
Sariani kembali pada Sean setelah menuntaskan tugasnya. Ia disambut dengan sekuntum bunga mawar merah oleh pemuda itu.
"Rangka apa ini?" tanya Sariani seraya menyambut mawar dari Sean.
"Rangka tubuh! Ya, rangka kembalinya kamu lah," jawab Sean dengan nada kesal. Ia yang kini mengenakan baju hitam berlengan buntung kini sedang menarik Sariani ke kamarnya.
Ni, cowok aneh banget kelakuannya. Ia terpana saat Sean menunjukkan kamar miliknya yang dihiasi banyak bunga.
"Bangus, kan? Buatmu kamar ini," bisiknya.
"Kamu di mana?"
"Ya di sini juga!" jawabnya riang. Tuk! Kepalanya dipukul Sariani dengan mawar.
"Aku balik ke kamarku saja!" tolaknya.
Sean meraih tangan Sariani. "Aku cuma bercanda. Ini buatmu semua," bisiknya. "Aku akan tidur di kamarmu."
Sariani diam, ia tidak bergerak saat Sean mengusap rambut dan merangkulnya. "Aku takut kamu tidak bisa pulang tadi. Takut kamu kenapa-napa. Makanya karena aku cemas, aku tidak bisa berpikir kemudian menyibukkan diri untuk membuat semua ini."
Sariani terharu, ia tersenyum seraya membalas dekapan hangat Sean.
***
Shabita kembali, kini gadis ini berjalan menuju kamar untuk menemui Dara. Anggara terlihat sedang tidur seraya merangkul Dara. Sangat pelan sekali Shabita mengambil handuk untuk membersihkan diri dari pertarungan tadi. Sebuah tangan melingkar di pinggangnya, ia terkejut, tetapi tahu siapa yang mendekapnya dari belakang.
"Kamu baik-baik saja, kan?" bisik Anggara.
"Jangan disuruh lagi kalau takut aku celaka," goda Shabita. "Aku mau mandi," katanya. Ia mencoba melepaskan Anggara, tetapi Anggara tidak melepaskannya.
"Aku kangen," rengek Anggara.
"Anggara, aku harus mandi. Buang sial, bau darah!"
Anggara melepaskan Shabita. Ia tidak rela, terlihat dari wajahnya yang sangat tidak ingin Shabita pergi walau hanya sedetik pun.
Shabita kembali, ia telah mengenakan piayama di kamar mandi tadi. Seraya mengeringkan rambut dengan handuk ia sempat melirik Anggara yang tengah memandanya. "Kenapa?" Ia hanya merasa bingung dengan tingkah Anggara padanya.
"Kamu capek, biar kupijat?" tanya Anggara.
Shabita menggeleng seraya tersenyum menghampiri Anggara. "Enggak, kalau mau tidur, tidur saja."
__ADS_1
"Enggak enak kalau tidur enggak melihat kamu," jawab Anggara. Ia menarik Shabita untuk tidur di sebelahnya. "Gimana tadi ceritanya?" tanyanya seraya mengusap rambut Shabita.
"Aku tidak tahu, tanya saja Sariani," jawab Shabita dengan nada malas.
Anggara tidak lagi bertanya. Kini ia hanya ingin tidur setelah merangkul istrinya.
Keesokan harinya Rustam pamit, tugasnya usai, ia pula telah mengantar Tini ke rumahnya.
"Jangan lupa menelepon, ya?" pesan Tini waktu itu. Ia masih ingat gadis itu merengek ingin sekali ia bermalam di rumahnya beberapa hari.
"Kamu mau pulang?" tanya Anggara di telepon.
"Iya, nih. Pengen pulang ke Jakarta."
"Kupikir menetap terus dapat jodoh di sini," goda Anggara.
"Mimpi," jawab Rustam. Sebenarnya ia betah di Samarinda, tapi alasannya apa tetap tinggal sedangkan ia harus tugas ke sana-kemari.
Rustam mematikan sambungan telepon, ia kini telah siap menaiki motornya untuk ke bandara.
Anggara sedang menikmati sarapan yang dibuat Shabita di pagi hari. Ia makan seraya memandang Shabita yang sedang bercanda dengan Dara. "Kapan Lani datang?"
Shabita terheran, ia bingung. Siapa lagi yang disebut Anggara itu. "Siapa Lani?" Jangan-jangan selingkuhan dia?!
"Duh, belum besar ini kamu udah ngomongin anak lagi!" Shabita menepuk keningnya seraya menggeleng.
Anggara hanya tertawa tanpa suara seraya menyuap makanannya. Ia memandang Shabita yang mendesah dengan kelakuannya.
***
Adi datang sedikit terlambat ke kantor. Ia harus mengambil perangkat kerjanya. Saat sedang menuju ke ruang Komisaris, ia sempat memandang Anggara yang sedang menghitung jari. "Ngapain kamu?"
"Ngitung jumlah tabungan," jawab Anggara.
"Buat apa? Rumah ada, istri ada? Buat apalagi?"
"Buat punya anak lagi," jawab Anggara.
"Baru merangkak Dara udah menyiksa istri. Kasihan dia," ejek Adi.
"Masa?" Anggara tidak senang disebut menyiksa.
__ADS_1
"Kamu saja yang melahirkan, menyusui kemudian mengurus rumah. Rasakan gimana susahnya jadi perempuan!" Adi kemudian melewatinya dengan menggerutu jengkel.
"Masa, aku tegaan, sih?" gumamnya.
Tono datang membawa kertas HVS untuk kepentingan pengetikan. Ia kemudian duduk seraya memasang kertas pada printer. Anggara mencoleknya. "Ada apa?" tanya Tono.
"Kamu anakmu jarak berapa tahun dengan yang kedua?"
"Empat tahun," jawabnya seraya mengatur tinta.
"Kalau setahun?"
"Gila! Itu gimana istri, kasihan masa belum bisa ngomong baru belajar jalan sudah nambah lagi! Saya bakal getok kepala orang itu!"
"Tapi, kan ada yang begitu."
"Ada, sih. Banyak terjadi, tapi nggak kasihan istri itu namanya, berarti cuma nyamankan diri sendiri," jawabnya.
"Oh," ohnya tanpa ingin membahas lagi. Ia berpaling seraya menumpukan tangan pada meja dan menaruh kepalanya pada tangan itu.
"Kamu ya, Pak!" singgung Tono.
Anggara tersentak, kepalanya nyaris terbentur meja. "Ah, bukan. Itu tetanggaku yang begitu," ralatnya.
"Kupikir situ. Jangan gitu, ya. Saya paling tidak senang melihat orang banyak anak, tapi bedanya tipis."
"Kenapa kamu marah, kan terserah mereka?"
"Sebab saya lihat tetangga saya. Dia menggendong sekaligus menggeret anaknya yang baru bisa jalan. Sedangkan suaminya malah asyik nonton TIVI dan ngakak bareng teman-temannya."
"Emosi sekali kayaknya," gumam Anggara.
"Tentu," jawabnya.
Adi datang setelah mendapatkan yang diingininya. "Ang, aku patroli dulu. Ingat jangan curang. Kemarin aku turun kamu malah bilang aku bolos ke atasan. Sial!"
"Oh, kemarin ada? Maaf, lupa," jawabnya. Ia memang sengaja mengerjai Adi.
"Asam!" umpat Adi seraya berjalan keluar.
"Balas dendam boleh, tapi jangan gitu. Nanti ketahuan atasan bisa turun tahta kamu!" tegur Ali. Ia sedang asyik duduk di pojokan sembari menikmati gorengan.
__ADS_1
Anggara tidak membalas, ia hanya terkikik geli.