
Vanesa kini
tiba di rumahnya, gadis itu mulai berkemas. Semua barang diangkutnya termasuk foto ayah dan ibunya. Ia sempat bingung akan mengemas barang apa saja. Pandangannya mencari-cari sesuatu yang takut untuk terlupa dibawa. Helaan napas terdengar darinya. Mengenang masa lalu ketika masih sangat muda.
"Mama, Vanesa sakit," kata gadis kecil berambut panjang sebahu, mengenakan dress putih bersih.
Si ibu memeriksa dengan telapak punggungnya kemudian menuntun Vanesa kecil agar tidur di kasur empuk miliknya. "Makanya jangan hujan-hujanan."
"Vanesa ..." Tak jadi gadis itu lanjutkan perkataannya. Lehernya sangat nyeri dan
berdarah. "Mama! Sakit!" rintihnya.
Sang ibu hanya bisa menangis dalam duka, coba menguatkan Vanesa kecil. Gadis itu mengerang dengan suara yang mengerikan. Lehernya terbuka makin lebar. Bergulingan dan dengan cepat si ibu merangkul si buah hati.
"Anakku," lirihnya. Dalam hati ingin berteriak, tetapi berusaha tegar agar si gadis mungil tidak bertambah perih.
Semakin lama semakin menjadi. Leher mulai terbuka hingga satu kilan. Akhirnya terputus dan
melayang meninggalkan tubuhnya. Si ibu hanya bisa menjerit dalam hati menahan duka mendalam. Vanesa menangis tanpa suara membayangkan dirinya saat itu. Ia mulai memercepat pekerjaannya. Mengenakan jaket merah dan sepatu putih kemudian pergi dari sana.
Terlihat mereka sedang mengadakan penyelidikan, Vanesa segera menerobos orang-orang yang
memberi kabar kematiannya. Dengan menyelipkan wajah di balik jaket, ia berhasil pergi.
"Ke mana aku pergi?" gumamnya.
"Ya, ke mana kaupergi?" Sariani tiba-tiba muncul di sampingnya dan mengulang pertanyaan Vanesa.
Vanesa memandang sekilas kemudian memandang ke depan jalan. Banyak mobil lalu-lalang. "Aku pun bingung."
"Angkot, Bu?" tanya Sopir angkot saat dirinya melihat Vanesa diam saja di pinggir jalan raya.
"Ke mana langkah kaki di situ aku tinggal," ujarnya pada Sariani kemudian berbicara
pada sopir angkot. "Bawa saya ke Samarinda," pintanya.
"Malam begini mana sampai, Bu."
"Kalau begitu saya carter ya?"
Si sopir nampak menimbang, lama hingga kaki Vanesa pegal. "Tapi carter mahal, apa sanggup?"
"Berapa?" tanya Vanesa tidak sabar.
"Dua ratus ribu," sebutnya ragu.
"Oke," jawab Vanesa tanpa penolakan malah ia segera membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Sariani tidak ikut masuk saat Vanesa menaiki angkot. Ia hanya memandang Vanesa dari kejauhan
__ADS_1
dan segera raib dari pandangan.
Vanesa diam seribu bahasa, tidak ada pembicaraan darinya antara dia dan si sopir angkot. Mungkin karena bosan akhirnya si sopir mengambil inisiatif menyalakan musik. Musik dinyalakan, kini suasana tidak sesunyi tadi. Mulai dari pasar, Masjid hingga sekolahan mereka lalui. Kini mereka melewati kuburan di dekat jalan raya. Entah kenapa warga Kalimantan Timur mengolah jalan pinggiran menjadi TPU, padahal bisa saja menyediakan lahan jauh dari jalan raya. Terbukti saatmelewati banyak makam-makam tersusun rapi dan dapat dilihat oleh pengendara yang melintasi jalan itu.
"Hihihi...." Vanesa merinding saat mendengar kikik itu. Ia mengusap tengkuknya. Terasa
dingin dan meremang hingga berdesir darahnya. Ia edarkan pandangannya. Saat melewati pemakaman ia melihat sesosok kepala wanita sedang bergelayutan di atas pohon mangga. Tertawa menatapnya. Vanesa segera memalingkan wajahnya.
"Bu, ada penumpang di depan. Boleh saya singgahi?" tanya si Sopir.
Vanesa diam tidak menjawab, namun matanya tidak ingin memandang ke depan atau ke belakang.
Karena Vanesa diam si sopir berpikir Vanesa setuju maka ia pun menghentikan mobilnya dan memberi tumpangan pada pelanggan lain.
"Mau ke mana?" tanyanya pada perempuan bersanggul dan mengenakan kebaya Kutai hijau.
"Ke Samarinda," jawabnya.
"Oh, masuk."
Perempuan bersanggul itu menaiki angkotnya dan duduk berhadapan dengan Vanesa. Diakui
perempuan itu memang cantik walau usianya mungkin sepantaran ibunya Vanesa, namun dari kulitnya tak kalah dengan gadis usia dua puluhan. Perempuan itu pandangi Vanesa tanpa berkedip sama sekali. Tersenyum walau tak dibalas senyum oleh Vanesa. Vanesa terlihat risih, ia mencoba mengalihkan pandangannya ke lain, tetapi rasa penasaran dan rasa takutnya merajai jiwa.
"Siapa namamu?" tanya perempuan itu.
Vanesa diam tidak menjawab, ia takut teramat sangat. Tubuhnya mulai berkeringat dan tangannya dikepal kuat-kuat. Suara musik yang terdengar nyaring olehnya tadi menjadi tidak berpengaruh. Semua terasa hening hanya dia dan perempuan itu yang ada. Mobil melaju cepat karena jalanan mulai sunyi oleh kendaraan. Tepat pukul 00:22, memang makanya menjadi lenggang.
berteman?"
Vanesa tetap diam, sementara perempuan itu tidak berkedip menatapnya. Perempuan itu membuka kerah kebayanya dan memerlihatkan pada Vanesa. Ada goresan memanjang di lehernya. Vanesa tahu walau tanpa melihat. Perempuan itu sengaja pamer dengan ilmunya.
"Tolong jangan ganggu aku," ucap gadis itu pelan. Masih menundukkan pandangannya.
Perempuan itu tersenyum. "Padahal aku paling tidak suka ada saingan. Makin banyak yang
sepertiku, maka makin tipis buatku makan." Ia memajukan duduknya dan menutup kembali kerahnya.
"Aku tidak mau bermusuhan apalagi berteman dengan kalian," tolak gadis itu.
"Oh, ya." Perempuan itu mencibir kemudian kembali duduk bersandar. "Kalau
sampai kamu mengambil atau menguasai wilayahku, aku tidak akan diam," tekannya.
Vanesa tidak tahan lagi. Ia mendongak menatap langsung matanya. "Jangan ganggu aku!"
Perempuan itu diam membalas pandangan tajam Vanesa. Diakuinya Vanesa masih sangat muda
darinya, kecantikannya, kepolosannya membuatnya memendam rasa iri. Musik seakan baru terdengar lagi di telinga Vanesa, padahal musik itu memang dari tadi sudah diputar, mungkin karena alasan gaib yang membuat musik tidak terdengar dan tergantikan oleh dunia mereka sendiri.
__ADS_1
Dia sangat sakti, aku takut. Vanesa was-was.
"Singgah di sini saja," kata perempuan itu sambil menepuk bahu si sopir dari belakang.
Merasa ditepuk sopir pun menghentikan kendaraan dan segera memandang ke belakang. "Di
sini?" Ia ingin kepastian.
"ya, Berapa?" tanya Perempuan itu setelah turun dari mobil.
"Sepuluh ribu," jawab si Sopir.
Tampak perempuan itu meraih dompet yang berada di dalam tas kecil miliknya dan memberikan uang yang diambil dari sana pada sopir. Vanesa dapat bernapas lega saat perempuan itu pergi.
"Mau ke mana, Bu?" tanya si Sopir sambil melirik kaca depan untuk melihat raut wajah gadis itu.
Vanesa bingung, bingung sekali. Tampak jelas di wajahnya. Ia memerhatikan jalanan yang
dilewatinya. "Em, apakah ada penginapan di daerah sini? Bawa saja saya ke situ."
"Oke," jawab Sopir.
Vanesa melamun, tidak menyadari kalau mereka sudah berhenti di depan penginapan Soraya. Ia
tersentak saat si sopir menepuk bahunya. Ia pandang penginapan itu dari jendela mobil dan memandang si sopir yang sudah berada dekat di jendela samping ia duduk.
"Bu, ini penginapannya," kata Sopir itu dari luar.
Vanesa segera turun dan memberikan uangnya pada si sopir. Setelah mobil berlalu ia segera
masuk ke penginapan seraya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.
"Siapa namanya?" tanya lelaki berusia empat puluhan tahun. Bertubuh besar dan kaus partai di tubuhnya. Ia sempat memandang Vanesa yang masih kebingungan memandang ke sana-kemari.
"Shabita," ucapnya cepat.
"Mau menginap?"
"Ya."
"Di sini ada kosan ada pula motel. Mau menginap semalam apa per bulan?" tanyanya.
Vanesa berpikir sejenak. Menimbang dulu. "Kontrak!" jawabnya pasti.
"Berapa lama?"
"Belum pasti," jawabnya lirih.
Bapak itu memandang Vanesa sambil hela napas. "Ayolah, ini kuncinya. Cari sendiri, nomornya ada pada kunci." Ia menyerahkan kunci yang diambil dari laci kasirnya.
__ADS_1
Vanesa menerimanya dan tersenyum. Ini awal baru di mana ia harus hidup dengan identitas baru pula