TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
70 SHABITA VS RATU KRASUE


__ADS_3

Shabita berjalan memasuki sebuah Rumah sakit. Ia berjalan lurus tanpa memandang ke kanan dan ke kiri. Gadis itu berbelok setelah beberapa meter, tujuannya berada di kamar bersalin. Seorang ibu sedang proses bersalin di dalam sana. Shabita tersenyum dan menungguinya, ia menghirup udara sedalam-dalamnya kemudian membuka mata. Setelah selesai barulah beranjak dari sana.


"Hah, Dok!  Bayinya tidak ada di dalam!" lapor asistennya. Ia sempat memeriksa ke dalam selimut dan ke kolong, bila-bila bayi itu keluar dan melompat tanpa sepengetahuannya.


"Perasaan tadi belum keluar, masa tidak ada?" tanya Dokter heran. Ia masih merasakan baru saja meraba perut pasien yang berisi dan sekarang kempis sama sekali, suara bayi pun tidak terdengar oleh mereka.


"Dok, Anak saya kenapa?!" tanya Ibu yang bersalin itu panik lantaran mereka dari tadi kehilangan bayinya.


"Anda tenang, kami sedang mencari," kata Suster.


"Katakan, Dok. Anak saya kenapa?" tanyanya. Ia gusar melihat wajah gusar mereka nampak mencurigakan.


"Tenang, tenang. Nanti kita bicara, istirahat dulu, ya."


"Dok, bagaimana ini, anaknya hilang secara ajaib, apa yang harus kita katakan pada pasien?" bisik asistennya.


"Aduh, saya juga tidak paham kenapa bayi itu hilang sebelum dilahirkan."


"Apa?! Anak saya hilang!" pekiknya. Ia segera bangun dari berbaringnya dan melihat perutnya yang telah kempis. "Tidak! Kalian harus tanggung jawab!"


"Sabar, Bu. Tenang, Bu!" Dokter mulai panik lantaran pasien berteriak dan mengamuk memanggil suaminya.


Shabita ke luar dari Rumah sakit, ia sempat meraih sebuah selendang yang dipakai oleh orang yang melewatinya di jalan. Selendang biru itu ditariknya dengan cepat agar yang memiliki tidak menyadari perbuatannya. Setelah jauh, barulah seorang gadis berketurunan India meraba lehernya dan kehilangan selendang miliknya. Shabita tersenyum melihat kebodohan mereka, ia berbelok ke jalan sempit dan membuka lebar mulutnya hingga cukup untuk memuntahkan seorang bayi. Bayi itu menangis saat disangganya dengan menggunakan selendang tadi. Dibalut dan digendong olehnya dalam perjalanan.


Mereka memandang Shabita yang berjalan sendiri sambil menggendong bayi mungil yang tersiraf oleh guna-gunanya. Tiga orang preman menghalanginya dan memandang Shabita kemudian bayinya.


"Bawa bayi malam-malam, habis nyulik apa kabur dari penyiksaan suami, nih?" goda salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Cantik-cantik, kok bawa bayi. Sini saya temani," tawar yang satunya lagi sambil mencolek dagu Shabita.


"Sini anaknya kita yang pegang, kamu ikut kita senang-senang."  Salah seorang dari mereka ingin meraih bayi dalam kuasa Shabita.


"Jangan menyentuhnya," ancam Shabita ketika bayi itu akan diraih.


"Hey, jangan sok jual mahal! Cepat ikuti kami kalau ingin selamat!" ancam yang bertubuh kurus dengan pisau.


Shabita bukannya takut malah ia mendekat dan menaruh wajahnya ke pundak pemuda itu. "Agh!" jerit kesakitan saat lehernya tiba-tiba digigit gadis itu.


"Apa itu?!" tanya dua temannya panik. Saat melihat darah di leher sahabat mereka marah dan hendak menyerang Shabita. Namun, urung lantaran gadis itu menatap mereka dengan pandangan mengerikan. Matanya merah menyala dan taringnya menghitam.


"Va--va-vampiiir!" Mereka lari tunggang-langgang.


Shabita menjulurkan lidahnya yang panjang untuk membersihkan wajahnya dari noda darah. Ia meninggalkan jenazah korbannya yang terkapar di tanah. Seorang wanita cantik berusia empat puluh tahun, berbaju hitam ketat. Muncul ke hadapannya. Sedang menatap Shabita dengan dendam di matanya, ia mendatangi Shabita yang berhenti karena dirinya.


"Rupanya ini rupamu, pantas anakku membantahku kemarin!" sindir perempuan itu.


"Apa sebenarnya silang sengketamu padaku, hingga terus menghantui dan merencanakan pembasmian atas diriku?" tanya Shabita.


"Karena anakmu akan jadi penerus Toni. Aku tak suka itu!" tunjuknya pada perut gadis itu.


"O, begitu rupanya," kata Shabita sambil menyipitkan mata. Ia tersenyum menghina perempuan di depannya. "Sekarang maumu?" tanyanya.


"Mengajakmu berkelahi seperti yang sudah kamu koarkan pada putraku!"


"Jadi dia anakmu," sindir Shabita. "Baiklah!" Shabita membuka lebar mulutnya dan menelan bayi dalam gendongannya. Ia tersenyum setelah menyimpannya.

__ADS_1


Perempuan tadi menyiapkan dirinya, ia berlari cepat siap menerkam Shabita dengan cakarnya. Shabita melesat, hilang dari pandangan perempuan itu. "Di mana dia?" gumamnya sambil melihat ke sana-kemari.


Shabita berdiri di atas tiang listrik, sedang terkikik melihat kelengahan musuhnya. Perempuan itu mendongak ke atas dan segera menyusulnya ke sana. Namun, Shabita secara gesit melompat ke tiang listrik di seberangnya. Perempuan itu mulai geram, ia mengikuti Shabita ke sana.


"Jangan lari!" bentaknya saat Shabita melompat lagi ke tiang di ujung jalan sana.


Ia mulai marah dengan sikap pengecut gadis itu, tanpa menyadari bahwa Shabita telah menghimpun tenaga api untuk menembaknya. Mata gadis itu bersinar merah, membuat perempuan itu terkejut karena dari sinar itu Shabita menembakkan sebuah api ke arahnya. Jgar! Api membakar tiang listrik dan menyambar ke rumah dan jalan yang dekat dengannya. Beruntung perempuan itu segera sigap dengan berlari cepat menghindari sambaran listrik yang mengarus ke arahnya.


"Hihihi ...." Shabita tertawa melihat sang Ratu kepayahan menghindari kabel listrik putus yang seperti cambuk mencari mangsa untuk dihisap darahnya.


Shabita melayang di udara, menghindari sengatan listrik yang nyaris menyambar ke arahnya. Rumah dan pepohonan terbakar, mereka tumbang satu per satu.


"Akan kubuat kamu menyesal!" teriaknya. Ia kemudian melompat tinggi ke mendatang Shabita yang sedang menyiapkan cakar beracun miliknya. "Rasakan ini!" Perempuan itu menyerangnya secara membabi buta. Shabita menghindar dan menangkis. Perempuan itu menendang perut gadis itu, ia ingin Shabita kesakitan dan mengambil kesempatan untuk menyerang lagi.


Shabita termundur, dan perempuan itu terjatuh ke bawah. Ia sigap mendarat dan kembali lagi melompat untuk menyerang kembali. Shabita yang marah lantaran perutnya ditendang, kini memanjangkan kuku hitam miliknya yang meneteskan darah hitam pekat bagai oli yang mampu melelehkan baja sekalipun.


Apa itu? Kenapa dia bisa mempunyai kekuatan seperti itu? Ratu dari para Krasue menjadi panik melihat kesaktian Shabita. Ia mengawasi gerak-gerik gadis itu, takut kalau Shabita menyerangnya secara tak terduga.


"Beraninya kamu menyentuh bayiku. Apa kamu bosan hidup lama?! Kamu pikir aku lemah, aku tidak seperti yang kamu kira!" bentak Shabita. Gadis itu menunjuk ke arah musuhnya. "Mati!" tegasnya. Ia maju dengan kecepatan kilat langsung mencengkram leher musuhya.


"Egh!" Perempuan ini berusaha melepaskan diri dari lahar panas yang dihasilkan dari tetesan darah yang mengalir dari kuku Shabita. "Oh! To--long!" Ia menjerit kesakitan saat kuku menembus kulit leher dan tetesan darah hitam mengenai pundaknya. Berasap dan berlubang pundak itu.


"Jangan berurusan denganku bila tidak mau sial!" bisiknya sambil membuka mulut lebar-lebar.


"Agh!" erang kesakitannya saat Shabita mengoyak lehernya dan setelah puas, ia menghempaskannya ke tiang listrik yang menyengat. Secara cepat listrik menyambar dan habislah darah Ratu terhisap oleh arus listrik tersebut.


Shabita membuka lebar mulutnya dan mengeluarkan bayi tadi. Ia menggendongnya dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


__ADS_2