
Anggara sedang mencari ikan di laut. Ia segaja meminjam perahu kecil dari salah satu nelayan. Shabita tampak sedang mendayung air dengan jemarinya. Sesekali ia menyiram air ke arah Anggara.
"Jangan nakal, basah semua ini." Anggara mengalihkan pandangannya ke nelayan yang melewatinya.
"Hahaha ...." Shabita tertawa. Ia tetap melakukan aksinya, yaitu menyiram Anggara.
Anggara berdesih jengkel. Ia menarik Shabita dalam pelukannya kemudian tetap mendayung dengan gadis itu bersandar padanya. "Hey!" Anggara kesal lantaran Shabita mengambil dayungnya kemudian membuangnya ke air.
"Hahahahaha ...." Shabita tertawa melihat wajah Anggara yang masam.
"Hum!" Hembusan napas Anggara menghangatkan wajah Shabita. "Nakal!" Anggara mencubit kedua pipi Shabita dengan gemas. "Tunggu di sini, aku berenang dulu. Ambil itu!" tunjuknya pada dayung yang mulai menjauh dari mereka.
Shabita memandang Anggara yang berenang meraih dayung mereka. Anggara segera naik setelah mendapatkan dayung, tetapi dayung kembali dilempar Shabita.
"Haa? Uh! Dasar!" Kembali ia turun untuk mengambil dayung. Ia menaruh dayung ke kapal. "Jangan usil!" bentaknya saat Shabita ingin mengerjainya lagi.
Anggara basah kuyup, ia tidak tersenyum apalagi ikut tertawa. "Kalau jatuh lagi, ambil sendiri."
Shabita mengulum tawanya sambil memandangi para nelayan yang mulai menjala ikan. "Anggara, aku kangen rumah."
"Sabar," kata Anggara. "Adikku lagi mengusahakan."
Shabita memandang Anggara. "Kalau aku bukan Kuyang, mungkin kenyataannya nggak kayak gini."
"Kalau bukan karena itu mana mungkin aku ketemu kamu," jawab Anggara.
Shabita mengelus perutnya. "Nggak nyesal walau aku lagi begini?" tanya Shabita.
"Dara," kata Anggara.
"Dara, siapa itu?" tanya Shabita.
"Nama anak kita nanti Dara." Ia menunjuk perut Shabita. "Aku ingin menamainya begitu."
"Dara," ucap Shabita lirih sambil mengusap perutnya. "Kalau lelaki gimana?" tanya Shabita.
Anggara menggeleng lemah. "Tidak mungkin lelaki, karena aku yakin dia perempuan."
"Seyakin itu?" ejek Shabita.
"Yakin!" jawab Anggara.
"Kayak dokter aja," kata Shabita sambil tersenyum mengejek.
Anggara mengambil jala, ia mulai menjala ikan. Shabita memandang perbuatan Anggara dengan senang karena banyak ikan yang didapat.
"Ikannya mirip kamu!" tunjuk Shabita pada gurita yang dijala Anggara. Ia tertawa ngakak sambil membandingkan wajah pemuda itu dengan gurita.
"Ish, kenapa hari ini apes sekali. Dikerjai, dihina lagi!" gerutu Anggara.
__ADS_1
"Hahahaha ...." Shabita menutup mulutnya ketika tertawa.
"Nih!" Anggara melempar gurita ke pangkuan Aina.
"AAA!" teriak Shabita. Ia geli dengan hewan air satu ini. Ia berdiri dan melompat. "Eh!" Perahu oleng. Nyaris terjatuh kalau tidak diraih Anggara tangannya.
"Terlalu usil!" omel Anggara.
Shabita duduk kembali, ia menyepak gurita yang berada di bawah kakinya.
"Jangan dibuang. Itu mirip aku, kan? Nikahi saja terus aku saja yang dibuang!" singgung Anggara.
"Ih, marah," sindir Shabita.
"Mending pulang." Anggara memutar haluan perahunya. Shabita menghampiri Anggra, ia bersandar pada pemuda itu. "Sana, sama gurita tadi. Tuh, kasihan dia di bawah situ." Anggara mendorong Shabita dengan dadanya.
"Ish," decih Shabita. Ia kesal kemudian menjauh. "Ngapain?" tanyanya saat Anggara meraih dirinya kembali.
"Guritanya di sini, ngapain di situ?" Anggara tersenyum.
Shabita tersenyum diam-diam. Malu lantaran ulah Anggara yang mencubit lembut pipinya.
Sariani sedang mencoba melepaskan baju dari Sean. "Egh! Susahnya!" Ia tetap berusaha keras.
Sean berdiri di pintu sedang memandangnya. "Ngapain kamu, telanjang?" sindirnya.
"Baju itu memang dibuat agar kamu jangan lari dariku," jawab Sean.
"Sial! Dasar penjajah!" sumpah serapah Sariani. Menyesal ia mencoba baju itu.
"Aku tunggu di bawah. Kita ngopi pagi," kata Sean.
"Ngopi?" Sudah berapa lama semenjak aku mati tidak pernah makan dan minum. Apa aku bisa menyentuh makanan? Sariani menuruti pesan Sean untuk menemuinya di teras.
"Duduk," pinta Sean. Ia sempat tersenyum pada tetangga yang melewati rumah mereka.
Sariani memandang seorang ibu yang tersenyum padanya. ia tanpa sadar membalas senyuman itu. Setelah sadar kemudian ia memandang Sean. "Dia melihatku?" tanyanya sambil menunjuk ke arah ibu tadi yang telah melewati rumah Sean.
"Duduklah, diminum kopinya." Ia memberikan segelas kopi pada Sariani. Ia tampak ragu menerimanya, tetapi setelah disambutnya ternyata ia terkejut lantaran mampu memegangnya. Ia kemudian duduk dan meminumnya. "Aku bisa merasakannya lagi?" Sariani ceria. Ia mengulangi perbuatannya.
"Asal baju itu jangan dilepas. Semua bisa kamu raih termasuk semua orang bisa melihatmu." Sean meraih tisu kemudian menyeka bibir Sariani yang bernoda kopi. "Saking senangnya sampai begini," ejeknya.
"Kelemahannya?" tanya Sariani sambil menepis Sean.
"Kamu tidak bisa menembus apa pun atau melayang."
"Bagaimana caraku mendatangi Vanesa?!"
"Hari ini dingin, ya!" Sean melarikan diri masuk ke rumah.
__ADS_1
Sial! Dia mengekangku dengan baju ini! Sariani kembali ingin meminum kopinya, tetapi ia lupa bahwa kopi tersebut telah habis oleh dirinya sendiri. "Ish! Ia menaruh kembali gelas itu.
Di tempat lain Talia tidak menyangka bahwa ayahnya akan pulang lebih awal. Bila sudah begini ia bingung akan bercerita tentang kepergian Shabita.
"Apa kabarmu, sayang?" tanya Toni sambil merangkul Talia.
"Kabar, Papa?"
"Kok malah tanya balik?" ejek Toni.
"Mana mamamu?" tanya Toni.
"Dia ... sedang jalan dengan pelayan baru."
"Jalan?" tanya Toni cemas.
"Iya, sebentar lagi mungkin datang."
"Papa membolehkan kamu mengambil pengawal, tapi hanya dalam rumah. Tidak untuk jalan-jalan."
"Tidak, Pa. Mereka pasti datang. Istirahat saja dulu," bujuk Talia.
Toni melihat gelagat aneh Talia. Ia menjadi curiga, tetapi akan menunggu hasilnya. Apakah kecurigaannya terbukti atau hanya perasaan saja. "Baiklah. Pinta mamamu menemui papa sepulang dia dari jalan-jalan."
Talia memandang Toni yang pergi. Ia mengepal tangan. "Asam! Kenapa aku yang harus repot?!" Mereka pasti ke jurusan kereta selanjutnya. Aku harus temukan mereka sebelum papa menemukan mereka lebih dulu.
Sean memandang Sariani yang sedang menangis di kamarnya. Ia menyeka airmata Sariani.
"Sebentar lagi Vanesa lahiran. Tidak bisakah aku datang untuk melihatnya?" rengeknya.
"Aku tahu tujuanmu bukan itu," sangkal Sean.
"Plis!" mohon Sariani.
"Kamu memang siap binasa karena terlalu lama ada di dunia ini, tetapi aku belum siap untuk melepasmu, belum siap, Sariani."
"Aku dan kamu beda dunia, Sean. Jangan menyukaiku."
"Tidak peduli. Bagiku tidak mengapa bila terus begini tanpa ikatan pernikahan yang penting kamu di sisiku selalu."
"Jahatnya!" teriak Sariani.
Sean merangkul Sariani secara mendadak. "Susst ... sampai kapan kamu terus bergentayangan tanpa arah? Di sini, di sisiku tempatmu."
"Enggak mau! Aku nggak mau!" Sariani meronta dari Sean.
"Susstt ... tidurlah. Tidur seperti manusia." Sean menyirap Sariani dengan usapan lembut di rambutnya. "Sudah lama, kan tidak pernah tidur? Tidur, ya."
Sariani melemah, ia terkulai dalam pelukan Sean. Pemuda ini membaringkan Sariani kemudian menyelimutinya.
__ADS_1