
Rustam mengajak Tini ke kota. Ia sengaja menginap di sebuah motel untuk beberapa malam. Bila ada yang bertanya, ia hanya menjawab sebagai kakak buka suami lantaran tidak ingin bila nanti ada yang membuat isu tentang mereka bila terlihat oleh salah seorang yang kebetulan melihat mereka di sana. Ia sengaja menyewa dua kamar, bukan satu.
"Di sini saya aman menjagamu, asal jangan dikunci pintu atau saya yang pegang saja satunya." Rustam membuka pintu untuk gadis itu.
"Saya takut. Kenapa tidak tidur di satu tempat saja?" rengeknya.
"Boleh, tapi digrebek polisi kamu mau?"
"Situ polisi?" sindir Tini.
"Bukan wilayah saya. Lagipula apa kata orang kalau saya ketahuan sekamar sama kamu!" jawab Rustam sambil mendorong pelan punggung gadis itu agar masuk. "Ingat, kalau ada apa-apa telepon saya." Ia menuju kamarnya sambil menarik ranselnya yang sengaja ditaruhnya di sebelah pintu saat kesulitan memutar kunci pintu.
Tini memperhatikan segala sisi ruang, ia menaruh tas miliknya di atas kasur kemudian menuju kamar mandi. Dijalankannya air dari kran lantas membasuh wajah yang kotor akibat polusi debu di perjalanan. Ia terheran saat meraih sebuah handuk tergantung di gantungan pakaian di dekat wastafel. "Berserabut?"gumamnya.
"Hihihi ....!"
"Aaa!" Ia berteriak ketakutan di saat yang diraih bukanlah handuk, melainkan rambut Kuyang yang sedang menyerigai ke arahnya. Tini segera lari ke luar dengan cepat.
"Rustam!" teriaknya. Ia nyaris menangis lantaran sangat ketakutan. "Si-siapa kalian?!" Ia mundur saat dua orang kelaki berada di depan pintu kamarnya.
"Kami datang untuk membunuhmu!" jawabnya pemuda kurus bertubuh tinggi. Ia meraih tangan Tini untuk dibawa keluar.
"Tolong! Rustam ...!" Ia meronta dipaksa oleh dua orang.
Rustam asyik dengan kegiatannya mandi, hingga hanya samar-samar mendengar keributan itu, tetapi kemudian ia berhenti sejenak dan mematikan air. "Seperti suara-" Tidak jadi dilanjut dugaannya. Ia segera mengenakan baju kemudian berlari ke kamar Tini. "Tini!" Ia heran memandang pintu terbuka lebar dengan keadaan isi yang berantakan. "Tini!" Ia mencari ke seluruh ruang.
"Rustam!" teriak Tini.
"Tini!" Rustam segera berlari menuju pintu saat mendengar suara gadis itu memanggilnya. "Tini!" Rustam segera berlari menuju mobilnya lantas mengejar mereka.
__ADS_1
"Rustam!" teriak Tini. Nyaris habis suaranya lantaran memanggil pemuda itu.
"Diam!" bentak lelaki itu.
"Cepat lajukan kendaraan. Jangan sampai dia sempat mengejar kita!" perintah rekannya bertubuh sedikit berisi.
Mobil dilajukan melampaui batas berkendara. Menjadikan jalan semakin ramai oleh mereka yang mengacau kendaraan lain. Ada yang mengumpati lantaran nyaris terserempet adapula yang nyaris terbalik.
"Bunuh gadis ini lalu buang di jalan!" perintah pemuda bertubuh sedikit berisi.
Tini menggeleng kuat-kuat. Ia meronta saat dirinya akan ditikam pisau oleh pemuda kurus itu. "Tolong! Jangan!"
"Cepat habisi! Kita tidak ada waktu!" perintah pemuda itu.
"Hikz ... hikz .... Jangan, tolong!" mohon Tini. Ia menghalangi tangan pemuda itu yang hendak melukai lehernya. "Rustam!"
"Asam, makin cepat saja mereka!" maki Rustam. Ia melajukan kendaraannya lebih cepat lagi. Hingga kini nyaris mendahului mereka.
Sret! Mobil tersingkir ke tepi jalan, tetapi Rustam segera melarikan mobil kembali ke jalur kendaraan. Ia ketinggalan jauh. Rustam kembali melajukan kendaraannya. Ia kesal sekali.
"Agh!" erang Tini sambil menahan pisau yang nyaris berapa kali sentuh saja mengenai lehernya. "Bapak!" teriaknya. Nyaris pasrah dan merelakan saja dirinya mati ditikam pisau. Mamak, maaf. Anakmu banyak salah, banyak dosa!
Rustam menabrak belakang mobil mereka. Membuat mobil tersentak ke depan. Pemuda itu tersentak, pisau di tangan terlepas. Namun, sebelumnya sempat menggores sedikit pipi gadis itu.
Tini menjerit kesakitan, "Agh!" Pipinya berdarah.
"Asam!" umpat lelaki bertubuh berisi itu. Ia melajukan kendaraan agar tidak ditabrak Rustam kembali. Namun, pemuda itu malah semakin ganas menubruk belakang mobil. "Awas!" makinya. Ia kemudian sengaja mengerem mendadak agar mengejutkan Rustam. Itu sukses membuat Rustam menabrak tanpa sengaja mobil mereka. Pemuda itu tersenyum miring, ia kemudian maju lantas mundur dengan cepat menubrukkan belakang mobilnya ke arah depan mobil Rustam.
Rustam segera mundur dengan cepat. Ia tidak mau ambil risiko maka ia segera mengambil jalur kiri, melanggar jalan. Beruntung belum ada kendaraan yang melewati jalan itu saat ini. Saat orang itu mundur ia malah melintas di sebelahnya dan kini malah dengan cepat berputar menubruk mobil lawannnya tepat berhadapan. Bruk!"
__ADS_1
Prang! Kaca mobil dan lampu pecah, berhamburan di jalan. Ia kemudian turun dari mobil. Di sana ada Tini yang sedang menangis, ia berusaha menjauhkan pemuda yang tidak sadarkan diri dari atas tubuhnya. Tini tidak tahu bahwa pisau yang dipakai untuk melukainya tadi menusuk rekannya yang sedang mengemudi sedangkan yang menusuk kini tidak sadarkan diri. Rustam menduga karena guncangan tadi maka tubuh pemuda itu bergerak ke sana-kemari dengan sendirinya.
"Kamu tidak papa?" tanya Rustam saat ia sudah menyingkirkan orang itu kemudian mengeluarkan Tini.
"Enggak papa gimananya?!" bentak Tini. "Bekoreng, nih. Kada bungas lagi!" ("Berbekas, nih. Nggak cantik lagi!").
"Ampun, deh!" Rustam menepuk jidatnya. Ia memang bisa berbahasa Banjar, tetapi ia tidak mau menggunakannya.
"Katanya aman? Aman kepala, Bapak!" omel Tini. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Kita kembali, yuk. Udah malam," bujuk Rustam.
"Lukaku?" tanyanya.
"Maaf lupa. Saya ambil fotonya untuk bukti," kata Rustam sambil mengeluarkan ponselnya memfoto wajah Tini. Ia kemudian menjauh untuk menelepon. "Besok kita ke kantor polisi buat laporan. Ini mobil sama mereka ada yang tangani nanti," kata Rustam.
Belum sempat dia mengajak Tini, mobil polisi datang. Rustam menduga memang tengah berada di sekitar situ. Ia berbicara sedangkan Tini menyandarkan diri di badan mobil Rustam.
"Ini gimana ceritanya, sih?" tanya pemuda yang tanda ID-nya bertuliskan Ilyas.
"Biasa, adegan laga." Rustam bermaksud bercanda. Namun, pemuda itu mendehem. "Pokoknya laporannya besoklah. Malam ini aku lelah mau istirahat dulu." Ia tidak berani lagi bercanda.
"Telepon kami kalau ada masalah. Jangan diselesaikan sendiri saja," sarannya.
"Oke," jawab Rustam.
"Pulanglah. Saya akan menghubungi yang lain!" perintahnya.
"Yuk, besok pagi kita ke sana." Rustam meraih tangan gadis itu untuk diajak masuk.
__ADS_1
Ia melambai di saat mobilnya melewati Ilyas. Pemuda itu balas melambai dengan wajah datar sembari menelepon.