TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
108


__ADS_3

Di tengah malam, suasana nan gelap gulita. Seorang nenek berjalan sendirian sambil membawa bungkusan.


"Eh, Met, itu apa yang dibawa nenek itu?" tunjuk Galang. Pemuda bertubuh sedikit rendah, bertubuh gempal, mengenakan sarung kotak kemudian berbaju kuning pudar. Ia menunjuk si nenek yang terlihat mencurigakan.


"Ah, cuma nenek lewat aja, kamu pada repot. Udahlah jangan diurusin, paling juga bungkus makanan dia," jawab Met acuh. Ia tak peduli, tetap asyik bersadar pada tiang pos ronda.


"Nek, mau ke mana?" tanya Galang. Ia gatal ingin mengetahui isi bungkusan dan ingin tahu ke mana orang tua ini akan pergi.


"Mau ke tempat cucu, Dek." Nenek itu kemudian berjalan kembali.


Galang memandang nenek renta berkebaya hijau bunga terawang, dengan rok itu amat menamutkan baginya. Namun, pemuda itu masih penasaran dan harus bertanya. "Nek, biar saya antar," tawarnya. Ia berlari kecil menuju si nenek. "Nek!" panggilnya saat nenek itu malah berlari. "Eh! Kok, larinya cepat amat? Itu nenek apa nenek?" Ia kehilangan jejak orang tua tersebut.


"Kenapa kamu ngos-ngosan gitu?" tanya Met saat memandang Galang yang memegang pinggang serta mengurut dadanya sambil mengatur napas berat.


"Aku tadi nawarin nenek itu untuk diantar, tapi tu ..." Ia berhenti untuk mengatur napasnya. "Nenek itu hilang!"


Met menegakkan tubuhnya. "Lah, hilang gimana? Tolong dijelaskan dari A hingga Z!"


Galang menumpukan tangannya kepada tiang, ia masih berat mengatur napasnya. "Hufs! Hah ... capeknya aku! Dia larinya cepat banget. Masa ada nenek-nenek renta bisa lari begitu cepat. Curiga aku."


"Nah, jangan-jangan itu maling yang nyamar jadi nenek-nenek. Itu bungkusan apa, ayo?" terka Met.


Galang duduk di sebelah Met. Ia mengipas dirinya dengan selembar koran yang didapatnya dari bawah tikar pos. "Nah, itu maksudku tadi. Aku curiga banget."


Nenek tersebut berjalan menuju komplek perumahan Anggara. Ia mencari-cari dan membaui sesuatu. Setelah tiba di depan rumah salah satu warga ia kemudian berjalan pelan menuju jendela. Di bukanya bungkusan itu dan yang keluar adalah sebuah kepala dengan usus yang menjuntai.


"Hihi-"


"Bodoh! Jangan tertawa, nanti kita bakal ketahuan." Nenek itu marah. "Di rumah ini banyak duitnya. Selain ada bayi di dalam kamu harus mencuri uang di sana. Ingat, jangan tertawa!"


"Hi-" Ia ingat pesan nenek itu, maka urung tertawa. Kuyang itu kemudian menembus jendela.


Matanya menyala dengan darah menetes menodai lantai. Ia memasuki kamar tidur si pemilik rumah. Ada bayi di sana, sedang menangis lantaran ada dirinya. Ia ingin sekali mendatangi dan menelan bulat-bulat si bayi. Namun, teringat pesan majikannya, terpaksa ia menuju brangkas terlebih dahulu. Ia menembus lemari itu kemudian menghisap semua uang. Si nenek kegirangan lantaran uang itu masuk ke bungkusannya.


"Hah! Kuyang!" teriak sang ibu. Ia terbangun di saat bayinya menangis histeris.


"Gawat! Mending kabur!" Nenek itu berlari cepat meninggalkan Kuyang di rumah itu.


"Kuyang!" teriak si ibu.

__ADS_1


"Apa, Ma?" Suaminya pula terbangun.


"Kuyang, Pa! Kuyang!" Ia menujuk ke arah Kuyang yang sedang akan lari menembus pintu. "Akh! Panas!" erangnya. Ia tidak tahu bahwa di pintu ada tulisan arabnya. Ia kemudian ingat jendela.


"Kuyang!" teriak si Ibu.


"Di mana ada Kuyang?!" Bapak berumur lima puluh tahun keluar dari rumah sambil membawa parang datang karena mendengar tetangganya berteriak.


Tidak lama semua warga di situ berdatangan, termasuk Shabita. Ia saat ini tengah sendiri lantaran Anggara masih bertugas. Sambil menggendong Dara ia keluar untuk melihat.


Kuyang itu keluar dari jendela, ia kebingungan karena majikannya tidak ada. "Germ!" Ia mengeram marah.


"Pukul dia! Kuyang matanya rabun dia tidak bisa melihat kita!" perintah salah seorang ibu.


"Germ!" Ia terbang secara zig-zag menghindari serangan mereka.


"Ada apa itu?" yanya Anggara. Ia baru tiba dan melihat keributan di depan sana.


"Katanya ada Kuyang!" sahut perempuan di sebelah rumahnya. "Idih, aku lagi dapet ini, dia pasti ngincer aku," keluhnya sambil menggait lengan Anggara.


"Van, kamu nggak papa, kan?" tanya Anggara.


"Van, kok marah? Aku cemas karenamu sendirian pas ada itu," kata Anggara. Masih tidak menyadari sesuatu.


"Pak, saya takut!"


"Iya, iya, Bu!" jawab Anggara tanpa memperhatikan dirinya sendiri.


"Aku takut juga, tapi nggak digandeng olehmu," sindir Shabita.


"Kuyangnya dapat!" sorak sorai mereka semua sambil mengurung Kuyang itu ke dalam sangkar.


"Elah, itu sangkar gue. Napa dipake buat begituan?!" protes Bang Slamat. Ia marah karena burungnya dilepas kemudian dipakai sangkarnya untuk mengurung Kuyang itu.


"Pahalamu melimpah," jawab Pak RT.


"Enak aje. Gue bawa itu dari kampung gue di Betawi. Kaga ada itu sangkar kecuali mesen di sana!" bantahnya.


"Kok, rada lengket nggak bisa bergerak?" gumam Anggara.

__ADS_1


"Nyata nggak bisa bergerak kalau ada pelakor nempel begitu!" singgung Shabita. "Mending nonton Kuyang di depan, rame daripada nonton orang selingkuh!"


"Maksudnya?" Anggara bingung. Saat ia ingin menggaruk kepalanya, barulah sadar kalau dari tadi lengannya dikunci oleh perempuan itu. "Bu!" bentaknya.


"Pak, saya kesepian di rumah, takut sendirian. Saya lagi datang bulan." Ia akan meraih Anggara kembali.


Anggara menghindar dengan menyembunyikan kedua tangannya di belakang. "Mau datang bulan atau sejenis itu, saya tidak peduli. Jangan dekat-dekat, istri saya bisa marah!" bentak Anggara.


"Saya sebagai warga ingin dilindungi kalau bisa dinikahi. Hehehe ...."


Anggara tiba-tiba bergidik geli. Ia segera lari meninggalkan perempuan itu. Anggara segera menghampiri Shabita yang tengah memandang para warga yang sedang mengintrogasi Kuyang.


"Di mana rumahmu?"


"Dari mana asalmu?"


"Namamu siapa?"


"Siapa cowokmu, udah ada belum?" Pertanyaan itu keluar dari remaja tanggung berusia enam belas tahun. Ia menjadi sorotan mereka semua.


"Gila tu, anak. Apa maksudnya nanya begituan!" gumam Anggara. Namun, ia tertawa geli karena dirinya juga menyukai Shabita di saat gadis itu masih menjadi Kuyang.


"Nama saya Tini, tinggal di kampung sebelah. Saya dibawa oleh seorang nenek agar tidak terlalu mencolok di saat saya mencari mangsa. Tugas saya adalah mencuri uang." Kuyang itu berkata jujur. Ia ingin membalas nenek yang meninggalkan tersebut. "Tolong kembalikan saya ke tubuh saya. Saya akan tunjukkan di mana dia!"


Mereka saling pandang, seperti berbicara lewat sorotan mata masing-masing.


"Gimana?" tanya salah seorang warga bertubuh tinggi berbaju putih kaus bola.


"Tanya sama Anggara, tuh dia di situ."


Anggara diam saja ia hanya mengangguk saat mereka meminta pendapatnya melalui pandangan. "Kalian uruslah. Bila sudah ada bukti baru saya tindaklanjuti," kata Anggara.


"Kamu nggak ikut?" tanya Pak RT.


"Wakili saja saya, Om. Nanti saya nyusul, mau salat Subuh dulu."


"Oke, kami ke tempat nenek itu, ya. Ingat nyusul," pesannya.


"SMS aja lokasi," jawab Anggara.

__ADS_1


__ADS_2