
"Aduh, kok aku ingat Zesi terus?" Bagus memijit pelipis sembari memandang foto Zesi.
"Waduh, parah itu. Ini bukan diguna-guna, tapi memang kamu yang mata keranjang!" ledek Nata. Pemuda berkacamata yang juga menjadi karyawan supermaket.
"Ah, nggak."
"Gimana tidak ingat kalau fotonya kamu pelototin sampai segitunya!" Ia melempar kardus kecil bekas parfum.
Bagus menghindar dengan menunduk. "Eh, iya juga, tapi aneh. Aku merasa akan gelisah kalau tidak lihat dia atau fotonya."
"Kamu katanya sudah punya cewek, Gus?"
"Kami cuma teman."
"Teman kok, pacaran?"
"Aku maunya gitu, tapi dianya yang nolak. Padahal papanya biar galak juga setuju dengan hubungan kami."
"Sudahlah. Mungkin karena ditolak jadi hatimu sudah berpaling ke yang lebih perhatian. Pikir positif aja, Gus."
"Ya, kali. Aku bakal ngomong deh, sama cewekku."
"Kamu mau putus?"
"Enggak."
"Terus?" Nata menghampiri Bagus sembari meraih permen kemudian membayarnya.
"Cuma mau curhat."
"Bodohmu itu bisa dikurangi, nggak? Itu kalau kamu cerita pasti bakal ribut!"
"Enggak. Kebetulan stok bodoh masih dipakai."
"Susah ngomong sama teman yang nggak waras!" Nata kemudian pandangi sekitar. "Gus, malam ini, kok aneh?"
"Aneh bagaimana?" Bagus tidak merasakan apa pun.
Nata meraba tengkuknya. "Gus, kamu nggak ngerasa hawa di sini jadi panas?"
"AC mati, kali."
"Normal, Gus!"
"Ih, mana kutahu."
Nata memandang jam dinding. Pukul 10:23. "Pelanggan sudah tidak ada. Tutup, yuk. Kita pulang!"
"Heh, dimarah bos nanti. Kita baru boleh pulang jam 3 nanti!"
Hari hujan. Seorang gadis berpakaian serba putih menggunakan payung hitam segera berlari kecil. Ia masuk ke market. Sembari mengusap lengan yang basah ia nampak melewati kasir. Seperti sedang mencari sesuatu.
"Tuh, pelanggan!" tegur Bagus.
Nata menghampiri gadis yang wajahnya tertutup sebagian rambut itu. "Mencari apa, Dek?"
Si gadis nampak terkejut. Ia segera menyingkap rambut. "Eh, anu ... aku cari jas hujan. Ada?"
"Berteduh saja di sini. Nanti kalau hujan berhenti Adik bisa pulang."
"Em, bisa?"
"Ya. Tidak apa. Di mana rumahnya, kok, sendirian tengah malam?"
"Jauh, Kak."
"Oh, ya sudah. Ke dekat kasir saja. Kita duduk bersama di situ."
__ADS_1
"Nggak papa?"
"Iya, nggak masalah."
Bagus berkerut dahi saat Nata menyiapkan kursi untuk gadis itu. Namun, ia hanya diam saja. Gadis itu tersenyum pada Bagus, tapi bagus terlihat acuh.
"Nama Adik, siapa?"
"Maisa, Kak."
"Kakak namanya Nata dan ini si Bagus." Ia menunjuk Bagus.
"Oh, iya, Kak." Gadis ini melirik lengan bagus. "Itu luka bekas gigitan, Kak?" Ia menunjuk Bagus.
Bagus melirik lengan kanan. Itu adalah bekas gigitan ibunya. "Oh, pacar Bagus, nakal. Kalau marah main gigit."
"Pacar, yang di foto itu, ya, Kak?"
Bagus menggaruk kepala. "Iya." Terpaksa berdusta.
"Cantik," puji Maika.
"Ya." Bagus meringis. "Cantik dari Hongkong. Cantikan juga Dara," batinnya.
Hujan semakin deras. Petir menyambar. Bagus terlihat gelisah, ia yang takut petir kini menutup kedua telinga.
"Hujan begini mana ada pelanggan datang," desah Nata.
"Kak, toko ini buka sampai jam berapa?"
"24 jam, Dik. Kami berganti jam kerja hingga jam 3 nanti."
"Aduh, bagaimana, kalau hujan tidak reda, aku harus segera pulang, Kak? Aku juga takut kalau kalian malah pulang lebih dahulu."
"Rumahmu di mana?"
"Hilir, Kak."
Maika melirik Bagus. "Terus kenapa?"
"Bareng dia aja. Di kost di sana."
"Iya, boleh," jawab Bagus. Namun, matanya masih menatap foto Zesi. Ponselnya berdering. Bagus meraih ponsel di meja. "Dara."
Dara yang sedang duduk di ruang tamu sembari menonton kartun seraya memakan camilan kini menelepon. "Gus, kamu masih kerja?"
"Iya, nih. Kenapa?"
"Anu ... aku kangen. Bisa nggak kita ketemuan besok?"
"Besok hari apa, sayang?"
"Hari minggu."
"Aku lembur."
"Loh, kan malam ini kamu ambil jam kerja. Kok, pagi udah kerja lagi?"
"Aku pulang jam tiga. Ada waktu satu atau dua jam untuk tidur."
"Jadi nggak bisa, nih?"
"Enggak."
"Oke, deh. Bay." Dara kecewa. Ia menaruh ponsel di meja.
"Kak, Bagus kenapa, Kak?"
__ADS_1
"Nggak tahu. Beberapa hari ini sering nggak ada waktu."
"Ih, kangen berat, ya? Katanya nggak cinta?" ledek Lani sembari menunjuk wajah Dara.
"Ah, berisik!"
Nata melirik Bagus. "Kamu kok, gitu?"
"Apanya?" tanya Bagus.
"Jangan diporsir. Kerja yang wajar saja."
"Hem." Bagus menyimpan ponselnya. "Hujannya reda. Aku antar atau nunggu aku pulang?" Ia memandang Maika.
"Kalau bisa ingin pulang sekarang, tapi ini masih jam sebelas. Aku pulang sendiri saja."
"Jangan. Bahaya!" cegah Nata.
"Iya, bahaya. Jalan kaki sendirian buat cewek itu bahaya. Aku antar saja dulu."
"Nggak papa, nih?"
"Nggak masalah." Bagus meraih kunci motor dari dalam ranselnya yang ditaruh di bawah meja. "Yuk!"
"Hati-hati!" seru Nata.
Bagus kemudian pergi dengan motor temannya. Di perjalanan mereka hanya diam. Tidak ada pembicaraan. Namun, sesekali Bagus melirik spion untuk melihat gadis itu. Nampak gadis itu malu saat Bagus melihatnya.
"Kak, dingin!" Ia merangkul Bagus.
Bagus hela napas. "Dingin-dingin! Kenapa tidak pakai jaket, sih?!" Namun, ia hanya protes dalam hati saja.
"Kak, rumahku dekat sini!"
Bagus segera hentikan motor. Ia memandang area gelap. "Kamu serius tinggal di sini?"
"Iya, Kak," jawabnya sembari turun dari motor. "Terima kasih, Kak."
"Oh, iya. Eh, tapi serius kamu tinggal di mari?"
"Iya, Kak. Kenapa, ih?"
"Kamu sebangsa setan?"
"Eh, ngomong apa, sih?!"
"Eh, maaf. Iya, kakak pulang." Bagus memutar motor. Ia segera pergi. Bagus merasa merinding dalam perjalanan. Ia melirik spion. Tak ada seseorang di belakang. Kendaraan tak sama sekali melintas. Tak tahu dirinya Maika sedang duduk di belakang dengan wajah pucat.
"Eh, cepat amat?" tanya Nata.
"Iya, nih. Rumahnya nggak terlalu jauh juga." Bagus kembali ke meja kasir.
"Kok, merinding lagi, Gus?" Ia usap tengkuk kemudian meraba tangan kiri. "Tuh, buluku pada berdiri semua!" Ia memerlihatkan pada Bagus.
"Ah, cuma perasaanmu saja." Bagus kembali meraih foto yang ia tinggalkan tadi.
Maika memandang foto Zesi. Ia terlihat marah. Sementara Zesi sedang asyik menelepon Caca.
"Kamu tahu, nggak? Aku habis ke dukun tadi siang. Wow, aku ingin tahu perasaan Bagus terhadapku besok."
"Eh, lupa, ya, besok, kan Minggu?"
"Ah, aku tahu. Dia sekarang tinggal bareng sama temannya. Dia kerja di market. Aku akan ke sana. Mau lihat reaksinya." Zesi menutup telepon. Ia segera berkaca kemudian memandang wajahnya. "Hah!" Ia terkejut saat melihat wajah Maika penuh darah di sana.
Sementara Dara sedang membasuh wajahnya. Ia tersentak saat melihat bayangannya yang memiliki wajah pucat. "Jangan ganggu aku!" Dara melempar sabun ke cermin.
"Dara, ada makhluk lain yang mencoba merebut milikmu. Waspadalah karena dia dari dunia lain."
__ADS_1
Dara tersentak saat Lani datang. Bayangan di cermin lenyap. Lani datang untuk menyikat gigi sebelum tidur.
aduh jaringan ngajak ribut!!