
Shabita sedang memikirkan Anggara di saat pemuda itu sedang memikirkannya pula, pemuda itu memandang ke arah lain dan sedang memandang persawahan. Shabita bingung harus berbuat apa di dekatnya, akhirnya hanya bisa diam sambil duduk di bangku depan rumah. Anak-anak sedang asyik bermain layangan, ada yang terjatuh ke sawah dan dibantu oleh temannya.
Shabita memandang Anggara tak sengaja bertatapan langsung dengan pemuda itu saat dia berbalik melihat ke belakang. Pemuda itu menghampirinya, Shabita memandangnya.
"Ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanyanya.
"Tidak." Shabita menunduk.
"Kalau gitu, mau makan apa? Aku akan masak."
"Biar aku saja, ada apa di dapurmu?" tanya Shabita sambil berdiri.
"Cek sendiri."
Shabita masuk ke dalam rumah dan menuju dapur. Ia memeriksa semua yang ada di sana dan menemukan labu dan bayam. "Masak apa dengan ini?" Ia bingung.
"Masak sayur bening saja," kata Anggara di belakangnya. Pemuda itu tepat di belakangnya membuat Shabita terkejut dan juga berdebar-debar. Napas pemuda itu terasa hangat, kian mesra dan membuatnya berdesir indah. "Sini, aku yang kerjakan!" Ia mengambil labu dari Shabita. "Kamu bisa masak?" tanyanya.
"Sedikit," jawab Shabita.
"Enak sekali jadi orang kaya, masak atau tidak sudah ada pelayannya," canda Anggara.
Shabita terdiam mendengar perkataan pemuda itu. Andai kau tahu, sayang. Tidak mudah walau bergelimang harta bila harus jauh darimu. "Tidak juga," balasnya lirih. Ia mencuci sayuran dan memberikan pada pemuda itu kemudian memotong bawang. "Aw!" Matanya terkena dampak asap bawang merah.
Anggara menghentikan kegiatannya dan merawat gadis itu. Sini biar kutiup," katanya seraya meraih tangan Shabita yang mengusap matanya, kemudian meniup mata itu. "Udah lebih baik?" Wajahnya tepat di depan Shabita, nyaris bersentuhan.
"Su--sudah!" Shabita segera menghindari dan melakukan kegiatannya lagi. "Aku nggak apa-apa," lanjutnya.
"Kamu menghindariku?" tanya pemuda itu sambil menatapnya. Ia heran dengan sikap Shabita yang mencurigakan.
__ADS_1
"Aku telah bersuami, tidak baik bersama orang lain di sini," balas gadis itu. Menekan perkataannya dengan menjelaskan statusnya di hadapan Anggara.
"Di mana suamimu sekarang ini?" tanya Anggara seraya memotong labu dan menyiapkan api.
"Sedang kerja di luar," jawab Shabita.
"Kalau dia tahu kamu di sini apa pendapatnya?" tanya Anggara sambil menyiapkan panci.
"Marah," jawab Shabita seraya meninggalkan bawang yang telah usai dikupas olehnya.
"Rani," panggil Anggara ketika Shabita akan meninggalkannya pergi ke ruang tamu. "Aku seperti pernah mengenalmu sebelumnya, tapi aku lupa di mana?" kata Anggara sambil memasukkan sayur ke dalam panci.
"Mungkin orang lain yang sama. Terus terang aku tidak pernah mengenalmu sama sekali." Setelah menjawab ia pergi.
Anggara berbalik memandang kepergian gadis itu, ia mendesah. Shabita terduduk di ruang tamu dan mengusap wajahnya. Ia juga tak menduga akan bertemu pemuda itu di sini. "Apakah ini jodoh?" gumamnya. Ia segera menepis prasangka itu.
Anggara duduk di sebelahnya dan memandang ke depan. "Kamu sebenarnya siapa?" tanyanya lirih tanpa memandang lawan bicaranya sama sekali.
"Aku serius, aku merasa melihatmu di mimpiku." Wajah Anggara serius.
"Cuma mimpi, semua orang bisa melihat siapa pun yang tak dikenal dalam mimpi," jawab Shabita.
Anggara tak dapat membantah gadis itu memang berkata benar. Siapa pun pasti bertemu dalam mimpinya dengan siapa pun yang tak pernah dikenal sekalipun. "Ini seperti nyata," katanya sambil memandang lekat Shabita.
Shabita menghela napas sambil membungkuk dan menutup wajahnya. "Aku capek, tak mau bahas masalah mimpimu. Sekarang pun sangat lapar."
Anggara tertawa sekilas dan segera berdiri. "Sepertinya sudah masak ayo kita makan." Ia menuju dapur dan menyiapkan semua.
Shabita hanya memandang Anggara sedang bekerja, ia tak memiliki keinginan untuk membantunya. Malas itu yang ia rasakan, ingin pergi dari sana sebelum semua terlanjur basah hatinya akan tertambat lagi oleh Anggara.
__ADS_1
"Aku cinta kamu," bisik Anggara tepat di telinganya. Pemuda itu sedang duduk di sebelahnya dan tersenyum manis dan meraih tangan Shabita. Mengecupnya dengan mesra, Shabita tersadar dari lamunannya, ia melihat Anggara sedang menyiapkan makanan di meja makan dan sekarang menuju ke arahnya.
"Ayo, semua telah siap!" tawarnya.
Shabita tersenyum dan menuju meja makan. Ia disiapkan oleh Anggara. "Anakmu butuh makanan bergizi bukan, sekarang makan banyak, ya." Ia mengambil sayur untuk gadis itu dan ditaruhnya dalam piring Shabita.
"Dari mana kamu tahu aku sedang hamil?" Ia tampak terkejut saat Anggara berkata itu. Diam-diam ia mengusap perutnya.
"Talia yang bilang," jawab Anggara sambil menyuap nasi. "Aku juga sudah tahu dari caramu muntah di mobil."
"Ya," jawab Shabita. "Namaku?" tanyanya untuk memastikan Anggara tidak mengetahui nama aslinya.
"Dia cuma bilang ibuku, tidak pernah menyebut namamu." Anggara diam dan mengerutkan dahi. "Tapi aku pernah mendengarnya menyebutmu Shabita?" Ia hentikan makan dan memandang Shabita.
Shabta terkejut dan gemetaran. "Salah dengar," balasnya. Ia mengalihkan sambil makan. Makanan terasa hambar, ia tak berselera makan dan akhirnya hanya diaduk-aduk saja makanan itu olehnya.
"Apa tidak enak rasanya?"
"Sangat, aku mau makan sesuatu," kata Shabita. "Darah,'' jawabnya pelan.
"Apa?" Anggara tidak mendengarnya.
"Tidak ada," jawab Shabita. "Aku lelah ingin tidur dulu." Shabita meninggalkannya sendirian di sana.
"Ya Allah kenapa dia datang lagi setelah semua ini? Aku tak sanggup, aku sakit aku tak kuat!" Ia menangis sambil berbaring di ranjang kamar yang disiapkan anggara untuknya. Andai mampu kubalik waktu, pasti takdir ini hanya milik kita. Ia menelungkup dan menangis di atas bantal.
"Dia begitu dekat denganku, aku seperti mengenalimu, tapi siapa kamu sebenarnya sayang?" ucap lirih Anggara saat memandang kamar yang terkunci di sebelahnya.
Pemuda itu mendesah, begitupula Shabita di dalam sana. Mereka berdua memiliki pikiran masing-masing.
__ADS_1
Maaf lama ide belum dapat. Plis like biar makin rajin upnya. Terima kasih pembaca setiaku