
"Sudah dipastikan gadis itu telah tewas di sana. Saya sangat yakin, Ratu!" Noy sangat yakin sekali dengan pekerjaan yang dijalankannya.
"Hihihi.... Kita lihat dan tunggu bagaimana Toni akan kehilangan keturunannya," Ratu mereka tertawa menghilang setelah berkata demikian.
"Noy, sebaiknya kita pergi dari sini sebelum Talia atau yang lain curiga terhadap rencana kita," kata May.
"Kita harus ke sana. Paling tidak kita harus berduka, kan?" kata Noy dengan tersenyum gembira.
"Hahaha ...," tawa May.
Mereka tidak tahu bahwa Shabita telah menuju ke arah mereka di sana. Gadis itu berjalan cepat dan memasuki sarang mereka. Suasana gelap dan mencekam di sana tidak membuatnya takut karena Shabita yang sekarang bukanlah Shabita yang sebelumnya. Kuyang dalam dirinya bangkit kembali. Brak! Suara itu mengagetkan mereka, membuat kegaduhan di luar wilayah mereka.
"Apa itu?!" tanya Noy dalam perasaan tegang. Ia memandang mereka yang berkumpul di sana. "Lihat apa yang terjadi di depan!" perintah Noy.
Lima orang pemuda berjalan menuruti perintah Noy. Mereka berjalan cepat sambil mengawasi keadaan sekitar. Mereka terkejut saat melihat dinding gaib yang mereka pasang agar tidak ada yang berani masuk wilayah itu lenyap begitu saja. Saling pandang dan melihat kembali ke depan, satu di antaranya memberi isyarat agar maju. Salah satu dari mereka maju. Agh!" Mereka berempat terkejut mendengar teriakan pemuda yang maju tadi.
"Ada apa ini?!" bentak salah seorang dari mereka yang bertubuh sedikit rendah dari kelima pemuda tadi.
"Nampaknya ada sesuatu di sana yang sangat berbahaya," pendapat pemuda berambut ikal. "Lay, cepat masuk! Katakan pada Noy untuk menyiapkan mereka semua!" perintah pemuda itu tanpa memandang Lay. Pemuda bertubuh bagus dan berwajah tampan dari yang lainnya.
Lay tidak membantah, ia segera kembali kepada Noy. Sementara mereka bertiga berjalan ke depan, sangat hati-hati sekali agar dapat bersiaga bila sewaktu-waktu musuh datang menyerang mereka.
"Noy," panggil Lay. Ia segera datang dan berbisik pada perempuan itu.
"Sembunyilah, biar ini kami yang mengatasi." Noy memberi perintah Lay agar menyingkir dari sana.
Lay tidak menolak, ia sangat patuh, sementara mereka bertiga masih penasaran dengan nasib sahabat mereka. Sesosok jenazah tergeletak di tanah dan mereka mengenalinya, salah satu sahabat mereka yang maju tadi.
"Siapa yang berbuat ini?" gumam si rambut keriting.
Mereka berdua tidak menjawab, hanya mengawasi ke sekelilingnya. Sunyi tidak ada tanda-tanda pergerakan yang mencurigakan. Shabita berdiri tepat di belakang mereka, taringnya memanjang dan kukunya runcing penuh tetesan darah. "Agh!" Suara itu sampai ke telinga Noy dan May. Noy melirik, memberi isyarat agar Lay segera pergi. Namun sebelum itu terjadi, Shabita telah datang ke hadapan mereka dengan lumuran darah di tubuhnya. Lay terpaksa bersembunyi di balik batu besar tempat biasa ratu mereka bertahta.
Noy memandang May yang pula memandang heran dengan kondisi Shabita yang masih bugar, padahal mereka telah memastikannya telah tewas satu jam lalu. "Mau apa kamu kemari?" tanya Noy.
Shabita tidak menjawab, ia hanya memandangi mereka semua dengan tatapan sinis. Matanya melirik ke sana-kemari, kemudian menatap pada Noy. "Di mana ratumu?" tanyanya.
__ADS_1
"Bunuh gadis itu!" perintah May.
Tiga dari mereka maju membuat Shabita marah lantaran bukannya menjawab, May malah hendak menyerangnya. "Kutanya di mana dia?!" bentak Shabita marah. Suaranya bergetar dan menggema, memekakan telinga mereka. Darah mengalir dari telinga.
Noy menyapu pipinya, ia memandang darah yang mengalir dari telinga. Ia melotot marah dan mundur kemudian mendorong ketiga pengikut lain agar maju.
Shabita yang sudah dikuasai iblis melayangkan cakarnya melukai wajah mereka. Satu per satu maju, namun tumbang begitu saja saat gadis itu tidak hanya mencakar, tapi juga menggigit leher mereka hingga nyaris putus. Noy mundur hingga tubuhnya menubruk May di belakangnya.
May menangkap tubuh Noy dan menyingkirkannya ke samping. "Dia bukan tandingan kita, Noy. Kita harus pergi dari sini sebelum kita dihabisi juga olehnya," sarannya. Ia melihat betapa Shabita telah menghabisi mereka yang maju serentak menyerangnya.
Lay bersandar pada batu, ia hendak melihat keadaan di sana, namun Noy melarangnya untuk melihat. Akhirnya ia hanya menuruti perintah perempuan itu. Noy dan May segera berlari ke luar wilayah menghindari Shabita yang sedang mengamuk di sana. Lay penasaran, ia akhirnya memandang ke depan sana. Shabita sedang menyerang mereka membabi buta. Gadis itu menangkapi mereka yang hendak lari darinya dengan menerkam dan menggigit lehernya. Kras! Nyam! Nyam!
Siapa sebenarnya dia, kenapa dia memakan orang? Lay masih setia melihat. Ia tidak sadar bahwa Shabita kini telah berada di belakangnya. Pemuda itu merasakan sesuatu yang lain dan berbalik. Betapa terkejutnya ia menghadapi Shabita yang tepat berada di hadapannya, hanya berjarak satu depa. Shabita memandang wajah Lay yang tegang. Keringat mengalir membasahi sekujur tubuhnya, membuat Lay sungguh tidak berkutik.
"Di mana ratumu?" tanya Shabita.
"Dia tidak ada di sini," jawab Lay.
"Maukah kamu sampaikan pesanku pada ratumu?" Lay mengangguk. "Katakan padanya, bahwa aku akan datang untuk memecahkan kepalanya!" Shabita menjauh. Gadis itu meninggalkan Lay yang mematung. Cantik sekali dia! Lay lupa bahwa Shabita bisa saja membunuhnya.
Noy berlari melewati perbatasan. Mereka segera memercepat larinya. Shabita datang mengejar mereka berdua dengan melesat cepat bagai angin menuju ke arah mereka berdua.
May tersentak melihat Noy seperti diterjang oleh sesuatu yang super dahsyat. Ia melirik ke sana-kemari. Sementara Noy terlempar jauh. Shabita berjalan ke arahnya, Noy merasakan tubuhnya remuk semua. Ia bangkit sambil meringis, menghindari Shabita yang mendekat ke arahnya.
"Mau apa kamu?!" bentak Noy seraya mundur. Sesekali ia melirik ke belakang.
"Kamu pikir bisa merusak rumahku dengan mudah. Aku tidak bisa mati selamanya dan tidak akan pernah terluka! Jadi ..." Shabita meraih leher Noy dan mengangkatnya ke atas hingga Noy tidak berpijak lagi di tanah. "Jangan sia-siakan tenagamu!" lanjutnya. Shabita menghempaskan Noy ke tanah kemudian melesat cepat menginjak dada Noy ketika Noy hendak bangkit.
"Jangan bunuh aku!" mohon Noy.
"Hihihi ...." Shabita melepaskan Noy. "Tidak semudah itu!" Cengkram Shabita dengan kukunya saat Noy hendak bangun.
"Tolong lepaskan aku!" mohon Noy dengan sangat.
Shabita mendekat, membuat Noy menegang. Rasa takutnya makin menjadi saat lidah Shabita menjulur panjang membasahi wajahnya. "Aku lapar, hem. Mau makan!"
__ADS_1
"Aku bisa mencarikan!" jawab Noy cepat sambil sedikit memejamkan mata.
"Tidak, aku cuma mau yang ada di hadapanku!"
"Tidak!" Noy meronta dari cengkraman Shabita.
May telah sampai di depan gerbang rumah majikannya. Ia mengatur napasnya yang nyaris habis lantaran berlari dan rasa tegang yang melanda. Ia membuka pintu pagar dan segera berlari ke dalam, langsung menuju kamarnya dan segera mengunci pintu.
Anggara menunggu Shabita sambil berjalan mondar-mandir di depan kamarnya. "Apa itu?!" Anggara merasakan ada sesuatu yang melesat melewatinya. Brak! Suara dari arah kamar bawah tepatnya di kamar pelayan. Anggara segera berlari menuruni tangga dan mencari-cari arah suara tersebut.
Brak! May tersentak dan berbalik. Ia ketakutan setengah mati melihat Shabita telah berada di depan pintu kamarnya. May meraih sesuatu di sekitarnya dan melempari Shabita dengan itu. Shabita menepis, sebuah lampu kamar tidur di lempar ke arahnya. Masih menyala dan menyetrum ke tubuhnya, namun itu semua tidak berpengaruh bagi Shabita. May panik, ia melempari gadis itu dengan bantal dan semua yang ia dapat di kamar termasuk kursi rias.
Shabita lenyap seketika, membuat May mengalihkan pandangannya ke segala penjuru arah. "Di mana dia?" gumamnya.
Shabita berada di atasnya, sudah siap untuk menerkamnya. Darah menetes dari atas membuat, May menegang dan menatap ke langit-langit.
"Ah!" jeritnya saat Shabita menyerangnya. "Tolong!"
Anggara berlari ke kamar May, mendapati Shabita yang tengah mencoba menghabisi perempuan itu. "Rani! Jangan!" Anggara mencoba menjauhkan Shabita dari May. Ia mencoba sekuat tenaga.
"Aku lapar, ingin makan!" kata Shabita. Ia ingin menggigit wajah May.
"Rani, jangan!" Anggara berusaha keras menahan Shabita. Tenaganya kalah kuat dari gadis itu.
"Menyingkir!" Shabita menepis Anggara sehingga pemuda itu terlempar menubruk dinding.
Anggara kesakitan, darah mengalir dari bibirnya. Ia terbatuk dan segera menyeka darah di bibir dan kembali menangkap Shabita lagi. "Hentikan Rani!"
"Jangan menggangguku makan!" bentak Shabita seraya menepis Anggara lagi, tapi pemuda itu tidak bodoh sehingga bisa ditepis begitu saja. Anggara memeluknya dari belakang, membuat Shabita mengerang marah dan berdiri, mencoba melepaskan belenggu pemuda itu. "Lepas! Aku lapar, ingin makan dia!"
May mundur segera dan berlari cepat ke luar. Shabita marah, ia melepaskan dirinya dan akan mengejar, tetapi Anggara segera meraihnya kembali.
"Aku lapar!" teriak Shabita.
"Makan saja aku, gigit kalau kamu suka. Habiskan saja!" tantang Anggara.
__ADS_1
Shabita berbalik dan mencengkram pemuda itu dengan kuat. Anggara tidak melawan sama sekali ia pasrah saat lidah Shabita menjulur menjilat wajahnya.
Bersambung