
Pagi pukul 10:34 Anggara mendapat telepon dari Shabita. Ia diminta datang ke sebuah Masjid besar yang berada di dekat kota Samarinda. Anggara awalnya heran mengapa gadis itu memintanya untuk datang ke sana
dan memintanya pula untuk membeli pisang emas, awalnya ia berpikir Shabita hanya sedang bercanda karena untuk apa pisang langka itu dibutuhkannya, tapi karena Shabita menjelaskan tentang kejadian semalam, maka ia segera menjalankan permintaan gadis itu.
"Ke mana aku harus mencari pisang itu?" gumam Anggara. Saat ia sudah berkeliling dari pasar ke pasar lain.
"Apa dia belum datang?" tanya Bapak yang meruqiah Sukma. Nama bapak itu ternyata Lukman, ia adalah imam Masjid di sana.
"Belum," jawab Shabita seraya mengusap kepala Sukma yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Kenapa tidak meminta orang lain saja yang membantu kita?" tanya Lukman.
"Saya takut mereka akan salah paham dan menganggap saya jahat," jawab gadis itu lirih.
"Sebenarnya apa yang menjadi bebanmu?" tanya Lukman. Ia memerhatikan Shabita dengan teliti.
"Saya kemasukan Kuyang," desah Shabita seraya memandang Sukma.
"Apa itu sudah berlangsung lama?"
"Sejak saya bayi. Saya telah berusaha keras untuk membuangnya, namun selalu gagal, Pak." Shabita memandang Lukman dengan tatapan mohonan agar Lukman mau mengerti perasaannya. "Keluarga saya bukan penganut ilmu hitam dan saya tidak sama sekali belajar. Saya dipilih ketika lahir," tambahnya lagi.
"Ponsel saya berdering, saya permisi," pamit gadis itu. Shabita segera ke luar dan menerima telepon dari seseorang.
Gadis itu berkerut dahi saat disadarinya ada sesuatu yang janggal di depan sana, ia segera berjalan ke luar pagar Masjid. Memandang ke belakang kemudian menatap ke depan sana lagi. Tak terasa kakinya melangkah sampai di depan seberang jalan. Ada truk dengan kecepatan tinggi menabraknya. Sariani tak sempat merasuk ke dalam tubuh Shabita, hanya mampu bungkam dengan tangan yang ingin mencegah, tetapi terlambat. Sariani mencari Shabita ke seluruh area itu, gadis itu raib bagai ditelan bumi.
"Ke mana dia?" Ia memandang truk yang telah menghilang di tikungan sana. Sariani kebingungan mendeteksi jejak gadis itu.
Anggara telah tiba dan langsung masuk ke dalam Masjid. "Asslamualaikum," salamnya sebelum melepas sepatu kemudian masuk.
"Walaikum salam," jawab pelan Lukman. Orang itu memandang Anggara yang masih lengkap dengan seragamnya.
"Shabita mana?" Anggara bingung di sana hanya ada Lukman dan Sukma saja.
Lukman hela napas kemudian membuangnya perlahan dan berkata, "Dari tadi tidak kembali. Mulai jam 6 tadi," katanya seraya memandang jam dinding di sudut kanan. Jam telah menunjukkan pukul 11:07
Anggara memeriksa arlojinya, kemudian mencoba menghubungi Shabita. Tidak ada jawaban hanya operator telepon yang setia menjawabnya. "Ke mana anak ini?" gumam Anggara. Ia menghela napas tangan sebelahnya diletakkan di pinggang dan pandangannya fokus pada Sukma yang berbaring di antara mereka. "Kenapa ada orang yang asyik tidur di situ?" tanyanya.
__ADS_1
Lukman memandang Sukma. "Gadis itu yang bawa dia ke sini dan sekarang malah menghilang."
"Terus sebelum itu ada yang disampaikan sebelum pergi?"
"Dia pamit akan menerima telepon yang entah saya pun tidak diberitahunya," jawab Lukman apa adanya.
Anggara duduk berhadapan dengan Lukman, sesekali ia mencoba menghubungi gadis itu. "Saya ke luar dulu," pamitnya. Masih dengan handphone yang siap menghubungi Shabita kembali. Kakinya melangkah ke luar teras Masjid. Terdengar suara dering HP saat ia coba menghubunginya kembali, Anggara heran dan segera berlari kecil dan mendapati posel gadis itu ada di samping jalan. Ia timang handphone di tangannya dan segera menghubungi Aji. "Ji, kamu ke sini. Ada seseorang bernama Sukma. Antar dia pulang sementara saya mencari Shabita."
"Baik, Pak." Aji yang tadinya duduk nongkrong di pos, segera bangkit dan membawa kunci mobil yang terkait di belakang pintu.
"Mau ke mana, Ji?" tanya Ali.
"Tau tu, Bos. Katanya disuruh antar orang," jawab Aji cepat, secepat langkahnya yang segera memasuki mobil dan segera pergi.
"Mau ke mana Aji?" tanya Adi yang baru datang dan tidak sengaja berselisih tadi. Pemuda manis itu masih memandang mobil yang dibawa Aji hingga menjauh dari pandangan mereka.
"Katanya ada tugas dari Anggara," jawab Ali.
Adi segera mengambil handphone yang terletak di meja pos. Ali ingin merebut, tetapi Adi sudah berkata, "Pinjam dulu. Pulsaku habis," katanya seraya menjauh.
"Tiap hari habis mulu. Dasar pelit! Pantas nggak ada cewek yang mau!" ejek Ali kesal.
Anggara duduk di teras Masjid sambil menepuk pahanya. "Aku bingung, Shabita hilang lagi," ucapnya dengan nada pelan. "Aku sudah coba hubungi, tetapi HP-nya malah terlempar di sisi jalan."
"Anggara, setiap kamu ke mana-mana hubungi aku dulu," saran Adi.
"Kenapa emang?" Anggara memindahkan ponselnya ke tangan kanan.
"Ini perintah!"
Anggara langsung berdiri. "Woy! Aku atasanmu! Kenapa berani merintah?! Bawahan durhaka!" teriak tertahan olehnya.
"Nggak peduli! Kalau nggak lapor aku nggak mau jadi temanmu lagi!" Ali menekan kata-katanya. Pemuda itu juga geram dengan Anggara. "Ingat waktu itu kamu mau bunuh diri, kalau sampai terjadi lagi dan mati, mayatmu kutampar pulang-balik!" ancamnya, setelah itu mematikan ponsel dan melemparkan ke sembarang tempat. Untung Ali sigap menangkap.
"Bangke ni orang, udah minjem, ngembaliinnya pakai acara menyiksa begini. Kamu tahu nggak HP ini boleh kredit dari ibu kos sebelah rumah?!" teriaknya tepat di telinga Adi. Adi menjauh dan mengorek kupingnya dengan jari kelingking.
Ali mengerutkan dahi saat memandang Ali, kemudian menyengir dan lari begitu saja. Ali kesal ia menyimpan HP-nya dan segera duduk. Ia masih marah hingga Irwan datang dan mengambil kerupuk di meja. Irwan memandang wajah Ali yang merah menahan marah. Ia tahu pasti Adi pelakunya, pemuda usil itu sering membuat rusuh.
__ADS_1
Di sisi lain, Samma merasakan ada sesuatu yang datang. Meja, kursi dan semua perabotan di rumah itu bergetar. Angin bertiup begitu kencang, padahal pagi itu tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Firasat apa ini? Samma mencoba ke luar rumah, namun belum sempat ia maju, pintu tiba-tiba terbuka dengan kencang dan membawa angin badai hingga gadis itu terdorong dan terhempas di dinding. Dinding yang terkena bergetar hebat, menjatuhkan beberapa pajangan. Pajangan itu jatuh menimpa kepalanya. "Aw!" jerit Samma. Kepalanya berdarah. Mencoba berdiri dengan menyasar dinding, tetapi usahanya sia-sia karena kakinya berasa lumpuh tak mampu berdiri. "Ke--kenapa aku?!" Ia panik dan mencoba lagi. Hasilnya nihil, tetap saja begitu. Darah makin deras mengalir. Ia usap kepalanya dan memandang darah di telapak tangan. Pandangannya mengawasi lagi ruang tamu itu, tidak ada apa-apa. Suasana kembali hening dan ia coba berdiri, ternyata kelumpuhannya tadi hanya sementara saja. Terbukti gadis itu saat ini telah mampu berdiri tanpa harus menyasar lagi.
"Samma!" Suara serak membuatnya terhenyak. Ia ketakutan setengah mati, ia kenali suara itu. Suara suruhannya. "Samma...."
Samma menyeka lagi kepalanya yang berdarah dengan punggung telapak tangan dan melapnya dengan baju birunya, tepat di bagian pinggang. Gadis itu masih was-was, apalagi ia saat ini terluka, darah dapat membunuhnya bila ia tidak hati-hati.
"Samma! Sammaaa!" Suara itu menggema hingga membuat rumah bergetar dan anehnya hanya Samma yang menyadari itu, sementara kakeknya malah asyik di luar sana sedang menjemur padi.
"Mau apa kamu?!" Samma mendesis.
"Hihihi...."
"Jangan tertawa! Katakan ...!" Samma masih mengawasi situasi.
Samma tiba-tiba terkejut melihat Kuyang berada tepat dua depa di hadapannya. Memerlihatkan taringnya, gadis itu bergeser dari dinding mencoba mencari jalan lain. Mata merah milik Kuyang mengawasi geraknya. Samma menelan ludah, ngeri bila harus terlalu dekat dengan wajah iblis itu. Darah menitis dari balik lukanya membuat Samma ingin menyeka, namun usahanya ditahan oleh sesuatu yang aneh, ia tahu ulah siapa itu.
"Darah!" Lidahnya menjulur menjilat darah yang ada di kepala Samma.
Samma memejamkan matanya, takut dan bergetar. "Tolong pergi, lupakan semua perjanjian kita," mohonnya.
Kegiatan jilat-menjilati darah terhenti, Kuyang itu mundur. Samma dapat membuka mata dan bernapas lagi. Tetapi itu hanya sementara karena Kuyang itu melesat maju dan menempelkan keningnya ke kening Samma. Hampir jantungan gadis itu dibuatnya apalagi usus serta isi perut Kuyang telah menyentuh dadanya, hingga pakaian gadis itu kini ternoda. Bau amis sangat menyengat membuatnya hampir mati ditambah tekanan ini.
"Lepas, pergi? Semudah itu ucapanmu manusia! Tidak akan."
"A--apa ma--maumu?"
"Ibumu telah dibersihkan dan sekarang aku tidak ada rumah lagi. Aku ingin kamu menjadi wadahku!"
"Ja-ja--jangan! Aku tidak mau!" Samma membuka matanya, tetapi ia hanya mampu menyipit karena mata mereka saling beradu. Ia tidak tahan menerima pandangan merah darah itu.
"Harus! Kauharus mau, Samma. Kau yang memanggilku, kau pula yang harus menerimaku. Lagipula aku masih dendam dengan Shabita! Aku tak terima! Aku masih penasaran ingin menjajal kesaktianku dengannya," ucapnya seraya mundur.
Samma membuka matanya dan menatap Kuyang itu yang pula menatapnya. "Tolong lupakan, kalau kau ingin balas, balaslah sendiri,' mohonnya dengan wajah setengah takut.
"Malam, malam ini tunggulah aku!" kata Kuyang itu yang tidak membalas permohonan Samma dan raib begitu saja.
"Tidak!" teriak Samma histeris.
__ADS_1
Suasana kembali normal, semua perabot kembali seperti semula. Darah di kepalanya telah tiris, ia usap luka itu dan terheran tidak ada sama sekali, sembuh secara ajaib. Berlari ke luar dan melihat kakeknya yang sedang menggaru padi di halaman mereka. Samma mundur tanpa disengaja olehnya, ia menitikkan airmata, mulai menyesali perbuatannya.