TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
84


__ADS_3

Anggara berjalan di taman, ia memandang Talia yang datang padanya. Gadis itu terlihat kebingungan ketika hendak berucap. "Ada apa?" tanya Anggara.


"Aku bisa minta tolong?" tanya Talia.


"Apa?" tanyanya.


"Antarkan ibuku ke dokter kandungan," pintanya.


"Kupikir apa tadi," kata Anggara sambil tertawa simpul. "Kapan?" tanyanya.


"Besok pagi. Boleh?" Ia memandang wajah Anggara.


"Ya," jawabnya.


Talia gembira tanpa sadar ia mencium pipi Anggara. "Eh!" Ia terkejut akan sikapnya sendiri. Lantaran malu, ia lalu pergi begitu saja. "Ish, memalukan banget aku ini!" Ia menggerutu sambil berjalan menuju kamar Shabita.


"Kamu ngapain ke sini sambil mengomel sendiri?" sindir Shabita. Ia saat ini sedang duduk di meja rias sambil mewarnai kukunya.


"Tumben kamu merias diri?" tanya Talia. Ia belum pernah melihat Shabita merias dirinya.


"Aku sedang bosan. HP tidak diberi dan berjalan pun mesti dikawal," singgungnya sambil memerhatikan kuku yang baru dicat merah olehnya. "Aku curiga papamu memang tidak menyayangiku.'


"Ngomong apa, sih itu?" Talia tersinggung. "Besok pagi ikut Anggara periksa kandungan, ya?"


"Ngapain sama dia, suamiku mana?"


"Sha, kamu ini." Talia mendesah. "Pergi saja, mempung masih sempat."


"Oke.'' Shabita memandang Talia yang keluar dari kamarnya, ia tersenyum senang. "Kesempatan," gumamnya.


***


Pukul 20:00, Anggara sedang makan bersama Talia dan Shabita. Pemuda itu melirik Talia yang sedang tertunduk malu menyuap makanannya. Shabita diam saja tidak peduli dengan mereka berdua, ia makan dengan lahap.


"Kayaknya aku ngantuk setelah makan ini. Jangan-jangan ada racunnya," kata Shabita. Ia berpura-pura menyindir Anggara di depan Talia.


"Ah, kamu. Jangan gitu," tegur Talia.


Anggara tidak membalas sama sekali, tetap makan walau ingin sekali tertawa melihat sandiwara Shabita.


"Aku mau tidur, tolong yang itu jangan masuk ke kamar. Soalnya tidak suka," pesan Shabita.


"Sha!" tegur Talia. Ia mendesah kesal. "Ang, maafin sikap dia, ya," mohonnya.


"Aku sudah selesai, selamat malam Talia." Anggara segera pergi menuju kamar Shabita. "Van, kenapa pintunya dikunci?" tanya Anggara ketika ia tidak bisa membuka pintu.


"Kan, aku sudah bilang jangan masuk!" sahut Shabita dari dalam.


"Beneran, nih?" Anggara kesal. "Van, ayo dong!" rayunya. Kriet! Pintu terbuka. Shabita berjalan menuju ranjangnya, tangannya segera diraih Anggara. "Ngapain tadi pakai acara bilang makanan itu diracuni?"


"Suka-suka," jawab Shabita. Ia menepis tangan pemuda itu, kemudian berbaring di ranjang.

__ADS_1


Anggara segera mengunci pintu, kemudian menyusul gadis itu ke ranjang. "Enak saja kalau ngomong. Nanti kalau Talia marah, aku kena," omel Anggara sambil mencubit hidung Shabita.


"Besok kita ke mana?" tanya Shabita.


"Ke dokter, lah," jawab Anggara sambil memejamkan mata.


"Bukan kabur?"


"Ke dokter dulu baru setelahnya," jawabnya.


"Kabur?" kejar Shabita.


"Pulang," jawab Anggara.


Shabita meraih bantal, ia melempar bantal ke wajah Anggara. Pemuda itu hanya tertawa melihat wajah kekasihnya yang kesal. "Kupikir besok," omel Shabita.


Anggara meraih Shabita dalam pelukannya. "Tidurlah, besok kita kabur!" Ia kemudian memejamkan mata.


***


Pukul 10:20. Anggara mengantarkan Shabita untuk diperiksa. Ia menunggu di luar saat gadis itu sedang dicek kondisi kehamilannya.


"Anda suaminya?" tanya Dokter pria berumur tiga puluh tahun bermata sipit.


"Ya," jawab Anggara.


"Anda tidak masuk?" tanyanya. "Sebaiknya Anda masuk juga."


"Berapa bulan istri Anda ini?" tanya Dokter itu.


Anggara bingung, ia tidak tahu berapa bulan. Namun, ia memandang perut Shabita dan menyimpulkan, "Enam bulan," jawabnya Ragu.


"Tapi melihat kondisinya saya mengira sudah delapan bulan." Dokter itu memandang Shabita yang telah duduk di depannya.


Aku baru dua bulan mengandung, ternyata sudah delapan bulan.


Anggara memandang Shabita. Ia merasa heran dengan kehamilan gadis itu. Bagaimana bisa, padahal kata Talia mereka menikah baru dua bulanan saja?


Shabita dan Anggara sudah berada di mobil. Anggara tidak langsung menjalankan kendaraan, ia memandang perut Shabita. "Bagaimana kamu hamil sekitar itu kalau baru saja menikah?" tuduhnya.


Shabita diam, ia tidak menjawab pertanyaan Anggara.


"Kenapa diam, Van? Apakah ada rahasia?"


"Kalau kamu cinta sebaiknya diam saja. Bila tidak tinggalkan aku," ancam Shabita.


Anggara mendesah. Ia tidak dapat berbuat apa-apa bila Shabita sampai berubah pikiran. Pemuda ini segera melajukan kendaraannya dan berhenti di tengah jalan. Shabita heran, tetapi keheranannya berganti rasa gembira lantaran memandang Sean yang sedang menunggu mereka di jalan itu.


"Ayo, kita tinggalkan mobil ini di sini," ajak Anggara. Ia segera melepas sabuk pengaman. Kemudian keluar untuk membuka pintu gadis itu.


"Lama amat, ditunggu hingga kering di sini," sindir Sean. Ia kemudian masuk ke mobil disusul mereka berdua.

__ADS_1


"Ang, kita hendak ke mana?" tanya Shabita.


"Untuk sementara di rumahku dulu. Nanti kalian bisa pulang kalau sudah waktunya," sela Sean.


Anggara mengusap sayang perut Shabita. "Apa dulu aku pernah ... hingga anak ini sudah segini besarnya?" bisik Anggara.


Shabita malu, ia berpaling dari Anggara. "Diam!" balasnya.


"Serius tanya! Betulkah, apa itu memang anakku?"


"Bodoh!" makinya. Ia mendorong Anggara agar menjauh.


Sean mengintip mereka dari balik kaca, ia sempat mendengar bisik mereka. Lantaran sifatnya yang suka menyela akhirnya ia menjawab, "Dia anak suaminya. Tidak ada campur tanganmu sama sekali. Jangan ngarep, deh," ejeknya.


"Diam!" bentak Anggara. Ia kemudian beralih pada Shabita. "Betulkah itu, Van? Lalu bagaimana kamu bisa hamil sebesar ini padahal baru beberapa bulan nikah?"


"Diam!" bentak Shabita. Ia kesal dengan pertanyaan Anggara.


"Di rumah akan kuceritakan tentang kekasihmu itu," kata Sean.


Mereka tiba di rumah. Sean lalu menceritakan keadaan Shabita pada Anggara. Pemuda itu hanya diam mendengarkan sambil duduk di sofa putih milik Sean.


"Begitulah, Ang. Jadi kamu tidak perlu mimpi kejauhan," ejeknya sambil menyilangkan kaki.


Anggara menghampiri Shabita yang duduk sedikit berjauhan darinya. "Tapi apa kita pernah--"


Shabita mendorong Anggara. "Nggak pernah! Kamu bahkan belum pernah menjamahku walau kita sering tidur sekamar," omel Shabita.


"Ang, lebay boleh. Gila jangan. Kulihat ada bibit-bibit gila di otakmu!" olok Sean. Otomatis itu membuat Anggara melempar bantal sofa ke arahnya.


"Sembarangan kalau bicara. Aku kakakmu, ya. Jangan ngomong gitu!" omel Anggara.


"Dua minggu lagi mungkin akan segera lahiran. Apa kamu siap pergi dengan keadaan seperti itu?" tanya Sean mulai serius.


"Aku nggak tahu," jawab Shabita. "Kalau tidak dicoba mana tahu," sambungnya.


Anggara memandang Shabita. Ia meraih pundak gadis itu. "Aku akan menjadi Bapak siaga," katanya.


"Bukan itu, Ang. Bayinya nanti akan seperti apa aku tidak tahu, tapi yang pasti sangat mengerikan bila tidak bisa mengontrolnya. Bisa-bisa kalian yang binasa," terang Sean.


"Maksudnya?" tanya Shabita.


"Dia bukan manusia biasa. Entah seperti apa rupanya nanti yang pasti lebih ganas daripada Toni."


"Aku tidak paham maksudmu, kenapa harus disamakan dengan Toni?" tanya Anggara.


"Ada dua kenyataan yang harus kalian ketahui. Anak itu dapat berpihak pada ayahnya atau malah melawan. Anak ini memiliki sifat abu-abu, ia berpikir sendiri, tidak bisa diganggu kecuali dengan kasih sayang. Bila darah Toni lebih kuat maka dia akan ikut pada ayahnya, tetapi menurut terawanganku, anak ini tidak menyukai pesaing. Hati-hati saja kalian, jangan sampai kalian juga tewas oleh anak itu."


"Setelah lahir kami akan mendidiknya," kata Anggara.


"Kamu kira dia manusia normal? Enggak Anggara. Lihat saja seberapa ganasnya dia ketika lahir nanti."

__ADS_1


__ADS_2