
Malam hari di sebuah rumah sederhana dengan banyak rumah penduduk di sekitarnya. Samma yang belum jua tertidur sedang menunggu ibunya terlelap. Sukma sekarang sedang merapikan baju di dalam lemarinya.
"Ibu, kenapa tidak tidur. Ini sudah jam 12 malam, Ibu?" tanya Samma. Nampak gadis itu tidak sabaran menunggu ibunya untuk segera terlelap.
"Ibu sedang sibuk merapikan baju-baju ini. Banyak rayap yang menempel di baju ibu," jawabnya.
"Besok saja, Bu. Besok Samma bantu mencucinya di kali," kata Samma seraya bangkit dari duduknya
di tepi ranjang dan sekarang sedang menuntun ibunya agar segera tidur. "Nanti Ibu sakit lagi," tambahnya.
"Tapi besok kamu kuliah pagi," elak Sukma.
"Sempat kok. Sekarang tidur ya," bujuk Samma seraya menyelimuti Sukma yang sudah berbaring di ranjang.
"Em," gumam Sukma. Matanya mulai terpejam.
Samma menghitung dengan jarinya sebanyak lima puluh kali. Setelah selesai, ia menggerakkan lengan Sukma. Karena Sukma dirasa telah terlelap, maka Samma segera mengeluarkan sebuah botol berisi minyak dan segera diteteskan ke leher ibunya. Secara ajaib leher itu terbuka dengan sendirinya, darah menetes di antara luka-luka itu. Lambat, namun pasti, sedikit-sedikit mulai terpisah dari tubuhnya.
"Berhasil!" kata gadis itu penuh dengan semangat.
Kini kepala Sukma terlepas sempurna dan sekarang terbang melayang di atas tubuhnya
sendiri. Rambut yang panjang tergerai serta taring yang runcing terlihat saat ia mengikik.
Samma tidak takut sama sekali, ia bahkan menatap mata merah menyala itu dengan perasaan bangga.
"Kau kubangunkan untuk menjalankan tugasmu. Balaskan dendam ibuku!" perintahnya.
"Aku lapar, aku harus mencari makan terlebih dahulu," kata Kuyang Sukma.
"Baik. Aku akan memeliharamu, asalkan kamu mau menjalankan perintahku," kata Samma.
"Aku butuh darah segar. Aku butuh sekali untuk menambah kesaktianku," pintanya.
"Pergilah dan carilah sendiri. Aku akan menjaga tubuh ini hingga kaukembali," kata Samma.
Sukma mengikik dan segera terbang ke atas menembus plafon rumah Samma. Kelap-kelip antara jantung dan usus seperti bintang yang bersinar di malam hari. Melayang mencari mangsa, mengintai setiap rumah yang memiliki bayi baru lahir atau seorang ibu yang hamil.
Tok, tok, tok. Suara pintu kamar Samma diketuk dari luar. Samma segera membuka pintu itu sedikit, dan tidak berani membuka lebar karena takut diketahui oleh orang lain bahwa Sukma telah menjadi Kuyang kembali.
"Ada apa, Kek?" tanya Samma.
__ADS_1
"Ibumu, baik-baik saja?" tanya Datuknya.
"Iya, Kek. Sekarang ibu sudah tidur," jawab Samma.
"Tadi kakek melihat ada sesuatu yang terbang dari atap rumah kita. Kakek hanya takut ibumu memakai kembali minyak itu," katanya.
"Tenang, Kek. Ibu sekarang sedang tidur," kata Samma.
"Kalau begitu tolong jaga ibumu, ya," pesannya sebelum meninggalkan Samma.
Samma segera mengunci pintu setelah kakeknya pergi. Ia memerbaiki selimut ibunya yang terbuka. Sementara di luar sana, Kuyang Sukma sedang mengintai sapi yang berada di dalam kandang warga. Ia terkikik dan segera terbang menghampiri sapi itu. Si sapi tidak tenang dan bersuara untuk membangunkan majikannya,
tetapi rupanya mereka telah larut dalam mimpi. Akhirnya sapi pun menjadi santapan Kuyang tersebut. Setelah kenyang Sukma meninggalkan mayat sapi yang perutnya telah habis dimakan olehnya. Ia kembali ke rumah Samma dan menyatu lagi di tubuhnya. Samma tersenyum dan menyeka darah yang berada di wajah ibunya yang sedang tertidur.
****
Kasus hilangnya bayi menggemparkan di kota. Bagaimana tidak, mulai dari Samarinda kota hingga ke sekitarnya selalu ramai diperbincangkan tentang hantu Kuyang yang memangsa bayi baru lahir. Anggara dan rekannya dibuat
pusing karena menerima laporan warga, mereka dituntut untuk segera bergerak sebelum ada bayi atau ibu hamil yang diganggunya. Mengalahkan kasus pembunuhan, perampokan dan pencurian, kasus Kuyang kini booming dan begitu viral diperbincangkan. Baik di sosial media maupun dari mulut ke mulut. Pihak kepolisian juga tidak bisa berbuat apa-apa jika warga berhasil menangkap dan menghakimi hantu jadi-jadian itu.
"Enggak nyangka aku, Ang. Kukira Kuyang itu cuma ada di Banjarmasin saja. Ternyata di sini juga ada," kata Ali.
lebih banyak dari di sana. Kalau di provinsi lain juga ada ... cuma namanya yang berbeda-beda di setiap daerah."
"Kayak ... Leak dan Palasik ya?" Irwan ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka berdua.
"Kalau di sini namanya Palasit bukan palasik," jawab Tono yang sambil mengetik sempat-sempatnya menyahuti.
"Tapi mereka sama, 'kan?" tanya Ali.
"Sama, cuma beda tingkat kesaktian saja," jawab Anggara.
Seorang ibu datang melapor sambil menangis didampingi oleh keluarganya. "Pak,
anak di dalam perut saya hilang. Saya curiga anak saya diambil Kuyang," kata Ibu itu disertai derai air mata.
"Tenang, Bu. Tolong jelaskan pelan-pelan, jangan sambil menangis seperti itu. Saya tidak dapat mendengar dengan jelas suara Ibu," kata Tono.
"Saya saja yang menjelaskan, Pak." Seorang lelaki berusia dua puluh delapan
__ADS_1
tahun dengan mengenakan kemaja kotak-kotak berbicara pada Tono.
"Silakan," kata Tono.
"Begini, Pak. Saya ini suami dari ibu ini, dan saya mau melaporkan tentang kasus
hilangnya janin kami yang ada di perut istri saya. Saya merasa aneh karena kemarin perut istri saya yang usia kandungannya jalan lima bulan tiba-tiba kempis begitu saja dan kami sudah periksa ke bidan puskesmas
yang biasa menangani istri saya ini, katanya istri saya janinnya sudah tidak adalagi alias lenyap begitu saja." Panjang lebar ia menjelaskan hingga Tono hampir mengantuk dibuatnya.
"Apa yang membuat Anda mencurigai kalau Kuyang yang mengambil anak kalian?"
tanya Tono setelah menggeleng kuat-kuat kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuknya tadi.
"Sekarang lagi viral berita itu di sini, ditambah lagi sebelum kejadian ... istri saya sempat mendengar suara tawanya di telinganya," jawab si Suami.
"Betul itu, Bu?" Tono beralih pada ibu tadi.
"Iya, Pak. Sebelum anak saya hilang, saya mendengar suara tertawa seperti Kuntilanak tepat di telinga saya. Saat saya menoleh dia tidak ada, tapi pas besok paginya saya merasa aneh karena tiba-tiba saja saya merasa
perut saya kempis tidak buncit seperti saya hamil," jawabnya. Ia kinitelah mampu meredakan tangisnya.
"Baiklah, laporan kalian akan segera kami proses. Tolong seandainya bila kalian mencurigai seseorang atau melihat segera telepon kami. 24 jam kami siap melayani," kata Tono.
Setelah selesai mereka berdua segera pergi dari sana. Seorang pelapor datang lagi dengan wajah marah. Lelaki itu dipandangi Anggara yang sedang duduk di kursinya.
"Pak, ternak-ternak saya pada mati. Saya curiga Kuyang ******* itu pelakunya." Pemuda itu marah-marah pada Tono.
"Silakan duduk dulu, Pak. Buat laporan dengan baik dan jangan mengumpat seperti itu di depan kami," pinta Tono secara sopan.
Pemuda itu duduk dengan cepat seraya memukul meja. "Pokoknya saya mau kasus ternak saya itu diselesaikan segera. Saya bisa bangkrut kalau terus begini!" katanya penuh emosi.
"Baik, Pak. Akan segera kami proses, dan apabila Bapak mencurigai seseorang atau sesuatu, tolong kabari kami," pesan Tono.
Setelah mendapat janji dari Tono, pemuda itu kemudian pergi dengan wajah yang masih menyimpan rasa kesal karena musibah yang menimpanya. Anggara dan rekannya hanya mampu menghela napas, dan itu artinya mereka harus kerja lagi malam nanti.
__ADS_1
Capek bersambung dulu pengen nguya...eh, Bobo maksudnya. Jangan lupa like dan rate kalau bisa vote. Harus ya, lagi edisi malak sopan nih