
Kini telah tiba waktu kelahiran adik Dara. Gadis kecil yang kini telah genap berusia empat tahun, berdiri di depan kamar bersalin. Ia cemas lantaran Anggara sedari tadi terus mondar-mandir tanpa menghiraukan dirinya yang sedang meminta kasih sayang darinya. Talia masih di sana menunggu Shabita kelahiran. Ia bersandar pada bingkai pintu sembari menggigit kuku telunjuk kanan.
Talia lama-kelamaan kesal. Ia menurunkan tangan kemudian berkacak pinggang. "Bisa duduk tidak, sih?! Dari tadi kamu bikin aku pusing!"
Anggara berhenti, ia memandang Talia. "Aku nggak sabar, tahu! Mereka lama amat di dalam."
"Ini cuma bersalin biasa, Anggara. Bukan kayak dulu yang serba mendesak!"
"Tetap saja aku cemas. Istriku lama sekali di dalam!"
"Lebay." Shabita kembali menyandarkan diri.
"Kakak, mama di dalam lama!" keluh Dara.
Talia menghampiri. "Iya, sayang. Mama lagi menjemput adik kecil."
"Adik, kok, lama?"
"Hem, mungkin lagi di jalan." Talia mengedipkan mata memberi isyarat agar Anggara menyayangi Dara. Namun, Anggara hanya memandang tanpa mau beralih pada Dara. Talia kesal, ia melempar sendalnya tepat di kepala bagian belakang Anggara.
"Apa, sih?!" bentak Anggara sembari mengusap kepala.
"Ini!" tunjuk Talia dengan nada berbisik ke arah Dara. "Sayangi dia!"
Anggara menghela napas. Ia terpaksa datang dan merangkul Dara. "Dara capek?"
"Antuk!" rengeknya.
"Sini, tidur di pangkuan papa." Anggara membaringkan Dara.
"Kok, lama sekal?" gumam Talia. Ia gelisah.
Di dalam Shabita sedang berjuang. Mereka tidak tahu bila di bawah ranjang ada kepala yang menghirup darah bersalinnya. "Aduh sakit banget!" Ia beberapa kali berdoa. Namun, sakit itu makin menjadi sedangkan bayi belum jua lahir.
"Kenapa bayinya belum jua lahir? Harusnya dari tadi." Kepala bidan sedang berbisik kepada asistennya
"Nggak tahu saya, Bu."
"Masih lamakah, saya nggak tahan lagi?!" keluh Shabita.
"Bentar, sabar, Bu. Berdoa saja."
"Saya panggil suaminya saja. Biar tahu dia kondisi istrinya," kata asistennya. Ia lantas keluar dan menemui Anggara. "Bapak suami yang di dalam?"
Anggara menyerahkan Dara pada Talia. "Ya," jawabnya seraya berdiri.
"Istri, Bapak harusnya sudah lahiran dari tadi, tapi malah belum hingga sekarang. Terus darahnya mengalir deras, kami takut dia kehabisan darah."
"Saya harus apa?" tanya Anggara yang berubah cemas. Sesekali ia melirik pintu.
"Masuk, Pak. Coba Bapak kasih dorongan ke istri. Bila tidak juga berhasil kita terpaksa melakukan tindakan lain."
__ADS_1
Anggara mengangguk, ia mengikuti suster ke dalam. Di sana Shabita kesakitan. Keringat dingin mengucur deras. "Sayang," sebut Anggara sembari meraih tangan kanan Shabita.
"Hu hu hu.... Sakit Anggara! Ini lebih sakit daripada Dara!" rengek Shabita. Ia menangis menahan sakit.
Anggara mengecup kening Shabita kemudian berucap, "Kuat, ya sayang. Jangan menyerah."
"Enggak kuat!" teriak Shabita. Rasa tulang belakangnya terbuka semua, kemudian nyeri yang teramat parah. Kembali pinggangnya terasa nyeri. "Auh, sakit! Huh, hah, Ya, Allah!" Ia memegang erat genggaman Anggara.
"Terus, Bu! Jangan menyerah!" seru Kepala bidan. Ia telah siap di depan kaki Shabita.
Wajah Shabita menguning. Anggara cemas takut sekali. "Dok!" panggilnya.
"Tenang, Pak! Ini kita usahakan normal!" jawab asistennya yang kini sibuk menyiapkan perlengkapan untuk bayi.
"Anggara!" Shabita sesekali menghembus dan membuang napas. Ia kelelahan mendorong.
"Sedikit lagi, Bu! Itu kepalanya sudah terlihat!" seru Kepala bidan.
"Ayo, sayangku!" Anggara menguatkan genggaman dan merangkul kepala Shabita.
Uwe! Uwe! Lahirlah bayi perempuan cantik. Kuyang di bawah memandang marah. Lantaran dari tadi ia tidak berhasil menghisap janin Shabita.
Shabita melemas, ia diusap keningnya oleh Anggara. "Aku capek," keluhnya.
"Aku sayang kamu, Van. Makasih, ya," bisik Anggara.
"Bapak, bisa diazankan sekarang."
***
Dara termimpi, ia berada di sebuah rumah kosong. Hantu perempuan yang selalu mengusiknya sedang tersenyum. Ia menghampiri dan menggendong Dara.
"Kamu punya adik baru, Dara?"
"Iya, papa hali ini tunggu adik."
"Gitu, ya. Nggak takut papamu menjauh?"
"Papa cayang Dala."
"Iya, papamu sayaaang, banget sama Dara. Apa Dara sayang papa?"
"Cayang!" seru Dara kegirangan.
"Apa Dara yakin?"
"Kenapa?"
"Itu bukan papamu. Dia itu yang mengambil mamamu dari papa Dara dulu."
"Em?" Dara kecil mana mengerti dengan kata-kata barusan.
__ADS_1
Hantu itu mengambil tempat duduk di sofa. Ia memangku Dara. "Intinya, Dara bukan anak papa Anggara dan anak papa Anggara cuma adik kecil. Dara nggak disayang lagi kalau ada dia."
Dara merengek, ia tidak mau Anggara membuangnya hanya karena adik baru. "Gak, mau! Dala mau dicayang!"
"Kalau begitu Dala turut kataku, ya." Ia kemudian berbisik kepada Dara.
"Adik tidak papa?"
"Aman. Dia akan baik-baik saja. Pokoknya halankan dulu apa yang aku bilang tadi, ya?"
Dara mengangguk. Ia kemudian beralih mimpi. Ada Anggara di sebuah taman sedang merentangkan tangan. "Papa!" Ia berlari menerjang Anggara yang dengan cepat menyambutnya. Kini ia dalam gendongan Anggara.
"Hey, mama nggak diajak main?" goda Shabita.
Dara kemudian tertawa bersama Anggara. Ia hendak merangkul Shabita. Namun, Shabita menghilang. Kini tinggal dirinya dan Anggara. Ia tidak peduli. "Papa, Dala cayang, Papa."
"Papa juga saaaayaang, Dara." Anggara merangkul erat Dara.
Talia tersenyum memandang Dara yang kini tersenyum. Dipikirnya mungkin Dara senang memiliki adik baru. Padahal sebaliknya. Anggara di sana sedang mengusap lembut kening Shabita yang sedang menyusui bayi mereka.
"Dia mirip aku, ya?" Anggara memperhatikan wajah bayi.
"Kalau mirip tetangga?" goda Shabita.
"Kamu punya dendam sama tetangga?" tanya Anggara. "Apa sama Vanesa itu kamu dendam? Anakku jangan mirip dia."
Shabita tertawa pelan, ia geli mendengar pertanyaan Anggara. "Mungkin," jawabnya.
"Huh," desah Anggara.
"Enggak. Aku nggak pernah macam-macam selagi hamil."
Talia diizinkan masuk, ia membawa Dara. "Tuh, adik kecil!" tunjuk pada Dara disusui Shabita.
Dara memandang adiknya yang dibelai pipi kemudian dipandangi Anggara. "Papa," panggilnya.
"Sini, sayang. Lihat adik baru!" Anggara memintanya datang.
Dara menghampiri, ia dipangku Anggara. "Adik lucu," ucapnya sembari menusuk lembut pipi si kecil.
"Dara harus sayang sama adik, ya. Jaga dia," bisik Anggara.
Entah kenapa dada Dara berdesir, ia merasa sangat suka dibisik Anggara. "Papa, cayang Dala juga?"
Anggara mengeratkan rangkulan. "Semua anak papa, disayang semua. Lani dan Dara anak papa!"
"Lani?" tanya Dara sembari memandang wajah tampan Anggara.
"Itu Lani!" tunjuk Anggara pada adik Dara.
Dara memandang adiknya. Ia tersenyum kemudian mencium pipi Lani. "Lani, ini kakak."
__ADS_1
Talia menghela napas. Ia harus tetap di sana untuk memastikan semua aman dulu kemudian barulah kembali mengambil alih usaha papanya. Sedangkan Lee di sana sedang memikirkan Talia. Ia merasa rindu. Entah mengapa, mereka adalah sahabat sejak SMP, tetapi selama ini hanyalah sahabat tidak lebih. Baru ini jauh kemudian merindukan.