
Jenazah Arsa dan Vanesa tertutup kain putih di atas dipan Rumah sakit. Nampak para wartawan dan aparat dari kepolisian sedang berada di
sana. Yang wartawan sedang mengambil gambar mereka, yang polisi sedang sibuk melakukan penyelidikan. Terlihat Dokter Deva sedang berada di antara ranjang jenazah Vanesa dan Arsa.
"Sampai kemarin pasien dalam keadaan sakit, namun tidak
menunjukkan gejala kematian. Sedangkan yang satunya dalam keadaan baik-baik saja, setiba datang ke sini untuk membesuk pasien."
"Bisa dijelaskan kronogolinya?" tanya perempuan berkacamata yang menjadikan handphone-nya sebagai alat perekam.
"Pokoknya sangat tidak bisa dijelaskan. Kami masih menunggu hasil penyelidikan," terangnya.
Merasa belum puas dengan jawaban Dokter Deva, mereka
mendatangi Anggara. Anggara diam melamun tidak sadar ada mereka, setelah ditepuk bahunya oleh Dokter Deva barulah ia sadar dan segera memandang mereka semua.
"Bukannya, Bapak ada di sini saat itu terjadi. Terus bagaimana ceritanya?" tanya pemuda berbadan kurus berkemeja biru. Usianya
tidak jauh berbeda dari Anggara.
"Saya tidak paham. Nanti saja," tangkis Anggara sambil menjauh.
"Tapi, Pak-"
"Saya akan selidiki dulu. Kalau sudah dapat baru saya beritahu," jawab Anggara cepat kemudian berlalu.
Arwah putih berada di sana, menatap tajam pada jenazah Vanesa. Terlihat ia sedang mengawasi tubuh tidak berdaya itu. Garis polisi dibentang mengurung seluruh lorong dekat dengan kejadian. Seluruh jawaban
wartawan diambil alih oleh Alidi. Komisaris juga berada di sana sedang mengatur penyelidikan mereka, sementara Anggara telah berada di luar gedung Rumah sakit. Terduduk di sana dan hanya mampu mendesah pasrah. Tidak menduga sahabatnya akan tiada dengan cara yang sungguh menyedihkan seperti itu. Teringat jelas saat mereka masih asyik mengobrol pagi kemarin.
"Cinta, kenapa datang saat benar-benar basah, kemudian pergi begitu saja?" desah Anggara, mengingat paras ayu milik Vanesa. Ia tersenyum sebentar kemudian mengurai airmata kecewa campur duka. Anggara meraup
wajahnya dengan kedua jemari tangan dan menangis terisak. Bahunya bergetar dan terdengar isak darinya.
Alidi merengkuh bahu sahabatnya, mencoba menguatkan dengan
itu. "Sudah Anggara, tidak bisa kita sesali semua sudah terjadi," nasehatnya.
__ADS_1
"Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa begitu? Dia baru saja bertemu semalam sekarang pergi. Vanesa juga begitu ..." ucapannya putus berganti isak histeris. Tak sanggup lagi berucap.
"Kaujatuh cinta?" tanya Alidi dengan kerutan dahi.
Anggara mengangkat wajahnya dan memandang Alidi. Ia tidak bicara, diam seribu bahasa, namun saat tiba-tiba menyerang Alidi dengan pelukan
erat, pemuda itu menunjukkan bahwa pertanyaan Alidi telah dijawab iya oleh
Anggara. Alidi mendesah dalam duka mengetahui cinta yang terlepas begitu saja dari rekannya. Cinta itu kadang bisa dimiliki namun belum tentu bisa
dipersatukan. Kadang yang hidup belum tentu berjodoh di dunia. Mungkin ini kisahmu. Akhirnya harus menunggu atau mendatangi jodoh yang telah pergi.
*****
Sudah beberapa hari belum ada titik temu dan tidak ada yang keberatan dengan kematian Vanesa, itu adalah hal yang lumrah mengingat gadis
itu adalah yatim piatu. Akhirnya tepat pada pukul 10:23 pagi, Vanesa
dimakamkan. Anggara ada di sana membantu penguburannya. Vanesa dimakamkan secara damai.
"Ya, Pak!" jawab Adi. Pemuda yang mengenakan seragam polisi itu memandang Anggara.
"Walaupun tidak ada komplain dari pihak keluarga gadis itu, tetapi kepalanya harus segera disemayamkan bersama tubuhnya juga," Anggara menatap kuburan merah di hadapannya.
"Ya, akan diusahakan agar kematiannya sempurna." Adi menghela napas seraya menepuk bahu Anggara.
Malam semakin larut, mereka telah meninggalkan pekuburan umum. Di tempat lain di waktu yang sama, sebuah kepala mengintai sebuah rumah. Rumah yang megah berhiaskan taman mini bertanamkan bunga mawar berduri serta kaktus. Beberapa kali mencoba masuk namun ragu, takut tertusuk duri tanaman.Terbangnya meninggi lagi agar melampaui batas tanaman. Kini telah mencapai jendela rumah, memandang dengan cara menempelkan wajahnya pada kaca jendela. Terlihat seorang perempuan sedang menjahit pakaian untuk bayi yang belum dilahirkannya. Ya, dia sedang mengandung dan usia kandungannya baru berjalan lima bulan. Kuyang menerobos jendela mencoba meraihnya dengan melayang
perlahan. Bau amis dirasakan indera penciuman ibu muda itu. Hidungnya
mengendus, kemudian ingin muntah.
"Huek!" Bau apa ini? "Bau darah segar
bercampur bau busuk?!
Perasaan ngeri berdesir di aliran darahnya, memompa jantung lebih cepat, membuatnya berpikir ada sesuatu yang mengusik di sekitar rumah. Kuyang itu hanya berjarak sedepa dari kakinya. Perempuan itu heran, sempat berkerut dahi kemudian berdiri. Saat berdiri ia menjauh dan di bawah kasur yang ia duduki tadi terlihat sosok yang keluar dari sana.
__ADS_1
"Ah!" Tersentak, berteriak ketakutan. Segera berlari ke luar kamar dan mencari bantuan. "Ane! Ane!" panggilnya pada seseorang di sana.
Kuyang melayang lebih cepat, melesat ingin menyerang punggung si ibu muda. Menyadari bahwa bukan saatnya diam saja, maka si ibu
segera meraih apa pun yang ia bisa gapai untuk melempar.
Prang! Trang! Suara benda dilempar. Ibu muda berlari cepat menuruni anak tangga loteng kamarnya. Kuyang yang sempat menjadi sasaran lempar
olehnya terlihat lebih ganas lagi. Beberapa kali meraung dan mencoba meraih lengan perempuan itu dengan mulutnya. Usus berjuntai di antaranya mengalirkan darah segar yang membasahi lantai yang dilaluinya.
"Ya, Tuhan. Ane! Ane!" teriaknya lagi. Sudah sangat kelelahan dan merasakan sakit luar biasa pada perut dan punggung bawahnya. "Agh! Sakit, Ane!!" Sambil berlari seraya memegang perutnya. Keringat dingin keluar dari seluruh tubuh. Telah mencapai lantai dasar ia segera berlari sembari membuka semua pintu, berharap menemukan orang di rumah
itu.
"Aw!" Prang! Petir menyambar membuat kaget dan terjatuh. Perempuan itu berusaha bangkit, tetapi ia nampak terkejut melihat
darah dan air mengalir di antara dirinya.
"Anakku?!" Tidak percaya kalau dirinya akan mengalami hal menyedihkan hari ini. Ia memandang ke depan saat Kuyang itu merendah dan mencapainya.
"Hihihi ...." Usus menjuntai itu kini mendarat di lantai. Diseret olehnya sehingga darah segar yang ada pada slang makanan pun menodai lantai. "Nangka masak! Nangka masak!" ucapnya dengan suara serak.
"Ti-tidak! Jangan, jangan!" Perempuan itu beringsut mundur sekuat sisa tenaganya.
"Hihihi ...." Terkikik gembira menampakkan taring miliknya. Matanya memerah.
"Ane!" Berusaha mendapatkan pertolongan. Memandang ke sana-kemari mencari jalan dan ingin meraih sebuah benda yang ada di sekitarnya.
Petir menyambar lagi. Kuyang itu maju dan sudah mencapai betisnya. Makin panik dan ketakutan.
"Tolong-tolong!" Menangis, meratap tidak mampu menahan lagi.
Hujan semakin deras membasahi bumi. Di kuburan Vanesa suasananya mencekam. Penjaga kuburan sedang asyik merokok di posnya. Seorang
bapak berusia empat puluh tahun, mengenakan jaket kulit warna hitam dan celana hitam kain yang melekat di tubuhnya. Kuyang melesat cepat mencari kuburan Vanesa. Matanya mencari-cari dengan ngeri, setelah dapat ia langsung melesat lurus
dan masuk ke dalam sana. Kepala itu kembali menyatu pada tubuhnya.
__ADS_1