
"Kamu kok, diam?" tanya Bagus saat mereka duduk di halte. Kebetulan saat itu sedang hujan. Terpaksa mereka berteduh.
"Aku lagi mikirin papa."
"Kenapa bapak mertuaku itu?"
Dara hanya mendesah sembari menatap hujan. Ia sudah biasa dibuat kesal oleh Bagus dengan candaan seperti itu. "Papa nggak ada saat aku sakit. Aku takut nggak bisa mengendalikan diri."
"Oh, gitu." Bagus hanya mengangguk-angguk sembari memandang gadis yang kehujanan dan segera memarkirkan motor di sisi halte kemudian berlari dan berdiri di ujung sana. "Hay, cewek! Boleh minta no--aw!" Si gadis meringis saat melihat Dara menarik pipi Bagus.
"Aku lagi curhat, tapi kamu malah asyik menggombali cewek lain!"
"Sakit!" Ia menepis tangan Dara kemudian mengusap pipinya.
"Sana, pergi! Aku nggak ingin cerita lagi!" Dengan santainya Bagus malah menghampiri gadis itu. Membuat Dara merengut.
"Cewekmu?" tanya gadis manis berbaju kuning itu.
"Bukan, cuma teman."
"Oh, kukira cewekmu."
"Nama?"
"Yang dulu apa sekarang?"
"Kenapa berbeda?"
"Dulu Ani kalau sekarang Maria."
"Loh, kok?"
"Biar keren, em ... siapa?"
"Panggil kakak saja."
"Kakak, namanya siapa?"
"Alex."
"Eh, buset! Nama orang itu langsung ganti!" Dara kaget. Ia kemudian mencibir. Ponselnya berbunyi. Ia segera raih dari saku baju di bagian pinggang. "Papa?"
"Kamu di mana, Nak?"
"Sama Bagus. Mau pulang, tapi kehujanan."
"Papa, juga. Kamu hati-hati sama Bagus, ya."
"Kenapa dengan dia, Pa?"
"Biasa lelaki. Kalau macam-macam, gigit aja batang lehernya!"
Dara nyaris tertawa. Ia kemudian mendengar suara Shabita. "Iya, Ma?"
"Kamu jangan nakal. Jaga diri baik-baik."
"Iya, Ma."
"Mama, lagi di depan supermaket. Mungkin malam baru pulang. Berteduh juga."
Suara guntur membuat Dara terkejut. Ia segera mematikan ponsel. "Aaaa!" Ia terkejut lagi saat mendengar ada yang berteriak. Bagus sedang merangkul gadis tersebut.
"Kakak, takut petir!"
"Tenang ada kakak."
"Ih, nggak banget," ejeknya pelan.
Tidak lama teman gadis itu datang menjemput. "Itu teman Maria."
"Maria, naik mobil aku aja. Motormu biar diparkir di sini dulu," kata seorang pemuda. Teman Maria.
__ADS_1
"Aku pulang, ya, Kak."
"Oke." Bagus melambai. Setelah itu kembali pada Dara.
Dara berpura-pura acuh. Ia kemudian kembali memainkan ponsel. Jgaar!! Suara petir dan kilat mengagetkannya. Bertambah kaget pula dirinya saat Bagus malah melompat dan saat ini berpangku padanya. "Heh, turun!"
"Aku takut petir!"
"Bohong kamu, ya?!" Dara berusaha mendorong Bagus, tetapi pemuda itu begitu kuat mengikat lehernya. "Kamu mau bunuh aku, ya?!"
"Aku takut!" Kembali petir menyambar.
"Bohong, tadi kamu mampu menenangkan tu cewek. Kamu ambil keuntungan dariku ya?!"
"Bukan!"
"Terus?"
"Aku rangkul dia karena aku takut. Dia salah paham dikiranya aku melindungi dia. Ya, sudah karena di depan cewek cantik aku gengsi, dong. Makanya sok, kuat!" Dbuk! "Awwh!" Dara mendorong hingga bagus terjatuh. "Jadi maksudmu aku jelek. Jadi kamu pantas menunjukkan sifat aslimu ke aku gitu?!"
Bagus bangkit sembari memijat pinggang. "Iya, kamu jelek." Dbuk! "Aw!" Pinggangnya ditendang Dara. "Bunuh sekalian!" Bermaksud hendak membuat nyali Dara ciut. Ia malah gentar saat Dara meraih sendal hendak memukul. "Damai-damai!"
"Dasar rese!" Dara kembali memakai sendalnya. Ia duduk kembali.
"Aku tahu kamu cemburu." Bagus maju selangkah. Namun, ia segera mundur lagi selangkah saat melihat mata Dara yang menusuk ke arahnya. "Seram amat," gumamnya.
"Hujannya nggak berhenti ini!" keluh Dara. Air mulai membanjiri jalan. Ia cemas bila hingga pukul 4, tidak jua dapat pulang. "Aduh, aku takut berubah jadi itu."
"Kita nginap di hotel, yuk!" bisik Bagus.
"Kamu ngajakin aku ngapain di sana?"
"Ngajakin tidur."
"Kata papa, gigit batang leher Bagus."
"Ih, seram amat papa mertua."
"Di depan sana ada hotel. Kita nginap di sana dulu. Kan, nggak mungkin kamu berubah saat di depan umum begini."
Dara diam, ia memandang hotel di seberang jalan. "Aku takut. Nanti ada yang tahu."
"Paling teman papamu yang bertugas merazia hotel. Lumayan, kan bisa masuk TV."
"Bagus, saraf!" Ia memukuli Bagus.
"Udah, ah. Aku ini lagi ngasih solusi biar kamu nggak menarik perhatian orang. Nggak lucu kalau kamu jerit-jerit di sini, tahu!"
Dara menghentikan kelakuannya. Yang dikatakan Bagus ada benarnya juga. "Terus aku harus bagaimana?"
"Mana kutahu."
Dara melirik arlojinya. Ia bingung saat melihat jam menunjukkan pukul 15:03. "Gus, udah sore. Aku takut!"
Bagus melirik tangan Dara. Ia kemudian menggenggamnya. "Yakin saja. Jangan goyah. Tidak ada yang memaksamu untuk berubah. Yang harus kamu lakukan ialah fokus saja."
***
Lani mengintip dari gorden. Ia menunggu mereka pulang. Lani amat gelisah.
"Kakak tidak pulang. Papa sama mama juga gitu. Jangan-jangan mereka janjian makan di luar. Ih, Lani nggak diajak!" Ia segera menuju sofa dan menyaksikan televisi kembali. "Eh, film horor." Ia sangat antusias. Saat melihat itu Lani segera mendekat. Ia meraba lehernya saat melihat adegan kepala yang putus dari badan. "Eh, kayak punya kakak?" Ia kembali menyaksikan. "Oh, jadi gitu. Jadi Kuyang itu sama seperti kita." Ia mundur. Saat iklan berlangsung Lani menuju dapur untuk mengambil minum. Lani berkerut dahi saat merasakan ada sesuatu. Ia berbalik kemudian berteriak, "Mama!"
"Lani kenapa?" Shabita segera berlari ke dapur. Sedangkan Anggara sedang melepaskan jaketnya.
"Mama ... Mama!"
"Lani!"
"Mama!" Lani segera merangkul Shabita.
"Ada kepala di situ!"
__ADS_1
Shabita memandang meja makan. "Di mana?"
"Tadi ada, Ma!"
"Seperti apa dia?"
"Bentuknya kepala, rambut panjang. Berekor!"
"Usus maksudmu?"
"I--iya, Ma!"
Shabita berkerut dahi. Ia memandangi ruang. Tak menemukan apa pun, tatapi saat melihat lantai. Ia menemukan tetesan darah. Shabita kemudian menyusuri darah tersebut. Ia terkejut darah itu sampai di depan kamar Dara. "Dara?" Ia mencoba membuka kamar. Namun rupanya Dara telah menguncinya. "Dara, apa kamu sudah pulang?" Tak ada sahutan. "Dara!"
"Ada apa, sih, Mam?" tanya Anggara sembari mengeringkan rambut dengan handuk.
"Ada darah di sini."
Anggara terheran. "Dara ... Dara!" Ia coba mengetuk pintu.
"Pa, coba telepon kakak. Apa dia sudah pulang?" usul Lani.
"Lani, kakakmu tadi sudah pulang belum?"
"Seingat Lani, belum, Ma. Coba hubungi mungkin ada di dalam atau masih di jalan."
Ponsel Bagus bergetar. "Ya, Om?"
"Dara-nya mana?"
"Ada, Om. Lagi sama saya."
"Kamu jangan bohong."
"Serius, Om."
"Ada apa?"
"Papamu kira kamu nggak lagi sama aku."
Dara meraih ponsel Bagus. "Papa, Dara di sini sama Bagus."
"Kamarmu ini memang kamu kunci atau bagaimana?"
"Dara, kunci, Pa. Kan, kata Papa, Dara harus hati-hati."
"Kamu di sana baik-baik, kan. Maksud, Papa, nggak sakit atau berubah?" Ia memelankan suara.
"Ada, Bagus, Pa. Dara aman di sini. Dia tahu Dara, Pa."
Walau aneh, tetapi Anggara diam saja. "Baiklah. Papa, tutup. Kamu hati-hati."
"Kalau Dara, di sana, jadi siapa, dong di sini? Ini darah siapa?" Shabita cemas.
"Entahlah. Sekarang istirahat saja kalian. Biar Papa, bersihkan ini."
Lani dan Shabita kemudian masuk ke kamar. Anggara diam-diam membuka kamar Dara. Ia melihat darah itu sungguh benyak seperti terseret di lantai. "Siapa lagi ini?" Geregetan sekali dirinya. Ia memeriksa kolong, lemari hingga gorden jendela. Tidak ada sama sekali. Anggara kemudian menemukan perban dan kapas penuh darah di keranjang sampai. "Mungkin ini." Ia kemudian membungkusnya dan membawa keluar.
"Hihihihi!" Anggara terhenti saat mendengar suara itu. Ia yang hendak mengunci pintu kemudian segera masuk kembali. Tidak ada apa pun. Ia segera mengunci lagi dan mencari sapu pel untuk membersihkan lantai.
"Mama, aku takut. Nggak bisa tidur!"
"Tidurlah. Mama, jaga kamu."
"Mama, jangan lama di sana. Lani takut. Apalagi kakak nggak ada."
"Iya, nggak lama. Nanti mama bakal suruh Kak Dara dan Kak Bagus nginap di sini. Temani kamu."
"Benar, ya, Ma?"
"Ya."
__ADS_1