terus gitu pelakunya kita belum tahu nih siapa. Coba deh kau kira-kira siapa pelakunya?" tanya Inspektur Zamal dengan gaya dan nada suara mirip perempuan. Anggara saja tidak habis pikir setelah melihat tingkahnya yang sudah menyamai banci.
"Saya sulit memperkirakan kalau dia sedang jauh, tapi bila dia ada di sekitar sini, saya pasti merasakannya." Shabita nampak mencoba menerawang.
"Kira-kira, kamu tahu tidak siapa dia?" tanyanya lagi.
"Kalau jenazah yang dulu saya tahu siapa pemilik tubuh itu. Dia bernama Toni," jawab Shabita mantap tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Toni itu siapa?" tanya Anggara.
"Toni itu Palasit yang menterorku dulu, Ang," jawab Shabita.
"Palasit?!" Inspektur Zamal nampak terkesiap mendengar kata 'palasit' terlontar dari bibir mungil gadis itu.
"Iya, Pak. Saya pernah berhadapan langsung dengannya ketika sedang mengganggu Shabita," jelas Anggara.
"Tunggu! Tungu! Bukannya Palasit itu hantu kepala yang menjadi mitos ya? Kok benaran ada, sih?" herannya.
"Buktinya mayat hidup saja ada," kata Anggara.
"Tapi kok aneh. Dia kok berganti-ganti tubuh, bukannya Palasit itu sama dengan Kuyang ya? Yang hinggap di tubuh orang yang masih hidup?" tanyanya heran pada mereka berdua.
"Kuyang berbeda dengan Palasit, Pak. Kuyang hanya bisa makan dari meminjam badan orang yang masih hidup. Suka atau tidak dia akan tetap merasuki orang tersebut. Kalau Palasit itu juga sama, tapi ada yang membedakan. Ia bisa berganti raga semaunya kepada yang hidup asal yang hidup setuju dirasuki, bila tidak ia akan mencari mayat segar untuk didiami. Beda tingkat kesaktian beda pula cara hidupnya," jelas Shabita.
"Gunanya itu bisa buat pesugihan, 'kan?" tanya Inspektur Zamal lagi.
Shabita mengangguk membenarkan pernyataan orang tua di depannya. "Terus terang saya tidak mau berurusan dengan Toni lagi, Pak. Kapok saya diterornya," jujurnya.
"Lah! Terus bagaimana cara saya mengungkap kasus ini kalau situ gak mau?!" Inspektur Zamal terlihat tidak terima dengan penuturan gadis tadi.
"Biarkan dia istirahat dulu, Pak. Masih sakit dia," kata Anggara.
"Oke," Ia menghela napas dan berdiri. "Kalau begitu saya pamit dulu. Nanti saya kembali lagi," katanya kemudian Inspektur Zamal keluar dari ruangan itu.
"Benaran enggak papa ya, kalau kutolak begitu?" tanya Shabita serba salah.
"Gak papa, Sayang. Jangan begitu ah, mukanya." Anggara mengusap lengan gadis itu untuk memberinya ketenangan.
__ADS_1
Shabita menghela napas kemudian memandang keluar jendela. Ia merasa tidak enak hati karena menolak permintaan orang itu. Dan ia pun merasa kasihan dengan orang-orang yang akan menjadi korban Toni berikutnya.
Jangan lupa like dan kasih bintang ya, biar daku rajin up