TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
113


__ADS_3

Tini tertegun memandang Adi di depan rumah Anggara, ia memang dari tadi sudah bersiap untuk berangkat ke rumah majikannya. Sembari menunggu ia membantu Bu RT menyapu teras. Adi melewati rumahnya kemudian menemui Anggara yang sepertinya akan pergi bersama Shabita.


Pemuda manis ini sesekali melirik ke dalam. "Dara, mana?" modusnya.


"Dara apa biniku?" sindir Anggara.


"Curigaan betul, sih. Mana berani aku begitu di depanmu kecuali, yah ... kamu nggak di rumah. Hahaha ...."


"Hah, sana datangi rumahnya!" usir Anggara sambil mendorong Adi.


Shabita keluar sambil menggendong Dara. Ia nampak jelita dengan lips pink dan baju yang senada dengan lips-nya.


"Cantiknya istriku--eh, orang!" ralatnya. "Sebaiknya kamu yang ke tempat RT, aku yang menemani istrimu jalan-jalan, bareng anak kita." Ia memainkan alisnya pada Shabita.


"Ayo, Yang!" ajak Anggara. Ia menyingkirkan Adi dari hadapan mereka sambil menarik Shabita.


"Jadi dititipin, Kak?" tanya Tini pada Shabita.


"Jadi, Bu RT-nya ada?" tanya Shabita.


"Ada, Kak. Masuk saja," katanya.


"Adi, sini!" panggil Anggara.


Adi berjalan ke tempatnya. Ia sempat memandang gadis berbaju hijau daun dengan celana jeans putih. Ia menilai Tini dari jauh, manis menurutnya. Hanya itu yang tercetus di pikiran pertama kali memandangnya.


"Ini orang yang akan membawamu ke rumah majikanmu itu," kata Anggara di saat Adi tiba di sampingnya.


"Siapa namanya?" tanya Adi tegas.


Tumben, ini anak tegas? Biasanya memang Adi tidak pernah serius.


"Tini, Om," jawab Tini.


"Tantemukah, Istriku?" sindir Adi.


"Maaf, Pak," ralat Tini.


"Ibumukah isriku?" bentaknya.


"Maaf ...." Tini ketakutan.


"Hey," tegur Anggara sambil mencubit pinggang Adi. "Nangis anak orang kamu gitukan," bisiknya.


Sebenarnya Adi hendak menjerit dan mengusap pinggangnya yang sakit, tetapi manalah mungkin ia bersikap memalukan di depan Tini. Terpaksa wajahnya dibuat setegas mungkin.


"Sudah?" tanya Anggara di saat Shabita keluar dari rumah itu. Sebagai balasan gadis itu hanya tersenyum seraya mengangguk. "Ayuk!" ajak Anggara seraya meraih tangan Shabita. Namun, sebelum sempat diraihnya Adi lebih dulu meraih tangan Shabita. Plak! Tangan Adi ditepis Anggara.


Tini tertawa pelan melihat tingkah Adi. Ia kembali diam dan menunduk saat Adi memandangnya.

__ADS_1


"Ada yang lucu?" tanya Adi sambil berkacak pinggang.


"Tidak, Bang."


"Sejak kapan saya jadi kakakmu?"


"Terus saya harus panggil apa?" tanya Tini. Ia nyaris menangis.


"Jangan dipanggil-panggil, saya bukan Jailangkung!" bentaknya. "Kamu lihat motor itu, keren tidak? Awas kalau bilang tidak keren, saya door kamu!" ancamnya.


Tini memandang motor yang terparkir di bawah pohon, ia tidak merasa keren motor itu sama sekali, tetapi saat memandang Adi terpaksa ia harus mengangguk.


"Suaramu hilangkah?"


"Keren!" teriaknya. Seraya berlari menuju motor itu.


"Hey! Napa bengong di sana? Ini motorku, kamu lihat itu motor siapa?" tegur Adi.


Tini salah tempat, ia kemudian menghampiri Adi. "Maaf," jawabnya. Padahal bukan salahnya, hanya saja Adi menunjuk motor di sana.


"Apa nggak papa, Tini sama Adi?" tanya Shabita. Ia cemas dengan Tini karena melihat sikap Adi yang kasar pada gadis itu.


"Maksudmu aku yang sama, Tini?" singgung Anggara. "Terus kamu bisa berduaan dengan, Adi?"


Shabita gemas ia mencubit pinggang Anggara. Mereka sedang dalam perjalanan, rencana akan ke bioskop. Anggara mengajaknya lantaran dapat tiket gratis dari Komisaris. "Sebenarnya saya ingin jalan sama istri saya, tapi tidak bisa lantaran istri saya nggak suka film romantis dia malah suka film bunuh-bunuhan, kan saya bosan tiap hari nonton orang beneran dibunuh. Masa iya, saya harus nonton itu sementara tiap hari kita ngurusin mayat melulu. Ambil dah, ajak istrimu jalan-jalan." Itulah katanya sewaktu Anggara izin untuk pulang sebentar lantaran ditelepon oleh Pak RT.


"Saya lupa-lupa ingat," jawab Tini. Ia tidak berani berpegangan pada Adi, maka dirinya hanya memegang besi di belakangnya.


"Kek, mana mau ke tujuan kalau lupa?" sindir Adi.


"Saya ... ingat, kok."


"Tadi bilangnya lupa?"


"Bisa tidak Anda diam saja? Nanti saya beritahu kalau sudah dekat!" teriak Tini di tengah gemuruh angin perjalanan.


Adi tidak menjawab, ia diam. Tini akhirnya bisa bernapas lega lantaran sikap tegasnya mampu membuat Adi diam. Namun, itu hanya ilusi karena Adi terus mengoceh dan teriakannya tadi hanyalah khayalan belaka. "Sial!" gumamnya.


"Di sana!" Tini tiba-tiba menunjuk tempat.


Adi segera menghentikan motornya. "Di mana?"


Tini turun dari motor. "Di rumah besar itu majikan saya tinggal!" tunjuknya pada rumah bercat putih, berloteng.


"Ayo!" ajak Adi sambil meraih tangan Tini. "Saya takut kamu ilang!" dalihnya. Sebenarnya, sih. Emang pengen aja megang kamu. Hehe ....


Tini yang polos hanya menuruti ke mana pemuda itu menariknya. Ia memandang rumah megah itu. Ia kembali mengingat dirinya beberapa hari yang lalu.


"Sudah diketuk, tetapi tidak dibuka?" tanyanya pada Tini. Gadis itu menangis tanpa ekspresi. "Nangisin apa kamu? Nggak ada yang kupas bawang di sini!" tegur Adi.

__ADS_1


"Maaf," jawab Tini sambil menyeka airmatanya.


"Tunggu, saya tanya tetangga dulu," kata Adi. Ia meninggalkan Tini kemudian pergi.


"Kak Tini," panggil seorang gadis dari samping rumah itu.


"Hana!" Ia terkejut melihat gadis yang diculik bersamanya berada di sana. "Kamu di sini?"


"Ceritanya panjang. Kakak jangan di sini."


"Kenapa?" tanya Tini.


"Dua hari lagi kudengar mereka datang ke sini untuk mengirim pesanan. Semua Kuyang di sini semua."


"Terus ke mana orang rumah ini?" tanya Tini.


"Lari sementara waktu. Tinggal aku di sini yang sengaja ditinggal," jawabnya.


"Buat apa?" Ia memandang Hana curiga. Kenapa harus meninggalkan gadis itu sendiri apa mereka tidak takut Hana lari?


"Pokoknya jangan ke sini!" tekan gadis itu.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Adi. Pemuda itu sudah tepat di hadapan mereka.


Hana terkejut, ia mundur dan hendak berlari, tetapi Adi menahan tangannya. "Pak, saya tidak bisa menjawab," tolaknya. Ia berusaha melepaskan diri dari pemuda itu.


Adi curiga, ia memandang ke atas untuk memastikan bahwa tidak ada CCTV di sana. "Jangan bilang kamu ingin menjebak kami?"


"Ti--awas!" Terlambat. Adi telah dihantam kepalanya oleh seorang lelaki berbadan besar.


"Pak!" Tini terkejut melihat Adi.


"Bawa semuanya masuk!" perintah nenek yang membawa Tini sewaktu itu.


Tini meraung tidak ingin dipaksa masuk ke rumah itu kembali.


***


Anggara sedang menghayati menonton film tersebut. Sementara Shabita tidak fokus lantaran memikirkan Dara. "Filmnya bagus, ya?" tanya Anggara.


"Dara gimana, ya?" gumamnya.


"Dara di sana baik-baik saja. Udahlah, kita sebentar lagi juga pulang."


Shabita cemberut, ia kangen dengan bayinya. Anggara tertawa di saat ada adegan lucu. Ia melirik Shabita yang diam tidak merespons sama sekali dengan film tersebut. Ia melirik ke kanan-kiri, kemudian ke belakang. Memastikan bahwa tidak ada yang memerhatikan mereka. Anggara mencium Shabita sekilas kemudian kembali asyik menonton.


"Haa?" Shabita protes. "Huh!" Ia melipat kedua tangannya. Ia mulai dapat menikmati film tersebut.


Anggara kembali melirik Shabita. Gadis itu tengah asyik menonton. Ia menarik kepalanya kemudian menciumnya.

__ADS_1


__ADS_2