
Talia masih bersiaga untuk serangan kedua, ia benar tidak dapat bergerak hanya mampu bersiaga sambil memeluk erat kepala Shabita. Suara kokokan ayam terdengar, ia sadar azan sebentar lagi akan berkumandang.
Gawat kalau aku tak bisa membawa pulang Shabita, maka ibuku ini akan tewas!
Kedua pelayan itu saling pandang, yang bertubuh besar akan maju namun dicegah oleh yang bertubuh kurus. "May!" Menggeleng.
"Kenapa, ini kesempatan kita selagi Toni pergi?" jawab May dengan bersemangat.
"Aku tak yakin kalau Toni akan meninggalkan gadis itu dalam keadaan tanpa pengamanan. Pasti ada prisai di sana, bila kita tembus maka akan memberikan sinyal bagi pemiliknya untuk segera datang."
May terpaksa diam sambil menatap Shabita tanpa mampu mengusiknya. Sementara di sana Talia tengah menghindar dari terjangan elang jadi-jadian itu. Krak! Krak! Suara burung itu memekakan telinga, Talia terpaksa menutup sebelah kupingnya, telinganya berdarah karena suara itu mampu menembus pertahanan gaib miliknya. "Papa!" jeritnya.
Sebuah angin besar menerjang burung itu, elang terhempas jauh ke barat. Segera dapat mengendalikan diri kemudian berhenti dan melesat terbang ke arah yang menyerangnya tadi. Ia tertahan di sana karena melihat Toni telah di sana dengan wajah murka.
"Beraninya kamu mengganggu istriku! Siapa kamu?!" bentak Toni dengan suara yang tak kalah hebatnya dan anehnya pertarungan dan setiap suara yang mereka keluarkan tidak berdampak pada telinga manusia di sekitarnya. Mereka bagai terhipnotis dalam mimpi indah.
"Papa," panggil Talia saat melihat ayahnya. Ia memandang Toni dan kini beralih pada Shabita, seakan meminta izin untuk membawa Shabita pulang.
"Pulanglah, Nak." Toni memberi izin tanpa memandang pada putrinya. Ia masih mengawasi musuhnya.
Talia mengangguk pasti, gadis itu segera mengepakkan sayapnya dan terbang cepat. Suara kokokan ayam mulai terdengar lagi. Gadis itu melenyapkan sayapnya setelah di atas atap dan melompat ke bawah dengan cepat, kemudian berlari, ia meletakkan kepala Shabita di dekatnya. Kepala itu secara ajaib bergerak sendiri menyatu di raganya. Talia menghela napas lega sambil mengusap pelipisnya yang sudah basah, dada naik-turun menahan kelelahan yang sudah sangat menyiksa. Ia kembali duduk di samping tubuh Shabita seraya mengusap kepala gadis itu.
Suara dantuman sangat keras terdengar oleh Talia dari luar sana, ia tahu sekarang ayahnya pasti sedang bertarung melawan makhluk aneh itu. Ia memandang dua pelayan yang masih setia berdiri memandang mereka berdua. "Ambilkan air hangat, aku akan membersihkan lukanya!"
"Baik," jawab si besar sambil menunduk patuh kemudian pergi.
May memandang dalam lirikan mata kepergian sahabatnya. Ia kembali berdiri menunggu hingga diperlukan oleh majikannya. Si besar bernama Noy datang membawa baskom berisi kain seka dan air hangat, ditaruh dekat meja rias. Talia memberi isyarat agar mereka berdua pergi dari situ.
"Sha, kenapa kamu begini? Apa yang ada dalam pikiranmu sebenarnya?" lirih ia katakan rasa penasaran di hati seraya menyeka leher gadis jelita itu.
Shabita menangis walau dalam ketidaksadarannya, seperti mendengar apa yang Talia pertanyakan. Seolah menjadi jawaban ketidakberdayaannya selama ini. Talia menghapus airmata Shabita dan membersihkan wajahnya. Jam telah menunjukkan pukul 6 pagi. Suara itu sudah tak terdengar lagi, Talia menghampiri jendela dan memandang Toni yang mendekatinya.
"Jaga ibumu, papa masih ada urusan!" pesannya.
Talia menghela napas setelah melihat ayahnya raib dan kembali ke raganya di sana. Ia pandangi Shabita yang masih terlelap di dipan putih itu.
****
Shabita terbangun dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Ia tidak mengerti apa yang terjadi semalam, rasanya tubuh ini sangat lelah. Energinya terkuras habis, ketika sadar mengusap lehernya tak ada goresan sama sekali dan itu berkat minyak Bintang yang pernah ia minum dulu sehingga luka di tubuhnya mampu merapat sempurna bagai tak satu pun benda yang mampu menembus kulitnya.
Talia datang membawa nampan berisi sarapan ke hadapan Shabita. "Makanlah," tawarnya seraya duduk di samping pembaringan gadis itu.
Shabita menatap Talia sejenak kemudian memandang makanan yang disajikan di depannya. "Aku tidak lapar," jawabnya lirih.
Talia memaksa dengan mengambil mangkuk berisi bubur. "Makan, kalau sampai sakit papa akan marah padaku," pintanya.
__ADS_1
Shabita menangis tanpa suara, namun tetap diambilnya makanan itu dan menyuapnya. Terlihat dipaksakan, membuat Talia marah, gadis itu merebut makanan Shabita dan menyuapinya.
"Kenapa kamu selalu menangis begini, apa tidak ada yang bisa membuatmu bahagia?" tanya Talia dengan mata marah.
Shabita memandang Talia. "Aku bosan di rumah, Bolehkah aku ke luar," mohonnya.
Talia menaruh mangkuk berisi makanan di meja dan diam berpikir. "Baiklah," izinnya. Shabita tersenyum lepas, membuat hati Talia ikut merasa bahagia karenanya. "Makanlah dulu, aku akan menunggumu di bawah. Ada baju yang pas untukmu di lemari itu?" tanyanya.
Shabita menggeleng, ia memang belum pernah membuka lemari sama sekali. Semua pakaian dipersiapkan oleh pelayan mereka selama ini. Talia berdiri dan membuka lemari, ia memilih semua pakaian untuk gadis itu. Hanya gaun malam dan baju untuk tidur, lama-lama ia mendesah. "Papa benar-benar tidak membelikanmu baju biasa. Apa dia memintamu tetap di rumah dan melayaninya saja. Dasar!" Talia memandang Shabita yang memainkan kukunya dalam tunduk. "Hey, aku tinggal dulu ya. Akan kupinjamkan bajuku!" kata Talia. Shabita mengangkat wajahnya dan mengangguk. Talia datang kembali, menaruh dress sepanjang mata lutut berwarna merah cerah ke pangkuan gadis itu. "Mandi dan ganti, kutunggu di luar." Talia pergi dari sana.
Talia sedang memainkan ponselnya, ia mendengar suara langkah menuruni anak tangga. Tersenyum memandang ibu tirinya, terlihat ayu dengan dress merah polos berlengan panjang. Walau tanpa lipstik dan make-up tak memudarkan kecantikan gadis berusia dua puluh enam tahun itu. "Adikku pasti akan cantik seperti ibunya," puji Talia sambil merengkuh bahu Shabita dan menggiringnya hingga ke mobil.
Mereka pergi sementara May bersembunyi di balik pintu sedang menelepon seseorang, terlihat ada sesuatu yang sedang direncanakannya. Talia mengemudikan mobilnya dan memarkir tidak jauh dari Pasar Nakhon Nuang Khet, merupakan pasar unik yang ia akan perlihatkan pada Shabita.
"Kamu belum pernah ke sini, kan?" tanyanya sambil melepas sabuk pengamannya.
Shabita tidak menjawab ia hanya memandang Talia sembari melepaskan sabuk pengamannya. Ia ke luar dari mobil dan memandang ke sana-kemari sambil memegang tangan gadis di sampingnya.
"Lihat di sana! Itu tempat membeli souvenir, ayo!" tariknya tangan Shabita. "Lihat, lucu, kan?" katanya sambil memakaikan Shabita sebuah topi anyaman.
"Em," jawab Shabita tanpa tersenyum.
Talia cemberut, memandang balasan Shabita yang tak bergairah. "Kenapa begitu, bukannya kamu akan senang dibawa ke luar?" Ia meletakkan kembali topi itu di tokonya.
Shabita tidak membalas, ia masuk ke toko dan mengambil sehelai selendang ungu kemudian dipakainya. "Aku mau ini," katanya dengan senyum sederhana.
Shabita menggeleng lemah, mereka tidak sadar ada beberapa mata mengintai mereka. Beberapa pria besar berpakaian sama, jas hitam sedang menggenggam sebuah pistol di tangan siap untuk membidik Shabita.
"Tunduk!" perintah Talia sambil memegang kepala Shabita. Ia menyadari ada musuh membidiknya.
Dorr! Suara tembakan, peluru mengenai topi yang di taruh Talia di dagangan tadi. Shabita syok, ia mematung, Talia menariknya untuk berlari dari sana. "AAAHHH!!" penghuni pasar kalang kabut berlarian. Suara tembakan terdengar lagi, mereka menembaki ke manapun arah lari kedua gadis itu.
Talia membawa Shabita ke bawah meja pedagang ikan, ia mengambil pistol yang tersimpan di bawah celananya. "Larilah, aku akan menyusul! Lari!" paksa gadis itu sambil mendorong Shabita.
"Tapi--"
"Cepatlah, aku baik-baik saja."
"Tidak, aku di sini," rengek Shabita.
"Kamu akan tewas di sini," kata Talia dengan nada panik. Ia berdiri dan membalas tembakan mereka. "Cepatlah!" pintanya.
"Aku nggak mau pergi tanpa kamu!" tekan Shabita. Gadis itu menekan setiap perkataannya.
"Sha," desah Talia. "Ayo!" Ia tidak punya pilihan, sambil menembaki lawan, sambil membawa gadis itu. Shabita menurut saat diminta lari lebih dulu sementara ia di belakang melindunginya.
Shabita berlari sangat kencang hingga meninggalkan Talia di sana, ia terhenti menyadari suara tembakan yang tidak lagi terdengar olehnya. Ia memutuskan untuk kembali, namun dua orang musuhnya mengejarnya, membuat Shabita terpaksa berlari lebih jauh lagi. "Anggara!" teriaknya ketakutan karena hanya pemuda itu yang selalu ada di sisinya dulu. Ia tidak menyadari telah menubruk seseorang di depannya. "Maaf," katanya tanpa melihat siapa yang ditabraknya.
"Tetaplah di sini," cegah pemuda berbaju biru sambil meraih tangan Shabita yang hendak berlari.
__ADS_1
Shabita mematung, bagai tersengat listrik. Di depannya pemuda yang selalu dirindukan. Anggara!
Anggara tidak memandangnya, ia membawa Shabita menjauh dari mereka. Bersembunyi di balik tembok. Kedua pria yang mengejar kehilangan jejak Shabita, mereka mencari-cari dan menggeledah semua pasar. Shabita menggigit jarinya, merasa bingung dan takut Anggara mengenalinya.
"Sudah aman," kata Anggara. Pemuda itu memandang Shabita yang masih menunduk. Gadis itu meremas dress bawahnya, hampir menangis. Ditahan sekuat tenaga agar genangan itu tidak tumpah. "Kita tunggu sampai Talia datang," ucapnya sambil bersandar pada tembok.
Talia di sana masih saling tembak, sesekali ia mencari Shabita. "Shabita! Shabita!" Ia kehilangan jejak gadis itu.
"Suuusst" Suara Anggara memanggil Talia yang tidak jauh dari tempatnya bersembunyi.
Talia mendengar, tetapi bingung ke mana arah suara itu berasal. Anggara keluar dan melambai, Talia tersenyum lebar. Ia hampiri pemuda itu, melihat ada Shabita di sana, ia merangkul Shabita yang menghindari tatapan Anggara.
DOOR! Suara tembakan terdengar lagi. Kali ini beruntun, Talia segera membalas, ia meminta Anggara berada di belakangnya. "Ang, tolong bawa dia pergi dari sini!" pinta Talia dengan masih menahan mereka agar jangan menghampiri.
"Ke mana?" tanya pemuda itu bingung.
"Ke manapun kamu mau, sampai ini aman aku akan mencarimu!" tegasnya.
Shabita menggeleng kuat-kuat, gadis itu mundur. "Enggak! Aku nggak mau ikut dia!" teriaknya.
Anggara terkejut melihat perubahan gadis itu, ia memandang Talia. Gadis itu menghembuskan napas kasar. "Plis, tidak ada waktu lagi. Pergilah bersamanya," ucapnya. Ia kembali membalas tembakan mereka. Ada yang berlari maju, namun Talia sempat menghentikan dan menembak kaki kirinya. "Anggara bawa dia!" paksa Talia marah.
Anggara akan meraih lengan gadis itu, namun Shabita mundur dan berlari darinya. "Hey! Tunggu!"
Toni akan menghabisinya bila sampai ketahuan Anggara bersamanya. Itu yang ada dalam pikiran Shabita saat ini, ia berlari kencang agar tak dapat diraih. Anggara mengejarnya, pemuda itu berlari sangat cepat agar menjangkau Shabita.
BERSAMBUNG
Like dan dukung terus ya. Biar semangat nulisnya!
__ADS_1