
Sesuai permintaan pembaca pengen save baby. Oke saya kabulkan.
Talia kebingungan memandang terowongan yang tertutup bebatuan dan juga puing bagunan. Ia tidak mungkin ke sana menggunakan kesaktiannya di depan orang banyak, akan sangat menarik perhatian sekali bila itu dilakukan. Bencinya kalau sudah begini! Ia memandang ke sana-kemari dan menepi ke jauh kerumunan.
"Halo, aku tidak bisa masuk ke sana, banyak orang di sini. Tak mungkin akan dapat memerlihatkan kesaktianku bila dalam keadaan begini?" Ia menelepon Sean.
Sean memandang Sariani yang berdiri di belakangnya. "Akan kuminta Sariani datang." Ia mematikan sambungan telepon. "Sar, datanglah ke sana, bantu Talia."
Sariani menghilang, sadangkan Sean mengetuk-ngetuk ponsel di dagunya. Kemudian terkejut lantaran Sariani datang kembali di hadapannya. "Anu ... aku tidak tahu di mana arahnya. Hehe ...." Sariani garuk kepalanya.
Sean menepuk ponsel itu ke dahinya dan mendesah jengkel. "Tuh, kamu lihat alamat di ponsel ini. Di situ dia!" Sean memerlihatkan peta di layar ponselnya.
Sariani tersenyum, ia kembali raib. Talia sedang menunggunya, ia tidak sadar kalau Sariani telah berada di belakangnya. "Saya datang," sapa Sariani.
"Kenapa lama sekali? Aku takut Shabita berbuat sesuatu!" omelnya.
"Aku tersesat tadi," jawab Sariani.
"Sean mana?" Talia mencari-cari sosok pemuda itu.
"Pemuda o'on itu tidak akan datang, dia malah menyuruhku untuk datang padamu." Sariani terlihat puas menghina Sean.
"Sudahlah, sekarang buat aku bisa masuk ke sana!" Talia memandang serius Sariani.
"Persiapkan dirimu," saran Sariani.
Talia tidak membantah, ia mengatur napas dan menegakkan tubuhnya. Sariani merasuk dalam tubuhnya. Seketika ia merasakan hawa dingin berganti menjadi normal kembali. Aliran darahnya kembali normal, energinya bertambah semakin bugar. Talia memusatkan kesaktiannya dan memejamkan mata, dalam sekejap ia sudah berada di dalam terowongan gelap dan pengap. Dialiri sengatan listrik yang dapat menyambarnya kapan saja bila ia salah melangkah apalagi sampai terkena air yang menggenang. Terpaksa ia harus berjalan miring di pinggir terowongan.
Talia menyesali, mengapa ia tidak meminta Sariani untuk menghadirkannya di tempat aman saja. "Aduh! Nyari gara-gara saja kau!" makinya. Jalan ini begini panjang, bagaimana sampainya kalau harus begini?
__ADS_1
"Gunakan sayapmu!" Sariani sudah berada di hadapannya. Ia mengambang di atas air.
"Sial! Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi! Ini gara-gara ulahmu!" tudingnya.
"Cerewet! Masih bagus kubantu!" Sariani melesat lebih dulu.
"Kau--ah! Sudahlah!" Talia segera memusatkan inti kesaktiannya yang berpusat dari perut ke dada.
Sedikit demi sedikit sayap keluar dari punggung mulusnya, lama-kelaman melebar dan membentang. Talia segera terbang menelusuri terowongan, sesekali ia nyaris terkena sambaran kawat yang putus akibat reruntuhan, tetapi ia selalu bisa menghindari. Sariani telah tiba lebih dulu, ia melihat Shabita akan memangsa Roy yang sedang meringsut mundur dan kepala pemuda itu berdarah karenanya.
"Hentikan, Ibu!" bentak Sariani.
Shabita mendengar, ia menulikan telinga, membutakan mata agar tidak terganggu oleh anaknya itu. Tetap maju walaupun telah dihalangi oleh Sariani dengan menjadi tameng bagi pemuda itu. "Minggir!" Ia menembus Sariani.
Sariani tidak ada pilihan lain selain menidurkan pemuda itu maka ditiupnya wajahnya kemudian pemuda itu terlelap. Hanya cara ini agar dia tidak melihatpertarungan Talia dan Vanesa.
Talia datang saat Shabita telah berjongkok akan meraih Roy. Ia segera menerjang Shabita hingga gadis itu terseret ke dinding lorong. Uwe! Uwe! Suara tangisan bayi terganggu lantaran pertarungan mereka berdua. Sariani segera menyapukan wajah semua bayi dengan kesaktiannya agar mereka kembali terlelap. Suasana kembali sunyi hanya ada suara pertarungan Shabita dan Talia.
"Sean, o'on! Ke mana dia?!" Geregetan sekali Sariani melihat pertarungan Talia dan Shabita. Ia takut bila mereka di luar sana berhasil meledakkan penghalang pintu terowongan, maka mereka akan melihat Talia dan Shabita bertarung. Ditambah pemuda itu tidak ada untuk membantu, paling tidak membawa bayi-bayi ini aman dulu.
"Ledakkan!" perintah Ketua Tim peledak.
Mereka yang bertugas segera mematuhi perintah dan meledakkan penghalang terowongan. Darr! Di sana para warga diminta menjauh dan tidak ada yang boleh mendekat dengan petugas.
"Pak! Sudah diledakkan, tapi sepertinya saluran di dalam juga buntu. Kita harus memasang dinamit lagi untuk menembus ke sana," saran bawahannya.
"Lakukan!" perintahnya.
"Gawat! Mereka mulai membuka jalan!" Sariani panik. "Talia cepatlah!"
__ADS_1
Talia jengkel diperintah begitu, ia kepayahan menandingi kesaktian ibu tirinya sedangkan dia hanya bisa berbicara di sana.
"Germ!" Shabita marah. Ia tidak ada waktu untuk meladeni Talia. Ia tidak bodoh bila harus tertangkap basah dan harus kehilangan bayi yang sudah didapatnya. Dari itu iya menendang perut gadis itu hingga Talia termundur. Kemudian bersalto di udara dan mendaratkan tendangan di wajah Talia.
"Eg!" Talia merasa dadanya nyaris tidak mampu mengambil napas. Ia sudah berusaha siaga. Namun, kembali dadanya ditendang oleh Shabita. Kembali tendangan akan bersarang di wajahnya, Talia dengan sigap menangkis dan memutar balik keadaan. Kini ia membalas perlakuan Shabita padanya. Ia melompat untuk menendang wajah gadis itu. Kemudian mendarat dengan bersalto ke belakang.
Shabita menyapu darah di bibirnya. Ia tersenyum dan meruncingkan kukunya. Kuku hitam mengalir darah biru empedu. Talia terheran, bagaimana ia mampu merubah darahnya yang dulu hitam menjadi biru seperti itu. Namun, tidak ada waktu untuk berpikir. Ia harus bisa mengulur waktu sampai bayi itu diselamatkan oleh mereka.
Sean sedang musatkan kesaktiannya. Ia berdiri di balkon rumah Talia. Pemuda itu sedang menerawang Shabita. Ia mengangkat tangan kanan dan membuka telapak tangan. Ada cahaya perak keluar dari tangan itu. "Bantulah Talia!" perintahnya. Cahaya itu melesat begitu cepat hingga terlihat seperti sebuah meteor yang akan jatuh ke Bumi. Langsung turun menembus ke dalam terowongan.
Shabita yang telah siap untuk maju, kini terkejut mendengar suara keras dari atas. Ia memandang ke atas dan segera menghindari kesaktian Sean.
"Asam! Dia menggangguku lagi!" bentak Shabita. Ia sanggup menghindari satu cahaya, tetapi cahaya lainnya datang bagai hujan menyerangnya. Shabita segera menangkis dengan menggunakan rambutnya.
"Talia tinggalkan bayi ini, biar mereka yang urus. Kita harus pergi sebelum mereka melihat kita!" perintah Sariani.
"Dia?" Talia bimbang.
"Biarkan dia. Itu urusan Sean!"
Tidak ada pilihan lain selain menurut, maka ia segera melenyapkan diri dan kembali ke mobil. Sedangkan Shabita sedang bertarung dengan cahaya perak itu.
"Pak! Pintu terbuka!" lapor salah seorang Tim peledak.
Tanpa diminta Tim medis segera masuk untuk menyelamatkan korban dan bayi di dalam.
Gawat, mereka datang! Aku harus pergi dari sini! Shabita ingin mengambil bayi itu. Namun, lagi-lagi terhalang oleh kesaktian Sean. Akhirnya ia mengalah dan pergi begitu saja
Talia sedang memandang dari dalam mobil sambil mengatur napasnya. Ia lelah menghadapi Shabita. Ia memandang kembali ke tempat kejadian, Talia tersenyum saat bayi-bayi itu berhasil diselamatkan oleh mereka.
__ADS_1
Shabita datang langsung berada di dalam kamarnya. Bajunya koyak di sana-sini. "Sial! Bisanya aku kalah dengan kesaktian manusia?! Egh! Bayi-bayiku!" Ia meremas kepalanya lantaran kesal.