TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
97


__ADS_3

Maaf baru up. Sedang lesu inginnya tidur terus. Terima kasih sebelumnya sudah mendukung cerita ini. Semoga dapat menghibur walaupun ceritanya agak nggak karuan. Baca aja, ya.


Sariani mendesah, ia ingin sekali mendatangi Shabita. Namun, apa daya, ia tidak mampu bila harus melakukan perjalanan jauh. Mengingat ia sekarang terlihat oleh mata manusia, maka segala sesuatunya harus menggunakan uang untuk dapat kendaraan ke sana. Ia berdiri di sembari bersadar pada tiang rumah di teras Sean. Ssekali matanya melirik mawar indah yang bergoyang diterpa angin.


Sedang apa mereka? Sariani menghela napas.


Sean tiba-tiba berada di belakangnya. "Kenapa sedih?" tanyanya.


"Sudah tahu tidak perlu bertanya," jawab Sariani ketus.


"Apa kamu mau meninggalkanku, Sariani?" bisik Sean.


"Jangan memaksa orang untuk tinggal di sini!" tegasnya. Ia menghindari Sean.


Sean meraih tangan Sariani dan merangkulnya dari belakang. "Akan kuberitahu caranya agar Toni bisa mati dan tidak bangkit kembali," bisiknya.


Awalnya Sariani menolak dirangkul Sean. Ia sempat meronta, tetapi karena mendengar Sean, ia diam dan bertanya, "Apa itu?" tanyanya. Sean membisikkan sesuatu di telinganya. Sariani tampak menyimak.


"Ingat, kamu harus keluar sebelum kekuatanmu disedot olehnya." Sean melepaskan Sariani.


Sariani menatap mata Sean yang memandang semu ke arahnya. Entah apa yang dipikirkan pemuda itu. "Bagaimana aku ke sana?" tanya Sariani.


Sean masih mengosongkan pandangannya. Ia hanya berucap, "Pergi seperti biasanya. Tidak perlu takut karena baju itu sudah kubebaskan." Sean berbalik. Ia masuk ke rumah dan segera mengunci pintu.


Di tempat lain, Anggara sedang memandang bayi Shabita. Ia tersenyum bahagia sambil menyebut, "Dara." Ia berdiri dan memandang Talia yang sedang memandang adiknya.


Talia meraih Dara dan menggendongnya. Ia tersenyum walaupun hatinya masih amat sakit karena harus kehilangan Toni. Anggara merawat Shabita. Ia berniat mengendongnya, tetapi tersentak lantaran ada suara aneh di rel kereta api di depan sana.


"Apa itu?" tanya Anggara. Ia tidak jadi menggendong Shabita. Pemuda ini berdiri mendekati Talia.


Jesica yang memulihkan keadaannya sambil duduk bersandar tadi, segera berdiri dan berucap, "Gawat!"


Anggara segera berpaling pada Jesica. "Ada apa di sana?" tanyanya.


"Papa bangkit kembali!" sela Talia. Bersamaan dengan itu suara ribut sepeti daging cincang diremas hadir di kesunyian malam ini. Krak! Kratak! Suara tulang terdengar. "Dia murka!" Talia menelan ludah. Ia mundur perlahan.


Anggara memperhatikan tingkah Talia. Ia tidak bergerak setindakpun, Anggara penasaran ingin memandang ke sana. Matanya melebar saat melihat sebuah daging berserakan di rel kereta berterbangan ke satu arah, yaitu menuju tulang yang kini mulai menunjukkan rangka manusia. Daging itu menyatu dengan tulang itu kemudian berjalan ke arah mereka. Jesica sempat jijik, ingin muntah lantaran tubuh itu berupa daging segar tidak beraturan nyaris seperti sebuah hewan yang dikuliti.


"Bayiku ...!" ucap Toni serak. Ia melewati Anggara dan sekarang menuju Talia.


Gadis itu mundur perlahan sambil memandang ke arah lain. "Jangan, Papa! Dia berhak hidup normal, tolong jangan libatkan adikku dengan urusanmu!"


"Anak durhaka! Serahkan anakku sekarang!" Toni mengambil paksa Dara. Kendati Talia telah berusaha, tetapi tenaganya lebih lemah dibandingkan Toni.


Uwe! Uwe! Tangis dara pecah saat berada di pelukan Toni.


Shabita berdiri, ia tidak rela anaknya bersama lelaki itu. "Jangan ambil anakku!" bentaknya.


Toni memandang Shabita. "Dia anakku!"


Shabita mencoba meraih Dara dari Toni, tetapi Toni malah mencekik leher gadis itu. Anggara marah, ia berusaha menolong Shabita dengan menarik tubuh Toni dari belakang agar terlepas dari kekasihnya itu. Darah keluar dari mulut Shabita, ia terangkat kemudian dihempaskan ke lantai.


"Vanesa!" teriak Anggara. Pemuda itu segera merangkul Shabita.


"Aku nggak rela! Aku nggak rela!" Shabita menangis di pelukan Anggara. Rasa sakit di tubuhnya mengalahkan rasa sakitnya kepada Toni.


Talia memandang Jesica. Gadis itu paham. Ia melemparkan pedangnya. Talia segera mengarahkan pedangnya ke punggung Toni, tetapi urung lantaran Toni menjadikan Dara sebagai tamengnya.


"Ayo, serang!" tantang Toni.


Talia terpaksa mundur, ia memandang Dara yang saat ini telah tertidur karena dibius Toni dengan kesaktiannya. Toni tertawa gelak, ia mencium kening Dara.


"Anakku, pewarisku!" katanya dengan congkak. "Hah!" Ia terkejut melihat Dara membuka matanya. Mata Dara merah menyala.

__ADS_1


Bayi itu terbang tanpa kuasa darinya. Membentuk sebuah cahaya merah kemudian turun berupa seorang gadis berusia tujuh belas tahun. Matanya merah, giginya bertaring. Tubuhnya dilapisi cahaya merah yang menutupi dirinya dari penglihatan mereka akan tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun.


"Papa," sebutnya. Ia mencari di antara Anggara dan Toni.


"Ini papa, Nak!" Toni merentangkan kedua tangannya.


"Papa," sebutnya sambil berjalan pelan seperti balita yang baru belajar berjalan.


"Jangan!" teriak Shabita. Gadis itu berdiri. "Jangan, Nak. Sini, dengan mama!" Shabita mengulurkan tangannya untuk meraih putrinya.


"Mama," katanya dengan suara pelan. Dara berbalik menujuĀ  Shabita.


"Jangan! Ini, papa. Ayo sini, Nak!" Toni mendekati Dara.


Dara berbalik pada Toni. "Pa--pa ...."


"Dia papamu!" Talia mencegah sambil menunjuk Anggara. Rupanya ada Sariani di sebelahnya sedang membisiki Talia.


Anggara sempat terkejut lantaran Talia menunjuknya, tetapi pemuda itu hanya diam saja.


"Papa ...." Dara menghampiri Anggara.


Anggara mendekat, ia mengusap lembut pipi Dara, sehingga gadis itu memejamkan matanya.


"Papa." Dara berbalik memanggil Toni. Ia ingin Toni melakukan hal yang sama seperti Anggara. "Papa," sebutnya pada Toni.


"Apa yang kamu lakukan pada anak itu hingga bisa sebesar itu?" bisik Talia.


"Kata Sean aku harus merasuki bayi itu agar wujud aslinya terlihat dengan begitu dia bisa membunuh ayahmu."


"Bagaimana malah sebaliknya?" tanya Talia. Ia memandang Dara yang merasa nyaman diusap pipinya oleh Toni.


"Papa," sebut Dara kembali sambil memegang kedua pipi ayahnya.


Anggara dan lainnya terkejut saat Toni menuding Anggara. Dara berpaling dari Toni dan mendekati Anggara.


"Habisi dia!Jangan beri ampun!" perintah Toni.


"Jangan!" cegah Shabita. "Jangan, Nak. Mama bisa mati tanpanya!" mohon Shabita.


Dara berbalik pada Toni. "BUNUH!" bentak Toni.


"Jangan!" Shabita ketakutan setengah mati. Ia menarik Anggara dan menyembunyikan pemuda itu di belakangnya. "Jangan!" mohonnya dengan suara lemah.


"Habisi mereka berdua!" perintah Toni.


Dara seketika berteriak sambil meremas rambutnya, suaranya mampu menggetarkan semua yang ada di sana. Talia segera menepi bersama Jesica. Mereka was-was, takut kalau-kalau Dara akan mengamuk dan malah berbalik menyerang mereka semua. Dara memandang Toni ia kemudian memandang Anggara. Wajahnya marah, kukunya memanjang dan mendadak menyerang Anggara. Namun, Shabita melindunginya. Dara mengeram Ia menyingkirkan Shabita sehingga gadis itu tersingkir dari Anggara.


Anggara mundur saat Dara mendekatinya. Talia masih memegang pedang Jesica, maka gadis itu langsung berlari dan mengarahkan pedang ke arah Dara. "Hiya ...!" teriaknya sambil melompat akan membelah tubuh Dara.


Brak! Talia terhempas sebelum bisa menyentuh Dara. Anak itu marah ia mengalihkan sasarannya pada Talia yang kini terjatuh akibat terhempas kemudian mengenai tiang Stasiun. Talia memuntahkan darah segar, pedang yang tadi di tangannya terlempar jauh darinya.


Jesica segera meraih pedang itu kemudian berlari cepat menusuk ke arah Dara yang kini mendekati Talia. "AH!" Jesica terhempas ketika Dara menatapnya dengan menggunakan kesaktiannya.


Toni tertawa gelak, ia puas memandang pekerjaan putrinya. "Bunuh dia!" tunjuknya pada Anggara.


Dara berbalik arah, ia melupakan niatnya untuk membalas Talia. Dara kini menuju Anggara. Shabita segera berlari dan menghalangi Dara.


"Mama," kata Dara.


"Jangan, Nak! Mama mohon!" pinta Shabita.


Sariani ada, ia hanya memandang karena dirinya telah berjanji pada Sean untuk tidak lagi ikut campur. "Biarlah bila itu memang nasib mereka" kata Sean waktu itu.

__ADS_1


"Mama!" Dara merengek, ia meminta dipeluk Shabita.


Shabita ingin merangkulnya, tetapi suara Toni membuat Shabita terkejut karena Dara segera berubah sikap. Dara menjauhkannya. Ia dengan cepat mendatangi Anggara, siap untuk menerkamnya. Shabita kehabisan cara, ia menangis sambil berlari mengambil pedang yang tergeletak di ujung sana. "Maafkan, mama!" teriaknya sambil berlari siap menebas tubuh Dara.


"Mama!" Dara terkejut. Ia ketakutan karena ibunya ingin melukainya.


"Jangan!" cegah Anggara.


"Anggara!" Trang! Shabita segera membuang pedangnya. Ia segera meraih tangan Anggara yang terluka akibat menangkap pedangnya. "Anggara!" teriaknya histeris sambil menangis.


"Mama," panggil Dara.


"Pergi, aku bukan mamamu!" tolak Shabita.


"Jangan diusir, jangan dibunuh. Itu anak kita, Van." Anggara mencoba menenangkan Shabita.


"Bukan!" tolak Shabita histeris. "Iblis!" bentaknya pada darah dagingnya sendiri.


Plak! Anggara menampar Shabita. "Dia anakku! Dia bukan iblis!" bentak Anggara. "Dia tidak berdosa. Dia masih bayi, Van." Suara Anggara melemah.


Betapa terenyuhnya hati Shabita mendengar Anggara. Ia tidak kuasa menahan tangisnya sambil menciumi tangan pemuda itu.


"Dasar tidak bisa diandalkan!" Toni marah Ia berjalan cepat hendang menyerang Anggara langsung.


Dara berbalik marah, ia memandang Toni yang menyingkirkan Shabuta dan hendak menyerang Anggara.


"Papa!" teriaknya sambil menerjang Toni. Memukulinya kemudian membenturkan kepala ayahnya ke lantai.


Toni berusaha melawan. Ia mendorong Dara. Toni bangkit, ia marah karena Dara menyerangnya. Sariani tersenyum, kemudian ia melesat masuk ke tubuh Dara. Seketika Dara memancarkan mata merah.


"Sariani!" bentaknya kesal karena roh itu menguasai putrinya.


Dara maju dan kembali menerjang Toni. Ia mencakar dan memukuli Toni.


"Rasakan ini!" Toni menendang perut Dara.


Dara terpental, sementara Sariani terpaksa keluar dari tubuh dara karena kemarahan Dara membuat dirinya tidak mampu bertahan di sana lebih lama lagi. Ia memandang mata Dara yang memancarkan api kemarahan.


Toni mundur, ia ngeri dengan mata merah putrinya. "Haaag!" Dar! Toni tertembak oleh kesaktian yang keluar dari mata Dara.


Talia menutup kepalanya dengan lengannya karena daging terbakar berjatuhan ke lantai. Anggara melindungi Shabita dari benda-benda terbakar itu.


"Papa," panggil Dara. Anak itu berjalan pelan mendatangi Anggara.


Anggara menepikan Shabita ia melebarkan kedua tangannya, siap merangkul Dara. "Dara," sebut Anggara.


Dara merangkul Anggara. Seketika Anggara terkejut saat Dara berubah menjadi bayi mungil kembali. Anggara tertawa, ia menggeleng lemah sambil berjalan meraih selendang Jesica yang tergeletak di tempat Shabita bersalin tadi.


"Aku harus kembali Vanesa. Sean menungguku," pamit Sariani.


Shabita tersenyum, ia mengangguk. Talia menghela napas sambil telantang. Napasnya naik-turun kelelahan.


Anggara segera membawa Dara ke pelukan ibunya. Shabita menangis menciumi putrinya, ia sangat menyayanginya.


"Sayangi adikku, Anggara." Talia telah berdiri sambil memapah Jesica.


"Pasti!" jawab Anggara.


"Kami harus pulang. Capek!" pamit Talia.


Anggara hanya tersenyum, ia kemudian merangkul ibu dan anaknya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2