TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
SEAN


__ADS_3

Sorry saya kehabisan ide. Wkwkwk ... bingung mau nulis apaan, ya? Baca aja di bawah semoga menghibur.


Shabita sedang mencari sesuatu di dalam kamar itu yang dapat dimakan olehnya. Semua dibongkar mulai dari lemari hingga kolong dipan. "Sial! Tidak ada apa-apa di sini?!" Ia segera menuju kamar mandi. Ketika membuka tutup kloset tangannya tersengat dan ia melihat tulisan yang berisi kalimat: "Jangan membongkar WC! Tidak baik memakani kotoran. Ingat itu badan bukan badanmu, jadi jangan dipakai buat memakan sesuatu yang tidak dikehendaki pemiliknya!" Shabita langsung membanting tutup kloset dengan kakinya. Kurang asam! Dia tidak memberiku makan daging tidak juga mau membiarkanku makan kotoran! Shabita kembali ke kamar itu dan berjalan mondar-mandir. "Di mana aku bisa mendapatkan makanan?" gumamnya.


Ia melihat ke langit-langit, memiliki ide akan menembus atap dan segera keluar dari sana. Shabita berjongkok dengan satu kaki dan melompat tinggi ke atas, namun segera terjatuh lantaran tersengat oleh sesuatu yang tak kasat mata olehnya. "Gerrm! Jebakan di mana-mana." Ia mengusap lengannya yang sakit lantaran tersengat tadi.


Suara langkah kaki menyadarkannya, ia segera berlari ke belakang pintu. Meraih sebuah lampu kamar dan siap dipukulkan pada yang akan masuk ke kamar itu. Pintu kamar terbuka sedikit, Shabita bersiap-siaga akan menyerang, namun pintu kembali tertutup. Ia kebingungan, saat pintu terbuka, ia kembali mengatur ancang-ancang hendak memukul, namun pintu kembali tertutup. "Kuya, sekali orang ini!" makinya kesal lantaran merasa dikerjai. Saat ia lengah, pintu terbuka lebar.


"Mau mukul, ya?" ejek pemuda itu. Ia masuk dan menaruh tas belanjaan di atas ranjang.


Shabita segera menyembunyikan, dan menaruh diam-diam lampu sebelum pemuda itu melihatnya. "Apa itu?" tanyanya.


"Baju untuk ganti," jawabnya.


"Aku lapar," kata Shabita.


"Yang di WC, tidak dimakan?" ejeknya.


Shabita berbalik dan mengepalkan tinjunya. Giginya mengeratak dan melotot. "Dasar!" gumamnya. Kemudian ia berbalik menghadapi pemuda itu kembali. "Yang mana, ya? Kamu ini suka mengada-ada. Mana mungkin aku makan-makanan begitu. Hahaha." Dipaksakannya tertawa, walau wajahnya terkesan aneh di wajah pemuda itu.


"Segera ganti bajumu. Aku akan membawamu pada Anggara!" perintahnya.


Ini kesempatanku kabur saat dalam perjalanan. Shabita segera meraih tas itu dan masuk ke kamar mandi.


"Aku tunggu di luar!" serunya seraya menuju pintu dan ke luar.


Tidak lama Shabita ke luar dengan mengenakan dress biru selutut dan berlengan panjang. Ia bercermin dan memerhatikan dirinya. Perutnya yang membuncit terlihat dan ia merabanya, saat pemuda itu masuk, ia hanya melirik dan tetap meraba perutnya.


"Sudah siap?" tanyanya.


Shabita tidak menjawab, ia hanya berjalan melewati pemuda itu. Pemuda itu tersenyum dan membuka pintu untuk Shabita.  Ia sempat tersenyum melihat gadis itu bersikap dingin terhadapnya. Mereka yang berada di lobi hotel memandang Shabita, kagum dengan kecantikannya. Adapula yang memandang langsung dan adapula yang memandangnya diam-diam. Pemuda itu membuka pintu mobil hitam miliknya dan meminta gadis itu agar masuk ke dalam. Shabita menurut saja.

__ADS_1


"Apa kita benar akan ketemu dia hari ini?" tanyanya hanya sekadar basa-basi saja.


"Memangnya kenapa, takut?" sindirnya. Ia memberi isyarat agar sopir segera berkendara.


"Tidak sama sekali," jawab Shabita sambil melihat ke samping.


Pemuda itu mengeluarkan ponsel yang disimpannya di kantung kemejanya dan memainkannya. Shabita melirik diam-diam. "Kenapa, tidak ada, ya mainan ini di zamanmu?" sindirnya lagi.


Shabita berdecih kesal sambil melipat kedua tangannya. "Anggara tidak mengenalku, lalu bagaimana kamu menjelaskannya tentangku?" singgung Shabita.


"Gampang. Dia menyebutmu, Rani, kan. Dari situ aku penasaran, siapa sih, Rani itu, yang bisa mengalihkan dia sama Shabita? Eh, ternyata orangnya sama! Hahaha ...."


Shabita benci melihatnya tertawa sendiri. Seperti orang gila!


"Oh, ya. Namaku belum tahu, ya?"


"Tidak tanya! Jangan disebutkan! Aku tak sudi mengenalmu!" tolak Shabita.


Shabita memutar bola matanya. Sungguh ia tidak peduli dengan nama dan keperibadian Sean. Ia malah melirik jalanan dan memikirkan cara untuk kabur darinya. "Bisakah kita berhenti di tempat makan? Aku lapar," kata Shabita.


"Tidak boleh!" jawabnya tegas.


"Aku sangat lapar!" mohonnya.


"Aku tahu kamu ingin lari, kan?" sindir Sean. Ia melirik Shabita yang mengepalkan tinjunya.


"Aku sungguh lapar," ucap Shabita lirih. Ia mengelus perutnya. "Aku akan makan apa saja yang kamu berikan," tambahnya lagi.


Sean menghela napas. "Berhenti di pinggir jalan itu, Pak!" perintahnya saat melihat warung di pinggir jalan. "Ayo, ikut!" tariknya.


"Aku tunggu di mobil saja!" tolak Shabita.

__ADS_1


"Aku nggak mau ambil resiko. Ayo cepat!" paksanya.


"Tu--tunggu!" Shabita segera keluar dengan ditarik paksa. Ia kesal sekali.


"Pilih saja makanan ringan yang kamu mau," tawarnya.


"Saya mau itu, itu dan itu!" tunjuknya pada penjual makanan yang sedang menunggu pesanannya.


Sean melepaskan tangan Shabita dan meraih dompet dari balik kantung celana belakangnya. Ia sibuk membayar sedangkan Shabita melangkah mundur dan segera lari darinya. Ia berlari sekuat tenaga. Melesat bagai angin memasuki sebuah hutan. Ia memang memilih hutan daripada berlari di aspal karena akan mudah ditemukan oleh Sean.


"Dasar bodoh! Kamu tidak mungkin menemukanku!" ejeknya sambil tertawa gembira, namun kegembiraannya hanya sesaat. "Hah?!" Di depannya telah berdiri Sean yang memegangi bungkusan pesanan gadis itu tadi.


"Dicari-cari, kok malah mainan di sini? Ayok balik ke mobil!" Sean meraih tangan Shabita dan menariknya kali.


Sial! Shabita memaki lagi. Sungguh ia sangat benci dengan Sean. Ingin dihabisinya kalau bisa pemuda itu di dalam hutan sepi ini.


"Kalau jalan jangan jauh-jauh. Nanti terluka aku yang kena omel kakakku," ocehnya.


"Aku lapar," kata Shabita.


Sean memberikan makanan dalam bungkusan itu pada Shabita. Gadis itu melihat tangannya yang dipegang Sean. Wajahnya berubah ceria.


"Bagaimana aku makan kalau kamu memegang tanganku, bisakah kamu lepaskan?" pintanya. Penuh siasat.


Sean melepasnya dan memandang Shabita yang sedang membuka bungkus camilan. Gadis itu makan di depannya, melihat Shabita makan dengan serius, akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke depan sana.


Shabita berjalan seperti kepiting, akan lari. Namun lengannya diraih Sean dengan cepat. "Anu--a--aku, cuma mau buang sampah. Hehehe," dalihnya sambil melempar bungkus camilan yang telah kosong.


"Masa, kok kayaknya ada niat mau kabur, ya?" sindir Sean.


"Cuma mimpi, tolong jangan berprasangka buruk dulu," bantahnya. "Ayo, ke mobil!" ajak gadis itu. Ia berjalan mendahului pemuda itu. Germ! Bagaimana caraku lari darinya?!

__ADS_1


Shabita berpura-pura tersenyum saat memandang ke belakang. Sean masih mengawasinya dari situ. Membuatnya salah tingkah


__ADS_2