
POV Hana
Saat terbangun dari tidur, aku mendapati diri ini sedang berada di dalam sebuah penjara yang gelap. Kutatap mereka di sana yang meronta kesakitan. Entah mengapa, tetapi diri tahu bila masaku akan mencapai seperti mereka. Saat dua orang pemuda datang menyeretku keluar, sekuat tenaga berontak agar jangan dibawa oleh mereka.
"Tolong! Tolong!" Terdengar suara dari arah depan. Penasaran sudah pasti. Saat mereka menempatkanku di antara yang berteriak meminta tolong, kumelihat seorang kakak manis yang sedang meronta dari pegangan mereka. Terkejut, rasa tak percaya saat pemuda itu mengoleskan minyak ke lehernya. Aku sempat memejamkan mata ketika melihat kepala yang terputus dari raga kakak itu terbang dan melesat jauh.
Gadis cantik yang nyaris seusia kakak tadi memberi perintah. Ia ternyata memilihku. Aku meronta tidak mau dan rupanya mereka pula membelaku. Namun, apa daya kami kalah oleh ancaman mereka. "Jangan, tolong! Agh!" Aku meronta. Sangat sakit rasanya di saat leher ini mengeluarkan darah. Setelah itu tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Keesokan harinya kakak itu membangunkanku. Awalnya aku kebingungan memandang baju bagian atas berdarah, tapi segera ingat bila mungkin diri ini juga mengalami nasib yang sama dengan kakak itu.
"Kita harus pergi dari sini," bisiknya. Aku hanya mengangguk. Tak banyak kisah, langsung saja melompat ke jendela. Namun, naas. Aku tersekap kembali oleh mereka.
Kami terpisah, ia mungkin dalam peti yang berbeda denganku. Namun, di dalam petiku rupanya sangat pengap hampa udara. Meronta dan berusaha melabrak peti. Hingga nyaris mati rasanya, tapi sebelum itu peti kemudian dibuka oleh seorang nenek. Aku terkejut saat nenek berbaju kuning itu malah menusukku dengan sebilah pisau.
Aku menangis saat mengetahui diri ini keluar dari raga. Rupanya nenek sial itu bukan hanya membeli kami untuk pesugihan, tetapi memilih salah satu dari kami untuk dimakan. Akulah yang dipilihnya.
***
Dua orang pemuda bertubuh sedang, berpenampilan kembar. Berbaju hitam, kini berada di depan Adi.
"Ikut kami!" perintahnya seraya melepaskan ikatan Adi.
"Mau dibawa ke mana saya?!" tolak Adi. Ia mengeraskan dirinya ketika ditarik paksa oleh mereka.
"Nenek bilang kamu akan ikut ke tempat aman bersama kami."
Hana memandang Adi. Ia hanya mengikutinya dari belakang. Adi dibawa dengan menggunakan sebuah mobil Kijang hitam. Dua orang itu saling melempar pandangan. Hana tahu ada rencana mereka.
Saat di dalam perjalanan. Mereka meminta berhenti di jalan sepi. Andi curiga, ia meronta saat di dorong keluar dari mobil. "Kenapa malah turun ke sini?" tolaknya.
"Keluar saja!"
"Tidak! Saya ingin bertemu nenek!" bantahnya. Bisa gawat kalau aku tidak tahu di mana mereka pindah!
Salah satu dua orang itu menodongkan pistol ke arah kepala Adi. "Maaf, kamu hanya menyusahkan kami bila ikut pindah," katanya sambil menarik pelatuk pistol.
Adi diam, tetapi tangannya berusaha melepaskan ikatannya. Door! Tembakan meleset saat pemuda itu menyerang tangan lawan kemudian membantingnya. Rekannya memandang Adi, ia maju untuk menyerang pemuda itu.
"Agh!" erang lawannya di saat Adi mematahkan tangan.
Ia merampas pistol, dan ponsel mereka kemudian menghubungi Rustam. "Mereka akan pindah malam ini." Ia kemudian memandang ke sekitarnya. "Aku di jalan. Ada tepian di sekitar sini."
__ADS_1
"Jadi kamu tidak di rumah itu lagi?"
"Aku dibawa untuk dihabisi."
"Kami ke sana!" Rustam segera bertindak. "Sepuluh orang ikut saya!" perintahnya seraya mengenakan topi.
Adi mendatangi mereka berdua. "Di mana kalian akan bertemu malam ini?"
"Kami tidak akan buka mulut!"
"Di mana?" Adi menempelkan pistol ke kening salah satu dari mereka.
"Tidak tahu!" tolaknya.
Dor! Adi menembak orang itu. Ia kemudian beralih pada satunya lagi. Melihat rekannya tewas maka paniklah pemuda itu. "Kamu bisa kena hukum bila menembaki kami!" Ia mencoba menggertak Adi.
Nggak ada saksi apalagi camera di sini. "Gampang, tinggal bilang saja kalau kalian saling bunuh lantaran saling berbeda keyakinan." Adi menarik pelatuknya siap untuk dilepaskan.
"Ba--baik! Saya akan bilang!" Akhirnya pemuda itu menyerah.
"Tunjukkan jalannya!" perintah Adi.
"Akan saya katakan saja." Ia menolak untuk ikut pemuda itu.
"Ba--baik, saya akan tunjukkan," jawabnya. Terpaksa pemuda itu mengemudikan kendaraannya karena pelipisnya telah ditodongkan senjata oleh Adi.
"Kami sekarang menuju tempat itu." Adi berbicara dengan Burhan.
Pemuda itu segera melacak jaringan telepon Adi untuk mengetahui posisinya. "Pak, dia menuju ke arah Balikpapan," katanya pada Rustam yang kini sedang dalam perjalanan.
"Mereka menuju Balikpapan," kata Rustam.
***
Ali menunggui Tini. Ia nyaris terlelap lantaran bosan menungguinya sendiri. Seorang dokter datang untuk memeriksa Tini, ia meraih botol berisi cairan biru kemudian disuntik untuk kembali disuntikkan pada inpus gadis itu. Awalnya Ali tidak curiga, tetapi melihat warna air pada infus berubah. Akhirnya ia segera merampas suntikan itu. Kemudian dengan cepat mencabut selang di tangan Tini. Dokter itu sudah tidak terlihat saat ia telah usai menyelamatkan gadis itu.
"Ridwan, dokter tadi!" teriaknya di saat Ridwan sedang memainkan ponselnya. Bersandar pada bangku tunggu.
Ridwan segera berlari mengejar dokter tadi. Ia kehilangan jejaknya. "Hah!" Ridwan mendesah jengkel menyadari kelambatannya. Ia akan berbalik, tetapi tidak sengaja melihat dokter yang dikejarnya tadi sedang berlari dari tempat persembunyiannya. "Awas!" Ia segera mengeluarkan pistolnya. Dor! Kaki orang itu tertembak.
"Aaa!" pekik para pengunjung Rumah sakit. Mereka terkejut melihat ada yang tertembak.
__ADS_1
Ridwan segera memborgol orang itu. Seorang pemuda berkacamata, berambut sedikit ikal. "Mau lari? Coba lagi!" bentaknya sambil membawa orang itu ke kantor polisi.
"Bagaimana?" tanya Ali di telepon. Ia sedang memandang Tini yang kini diperiksa oleh suster.
"Aman," jawab Ridwan.
***
Adi telah tiba di tempat itu pukul 19:00. Ia menyeret pemuda itu untuk ikut pula bersembunyi bersamanya di antara pohon hias. Ia memandang rumah megah yang terlihat angker baginya. "Rumah hantu!" kutuknya. Ia meremang saat memandang pintu tua di rumah itu.
"Hey!" cegahnya di saat pemuda itu akan terlepas darinya. "Mau mati nanti apa sekarang?" ancamnya.
"Saya cuma mau pipis!" sangkal pemuda itu.
"Pipis di sini saja!" tolak Adi.
"Bagaimana caranya saya buka kalau jongkok begini?"
Adi memandang pemuda itu keseluruhan. "Makanya beli popok di jalan!" Bukannya memberi solusi malah mengejeknya.
Sial! "Saya serius!" Ia memegang bagian itu untuk meyakinkan Adi.
Namun, Adi mana mau peduli. Ia fokus memandang mobil yang baru saja tiba. Ada dua mobil, yang dikenali milik si nenek kemudian ada tiga mobil truk yang datang belakangan. "Mereka tiba," lapor Adi.
"Kami sedang menuju ke sana. Mungkin beberapa meter lagi." Rustam memberi isyarat agar mereka lebih cepat.
"Saya ma--yah!" Ia terkencing di celana.
Adi memandang bawah. Ia terkakak tertahan di saat ada air yang mengucur deras dari sana. "Nasibmu, Nak."
Rustam tiba tepat di belakang Adi. "Berapa banyak?" tanyanya. Tidak sadar ia mengendus bau. "Bau apa ini, kamu pipis?" tanyanya pada Adi.
"Tetanggaku," jawab Adi sambil menunjuk orang itu.
Rustam memerhatiakan orang itu. Ia tidak ingin membahas. "Kita bergerak kalau mereka sudah tiba semua."
"Hey! Adalagi?" tanya Adi pada orang itu.
Pemuda itu memandang ke depan sana. "Sudah tidak adalagi," jawabnya.
"Maju!" perintah Rustam.
__ADS_1
Kesepuluh orang itu maju sementara Adi tidak. Ia lelah, ingin pulang. Bahkan di saat mereka saling serang dan tembak, ia tidak peduli. Ia sempat memandang Hana tersenyum kemudian menghilang.