
Dara terjaga di tengah malam. Ia memandang Shabita dan juga Anggara lantas menyingkirkan tangan mereka dari perutnya. Gadis kecil ini turun dari ranjang dengan sangat hati-hati. Ia segera keluar dengan cara membuka pintu sangat pelan.
Dara berjalan lurus menyeberangi jalan. Ia lantas masuk ke dalam hutan. Dara mengawasi setiap sisi hutan dengan perasaan takut. Ia beranikan diri untuk terus berjalan. "Auh!" Ia terjatuh. Lantas menekuk lutut. Lututnya cedera dengan banyak darah. "Papa!" keluhnya. Ia lantas mengusap kedua mata kemudian kembali berjalan dengan terpincang.
Dara terus berjalan hingga hingga menemukan sebuah rumah besar yang telah tidak terurus di sana. Ia lantas masuk kemudian mencari-cari sesuatu. "Lani! Dara segera berlari, hendak meraih Lani yang terbaring di atas ranjang.
"Kenapa kamu datang, Dara? Pulanglah. Nanti papamu mencari."
Dara menatap hantu yang kini sedang mengasuh Lani. "Dala, mau Lani."
"Enggak bisa sayang. Dia nyaman di sini."
"Papa angic! Lani haluc pulang!"
"Tidak bisa."
"Tapi, Lani."
Hantu itu kemudian memandang Dara dengan marah. "Pergi!"
Dara ketakutan. Dia tidak seperti itu kemarin. "Dala mau pulang."
"Pergi, Dara!"
Dara memandang Lani di sana, ia lantas memandang hantu. "Papa mayah. Dala takut dibuang papa."
"Germ!" Ia menakuti Dara dengan memanjangkan taringnya.
"Papa!" Dara terduduk dalam keadaan menutupi kepalanya.
"Dara!" tegur sebuah suara yang dikenali olehnya adalah Anggara.
"Papa!" Dara segera merangkul Anggara.
"Lani!" teriak Talia. "Anggara, Lani pingsan!"
__ADS_1
Talia lantas membawa Lani segera ke luar. Ia melebarkan sayap agar segera menuju ke Rumah sakit. Melesat tinggi agar tidak terlihat oleh mata manusia.
Anggara segera menggendong Dara. "Dara, kita jenguk Lani, ya."
"Papa, mayah?" Dara memandang wajah Anggara yang kini sedang cemas memikirkan kondisi Lani. Ditambah Anggara tidak menjawabnya. Maka gelisahlah hati Dara. "Papa mayah?"
Anggara keluar dari rumah tersebut. Segera berlari mendatangi rumah mereka. Anggara meminta Shabita untuk bangun. "Kamu ikut atau di rumah? Lani dibawa Talia ke Rumah sakit."
Shabita terkejut. Ia segera meraih mantel kemudian mengikuti Anggara. Hantu tersebut ada di belakang Anggara, ia menatap Dara. Gadis kecil ini segera mengalihkan pandangan ke wajah Anggara. Talia sedang berada di Rumah Sakit. Ia duduk di bangku tunggu.
"Gimana keadaannya?" tanya Anggara sembari menaruh Dara ke bangku.
"Sedang ditangani." Talia memandang Dara yang kini sedang tertunduk. "Dara sakit, mau kakak obati lukanya?"
Dara menggeleng, ia menolak saat diraih Talia. Dengan Anggara barulah ia mau. Dara memandang wajah Anggara yang kini datar. Ia tidak tahu apakah ayahnya ini sedang marah atau tidak padanya. "Dara, bila terjadi sesuatu dengan Lani, Dara menyesal tidak?" tanya Anggara.
Dara menunduk, ia takut memandang wajah Anggara yang bertanya, tetapi tidak memandang padanya. "Papa, mayah?"
"Sini sama, kakak, yuk!" Talia segera meraih Dara.
Anggara tidak menjawab, saat dokter datang pun ia berbicara tanpa memberitahukan pada mereka tentang kondisi Lani. Shabita gelisah, tidak biasanya Anggara diam seperti itu. Saat suster mengizinkannya masuk. Anggara malah mengunci pintu saat mereka hendak melangkah.
"Gimana ini, dia marah?" tangis Shabita langsung pecah. Ia sangat ketakutan dengan sikap Anggara. "Dara, ini karenamu. Kenapa kamu seperti itu dengan Lani?" Shabita mengguncang tubuh Dara.
Dara menangis dirangkulan Talia. "Udah, nggak bisa kita salahkan dia."
"Apanya yang tidak! Aku muak dengan anak ini! Dia bikin masalah terus!"
"Pelankan suaramu!" tegur Talia.
"Enggak adalagi-"
Anggara segera keluar. Ia meraih Dara kemudian kembali ke kamar. Dara diajak duduk di dekat adiknya yang saat ini tertidur pulas. Dara memandang Lani dan Anggara secara bergantian. "Dara sayang papa?" tanya Anggara. Dara mengangguk. "Kalau gitu Dara harus juga sayang Lani."
"Papa, mayah?" Kesekian kali ia bertanya, tetapi Anggara tetap tidak menjawab. Akhirnya Dara mengisak.
__ADS_1
Anggara tersadar, ia memandang Dara. "Tidak, papa nggak marah sama Dara." Dara tetap menangis, ia terlanjur sakit hati dengan Anggara. "Uss, jangan nangis. Nanti adik bayi bangun."
Dara seketika mengusap airmata kemudian memandang Lani yang kini sedang merengek dalam tidur. "Lani."
"Papa, cuma nggak mau ngomong aja sama Dara habisnya Dara nakal. Papa bisa marah kalau Dara terus begitu."
"Papa." Dara memandang wajah Anggara yang kini memandangnya. "Dala cayang Lani."
"Janji jangan nakal lagi, ya?"
Dara mengangguk. Ia kemudian dibaringkan di sebelah adiknya. Hantu tiba-tiba berada di hadapan mereka. Dara mengalihkan pandangan. Ia merangkul Lani. "Papa, dia di cana! Dala takut!" Dara menunjuk pintu.
Anggara tidak memandang pintu. Ia muak harus berhadapan dengan semua itu. "Dara jangan dengarkan lagi. Jangan ditemani lagi."
Dara mengangguk, ia memejamkan mata daripada harus memandang ke sana. Anggara mengusap kening kedua anaknya. Ia terharu melihat Dara. Anak ini walau benci, tetapi sangat sayang pada adiknya. Ia meraih kain di atas meja lantas membalut lutut Dara.
"Jaga dia!" perintah Anggara. Ia kembali datar di luar.
Shabita memandangnya dengan kecewa. "Kamu kok, gitu? Tidak ada responsnya sama aku."
Anggara berbalik menatap Shabita. "Kenapa kamu bilang gitu sama Dara? Kamu tahu dia masih kecil, belum mengerti ini-itu. Kenapa mulutmu tidak dijaga?"
"Tapi dia itu-"
"Aku nggak suka kamu bilang gitu sama anak aku!" bentak Anggara. Baru kali ini Anggara benar-benar marah. "Aku diam bukan berarti marah sama siapa pun. Ini, baru aku marah. Kamu lihat tidak?!"
"Anggara!" bentak Talia.
Shabita terisak, ia tidak menyangka Anggara akan marah kepadanya. Anggara segera sadar, ia lantas merangkul Shabita. "Maaf," ucap Shabita.
"Jangan bilang gitu lagi, ya? Anak kita bukan masalah, dia anugrah."
Talia menghela napas. Ia lantas masuk ke ruangan Lani. "Dara, sayang."
Dara terjaga, ia memandang Talia. "Papa mayahi mama?"
__ADS_1
"Enggak, kok sayang. Papa sayang mama," jawab Talia. "Tidur, kakak jagain." Talia kemudian mengatur kembali selimut mereka.