
Dara bangun pagi sekali. Ia tidak tahu bahwa Lani sebenarnya tidak sadarkan diri. Maka tak tega ia mengusik tidur adiknya itu. Dara melirik ponsel. Biasanya Bagus selalu mengiriminya pesan, tetapi ini tidak. Padahal ia telah berulang kali meminta maaf. Diam-diam ia menyesali sikap Anggara. Dara turun dari ranjang kemudian mandi.
"Dara sama Lani mana?" tanya Anggara sembari memakai kemeja cokelat.
"Masih tidur mungkin?"
"Papa-Mama." Dara menghampiri mereka.
"Lani-nya?" tanya Shabita.
"Masih tidur. Biar Dara sendiri yang antar kalian, ya?"
"Baiklah." Anggara mengusap lembut kepala Dara. Gadis ini tersenyum hambar.
"Kamu kelihatan sedih?" tanya Shabita saat Anggara menyiapkan mobil mereka di luar.
"Bagus, nggak balas chat Dara. Udah beberapa kali, tapi nggak balas!"
Shabita hela napas. "Tidak usah lagi. Mungkin dia hanya ingin berteman."
"Kami memang teman, Ma."
"Kalau cuma teman kenapa begitu kehilangan?"
Dara diam. Tak lagi membantah. Anggara datang dengan meraih koper mereka.
"Ayo," ajak Anggara.
"Nanti kita bicara lagi. Pokoknya kamu jangan cemas. Kalau Bagus memang sayang, dia pasti akan kembali."
"Mama, nggak ngerti. Kami hanya te-"
"Teman," sambung Shabita.
"Dulu juga mama hanya menganggap papamu teman. Namun, dia tidak pernah meninggalkan mama. Sangat setia dan sangat kuat walau berulang kali disakiti. Papamu tak peduli walau nyawanya nyaris melayang. Tetap menjadi bayangan mama."
Dara memandang Anggara yang kini menaruh barang mereka di mobil. "Jadi maksud kalian?"
"Papamu ingin Bagus menjadi menantunya. Ia hanya ingin membuat kalian menyadari perasaan kalian."
Dara diam. Ia berjalan menuju mobil. Dalam benaknya ia tidak paham mengapa Anggara ingin mengambil menantu Bagus. Jelas hatinya tidak ingin pemuda itu. "Aku sebenarnya mencintaimu, Papa," batinnya.
Lani terjaga, ia memandang tempat Dara. Lani terkejut saat melihat jam dinding. Pukul 10:12. Ada pesan di ponselnya. Sebuah pesan bahwa mereka telah menuju ke Bandara.
"Ah, kenapa aku tidak dibangunkan, sih?" Ia segera menuju kamar mandi. Lani membasuh wajahnya. Ia memandang wajahnya di cermin. Awalnya biasa, tetapi ia termundur dengan wajah pucat. Ada wajah sama di sana. Pucat pasi. "Si--siapa kau?"
"Dara," panggilnya.
"Aku Lani, bukan Dara!"
"Kamu ingin menjadi Dara, kan?"
"Iya." Bukannya takut ia malah maju.
"Pakai bajunya dan semua yang ia sukai."
"Tetap saja aku tidak bisa menggantikannya."
"Kalau begitu cari kelemahannya."
Lani menunduk. Ia meremas wastafel. "Tidak, aku nggak mungkin menyakiti kakakku!" Ia terheran saat melihat cermin. Bayangan itu tidak adalagi.
__ADS_1
***
Setelah dari bandara Dara segera pulang. Ia menuju kamar Lani. Terlihat Lani sedang berputar di depan cermin sembari mengenakan pakaiannya.
"Lani?"
"Eh, Kakak. Bajunya bagus. Beli di mana?"
Dara duduk di ranjang. "Hadiah dari, Bagus."
"Wah, enak ya, punya cowok. Udah ganteng perhatian lagi." Lani duduk di sebelah Dara. Gadis ini perhatikan Dara.
"Kenapa melihat kakak begitu?"
"Tidak." Ia segera berdiri kemudian melepaskan pakaian. "Kak, aku melihat tadi malam darah," ucapnya pelan.
"Ha, apa, Lani?" Dara yang sedang fokus menatap ponsel bertanya heran.
"Eh, nggak. Lani, cuma bilang pengen baju kek gini." Terpaksa ia ralat.
"Oh, ambil aja. Kakak, nggak pakai."
"Benaran?"
"Iya, ambil aja." Dara tersenyum manis.
Lani girang. Ia merangkul baju itu. "Kak, apa Kak Bagus tidak marah?"
Dara menghela napas kasar. "Jangan bicarakan dia!"
"Eh, kok gitu?" Lani menggaruk kepala. Ia melihat Dara yang dengan tergesa meninggalkan kamar.
Dara menuju kamarnya. Ia duduk dengan kasar. Menanti kabar dari Bagus membuatnya kesal. Tak sadar ia menangis. "Kenapa jadi gini, sih, kami kan, cuma berteman?" Kesal sekali dirinya. Suara motor terdengar. "Bagus!" Ia segera berlari ke pintu. "Bagus!"
"Oh, iya." Terpaksa ia ladeni. Setelah menutup kembali pintu. Ia kembali ke kamar. Berbaring lesu. Gadis ini kembali meraih ponsel yang tidak jauh darinya. "Kamu marah, atau HP-mu hilang, dijual, rusak atau ... ah! Kurang asam!" Ia melempar ponsel ke dinding. Ponsel rusak parah. Dara kemudian turun memungut ponselnya. Menyesal telah merusaknya.
***
Bagus tertidur di meja belajarnya. Ponselnya penuh dengan notifikasi dari Dara. Ia membacanya.
"Bagus, kamu nggak kuliah?" tanya Fine.
"Dia nggak kuliah. Aku juga nggak."
"Siapa maksudmu?" Fine heran.
Bagus tersadar. Ia kemudian mengusap kepala seraya tertawa. "Maksud Bagus, dosennya, Ma. Kan, lumayan istirahat di rumah."
"Ah, kamu. Gimana mau sukses kalau bolos terus!"
"Mama mau ke mana, kok rapi?" Bagus baru sadar. Ibunya berdandan.
"Mama, diajak papamu berkunjung ke rumahnya orang penting."
Bagus mendehem, nampak tak senang. "Okelah, Ma."
"Kamu jangan begitu, dong, Nak. Ini juga demi kamu. Demi kita."
"Mama, tahu nggak bedanya halal sama haram?"
Fine terdiam. Ia tak dapat membantah. Bagaimanapun sesakit apa pun perkataan putranya. Itu adalah benar dan tak bisa diabaikan.
__ADS_1
"Ma, sesalah apa pun. Mau dia orang tua atau anak kecil sekalipun. Bila salah tetap harus diingatkan. Jangan memandang umur. "
"Tahu apa, sih, kamu? Kalau bukan karena itu kamu nggak akan enak begini!" Ayahnya datang.
Bagus menunduk dengan senyum hambar. "Ya, Bagus tahu."
"Kalau merasa sudah benar, sana cari uang sendiri biar tahu rasanya cari duit!"
Bagus mengangguk-angguk. "Ya, Pa. Bagus akan cari."
"Ayo, Ma!"
"Pa, kenapa ngomong begitu sama anak kita? Dia masih kecil kenapa disuruh cari duit sendiri?!" Mereka bertengkar di ruang tamu.
Bagus mengusap habis wajahnya. Ia menaruh ponsel dan meraih pakaian Dara. Pemuda ini malah mengenakan kemeja Dara. Ia kemudian keluar tanpa permisi.
"Bagus, Bagus, mau ke mana kamu?" Fine meraih tangan Bagus. Mencegahnya pergi.
"Ma, bukannya aku ini mengharapkan kalian hancur. Memang ini dosa, tapi bisa nggak Mama ceraikan orang itu."
"Lancang kamu!" Ia hendak menampar Bagus.
"Papa!" cegah Fine.
"Ma, Bagus pergi. Cari Bagus kalau Mama sudah sadar." Ia segera pergi.
"Bagus!"
"Sudah, jangan ditangisi, jangan dikejar!"
"Tapi, dia!"
"Cukup! Dia tidak butuh kita. Jadi buat apa kita pertahankan!"
Bagus masih mendengar sayup pertengkaran mereka. Ia tidak peduli dan hanya terus meninggalkan rumah itu.
***
Lani meraih gelas di atas meja. Ia menuangkan susu kemasan. Berniat hendak meminum, tetapi ia terkejut dan tak sengaja menjatuhkan susu. Ada darah dari atas menetes dalam susunya. "Aaaaa!"
"Ada apa, Lani!" Dara berlari kemudian melihat pecahan gelas.
Lani perlahan menatap ke arah Dara. "Kak, aku dihantui!"
"Kamu ngomong apa, sih?" Dara meraih kain untuk lap dan sapu. Ia bersihkan. "Aduh!" Jarinya berdarah. Ia segera menyedot darah.
Lani meringis saat melihat Dara begitu menikmati darahnya sendiri. "Kak!" tegurnya sembari menepuk pundak Dara. "Aaa!" Ia terpekik saat melihat mata Dara yang merah menyala.
"Apa, Lani?" Sepertinya Dara tidak sadar akan perubahannya.
"Matamu, Kak!" Lani mundur.
"Kenapa mataku?" Dara mengusap matanya. "Baik-baik saja!"
"Aaaaa!" Dara meremas kepalanya. Ia tambah histeris saat melihat mata Dara hanya menyisakan bola putih. Lani jatuh tak sadarkan diri.
"Lani!" Dara segera menangkap Lani. "Lani, Lani!" Ia menepuk pipi gadis itu. Dara terheran saat melihat darah menetes dari plafon. Ia kemudian melihat ke atas. Darah datang dari sana. Awalnya hanya air, entah kenapa kini melebar membentuk sebuah lubang. Dara pucat. Dadanya naik turun menahan rasa ngeri.
"Dara, sudah waktunya kamu tahu siapa dirimu!" Suara itu datang dari sana.
Dara menaruh Lani. Ia berdiri kemudian meneliti lubang. Seketika ia mematung saat sebuah kepala dua kali lipat dari kepala manusia biasa turun dan mendekati wajahnya. "Siapa kau?"
__ADS_1
"Akulah pengikut setia ayahmu. Kamu adalah ratu kami."
Seketika semua lenyap saat Lani terjaga dengan suara mengaduh. Dara tak lagi melihat lubang atau makhluk menyeramkan itu.