
Perempuan berketurunan Amerika-Thailand itu menatap tajam ke arah Shabita yang kini sedang berdiri di luar sedang berbicara dengan Leo. Mereka tampak akrab sedangkan dirinya sangat benci bila Leo terlalu memerhatikan Shabita ketimbang dirinya. Leo sempat mengelus perut Shabita di depannya saat akan berangkat ke kantor kemarin.
"Mentang-mentang aku mandul, semaunya dia berbuat begitu di depanku!" geramnya sambil mengepal tangan. Ia masih memandang mereka dari balik pintu.
"Sudah lama sebenarnya aku ingin punya anak, tapi Maria tidak memberi. Dia bilang anak akan membuat tubuhnya melar dan tidak cantik lagi," curhat Leo.
"Kenapa? Kan, tidak apa kalau melahirkan. Buktinya banyak artis yang melakukan perawatan setelah itu," sindir Shabita. Ia sempat melirik Maria yang bersembunyi di sana.
"Sudah pernah kunasehati, tapi dia terus saja berdalih, hingga akhirnya dokter bilang kalau dia sebenarnya tidak bisa hamil lantaran selalu menggugurkan kandungan diam-diam tanpa sepengetahuanku."
"Kok, gitu?"
Leo mendesah, ia berjalan melewati Shabita. "Mungkin tidak suka anak kecil atau benci denganku. Tiap kali mual dia selalu marah dan bilang cuma demam. Tidak tahunya diam-diam pergi mengaborsi," jawabnya.
Sial! Lelaki mata keranjang! Dia ceritakan semua masalah kami dengan perempuan gembel itu! Lihat saja akan kubuat perempuan itu menyingkir dari sini kalau perlu dari dunia ini! Maria lekas merapatkan diri ke dinding lantaran Shabita telah usai berbicara dengan Leo. Gadis itu berjalan ke ruang tengah dan menuju kamarnya.
Leo sedang menerima telepon dari rekannya, ia berjalan ke teras dan duduk di bangku depan. Maria segera berjalan ke dapur dan mencari sesuatu di dalam lemari tempat menyimpan piring dan bumbu dapur. Botol kecil diraihnya kemudian ia memandang ke sana-kemari, setelah tidak ada yang melihat ia menyimpannya ke dalam kantung baju. Berjalan menuju kamar Shabita dan mengetuk pintu. Tok ... tok ... tok!
"Siapa?" tanya Shabita yang kini sedang membaca majalah harian.
"Ini kakak," sahut Maria.
"Bentar," jawab Shabita sambil menaruh majalah ke meja rias. Ia berjalan menuju pintu. "Ada apa?" tanyanya.
"Kakak lupa memberi vitamin ini ke susumu," katanya sambil memerlihatkan botol kecil itu pada Shabita.
Shabita melirik gelas susu di atas meja yang airnya tinggal setengah. "Saya udah kenyang, Kak," tolaknya.
__ADS_1
"Diminum, ini baik loh untuk kandunganmu," katanya. Tanpa permisi langsung masuk dan menuangkan isi dalam botol itu ke dalam gelas berisi susu tadi. Rasakan obat penggugur kandunganku. Lihat saja sampai mana kamu bertahan! Hahaha. "Minum," suruhnya sambil membawa gelas kepada Shabita.
Dasar bodoh, bila Shabita mungkin keracunan karena gadis itu polos, tapi kamu tidak bisa menipu Wati! Shabita meminum susu itu hingga habis.Terlihat wajah Maria yang puas dan menunggu reaksi obat tersebut. Shabita meringis menahan sakit dan dan memegang perutnya. "Kak, kenapa ini, sakit?!" Biar rasa! Biar Leo menceraikanmu sekalian! Shabita berpura-pura menggapai pundak Maria. "Leo! Leo!" teriaknya.
Duh, dia mengadu! "Sha, biar aku yang mengurusmu!" Ia panik dan mencoba mengalihkan pikiran Shabita. "Biar, kakak bantu ke kasur, ya." Maria menuntun Shabita untuk berbaring di kasur.
"Leo! Tolong!" Shabita menjatuhkan dirinya ke lantai dan berteriak histeris.
"Kurang ajar! Kamu tidak bisa dibiarkan!" Maria mengambil bantal hendak membungkam pernapasan Shabita.
Leo yang sedang berada di luar masih menelepon seseorang menjadi terkejut dan segera masuk untuk melihat. Langkah kakinya terdengar oleh Maria, maka perempuan ini segera melempar bantal tadi ke kasur dan berpura-pura menolong Shabita.
"Ada apa ini?" tanya Leo. Ia segera memandang Maria yang tengah mencoba menuntun Shabita untuk berdiri. "Kenapa dia?" Leo menghampiri Shabita dan menyingkirkan Maria, hingga istrinya itu terdorong dan nyaris limbung kalau saja tidak segera mengatur keseimbangan berdiri sudah pasti dirinya jatuh terduduk di lantai.
"Dia--"
"Diam!" bentak Leo tanpa mengalihkan perhatiannya pada Shabita.
"Kamu tidak apa-apa?" Leo tidak peduli dengan Maria. Ia fokus membaringkan Shabita di kasur dan menyelimutinya.
"Sakit!" rintih Shabita sambil memegang perut. Bahkan untuk menggambarkan kesakitannya agar nampak nyata, ia bergulingan di kasur.
"Akan kupanggil dokter!" Leo melewati Maria yang memandang marah kepadanya.
"Dia mengacuhkanku!" Maria mendesis. Ia memandang Shabita yang merintih kesakitan. Lihat saja berapa lama bayi itu mampu bertahan dengan obat yang kuberikan.
Leo datang, ia langsung membuka selimut Shabita dan mengangkatnya. "Akan kubawa ke Rumah sakit." Leo melengos tanpa permisi pada Maria dan ucapan barusan hanya ditujukan pada Shabita.
__ADS_1
"Leo! Leo! Aku ikut?" Maria berlari mengejar Leo.
Leo memasukkan Shabita dan mendudukkannya di sebelah bangku tempatnya akan mengemudi nanti. Ia berbalik dan berbicara dengan Maria yang kini sudah berada di dekatnya. "Aku tahu ini ulahmu, Maria. Kamu selalu begini!" kata Leo pelan. Perkataan marahnya sengaja ditekan agar Shabita tidak mendengar.
"Aku--" Maria ingin mengelak.
"Cukup! Sudah sering kututupi dan mengambil resiko karenamu! Sudah, aku sudah tidak tahan lagi!" Leo segera membuka pintu mobil dan masuk. Ia berkendara kemudian meninggalkan Maria yang kini sedang syok lantaran perkataan Leo.
Leo tak pernah seperti ini? Dia selalu mendukungku, dia selalu melindungiku? Ini ... ini ... pasti ulah perempuan gembel itu. Ya, akan kubuat dia tewas seperti yang lainnya. Akan kuhabisi kamu Sha!
Maria segera masuk dan menuju kamarnya. Ia mengambil kunci mobil cadangan yang tergantung di belakang pintu kamar. Maria ke luar dan segera membuka pintu garasi. Ia membuka selimut mobil dan terlihatlah mobil merah. Maria masuk dan mengendarai mobil itu lantas menyusul Leo ke Rumah sakit.
Leo telah tiba dan sedang menunggu di luar ruang Gawat Darurat. Ia cemas dan tidak tenang menunggu sambil bersantai duduk di bangku yang telah disediakan di ruangan tersebut. Shabita ditangani dengan baik di dalam sana.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Dokter lelaki yang kini telah membuka semua perlengkapan medisnya.
"Baik," jawab Shabita sambil mencoba untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia dibantu oleh Suster yang siaga.
"Saya telah memeriksa dan tidak terjadi apa-apa. Apa benar Anda sakit?" tanyanya kemudian. Lelaki berusia empat puluh tahun itu memandang Shabita dengan kerutan di dahinya.
"Saya hanya sakit perut, tapi karena cemas dia membawa saya ke sini," jawab Shabita. Ia sengaja menutupi kesalahan Maria untuk mengambil perhatian Leo.
Maria datang, perempuan itu langsung berlari ke dalam tanpa bertanya terlebih dahulu kepada petugas Rumah sakit. Ia tahu di mana arah kamar darurat, karena dirinya acap kali dibawa ke Rumah sakit ini lantaran memiliki pendarahan karena keguguran. Ia melihat Leo yang sedang mondar-mandir di luar kamar.
"Leo," panggilnya pelan. Berpura-pura cemas.
Leo tidak peduli, ia mengalihkan pandangannya pada lain arah.
__ADS_1
"Leo, kamu salah paham aku--"
Leo memandang Maria dengan marah, membuat Maria surut untuk membela diri sendiri. Akhirnya Maria hanya mendesah dan menyumpah dalam hati.