TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
36 HARI PEMBALASAN


__ADS_3

Sepulang kerja Shabita sudah merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Jantungnya terasa


diremas, sakit dan napasnya mulai sesak. Ia mengusap dadanya yang terasa


sangat ngilu. Sebuah bayangan melesat cepat ke arah lorong bangsal


penginapannya. Shabita penasaran segera mengikuti ke mana bayangan itu pergi. Ia berlari kecil menelusuri lorong bangsal, hingga tidak sadar


bahwa ia telah berada di luar.


Malam semakin larut saat bintang-bintang bersinar terang di langit. Shabita merasakan takut yang


mendalam ketika melihat bintang yang berkelip di angkasa itu sedang


bertebaran di langit, padahal apalah bahayanya bintang itu yang hanya


diam saja dan tidak beranjak sama sekali dari sana. Bau busuk tercium


olehnya, baunya sangat tidak nyaman dan membuatnya sulit mengambil napas segar.


Ini bau darah busuk. Shabita menyimpulkan penciumannya yang selama ini sudah matang di dunia medis, kalau darah itu adalah darah manusia. Apa itu?! Shabita kembali terkaget dan segera mengejar bayangan itu hingga ke luar dari area penginapannya. Berjalan menuju sebuah parsimpangan jalan dan mengawasi setiap sisi jalanan yang mulai sepi kendaraan. Ia melirik


arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul 22:45.


"Shabita! Shabita! Shabita!" Suara teriakan itu terdengar olehnya. Suara serak dan basah.


"Siapa itu?!" seru Shabita dengan perasaan was-was sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.


"Shabita! Shabita!" Suara itu mulai terdengar lagi.


Angin besar menerpa wajahnya, sehingga Shabita harus melindungi wajahnya dari serangan debu


yang akan masuk ke matanya. Dedaunan berterbangan, pohon-pohon bergoyang


dan tubuhnya mulai oleng.


"Kamu harus mati!" Dengan datangnya suara itu, secara bersamaan tiba-tiba tubuh Shabita terlempar beberapa meter ke tanah.


Shabita meringis merasakan sakit di tubuhnya. Ia mencoba bangkit, tapi sesosok perempuan telah berada tepat di hadapannya. Shabita tercengang, tidak habis pikir


dengan kenyataan yang jelas-jelas sudah berada di depan matanya.


"Kau?" Shabita terheran melihat ternyata di hadapannya telah berdiri dukun beranak yang pernah


berurusan dengannya hingga perempuan itu tewas karena dihakimi warga.


"Shabita, aku datang untuk menuntut balas," ucapnya seraya menarik kerah Shabita sehingga gadis itu berdiri secara paksa olehnya.


"Lepaskan!" jerit gadis itu sembari meronta dari cengkraman Sukma.


Mata Sukma memerah. Ia tertawa dan menjilat pipi Shabita dengan lidahnya yang tiba-tiba saja bisa memanjang beberapa senti. Shabita jijik dan berusaha melepaskan diri.


"Ke mana dia, Shabita. Panggil dia!" perintahnya. "Aku ingin mencoba menjajal kemampuanku dengannya," tambahnya lagi.


"Sinting!" Shabita mengejek.


"Apa kaubilang!" Sukma menghempaskan Shabita ke arah pohon besar di ujung jalan.


"Akh!" Shabita menjerit kesakitan, merasakan remuk di sekujur tubuhnya. Darah mengalir di bibirnya. Ia bangkit perlahan dan menyeka darah di bibirnya.


Belum sempat gadis itu berpikir, Sukma telah lenyap dari pandangannya dan secara tiba-tiba


hadir di hadapannya, langsung mencekik leher Shabita. Sukma mengangkat tubuh Shabita dengan cekikan sebelah tangannya. Gadis itu meronta tidak tahan diperlakukan seperti itu. "Aku akan membunuhmu pelan-pelan, Shabita," ujarnya seraya melempar Shabita lagi ke arah aspal.


Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas di depannya, nyaris Shabita kehilangan nyawanya kalau saja  Sariani terlambat datang dan merasuk ke tubuh gadis itu dan dengan cepat lenyap dari sana.


"Shabita! Shabita!" teriak Sukma karena kehilangan lawannya. "Aku tidak akan melepaskanmu, Shabita!"


****


Di sebuah rumah sederhana seorang kakek sedang membongkar gudang

__ADS_1


obat-obatan miliknya. Ada yang hilang di sana yang membuatnya kelabakan


dan gelisah. Satu pikiran yang mengerayangi benaknya, ialah cucunya


sendiri. Dengan cepat si kakek pergi ke kamar Sukma dan mengetuk pintu


itu cukup keras.


"Samma! Keluar kamu!" panggilnya.


Kriet. Pintu kamar Samma terbuka. Gadis itu nampak terkejut saat si kakek langsung masuk ke kamarnya tanpa permisi dan membuka selimut yang ternyata hanya menutupi bantal dan guling saja.


"Di mana ibumu, Samma?!" bentaknya.


"Sedang membalas dendam," jawab gadis itu dengan begitu mudahnya tanpa takut sama sekali dengan kemarahan si kakek.


"Apa?! Jadi minyak Kuyang dan minyak Bintang itu hilang karenamu, Samma?!" tudingnya.


"Sudah tahu kenapa bertanya lagi, Kek," sindir Samma.


"Kamu gila! Kamu tidak seharusnya melakukan itu pada ibumu, apalagi memang ibumu itu salah," katanya penuh emosi yang ditahan.


"Samma tidak peduli, Kek! Samma mau orang yang menyebabkan ibu tewas itu mendapat ganjarannya!" teriak histeris Samma.


"Samma, ibumu itu salah. Ia banyak membunuh, kalau kamu melakukan itu sama saja kamu membuat ibumu masuk neraka. Apa kamu tega seperti itu pada orang tuamu sendiri," ucap kakek. Datuk itu mulai melemahkan ucapannya dan mencoba menasehati cucunya.


"Samma...." Gadis itu terdiam dan tidak mampu melanjutkan perkataannya. Ia tidak bisa menampik bahwa yang dikatakan oleh kakeknya itu semua ada benarnya, tetapi hatinya sudah sangat sakit dan hanya ingin dendamnya terbalaskan, walaupun nantinya akan dianggap egois oleh pihak lain.


"Sukma adalah anak Kakek. Orang tua mana yang tidak sedih anaknya tewas mengenaskan seperti itu, tapi kakek juga tidak dapat membenarkan perbuatan jahat ibumu, itulah sebabnya kakek menerima dengan iklas kematiannya." Si kakek merengkuh bahu Samma dan mencoba memberi pengertian padanya. "Seandainya anakmu yang dimakan Kuyang ... apakah kamu akan diam saja?" tanya kakek.


Samma menggeleng lemah. "Tidak, Kek," jawabnya lirih.


"Sekarang kamu paham, 'kan penderitaan orang yang kehilangan seseorang karena ulah ibumu?" tanya sekali lagi.


"Iya." Samma akhirnya menangis dipelukan sang kakek. "Apa yang bisa Samma lakukan, Kek?"


"Iklaskan ibumu. Apa pun yang terjadi nanti, biarlah Tuhan yang mengurus semuanya," nasehatnya.


"Van, kamu harus bertahan hidup sampai pagi," kata Sariani.


"Mana mampu aku hidup sampai selama itu kalau dia datang kemari," keluh Shabita. Ia bersandar pada karung-karung padi yang tersusun di dekatnya.


Suasana remang hanya diterangi cahaya bulan, menjadikannya aman bersembunyi di sana, paling tidak untuk saat ini saja.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" tanya Shabita lirih.


"Dia memakai minyak bintang dan mengabdi dengan Kuyang. Itulah kenapa Sukma menjadi sesakti sekarang," jawab Sariani.


"Jadi nama dukun itu ... Sukma," gumam Shabita.


"Maka-" Belum sempat Sariani melanjutkan perkataannya, sebuah suara keras menggedor pintu gudang terdengar. "Gawat! Dia di sini!" kata Sariani panik.


Shabita segera berdiri dari duduknya dan mencari cara agar pergi dari sana


tanpa diketahui oleh Sukma. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat. Ada pintu belakang di sana. Shabita segera berlari dan dengan cepat membuka palang pintu, tapi sebelum sempat ia membukanya, pintu itu telah ditendang oleh Sukma hingga Shabita yang saat ini berada di balik pintu, ikut terlempar bersama pintu rusak itu.


"Ish...." Shabita meringis karena sakit. Lengannya terluka dan darahnya mengalir di antara


luka tersebut. Kini ia hanya mampu beringsut tanpa bisa bangkit berdiri.


"Darah," ucap Sukma seraya berjalan mendekati Shabita yang mundur darinya.


"Uhuk! Uhuk!" Shabita terbatuk. Darah keluar dari mulutnya.


"Hem, darah!" ucap Sukma penuh semangat. Ia segera mendekati Shabita dengan tatapan lapar.


"Egh!" Shabita kaget saat rambutnya dijambak dan kepalanya dipaksa menghadap pada Sukma. Ia


mengelak saat Sukma ingin menjilat wajahnya dengan lidah panjangnya.


"Sialan!" teriak Sukma saat lidahnya ditusuk oleh Shabita dengan kayu kecil di dekatnya.

__ADS_1


Shabita terlepas dan segera bangkit walau sangat sulit baginya untuk bangkit. Sukma yang marah segera mendekati Shabita dan menampar gadis itu dengan lengannya. Shabita terlempar mengenai dinding gudang dan jatuh ke lantai tidak berdaya.


"Van! Minum ini." Sariani melemparkan botol bening yang isinya minyak berwarna kuning terang ke tangan Shabita.


Shabita tidak bertanya, ia percaya benar dengan sahabatnya, maka ia segera meminum cairan dalam


botol itu. Rasa sakit dan panas ia rasakan saat minyak itu melewati tenggorokannya. "Akh! Apa ini?! Shabita menjerit kesakitan. Rasanya tulang dan dagingnya bergerak sendiri.


"Itu minyak Bintang, kamu akan kebal dengan itu, Shabita," jawab Sariani.


"K-kau!" Shabita mengutuk Sariani yang telah memberi obat itu padanya.


"Tidak usah protes, kalau nanti sudah selesai kau bisa memakan pisang emas untuk mengeluarkan minyak itu, dan yang terpenting sekarang lawan dia!" kata Sariani.


Shabita yang merasa kesakitan setengah mati, hanya bisa pasrah ketika Sukma datang lagi


untuk mengangkat dan melemparnya ke arah tumpukan beras. Bruk! Tubuh Shabita terhempas dan beras-beras itu runtuh. Gadis itu tertimbun di bawahnya.


"Hihihi...." Sukma tertawa penuh kemenangan. Namun tawanya itu berhenti saat melihat tumpukan beras itu berterbangan, terlempar ke sana- kemari. "Apa ini?!" tanyanya heran.


Shabita telah berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu kini telah bugar kembali tanpa luka yang tadinya ada padanya. Sukma tidak habis pikir dengan yang dilihatnya sekarang. Ia mundur beberapa langkah dan mengawasi Shabita untuk mencari kelemahan gadis itu.


"Hihihi.... Rupanya kamu juga mengunakan minyak itu, Shabita, tapi percuma kalau iblis itu tidak


kamu pakai." Sukma mengejek Shabita yang saat ini masih heran dengan keadaannya sendiri.


"Shabita, bawa dia ke Masjid di sekitar sini. Biar di sana dia di-ruqiah," bisik Sariani.


Shabita tidak membalas bisikan Sariani. Ia hanya melangkah mundur dan segera berbalik dan


berlari secepatnya ke tempat yang disarankan Sariani tadi.


"Pergi ke mana kamu?!" teriak Sukma seraya mengejarnya dengan cepat dan menarik kerah baju Shabita sehingga gadis itu terjatuh ke tanah.


Shabita tidak membalas, ia hanya bangkit dan segera lari lagi lebih cepat dari tadi. Walaupun keadaannya sudah berantakan dengan baju kotor dan celananya sobek di lutut, tetapi stamina gadis itu tetap stabil berkat menelan minyak tadi.


"Shabita! Di sana!" seru Sariani.


Shabita melirik arlojinya. Waktu menunjukkan pukul empat lewat, itu artinya sebentar lagi azan Subuh berkumandang. Ia percepat larinya lagi yang hampir terkejar oleh Sukma. Saat Shabita telah dekat, Sukma tiba-tiba berhenti dan menyadari bahwa ia telah memasuki area Masjid.


"Tidak! Aku harus pergi dari sini!" Sukma segera berbalik. Namun sebelum itu terjadi Shabita


sudah lebih dulu menariknya dan melemparnya ke dalam Masjid.


"Ada apa ini?!" bentak seorang lelaki yang berada di Masjid itu.


"Tolong ruqiah dia, Pak." Shabita masuk dan menahan agar Sukma tidak bangkit berdiri untuk lari dari situ.


"Kenapa dengannya?" tanya lelaki berusia lima puluh tahun itu heran.


"Anda akan tahu sendiri nanti," jawab Shabita.


"Akh! Aku gak mau dibersihkan! Aku gak mau!" Sukma meronta-ronta dalam kuncian Shabita.


"Astagfirullah!" Orang itu terkejut saat melihat mata Sukma menyala. Dengan cepat ia membacakan


ayat-ayat pengusir setan pada Sukma.


"Ah! Panas! Panas!" teriak Sukma. Ia menjerit kesakitan dan berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari Shabita. Kepalanya berasap dan tubuhnya kejang-kejang, hingga akhirnya tidak mampu bertahan dan tidak sadarkan diri. Kuyang yang berada dalam dirinya pergi meninggalkan tubuh Sukma untuk selamanya.


"Terima kasih, Pak," ucap Shabita.


"Sama-sama," balas Bapak itu.


"Boleh saya juga minta di-ruqiah, Pak?" kata Shabita.


"Tapi kamu tidak bisa di-ruqiah sendiri, karena harus ada yang memegangimu nanti," jawab Bapak itu.


Shabita tertegun, selama ini tidak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, ada Kuyang yang selalu mengganggunya dan apabila ia sembarangan meminta bantuan orang lain, maka mereka akan menghakiminya dan menganggap Shabita adalah penganut ilmu hitam.


**Bab selanjutnya Samma yang menjadi Kuyang

__ADS_1


jangan lupa like kalau bisa vote, agar berlanjut kisah ini seperti yang saya tulis dengan setting tempat Thailan. Shabita melawan Palasik di sana**


__ADS_2