TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
129


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga tahun semenjak Anggara menikah dengan Shabita. Saat ini Shabita sedang mengandung tiga bulan, sedang sayang-sayangnya Anggara dengan istrinya. Dara sedang bermain di ruang tamu, tiba-tiba pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Ia memandang seorang perempuan yang kini sedang menatapnya. Berpakaian putih dengan rambut sebatas bahu. Berwajah pucat seraya melebarkan senyum, melambai mengajak Dara kepadanya. Dara yang masih berusia di bawah empat tahun, kini berjalan ke arah perempuan itu. Ia berjalan menuruni teras rumah yang tingginya cukup tinggi bagi anak seusianya.


"Ke mana anak itu?" gumam Shabita. Ia berjalan dari dapur menuju ke kamar. Dara tidak jua dilihatnya, ia kemudian berjalan ke ruang tamu.


Perempuan itu lenyap di saat Shabita menemukan Dara sedang berjalan di tengah lapangan. "Dara!" Shabita segera berlari. Ia terkejut melihat Dara bisa berjalan sampai di sana. "Kok, bisa pintunya terbuka sendiri?" Ia kemudian memperhatikan Dara yang kini memegang wajahnya.


"Mama, tadi ada olang," katanya. Khas bahasa balita yang baru belajar bicara.


"Siapa?" tanya Shabita seraya menggendong Dara dan membawanya masuk ke rumah. "Jangan keluar malam-malam. Gelap, nanti digigit kucing."


"Tadi ada olang, Ma. Olang!" Ia menunjuk ke arah luar, kemudian ke plafon. "Dia di sana!" rengeknya.


Shabita tidak melihatnya, ia mengawasi sesuatu yang ditunjuk Dara, kemudian mendekat. Bila ia menjauh dari apa yang ditunjuk maka Dara mengamuk dan menangis histeris, tetapi bila ia mendekat maka Dara akan diam dan bermain.


Ada yang aneh. Shabita tiba-tiba merinding, merasakan ada sesuatu yang mengganggu Dara. Ia kemudian berlari keluar rumah dan mendatangi rumah Bu RT.


"Mama, dia di atas!" tunjuknya pada puncak tiang di ujung rumah.


Shabita tidak jadi mengetuk pintu rumah RT ia menjauh dan berdiri di tengah lapangan sembari berdoa. Ia memandang lagi ke sekitarnya.


"Mama, dia di sana!" tunjuk Dara. Ia menangis meminta Shabita membawanya di bawah pohon.


"Jangan, Nak. Itu bukan temanmu, itu jahat!" bisiknya. Namun Dara tetap tidak mengerti. Ia menangis sejadi-jadinya.


Para tetangga mendengar, mereka keluar rumah untuk melihat. Saat memandang Shabita tengah kerepotan dengan Dara maka mereka mendatanginya.


"Dia kenapa?" tanya ibu berbaju biru.


"Ada olang di sana!" teriak Dara histeris. Ia menunjuk atap rumah Anggara.

__ADS_1


Mereka kemudian memandang ke sana. Tidak ada siapa-siapa kecuali burung hitam yang kini bertengger di puncak rumah.


"Itu Kuntilanak," bisik ibu itu pada Shabita.


Shabita berusaha menenangkan Dara. Ia diam saja, karena sudah tahu. Bahwa Kuntilanak itu bukan Kuntilanak biasa, itu adalah arwah orang mati penasaran akibat ilmu hitam. Bisa jadi juga bukan Kuntilanak, tapi Kuyang.


"Dia akan tetap mengejar walau kalian bawa anak itu." Bu RT kini ikut bersama mereka seraya meraih Dara dan menenangkannya.


"Lempar dengan batu!" seru seorang bapak berbaju biru bersarung kotak. Ia mengajak mereka melempar atap rumah dengan batu.


Burung itu dihujani dengan batu, tapi satu pun tidak mengenai tubuhnya sama sekali.


Anggara datang, ia heran mengapa rumahnya dilempari dengan batu. "Hey!" Ia melerai mereka dan merebut batu di tangan mereka.


"Ada burung, Pak! Burung aneh yang bikin Dara nangis!" tunjuk seorang gadis berpiayama putih.


"Anggara, sebaiknya jangan dulu di rumah itu. Bawa saja istri dan anakmu ke tempat lain," saran Bu RT. "Istrimu juga sedang mengandung, tidak baik bila di sana. Saya dan warga lain akan membersihkan rumahmu."


Anggara memandang Shabita yang sedang menenangkan Dara. "Saya ambil dulu pakaian mereka di dalam," katanya.


"Jangan! Sebaiknya pakai yang baru. Kita tidak tahu apa yang ada di rumahmu itu," cegah ibu berbaju biru bersanggul.


Anggara kemudian mengajak Shabita pergi dengan motornya. Dara masih menangis, ia tidak mau berhenti masih menunjuk ke belakang. Perempuan itu mengikuti dari belakang.


"Mama dia dicitu!" teriak Dara.


"Diam, Nak. Diam, jangan dilihat, jangan didengar!" perintah Shabita seraya menyembunyikan Dara dalam pelukannya. Ia tahu hantu itu mengikuti dari belakang. Namun, Dara masih saja menangis, bahkan kejang-kejang seperti ayan. Shabita panik, ia takut anaknya dirasuki. Ia menggerakkan Dara.


"Ada apa, Ma?" tanya Dara. Ia heran saat Dara tidak lagi menangis dan malah Shabita yang panik memanggil-manggil nama Dara.

__ADS_1


"Dara kejang-kejang!" adunya. Anggara akan berhenti, tapi dicegah Shabita. "Lajukan!" perintahnya.


Shabita masih membisiki Dara. Ia berdoa agar anak ini kembali sadar. Perempuan itu melesat cepat, nyaris meraih punggung Shabita. "Aku nggak rela!" teriak Shabita. "Aku nggak rela kamu ambil anakku!" teriaknya. Seketika perempuan itu berhenti dan menghilang. Barulah Dara terkulai lemas, ia tertidur dengan tenang.


Anggara mendengar sayup-sayup Shabita menangis. Ia menghentikan motornya saat tiba di rumah sesorang. "Kamu nggak papa, Dara gimana?"


Shabita menggeleng, ia memeluk Anggara. "Mungkin ini yang dirasakan ibuku saat aku bayi," ucapnya.


Anggara mengelus lembut punggung Shabita. "Sabar, kita sementara tinggal di sini dulu, ya."


"Rumah siapa ini?" tanya Shabita heran. Ia belum pernah tahu ada rumah di sekitar sini.


"Pamanku, dia baru membangun rumah ini. Baru pula ditempati," jawab Anggara. Anggara kemudian mengetuk pintu rumah.


"Eh, Anggara. Tumben datang, istrimu ini?" tanya seorang perempuan berbaju merah muda.


"Kita bermalam beberapa hari bolehkah?" tanya Anggara.


"Masuk. Boleh saja, kamarmu juga ada di sini. Sengaja dibuat bila sewaktu-waktu kamu main kemari."


Shabita memandangi tempat itu dengan takjub. Rumah ini sangat mewah di dalam walau di luar cukup sederhana. "Maaf, Tante. Ngerepotin," kata Shabita.


"Enggak papa. Oh, ya. Om kamu lagi tugas di perbatasan, jadi Tante tinggal berdua sama Gina, deh."


Tantenya Anggara mengajak Shabita dan Anggara menuju kamar tepat di tengah kamar mereka. "Ini dia. Moga betah, ya." Ia tersenyum kemudian mencubit pelan pipi Dara yang tertidur pulas. "Mau makan, mandi, atau apa pun, kerjakan sendiri, ya. Kalian bebas di sini."


Anggara mengajak Shabita masuk setelah tantenya pergi. "Kamu lelah? Istirahat dulu, ya. Aku yang jaga Dara malam ini," kata Anggara seraya mengusap perut Shabita.


Shabita menurut, walau di hati masih was-was bila hantu itu akan mengganggu Dara kembali. Ia berbaring sementara Anggara mengganti pakaiannya dengan baju biasa.

__ADS_1


__ADS_2