TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
106


__ADS_3

Setelah sekian lama penantiannya, Anggara akhirnya melangsungkan pernikahannya hari ini, walupun terbilang amat sederhana, tetapi para undangan dan rasa bahagianya sangat luar biasa ia rasakan. Apalagi kini ia telah mengikrarkan janji pernikahan di depan penghulu.


"Cieh," ejek Aldi. Ia tahu bahwa Anggara bukanlah ayah dari Dara karena pemuda itu yang tahu kisah mereka berdua bersama Ridwan dan Aldi.


"Apaan, sih?" tepis Anggara saat Aldi menepuk pundaknya sambil berbisik mengejeknya.


"Cerita-cerita kayak apa rasanya malam pertama," godanya. Pemuda manis ini amat jahil walaupun ia hanyalah bawahan Anggara.


"Nikah sana!" Anggara mendorong kepala Aldi agar menjauh darinya.


"Maunya, sih sama binimu aja," godanya.


Dara diasuh oleh Bela. Perempuan itu sedang membawa Dara berjalan-jalan di sekitar acara. "Mama-papamu nikah," katanya sambil mencium pipi anak itu.


Shabita sedang tersenyum menyambut para undangan yang hendak pamit untuk pulang. Memang mereka mengadakan acara di pagi hari hingga pukul dua saja, lantaran Anggara harus beristirahat dan kembali bekerja esok hari sedangkan ia juga memikirkan Dara.


"Jangan lupa besok masuk bekerja," nasehat Komisaris sebelum ia pulang. Ia pula sempat berbisik kepada Anggara. "Bungkusin makanan, dong. Buat bini saya di rumah."


"Bungkus sendiri saja," kata Anggara sambil tersenyum pada tamu yang mendatanginya.


"Pelit," ejeknya.


"Saya sibuk, Pak."


"Oke, saya bungkus sendiri," katanya sambil menuju ke dapur.


"Malam ini bikin adek untuk Dara," ejek Boby sambil menyusun piring kotor bekas tamu undangan.


Anggara hanya tertawa, sedangkan Shabita yang mendengarnya malu setengah mati.


***.


Usai sudah acara mereka berdua. Kini Shabita telah menganti pakaiannya dengan pakaian sehari-hari.


"Rasanya lelah walau hanya diam saja menerima tamu," kata Anggara.


"Kamu tidak mandi?" tanya Shabita. Ia memandang Anggara yang telah rebahan di kasurnya.


"Malas, capek," jawabnya sambil berbalik menghadap Dara. "Tadi ditinggal papa, ya?" Ia menyentuh pelan pipi Dara.


"Mandi sana, bau!" ejek Shabita sambil menutup hidungnya.


Anggara segera membaui dirinya. "Wangi," katanya.


"Perasaan."

__ADS_1


"Ya sudah, aku mandi." Anggara segera meraih handuk di atas kursi rias kemudian pergi ke kamar mandi.


Anggara kembali, ia memandang Shabita yang tertidur sambil menyusui Dara. Gadis itu tampak lelah di matanya, maka dari itu Anggara hanya berbaring di sebelahnya. Tok, tok, tok! Suara pintu diketuk dari luar. Anggara segera bangkit dari tidurnya.


"Maaf, mengganggu sebentar," kata seorang perempuan manis berbaju merah muda.


"Hem, ada apa?" tanya Anggara


"Bisa minta tolong? Di rumah saya listriknya mati. Saya takut malam ini listrik saya tidak menyala, saya takut sendirian di rumah."


"Telepon PLN saja," saran Anggara.


"Tapi ..."


"Tapi apa?" tanya Anggara penasaran.


"Ini sudah mau petang, saya takut PLN tidak datang sekarang. Malah malam nanti baru datang. Saya takut, Pak."


Anggara memandang ke dalam rumahnya. Ia tidak mau meninggalkan Shabita di senja hari, tetapi ia adalah seorang polisi. Nomor satu adalah melayani warganya. "Oke," jawab Anggara. "Bentar saya izin sama istri saya dulu," pamitnya.


"Oh, udah ada bininya, to," gumam perempuan itu. Ia memang tidak diundang lantaran ia baru siang ini datang ke desa itu dan menyewa rumah tepat di sebelah rumah Anggara. "Kek apa, sih bininya. Jelek pasti. Uh, kasihan laki ganteng gitu dapat bini jelek," hinanya.


"Sayang." Anggara membangunkan Shabita. Ia sempat menutup kancing baju gadis itu, kemudian menjauhkan Dara yang telah terlelap.


"Apa?" tanya Shabita setengah terpejam.


"Oh, di mana?" Shabita segera bangun dan mengusap kedua matanya.


"Di sebelah sini. Ada penghuni baru yang listriknya padam," jelas Anggara.


"Em, jangan lama-lama," pesan Shabita.


"Kalau aku lama kamu bisa susul aku di situ. Ingat jangan ditinggalin Dara-nya," pesannya.


Shabita memandang kamarnya yang mulai gelap, ia menekan saklar lampu yang tepat berada di samping pintu kamarnya. "Dara, mama ambil air wudu dulu, ya." Ia menyelimuti Dara yang sedang tertidur. "Tapi ... nggak, deh, aku tunggu Anggara datang saja." Ia membatalkan niatnya.


"Di sana, Pak!" kata Perempuan itu. Ia menunjuk arah yang sulit dijangkau Anggara, sehingga pemuda itu harus memanjat. Azan berkumandang, Anggara segera turun. "Loh, kan belum selesai?" protes perempuan itu.


"Saya pulang dulu mau melihat anak saya," pamit Anggara. Ia segera berlari ke rumahnya.


"Ish, dasar!" omel perempuan itu.


"Kamu udhu dulu, aku jaga dia," kata Anggara.


"Kamu?" tanya Shabita.

__ADS_1


"Gantian," jawab Anggara.


"Ke mana nih, cowok?" tanya perempuan itu pada diri sendiri.


Mobil PLN datang ke rumahnya. "Kami datang sesuai laporan," kata petugas PLN. Ia hendak memeriksa listrik di rumah itu.


"Datangnya besok-besok saja, ya. Hari ini saya ingin gelap-gelapan," cegah perempuan itu.


"Tapi, Bu-"


"Pulang sana!" usirnya sambil mendorong petugas itu masuk ke mobilnya. "Ah, untung saja," Ia menghela napas lega. "Eh! Apa itu?" Ia terkejut saat ada benda putih melintas di belakangnya.


"Ah, paling juga----siapa itu?" Ia berbalik. Mendatang arah belakang rumahnya. "Siapa, ya?"


"Bu," tegur Anggara.


"Eh!" Ia terjingkat kaget saat ditegur pemuda itu. "Ya," jawabnya.


"Tadi saya melihat mobil PLN, tapi kok pergi lagi?"


"Itu alatnya habis, hehe ...." Ia berdusta agar Anggara tinggal lebih lama di tempatnya.


"Oh ...." Anggara segera menuju pusat listrik di rumah itu.


"Pak, mau minum apa. Teh, susu, kopi atau jus?" tawarnya.


"Tidak usah, Bu. Apalagi gelap begini, pasti sulit menyajikan minuman di dapur," kata Anggara.


Namun, perempuan itu mana mau peduli. Ia ke dapur dengan menggunakan penerangan ponselnya. "Ke mana pancinya, ya." Ia meraba panci dan tersentak saat yang diraba ternyata memiliki serabut seperti rambut, ia kemudian meraba lagi dan ... "Aaaa!" Ia segera berlari ke luar merangkul Anggara yang telah selesai memerbaiki listrik di situ.


"Lepas, Bu!" Anggara berusah menjauhkan perempuan itu darinya.


"Ad--ada ... hantu kepala!" Ia menunjuk ke arah dalam.


"Gitu, ya. Katanya pengen menyalakan rumah tetangga yang padam. Ternyata sengaja dipadamkan biar bisa mesraan," singgung Shabita.


Anggara segera mendorong perempuan itu dan segera mengejar Shabita yang telah masuk ke dalam rumah.


"Aku ngantuk mau bobo dulu. Tolong kalau pengen mesraan jangan berisik, Dara mau bobo." Shabita segera menaruh Dara di kasurnya. Ia kemudian berbaring.


"Kamu salah paham, Van. Aku betulan nolongin orang itu," jelas Anggara sambil mendekati istrinya.


"Menolongnya dari kesepian, maksudmu?" sindir Shabita.


"Terserah, deh." Anggara pasrah karena Shabita menepis tangannya setiap kali Anggara hendak mengusap rambutnya.

__ADS_1


"Hadeh, kelabu!" desah Anggara.


__ADS_2