TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
57 MASA LALU TONI 2


__ADS_3

Banjarmasin, Tanjung. Di situlah Toni tinggal, di sebuah desa kecil yang sederhana. Sesekali ia ikut mereka mencari ikan di laut dengan menggunakan pick-up hitam milik seorang teman. Hari ini pun begitu, ia melamun di atas mobil yang berkendara. Mereka terlihat tanpa beban, saling bicara dan memandang ke jalan yang mereka lewati sedangkan ia memandang semu sambil bersandar pada kepala mobil.


"Jangan melamun, nanti kesurupan," tegur teman di sebelahnya.


Toni hanya tersenyum sekilas kemudian mendesah memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di bagian mobil. Bagaimana caraku mendapatkan Santi?


Pundaknya ditepuk oleh sahabatnya tadi, membuatnya membuka mata. "Kita sudah sampai."


Toni tidak membalas, ia memandang mereka yang turun satu per satu dari mobil. Dengan napas berat dan gairah yang nyaris padam karena Santi, ia paksakan untuk bekerja hari ini. Toni turun, ia nyaris terjatuh dari mobil kalau saja tidak dipegang sahabatnya tadi. "Makasih," ucapnya sambil tersenyum dan berjalan mengikuti langkah para nelayan lain.


Namanya Yansah, pemuda itu adalah sahabat baik Toni. Yansah memandang Toni dari belakang sambil berjalan. "Apa kamu sakit?"


"Aku sehat," jawab Toni.


"Tapi--"


"Aku baik-baik saja," potong Toni. Pemuda itu menuju kapalnya. Perlengkapan nelayannya telah siap di kapal sederhananya itu.


"Baiklah, aku akan melaut dulu. Bila kamu tidak yakin, segeralah pulang," nasehat Yansah. Pemuda itu meninggalkan Toni sendirian di sana.


Toni mendesah, yang lain telah mengganti kapalnya dengan yang lebih besar dan baru sedangkan dirinya masih setia dengan kapal kecil itu. Entah sampai kapan kapal ini akan bertahan dari terjangan ombak. Sekali lagi ia mendesah dan bersimpuh di samping kapalnya, menangis tanpa suara. Haruskah kurelakan kamu atau kupertahankan dirimu?  Santi melambai sambil menyebut namanya, ia tersenyum setiap kali melihat Santi mendatanginya. Namun rupanya itu hanya hayalan belaka karena setelah ia berdiri dan menyapu kedua airmatanya, Santi hilang dari pandangan. "Santi," ucapnya Lirih.


Toni memaksakan diri untuk mendorong kapalnya ke laut. Ia menyusul mereka di tengah sana. "Toni, pemandangan di sini indah, ya?" Santi memainkan Air yang ia raih di samping kapal itu. Toni tersenyum, ia membayangkan Santi berada bersamanya. Ombak laut mengoyahkan kapal sekaligus lamunan. Toni tersadar dan tersenyum, ia hembuskan napasnya dan meraih jala di depannya. Mulai menagkap ikan.

__ADS_1


Santi memegang teralis jendela kamarnya, menatap ke luar dan menangis. Ia ingin mendatangi Toni dan memeluk erat, meluapkan kesedihannya pada pemuda itu. "Sedang apa kamu di sana?" gumamnya. Masih teringat jelas bayang-bayang kemesraan mereka selama ini yang sulit ditepis oleh ingatannya.


"Santi! Santi!" Ayahnya memanggil.


Santi menyapu airmatanya dan segera ke luar dari kamar. Ia menuruni tangga, sekilas memandang pemuda berkacamata, berambut lurus dan kemeja ungu sedang duduk bersama kedua orang tuanya.


"Dia anak saya, Santi." Ayahnya menunjuk Santi yang sedang berdiri di depan mereka. "Dia Nata, pemuda yang pernah ayah ceritakan."


Santi tidak memandang Nata, ia duduk sambil menunduk. Ia tahu Nata memandangnya terpesona, tetapi ia tidak tertarik dengan pemuda itu.


"Mengobrollah kalian berdua. Saya tinggal dulu untuk mengurus sesuatu," pamit Ayah Santi. Ia melirik pada ibunya Santi, memberinya isyarat agar jangan mengganggu mereka berdua.


"Ibu siapkan makanan buat kalian," dalih Ibunya. Perempuan berbaju hijau itu segera menuju dapur.


Kini tinggalah Santi yang menunduk bingung. Nata menyandarkan duduknya dan memandang Santi sambil tersenyum maklum.


Toni meraba perut gadis itu, Shabita tidak menolaknya. "Apa kamu tidak mau istirahat dulu? Akan kulanjutkan setelah kamu bangun," kata Toni.


"Tidak, teruskanlah." Shabita memandang Toni yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku menjual tanahku untuk merintis usaha baru, yaitu toko bangunan. Usahaku berjalan baik bahkan cukup sukses, tapi usaha itu sia-sia karena ayah Santi tidak senang dari awal maka dia melakukan segala cara agar aku bangkrut. Di tengah kesedihanku, dia datang menawarkan ilmunya agar bisa mati."


"Apa kamu langsung menerima?" tanya Shabita.

__ADS_1


"Mulanya tidak, tapi karena Santi aku menerimanya."


"Bagaimana hubunganmu dengan Santi setelah itu?"


"Baik, sangat harmonis sebelum dia tahu kesalahan fatalku." Toni menghela napas mengenang masa sulitnya dulu.


Santi memiliki bayi dalam kandungannya. Ia mengelus perutnya yang sudah memasuki usia sembilan bulan. Santi selalu melihat Toni masuk ke kamar khusus. Ia heran ada kamar khusus yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain termasuk dirinya sendiri kecuali Toni. Terbawa rasa penasaran ia mendengarkan dari balik pintu dan terkejut ada suara kesakitan dan jerit di dalam. Walau samar, namun sukses membuat bulu kuduknya merinding.


"Kak, Kak!" panggilnya. Merasa cemas karena Toni berada di dalam.


Toni tidak mendengar suara panggilan istrinya. Ia mengerang kesakitan sambil bergulingan melepas kepalanya. Sedikit-demi sedikit terbuka, darah mengalir di bagian itu. Hingga akhirnya lepas sepenuhnya. Tubuh itu terkapar tak berdaya sedangkan kepala Toni telah melayang tinggi ke atas menembus atap rumah.


"Kakak!" panggil Santi sekali lagi. "Agh!" Tiba-tiba perutnya terasa sakit. Ia memeganginya dan melihat ada cairan putih mengalir di sela kakinya. "Kakak!" Santi nyaris jatuh ke lantai kalau saja tidak berpegangan pada pintu.


Kriet! Pintu terbuka lebar, rupanya tidak terkunci. Santi memanggil-manggil Toni sambil berusaha berjalan menghampiri Toni yang tergeletak.


"Kak," panggilnya. "Kakak!" Setelah melihat keadaan suaminya ia terkejut dan merangkul tubuh Toni. "Kakak! Ah!" Rasa sakit makin mendera, membuatnya tidak tahan lagi. "Agh, tolong!" teriaknya. Ia melepas tubuh Toni dan memegangi perutnya. Darah mengalir di bawahnya. Sakitnya bukan main hingga nyaris tidak sadar. Berusaha mengambil napas dan menghembuskan berulang kali untuk mengurangi rasa sakit. "Egg!" Ia coba mendorong agar bayinya segera lahir. "Ibu-ayah!" isaknya sambil terus mencoba agar bayi itu keluar dari perutnya. "Sakit! Hikz ... hizk...."


Suara riuh dari luar sana membuatnya tersentak.


"Bakar rumah ini!"


"Jangan biarkan mereka hidup!"

__ADS_1


"Iblis kejam!"


Santi tidak mengerti kenapa mereka berteriak dari luar sana. Ia mengesot untuk dapat menuju ke jendela. "Ah!" Rasa sakit dirasakan kembali. Namun ditahan demi mengetahui apa yang mereka inginkan di luar sana. Obor, parang, kayu. Mereka acungkan ke rumahnya. Santi hanya mengintip di balik lubang, ia ketakutan setengah mati. "Kakak!" teriaknya panik. Ia menyasar ke pada dinding dan berusaha berdiri. Ia lupa Toni sedang berada di sana sedang tergeletak tidak berdaya.


__ADS_2