TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
53 TUNGGU AKU


__ADS_3

Malam pukul  00:12 May


dan Noy sedang berada di sebuah tempat yang sangat gelap dan hanya diterangi oleh cahaya  rembulan.  Mereka berdua sedang menghadapi ratu mereka yang sedang berada di atas batu. Berkepala seperti Kuyang  pada umumnya, memiliki taring dan usus yang menjuntai. Lebih menyeramkan karena berkulit gelap dan berkepala besar tidak normal.


“Apa yang kalian mau?!” tanyanya dengan suara serak.


“Ratu, gadis yang kemarin kita bicarakan dia masih hidup,” lapor Noy.


“Lalu kenapa kalian tidak segera menghabisinya?” tanyanya marah.


“Maaf!” ucap May cepat sambil menunduk takut.


“Tidak ada kata maaf! Kupikir kalian dapat diandalkan dengan membawa puluhan pasukan, tetapi ternyata kalian hanya membuang waktuku!”


bentaknya.


“Kami tak menyangka dia mampu melawan, tapi yang paling kami


tak berdaya adalah Toni datang pada saat itu.” Noy bercerita. Ia menceritakan kejadian pembantaian beberapa hari yang lalu.


“Toni akan segera tahu dan habislah kita di sini! Seharusnya kalian tidak gegabah.”


“Kami telah meminta orang untuk mengikuti Talia dan mendapatkan gadis itu kembali sebelum Talia membawanya pulang ke rumah,” kata


May. Ia mengangguk mantap.


“Lakukan dengan cepat, aku tak mau Toni mendapatkan pewarisnya!” perintahnya.


Noy dan May sama-sama mengangguk. Mereka lenyap dan kembali lagi ke dalam gudang, jenazah yang bergelimpangan tadi pagi telah bersih semua, namun masih menyisakan bau yang menyengat.


“Sebaiknya kita harus menyiapkan makanan untuk majikan kita,” saran Noy.


“Buat apa, bukankah Shabita akan mati?”


“Kita tidak tahu apakah ia akan pulang atau malah tewas di sana.  Berjaga-jaga saja agar tak mencurigakan.”


May mengangguk setuju, perkataan sahabatnya ada benarnya juga.  Mereka tak boleh sampai tahu bahwa mereka berdua termasuk yang paling mengusulkan ide menghabisi  Shabita.


Talia masih menyetir, ia paling kesal karena signal mobilnya sangat jauh dari jangkauan. “Ke mana mereka berdua? Sulit sekali ditemukan?”


gumamnya.


“Ikuti terus jangan sampai lepas,” suruh Pemuda berkacamata


berbaju hitam pada rekannya. “Ke mana gadis itu pergi?” tanyanya pada diri sendiri.


Talia berbelok dan baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres di belakangnya. “Aneh, mobil itu dari tadi di belakangku.” Ia berinisiatif untuk menepi di bawah pohon.


“Jack, jangan berhenti. Lanjutkan!” perintah si pemuda yang tadi pada rekannya yang mengemudi.


Mobil melewatinya, Talia bernapas lega. “Ternyata hanya sejalur, kupikir tadi ...” Ia bimbang karena pikirannya berubah. “Bagaimana kalau mereka memang mengincarku dari rumah. Bisa jadi mereka mengelabuiku!” Talia berpikir keras sambil bersandar pada pintu mobil. Aku harus cari cara untuk mengelabui mereka. Talia kembali

__ADS_1


melajukan mobilnya, ia memutar arah dan kembali ke jalan yang ia lewati tadi. Melajukannya dengan kencang agar tidak ada yang sempat mengikutinya. “Halo, siapkan saya mobil lain. Saya akan menyewa mobil yang Anda pilihkan!” katanya


di telepon.


“Ke mana gadis itu, Jack, kenapa tidak melewati jalan ini?” Pemuda bernama Lay heran. Ia memandang ke belakang. Hanya kendaraan lain yang melewatinya, tidak ada tanda-tanda bahwa mobil Talia akan melintasi jalan itu. “Stop!” perintahnya pada Jack.


“Apalagi?” tanya Jack yang sedari tadi diam dan hanya mentaati perintah Lay.


“Kita tunggu di sini sampai mobilnya melintas, sebaiknya kita menepi di tempat gelap,” saran Lay.


“Kuharap idemu benar, sebab kutahu Nona Talia licik akalnya,” pendapat Jack. Ia tahu benar sifat asli Talia yang cerdas.


Talia sedang berada di rental mobil, ia sekarang sedang menunggu di depan pintu itu. Pintu terbuka dan seorang bapak bertubuh gemuk dengan mengenakan baju kaus dan pula celana pendek memersilahkannya masuk.  Ia membuka semua jubah mobil dan memberi  isyarat agar Talia memilihnya sendiri. Talia memilih satu mobil berwarna merah menyala dan menerima kunci.


“Mau ke mana tengah malam begini?” tanya Bapak itu setelah Talia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.


“Urusan penting,” jawabnya singkat tanpa mau bercerita lebih. Ia tersenyum dan mulai melaju ke jalur tadi. Memakai kacamata hitamnya


dan menutup semua kaca mobil.


“Apa kamu tidak curiga, kenapa dia lama sekali?” tanya Jack sambil melirik arloji perak miliknya.


“Sedikit, tapi jalur ini hanya satu. Bagaimana lagi dia lewat?”


“Kita tunggu sebentar lagi,” saran Jack.


Mobil Talia melintasi mereka, gadis itu tersenyum kemenangan. Ia sempat melihat Jack dan Lay kebingungan di tepi jalan. Tunggu saja semampu kalian.


***


Shabita bangkit dan duduk di ranjangnya. Ia menatap pada pintu dengan mata sembab.


“Rani, kamu harus makan. Anakmu perlu diberi makan, Rani.“


Shabita hanya mendengar, namun berpikir ia sudah sangat lelah. Ia kemudian merebahkan kembali dirinya. “Apa yang mesti kulakukan, Sar?“ tanya gadis itu lirih.


"Jangan menyakitinya lagi, Van. Sayangi dia, walaupun itu hanya sekejap. Kemudian kamu akan menyesali bila menyia-nyiakannya. Hidup adalah sekali, kita tidak tahu usia, dia tak dapat diramal dan tak dapat dicium kehadirannya. Tinggal kita manfaatkan waktu yang ada," pesan Sariani. Roh itu segera lenyap kembali.


"Rani! Aku akan dobrak pintu ini bila kamu tidak segera ke luar!" ancam Anggara. Pemuda ini mulai gusar dan takut bahwa gadis yang dicintainya malah melakukan hal yang tidak diinginkan di dalam sana.


Ia siap untuk merusak pintu, namun sebelum itu Shabita telah keluar lebih dulu. Anggara terdiam mematung memandangi Shabita yang menunduk, tak mau melihat ke wajahnya. "Maaf." Hanya kata itu yang mampu membuat hati Anggara tergerak untuk memeluknya. "Maaf! Maaf! Hikz... hikz ...." Tangisan Shabita pecah. Ia merangkul erat membalas rangkulan pemuda itu.


"Susst, jangan nangis," hibur Anggara. Ia menyapu kedua mata gadis itu.


"Tolong jangan mencintaiku sedalam ini, plis. Biarkan aku pergi," pinta Shabita.


Anggara terpukul dengan pernyataan Shabita, ia berpikir lain dan yang dinyatakan gadis itu berbeda dari harapannya barusan. "Kenapa kamu tega?" tangis Anggara pecah begitu saja. Ia sangat sakit hingga kepalanya disandarkan pada pundak gadis itu.


"Aku sudah bersuami, punya anak dan kamu ... cuma-"


"Cuma orang lain," sambung Anggara cepat. "Aku tidak peduli! Aku tak peduli!" ucapnya lirih. Kokoh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Dia akan marah!"


"Tidak masalah!"


"Dia akan membunuhmu!"


"Aku rela!"


"Kita tidak akan bersama!"


"Bila di hidup tak mampu, maka setelah kematian kita bersama!" Anggara meluruskan tubuhnya, menatap Shabita dengan wajah serius. Matanya merah penuh airmata.


Shabita ingin menghindar, namun tangannya dicekal Anggara. "Seberapa besar itu, Anggara? Bisakah kamu terima aku dan anakku?"


"Seluruh hidupku," sumpahnya.


"Kamu tidak mengenalku dan kamu akan menyesal mengatakan itu."


"Bilang 'ya'! Aku cuma dengar kata itu darimu!" Anggara merengkuh kedua bahu gadis itu dan menekannya. "Katakan, Rani!"


"A--aku ...."


Sebuah suara ketukan mengagetkan mereka berdua. Anggara diam sesaat dan tidak mau peduli. "Plis, katakan ya?" pintanya dengan bersimpuh di hadapan Shabita.


Ketukan kembali terdengar, kali ini disertai suara dari orang. "Anggara! Ini Talia!"


Shabita terkejut, ia memegang dadanya sendiri dan berbalik cemas. Anggara segera berdiri dan merangkul gadis itu dari belakang. "Plis, jangan tinggalkan aku!"


Shabita melepaskan tangan Anggara dan menghampiri pintu. Ia membukanya, Talia segera berbalik dan tersenyum manis. Ia melihat Anggara yang berpaling padanya. Anggara segera mengusap airmatanya.


"Papa akan pulang. Sebaiknya kita segera pergi," kata Talia yang tak mau diajak masuk oleh Anggara.


Talia melirik Anggara yang memandang semu ke depan sawah. "Tunggu, aku akan berganti!" ucap Shabita. Ia segera pergi ke kamarnya.


"Van, aku tak dapat menyelamatkanmu di dalam sana. Bila kamu dalam masalah segeralah keluar dan aku pasti datang." Sariani berbisik.


"Baik," jawab Shabita sambil melepas pakaian Anggara darinya.


"Aku sudah siap," ucap Shabita. Ia telah bersalin dengan baju yang dipakainya kemarin lusa.


Talia tersenyum dan akan segera mengajaknya pulang, namun dicegah Anggara. "Apa tidak sebaiknya bermalam dulu," tawarnya.


Talia melirik Shabita dan Shabita menggeleng lemah sebagai tanda tidak setujunya. "Sepertinya memang harus keburu, Anggara. Kita akan bertemu lagi bila ada kesempatan," pamit Talia.


"Tunggu sebentar, ada barangku yang tertinggal!" kata Shabita. Gadis itu segera berlari ke dalam dan menemui Anggara yang sedang termenung di ranjangnya.


"Kamu?" Ia heran. Disangkanya Shabita telah pergi bersama Talia.


Shabita tidak bicara, ia mendekat dan berucap, "Apakah setelah kukatakan ya kamu tenang, apakah setelah aku setuju walaupun belum tentu kita bersama selamanya kamu akan bahagia?" tanya gadis itu.


Anggara diam tidak menyahuti, namun ada kesediaan di matanya. Suara klakson mengagetkan Anggara, pemuda itu memandang ke pintu kamarnya. "Pergilah, Talia Suda--" Anggara terpotong saat Shabita menyentuh bibirnya, mengecupnya dengan mesra. Kemudian melepasnya sebelum pemuda itu sempat membalas.

__ADS_1


"Aku pergi, jaga dirimu!" pesan Shabita. Gadis itu segera ke luar dan menemui Talia.


Anggara tidak menyangka bahwa gadis itu akan melakukannya, setelah ia sadar Anggara segera berlari ke luar. "Rani! Rani!" Kosong tidak ada apa-apa lagi di sana. Mereka telah pergi. "Tunggu aku, Rani," ucapnya lirih. Masih terasa hangat bekas bibir Shabita yang ditinggalkan di bibirnya. Membuatnya teramat tak rela jauh dari gadis itu.


__ADS_2