
Shabita berdiam diri di kamarnya, menatap semu semua perlengkapan yang akan dikenakannya saat pernikahannya nanti. Talia datang dengan membawa cincin peninggalan ibunya.
"Pakai itu untukmu," katanya sambil memberikan cincin itu di pangkuan Shabita yang tengah duduk di kasur.
Shabita menatap Talia dengan berkaca-kaca. Ia segera menunduk dan mengambil cincin di pangkuannya. "Iya," jawabnya lirih.
Talia duduk di dekatnya dan mengangkat dagu Shabita. "Kenapa kamu sedih?" tanyanya heran.
Shabita menepis tangan Talia. "Aku bahagia," paksanya untuk tersenyum, tetapi Talia sadar ada sesuatu yang berbeda dari senyum itu.
"Kenapa kamu menikahi ayahku?" tanya Talia.
'Kar ... karna cinta." Sangat sulit terucap darinya.
"Bukan," sangkal Talia sambil mengusap airmata Shabita.
Shabita memejamkan mata, air yang dibendung tumpah semua. Ia tak sanggup lagi, ingin bercerita, namun apakah Toni tidak akan menghukumnya atau Talia akan menudingnya sebagai pengadu domba. Aku harus bertahan demi Anggara.
"Apa pun itu, kalau sudah terlanjur aku tak akan melepaskanmu kalau sampai menyakiti ayahku. Maka pikir baik-baik sebelum mengambil keputusan." Setelah berkata Talia lalu pergi.
Talia mengunci kamar Shabita sementara ia masih mendengar isak tagis gadis itu, hatinya bukannya tidak ada perasaan, siapa suruh dia mau dengan ayahnya. Ia pun tidak menyukai adanya ibu tiri, tetapi mau bagaimanalagi.
Hati Anggara terasa sakit, tiba-tiba ia menangis. "Kenapa denganku?" gumamnya sambil mengusap airmata dan mengelus dada.
"Kamu kenapa?" tanya Adi yang hari ini giliran dia yang membesuk. Melihat Anggara tiba-tiba menangis membuatnya bingung.
"Hatiku sakit, aku seperti merasa kehilangan. Seperti ada seseorang di sana yang menungguku," jawab Anggara. Menetralkan desiran yang terasa ngilu.
"Mungkin karena efek obat," terka Adi.
"Enggak, aku pernah merasakan ini. Ya, aku merasa pernah merasakan ini, tapi aku lupa," sangkal Anggara cepat dengan wajah serius.
"Sudahlah, istirahat saja. Jangan dipikirkan lagi." Ali memberikan segelas air putih untuk diminum Anggara.
Anggara menerimanya dan meminum air putih itu. Hatinya kembali sakit bagai diremas, gelas jatuh dan pecah. Ali terkejut dan memanggil suster. Mereka datang dan memeriksa Anggara, pemuda itu diam saja ketika disuntik, ia terlelap karena obat.
__ADS_1
"Sedang apa kamu Shabita, tahukah kamu Anggara tidak akan lama melupakanmu?" desah Adi sambil mengusap kepala sahabatnya.
Shabita meraih satu jarum pentul di meja rias, ingin rasanya ia tusuk nadinya dengan itu. "Anggara," ucapnya lirih.
"Nyonya." Panggilan itu menyadarkannya, ia segera menaruh jarum pada tempatnya. Seorang pelayan wanita bertubuh ramping menghampirinya dan memberikan telepon dari Toni.
"Ya," jawab Shabita.
"Apa yang kamu lakukan sekarang, kuharap tidak macam-macam karena nyawa Anggara ada di tanganku."
"Tidak, aku hanya diam dan melihat pakaian," jawab shabita berbohong.
Hubungan telepon terputus, ia memberikan telepon pada pelayan dan pelayan itu pergi setelah menerimanya.
****
"Kenapa kamu terus mematung, tidak bisakah bergerak dan tersenyum pada para tamu?" bisik Toni.
Sangat mudah mengatakan, namun terasa sulit saat ia mencoba. Shabita berusaha membuat senyum sewajar mungkin, tetapi sangat-sangat sulit baginya. Gaun pengantin putih dan riasan cantik tak ada artinya baginya tanpa Anggara di sisinya. Sungguh menyesal kenapa dulu tak kubalas cintamu walau hanya sekilas, biarkan aku tenang mengucapkan cinta padamu. Airmatanya jatuh, tetapi segera diseka olehnya dan tersenyum lebar.
Talia sedang bercanda dengan sahabatnya sambil memegang segelas wine, pandangannya tanpa sadar tertuju pada Shabita yang sedang tersenyum dipaksakan. Ia heran lalu memandang pada ayahnya.
Malam acara telah usai, Shabita terdiam di kamarnya, perasaannya was-was campur aduk. Toni datang melepas arlojinya dan menaruhnya di meja rias pengantin. Kemudian duduk di sebelah Shabita di tepi ranjang.
"Jangan memikirkan dia pada saat malam pengantin kita," larang Toni sambil menatap tajam gadis itu.
__ADS_1
Shabita hanya meremas baju pengantin yang belum digantinya. Ia takut disentuh Toni, takut mengandung anaknya, takut keturunannya menjadi seperti Toni. Tetapi ia takut kehilangan nyawa Anggara.
Toni menaikkan kakinya dan bersila di ranjang. Wajahnya polos seperti pemuda baik, siapa yang mengira kalau dia adalah iblis. "Semua akan kuberikan padamu, apa pun kaupinta kan'kuberi asal kamu tidak meninggalkanku," janjinya. Ia meraih Shabita. Gadis itu tidak bisa mengelak, hanya diam menerima perlakuannya. "Jadilah ibu dari anak-anakku," bisiknya.
Shabita merinding, ia memejamkan mata, ketakutan merajai jiwanya, hingga airmatanya mengalir. Saat Toni menjamahnya ia hanya diam dan menerima walau hatinya terasa sakit dan begitu sangat sakit hingga mungkin akan menjadi kenangan yang buruk baginya.
Shabita mengenakan gaun putih polos, memandang lautan lepas, angin mengibarkan rambut dan pakaiannya. Ada sebuah lengan kekar merangkul pinggangnya. Ia tersenyum dan berbalik. "Anggara," ucapnya dengan membelai pipi pemuda itu. Anggara pun mengenakan pakaian putih bersih.
"Van," ucap lirih Anggara. "Kenapa kamu meninggalkanku, melupakanku, merelakanku menghilangkan ingatanku?"
"Ang," lirihnya.
"Tunggu aku, Van. Aku akan menjemputmu kembali, menjadikan kamu milikku selamanya."
"Tapi--"
"Susst...." Anggara menutup bibir Shabita dengan telunjuknya dan tersenyum. "Apa pun kelak keadaanmu aku akan terima. Bagiku kamu satu-satunya milikku."
Anggara menyentuh kedua pipi Shabita dan menyatukan kening mereka. Shabita berderai airmata, tak sanggup lagi menahan dan merangkul erat Anggara.
Suara alarm membagunkannya yang terbuai akan mimpi bersama Anggara. Ia menangis bila ingat kejadian semalam, di sana di ujung lemari Toni telah memakai pakaian. Ia sempat memandang Shabita dan kembali lagi sibuk merapikan dasinya.
"Hari ini aku akan pergi ke Indonesia. Ada bisnis," katanya sambil menghampiri gadis itu. "Kuharap kamu tidak macam-macam."
"Berapa lama?" tanya Shabita pelan tanpa tenaga.
"Hampir sebulan kalau tidak terkendala," jawabnya.
Shabita menunduk sambil menghela napas saat Toni memandangnya. "Kamu harus terbiasa denganku, Shabita. Aku suamimu sekarang," ucapnya seraya meraih gadis itu dalam pelukannya.
"Aku mau ke kamar mandi." Rasa jijik dan benci dirasakan membuat Shabita terpaksa mendorong pelan Toni dan beralasan akan membersikan diri.
__ADS_1
Di kamar mandi ia menangis tanpa suara sedangkan Toni tersenyum bahagia melihat noda darah di seprai putih mereka. Sebanyak air tak'kan mampu menghilangkan noda itu, membuat Shabita memukul dirinya sendiri.