TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
MENCINTAIMU WALAU MUNGKIN KITA TAK SALING MENGENALI


__ADS_3

"Bodoh! Apa yang kalian lakukan di sana?! Kalian tidak sama sekali menghabisi gadis itu!" Noy membentak pelan, takut didengar oleh majikan Talia-nya. Ia memarahi lima pesuruh yang ia utus untuk membunuh Shabita di pasar itu. Mereka menunduk patuh. "Cari dan bunuh!" perintahnya. "Sekarang cepat pergi sebelum majikanku tahu!"


Mereka tak bersuara hanya mengangguk dan segera meninggalkan Noy di belakang pagar rumah itu. Noy melirik ke sana-kemari memastikan agar tak ada yang dapat mengetahui posisinya sekarang.


"Noy!" panggil Talia tepat di belakangnya.


Noy tersentak dan berdecak, ia segera berbalik. "Ya, Nona?" jawabnya dengan menunduk hormat.


"Mana, May?" tanyanya.


Rupanya dia tidak tahu. "Ke pasar," jawab Noy.


"Oh, kalau begitu tolong bantu aku," pintanya.


"Apa pun, Nona!"


"Bereskan mayat yang ada di gudang. Aku tak tahan mencium bau mereka. Telah dua hari ini kita tak menyingkirkan pembuat onar itu!"


"Mayat?"


"Mayat Krasue yang menyerang Shabita waktu itu. Ingat?"


"Baik," jawabnya segera pergi ke gudang.


Noy membuka gudang dan melebarkan pintunya. Jenazah tanpa kepala bergelimpangan. Ia diam-diam bersyukur saat itu tidak ikut serta dalam aksi pembantaian itu. Sungguh tak dapat dibayangkan bila ia harus mengalami nasib yang sama dengan mereka. Bau busuk menyebar, lalat berterbangan. Ia menutup hidungnya dan berjalan di antara mereka.


"Harus menunggu, May. Aku tak dapat mengatasi ini semua sendiri." Ia segera ke luar dan mengunci kembali pintu. Kunci disimpannya baik-baik dalam saku baju kemudian ia menelepon seseorang.


"Sudah berapa lama ini, apa mereka baik saja?" gumam Talia. Gadis itu sedang berjalan di teras atas sambil membawa secangkir kopi buatan sendiri.


Di tempat lain Shabita sedang kebingungan, ia tak ada baju ganti. Tubuhnya sudah mengeluarkan aroma tidak sedap ditambah lagi ia benar-benar gatal bila tidak berganti.

__ADS_1


"Aku tidak punya baju untukmu, tapi pakailah ini sebagai ganti," ucap Anggara sambil menyerahkan baju kemeja miliknya.


Shabita menunduk malu saat menerima itu, ia segera mandi dan berganti. "Ish, kenapa nasibku sama seperti di film-film?" Ia hampir tertawa melihat dirinya dengan pakaian Anggara. Kemeja cokelat pemuda itu kebesaran buatnya.


"Sudah?" tanya Anggara tanpa melihatnya. Ia sibuk mengambil pancing.


"Kamu mau ke mana?"


"Mencari ikan di sawah. Di sini kita tidak bisa ke kota, harus pintar-pintar bertahan," jawabnya. Pemuda itu memandang Shabita sekilas kemudian memandang ke depan. "Mau ikut?" tawarnya.


"Aku..." Shabita memandang ke samping sambil menutupi lututnya yang terbuka. Ia malu bila harus ke luar seperti itu.


Anggara mendekat dan Shabita malah mundur. Gadis itu gugup didekati olehnya. "Aku punya celana kalau kamu mau?" katanya seraya beranjak dan masuk ke kamarnya. "Pakailah," suruhnya setelah ia kembali.


Shabita segera meraih dan masuk ke kamar. Ia ke luar lagi dan menemui pemuda itu. Anggara memandang Shabita memakai celana pendek miliknya, sudah lebih baik daripada tadi menurutnya.


"Mari," ajaknya.


"Eh!" Nyaris saja terjatuh kalau saja Anggara tidak menyambut tangannya.


"Hati-hati!" Anggara segera merangkul gadis itu dan memintanya jalan lebih dulu. "Hati-hati, ya. Kalau kamu jatuh masih bisa diobati, tapi kalau anakmu akan sulit sekali," nasehatnya.


Shabita terkesan dengan ucapan dan perbuatan pemuda itu. "Terima kasih," ucapnya lirih. Andai ini anakmu, Anggara. Aku tidak akan semenderita ini, anak ini pasti akan baik-baik saja.


"Jangan melamun," tegur Anggara saat kaki Shabita akan terjerumus kembali. Pemuda itu merangkulnya dari belakang. "Kalau kamu begini terus lama-lama aku berdosa dengan suamimu," bisiknya. Sangat dalam ungkapan itu dirasakan Shabita membuat hatinya berdesir hebat.


"Maaf," ucap Shabita sambil menjauh, tetapi niatnya untuk menjauh malah membuatnya hendak terjatuh ke sawah. Anggara terpaksa melepaskan pancingnya dan menangkap gadis itu.


"Berdiri di situ!" perintahnya. Anggara mengambil pancingnya dan diberikan pada Shabita. "Pegang!"


Shabita bingung, kenapa Anggara menyuruhnya memegang pancing, tetapi ia terkejut saat tiba-tiba Anggara menggendongnya dan berjalan. "Aku bisa jalan!"

__ADS_1


"Nanti jatuh, biar aku gendong sampai di sana!"


"Jangan aku nggak mau!"


"Diam!"


Shabita terpaksa diam. Ia menunduk tak ingin melihat pemuda itu, tetapi hatinya ingin memandang maka diam-diam ia memandangi Anggara. "Kalau berat turunkan aku," ucap Shabita lirih.


"Tidak, sama sekali tidak berat. Aku sanggup biarpun seumur hidup begini." Ada sesuatu di balik ucapan yang Shabita tak mengerti.


"Maksudmu?"


Anggara menurunkan Shabita. "Entah kenapa, kamu itu seperti dia. Aku tidak bisa melupakannya walau aku bingung siapa dia sebenarnya." Anggara segera mengambil pancing dari Shabita dan menyiapkan pancingan lalu ia duduk di antara persawahan. "Duduk!" Ia meminta Shabita untuk duduk. Shabita menurut. "Bolehkah aku mengelus perutmu?"


Shabita bingung, ia heran dengan sikap Anggara, namun begitu ia tetap mengangguk setuju.


"Anakku," ucap Anggara lirih sambil mengelus perut Shabita.


"Apa?" Shabita segera menepis tangan Anggara. "Ini anak suamiku, apa kamu bercanda?"


Anggara menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di sana. "Entah, aku bisa gila kalau begini. Aku merasa itu anakku!"


Bagaimana bisa dia berpikir ini anaknya sementara aku belum pernah disentuh olehnya. "Jangan gila! Kalau suamiku tahu dia akan berpikiran yang bukan-bukan!" bentak Shabita.


"Anakmu, anakku juga. Apa pun itu milikku!" tekan Anggara. "Walau kutahu kita tak saling kenal, tetapi aku merasa cinta setengah mati denganmu." Pemuda itu menghadapi Shabita yang memandang heran padanya. "Siapa kamu, Rani? Siapa dia? Kenapa aku merasa itu kamu?"


"Hilangkan pikiran itu darimu! Aku bukan dia, aku sudah menikah!" jelas gadis itu sambil berdiri dan akan meninggalkan Anggara.


Shabita berlari sambil menangis, beberapa kali hendak terjatuh, namun ia mampu bertahan dan hingga di rumah. Ia berlari ke kamar dan menangis di sana. "Apa yang harus kulakukan? Padahal kesempatan ini tidak akan terjadi lagi, oh, Tuhan. Toni akan membunuh cintaku!"


Hay jangan lupa like ya. Biar tambah rajin up

__ADS_1


__ADS_2