
Shabita menyadari hadirnya Talia, ia kemudian berbalik mendatangi Anggara di depan sana. Melihat betapa menderitanya pemuda ini, Sariani memanjangkan kuku jari tengahnya. Menggores lehernya kemudian darah mengalir deras di sana. Ia mengusap leher yang mengalir darah kemudian menempelkan tangan bernoda darah pada luka-luka Anggara. Secara ajaib, luka itu sirna, kembali seperti sediakala. Anggara sempat terheran memandang luka yang segera lenyap tiada berbekas sama sekali. Ia memeriksa tangan dan pinggangnya. Ia kemudian memandang Shabita yang kini berdiri memandang sesuatu di belakang sana.
"Talia," ucapnya. Ia memandang ke atas.
Tiba-tiba kereta bergetar. Brak! Seperti ada sesuatu yang jatuh dari atas dan menimpa atap kereta. "Aaa!" teriak para penumpang panik. Mereka jua memandang ke atas dengan ketakutan. Dak! Dak! Brak! Suara langkah kaki berukuran raksasa berjalan di atas sana. Menjadikan suasana makin mencekam Tiba-tiba lampu kereta api berkedap kedip. Mereka memandang ke sekeliling, kemudian saling berpegang tangan pada yang berada di dekatnya. Anggara memandang Shabita yang hanya berdiri tegap sambil menengadah ke atas. Hanya dia yang tak goyah walau kereta mulai terguncang hebat.
Dak! Dak! Dak! Brak! Ibu kupinjam kesaktianmu untuk melawannya!
Sariani melesat menembus ke atas. Ia kini berdiri di atas kereta api. Angin mengibarkan rambut indahnya. Ia menatap lurus pada Talia yang sudah berada di sana. Gadis itu berdiri di depan sana sambil memandang murka dirinya.
"Beraninya kamu menggangguku Sariani! Keluar kamu dari tubuh ibuku!" perintahnya.
Shabita tersenyum menghina. Ia menggeleng. "Nggak mau. Aku tidak mau pergi sebelum kamu menyerah untuk menyakiti mereka berdua."
"Ini urusan keluarga kami. Kamu tidak pantas ikut campur urusan kami!"
"Urusanku, karena aku Toni mengincar Shabita. Kalau bukan karena aku yang menghindari darah ibuku maka Vanesa tidak akan pernah menderita dan aku sudah bersumpah akan melindunginya hingga darah itu habis."
"Besar juga nyalimu Sariani. Kamu hanya arwah penasaran, tidak lebih dari itu!" hina Talia sambil menuding ke arah Shabita.
"Oo, begitu. Kita lihat saja siapa yang paling tangguh. Aku atau kamu wahai manusia!" tantang Sariani.
__ADS_1
Sariani memanjangkan kukunya. Terlihat darah menetes di kuku kemudian mampu melelehkan baja. Mereka yang di dalam terkejut lantaran atap kereta berlubang, dari sana mereka mampu melihat langit. Aaa Mereka berteriak histeris saat lelehan seperti sebuah ter aspal nyaris mengenai salah satu betis seorang anak manis berumur tujuh tahun.
Bagaimana bisa dia melakukan itu? Talia sempat takjub dengan apa yang dilihatnya. Namun, ia segera sadar bahwa Sariani tidak sendiri. Dia pasti menggunakan kesaktian Wati. Talia segera memusatkan inti kesaktian yang berasal dari perut menuju ke tangannya. Kukunya memanjang dan berkilap bagai sebuah pisau.
"Hebat," gumam Shabita. Ia tidak menyangka gadis itu mampu menjadikan kukunya sebuah senjata yang mematikan. Shabita memandang langit, penuh cahaya bintang. Ia tertawa lantaran keberuntungannya.
Gawat! Minyak bintang itu akan bereaksi di malam berbintang! Ia kembali memandang Shabita yang kini memandangnya.
"Sebaiknya pergilah sebelum kamu binasa!" peringatan Shabita.
"Sombong! Belum kudapat menghabisi Anggara dan membawa pulang ibuku, pantang bagiku untuk pulang!" Ia segera maju menyerang Shabita yang berdiri menyongsong serangannya.
Shabita berjalan menyamping, mengawasinya. "Mundurlah," katanya.
Talia menggeleng sambil tertawa simpul. Ia berdiri tegap, memasang kuda-kuda. "Baik, ini bukan mainan lagi. Kita mulai serius!" Talia kembali maju. Ia melancarkan tinjuan mautnya.
"Dengan kuku sepanjang itu. Mana bisa meninjuku!" ejek Shabita sambil menghindari setiap serangan Talia.
Talia melompat ke belakang. Ia melebarkan sayapnya. Terbang ke udara kemudian menukik menyerang Shabita dengan kuku runcingnya. Shabita lenyap, Brak! Aaaa! Kereta kembali bergetar saat Talia melompat ke bawah untuk menyerang Shabita.
"Sariani, di mana kamu?!" serunya murka. Ia memandang ke sana-kemari untuk mencari Shabita.
__ADS_1
Talia mengeram, ia tidak menemukan Shabita walau telah berjalan ke atap satu dan atap berikutnya. Ia kemudian curiga. "Jangan-jangan dia ..." Tak mau dirinya berpikir. Segera saja Talia berjalan menuju salah satu atap yang di jadikan tempat berpijak tadi. Ia memanjangkan kuku telunjuknya. Kemudian berjongkok, membuat sebuah lubang besar di situ. Mereka terkejut saat memandang atap yang terbuka. Ternyata Talia yang memegang sebagian atap, lalu membuangnya ke tanah. Talia segera melompat turun. Ia mencari-cari di mana Anggara dan ibunya.
"Di mana dia?" tanya Talia pada mereka semua. Mereka menggeleng tidak tahu. Talia geram, ia menghampiri salah seorang dari mereka. "Di mana dia?"
"Saya tidak tahu," jawab seorang bapak berkemeja hitam sambil menghindari tatapan Tajam Talia.
Hihihi .... Suara kikikan terdengar di telinganya. Membuatnya melepaskan bapak itu. Ia fokus pada suara tadi. Hihihi. Suara kembali terdengar kali ini disertai dengan suasana mencekam. Talia mengusap lehernya, pertanda dirinya mulai gentar, tetapi dirinya memaksakan agar tetap kuat. "Keluar kamu Sariani!"
Sariani membawa Anggara pada stasiun berikutnya. Ia berkali-kali terkikik untuk mengecoh Talia.
"Kenapa kamu bersuara seperti Kuntilanak begitu?" tanya Anggara heran. Ia sempat memandang suasana sepi di malam ini.
"Untuk mengecoh Talia," jawab Shabita. "Dia akan berpikir aku dekat padahal jauh," tambahnya.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Anggara. Ia tidak yakin gadis yang bersamanya adalah Shabita.
"Sariani," jawab Shabita. Ia memandang kereta selanjutnya. "Kita naiki kereta ini untuk segera ke kampung Sean."
"Kenapa tidak lenyap seperti tadi?"
Shabita memandang Anggara sebelum kakinya melangkah masuk ke kereta. "Ikuti saja jalur karena aku tidak tahu juga jalan ke sana." Ia melangkah masuk diikuti oleh Anggara.
__ADS_1