TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
145


__ADS_3

Esok harinya Dara menutupi lehernya dengan kerah baju. Ia duduk di meja makan sembari memandang diam-diam Shabita.


"Apa kamu sudah baikan? Kalau tidak izin saja tidak masuk kampus hari ini," saran Shabita sembari menyajikan sepiring makan untuk Lani juga Dara.


Lani melirik Dara. "Kakak, sakit?" Ia memandang wajah pucat Dara.


"Tidak. Cuma flu dikit."


"Minum obat, Kak."


Anggara memandang Lani. Ia menyuap makan sembari tangannya meraih jemari kiri Dara yang bebas di bawah meja. "Makan, Nak."


Dara memandang Anggara. Ia mulai menyuap makannya. Shabita memperhatikan perubahan Anggara pada Dara. Aneh pikirnya. Hingga mereka tiba di kampus pun Lani yang telah tiba lebih dulu memandang Dara.


"Kakak lebih baik pulang." Ia cemas.


"Kakak baik saja, Lani," jawab Dara sembari mencium kening adiknya sebelum Lani keluar dari mobil.


"Pa, Kak. Lani masuk kelas," pamitnya.


"Belajar yang rajin," pesan Anggara. Kini mereka hanya berdua saja di mobil. "Kalau sakit lebih baik kita pulang."


"Jangan!" Dara refleks memegang lengan Anggara. Ia sadar kemudian segera melepaskan. "Dara takut sendirian, takut berubah," jawabnya lirih.


"Papa nggak mau kamu kenapa-kenapa, Dara. Kalau kamu sakit papa yang repot."


"Dara nggak bisa sendirian di rumah. Dara takut sangat."


"Ada mamamu."


Dara memandang Anggara yang kini mengemudi. "Sebenarnya siapa Dara, Pa?"


"Jelas anak kesayangan papa, dong."

__ADS_1


Dara ingin membahas lebih, tapi takut Anggara marah padanya. Akhirnya ia hanya diam. Mobil mereka tiba di kampus. "Dara ke kelas, Pa." Dara mencium pipi Anggara kemudian keluar. Ia melambai sembari memaksakan senyum. Saat mobil Anggara menjauh, wajahnya kembali sendu.


"Hey," tegur Bagus sembari menyenggol lengan Dara.


"Kamu lagi. Bosan aku!"


"Cih, sok enggak suka." Ia meraih tangan Dara kemudian mengajaknya ke kantin.


"Eh, aku mau taruh tas dulu!" protes Dara.


"Hari ini kamu mau makan apa? Aku yang traktir." Ia menepuk dada.


"Nggak mau makan. Pengen di kelas!" Dara ingin berbalik, tetapi dicegah dengan ditarik kemudian dipaksa duduk.


"Aku pesan makan dulu! Awas kalau kamu pergi. Bunuh!"


"Ngeri, main bunuh," ejek Dara.


Bagus segera menuju ke bagian pemesanan makan. Sementara Dara kini menyalakan ponselnya. Ia menggulir layar ponsel untuk membaca pesan yang masuk. Hanya pesan dosen dan beberapa grup. Ia kemudian salah menyentuh icon galeri. Ia ingin keluar dari menu tersebut. Namun, ia menemukan foto Anggara. Ia ingat sering memfoto Anggara bersama Shabita. Ia memandang fotonya kemudian tersenyum sembari mengingat apa yang Anggara lakukan semalam padanya. Tak sadar ia menyebut, "Anggara."


Dara meluruskan duduknya. "Papaku," jawabnya seraya meraih mangkuk berisi sup.


"Kamu menyebut papamu nama?"


Dara mengaduk-aduk supnya. "Tidak. Hanya senang saja menyebutnya bila sedang sendiri begini," jawabnya jujur.


Bagus memperhatikan wajah Dara. "Apa kamu menyukai papamu sendiri?"


Dara terhenti dari kegiatan menyuapnya, tetapi hanya sesaat. Ia kemudian menyuap makannya. "Kamu sembarangan ngomong."


"Bisa jadi." Bagus meraih sambal kemudian menambahkan pada supnya. "Kalau dilihat Papamu awet muda juga. Ganteng juga baik."


"Tumben muji. Jangan-jangan kamu yang naksir dia," sindir Dara seraya tersenyum miring.

__ADS_1


"Berperang, dong?" godanya. "Lagian aku cuma bercanda. Masa, sih kamu naksir bapak sendiri."


Dara diam, ia melirik kanan kirinya. Bagus makan sembari memandang wajah Dara. Gadis ini sadar dipandangi oleh Bagus, tetapi ia tidak peduli.


"Kamu belum mau nerima cintaku, ya?"


Byur! Dara menyemburkan nasinya. Pas mengenai wajah Bagus. Pemuda itu meraih tisu untuk menyapu wajahnya. "Sorry, habisnya kamu ngomong gitu, sih!" Dara merasa tak enak hati memandang wajah Bagus yang masam.


"Udah biasa disembur gini. Biasanya langsung kubunuh. Untungnya kamu yang nyembur, kalau orang lain udah kutanam di belakang kantin ini dia," katanya sembari membuang tisu dengan kesal ke meja.


Mau tidak mau Dara tertawa. Ia merasa terhibur dengan kelucuan Bagus bicara. Pemuda itu memiliki daya humor yang cukup tinggi.


"Ketawa saja terus, sampai tewas!" omelnya. Ia kemudian kembali makan.


"Mulutmu bisa tidak diam! Sekali bicara bikin sakit perut." Dara membentak, tetapi wajahnya sedang menahan geli dari rasa ingin terawa.


Bagus mengunyah makanannya. Ia memandang Dara yang kini memandangnya. "Kemarin mama-papamu menelepon, tapi aku nggak angkat."


"Oh, itu aku kemogokan di jalan jadi telat. Makanya mereka cemas."


"Kukira mereka nelepon buat minta aku nikahin kamu cepat. Aku sih, siap aja, tapi nafkahin kamu aku belum mapan. Tunggu abangmu ini punya pekerjaan, ya."


Dara melempar tisu yang dibuang tadi ke dada Bagus. Dengan sigap pemuda itu menangkap kemudian akan melempar pada wajah Dara. Gadis itu memejamkan mata karena takut. Namun, Bagus menaruh tisu, ia lantas mengusap pipi Dara. Dara membuka mata, ia terpana dengan perlakuan Bagus padanya.


"Uh, cayang!" Tiba-tiba Bagus mencubit keras pipi Dara.


"Bagus, sakit!" Dara menepis. Ia mengusap pipinya yang merah. Dara kembali melempar tisu pada Bagus.


Pemuda ini memiringkan tubuh. Akhirnya tisu mengenai makanan orang di belakangnya. Dara segera berpura-pura makan sementara Bagus berpura-pura bicara.


"Asam! Siapa orang aneh yang lempar tisu ke nasiku?!" Pemuda bertubuh gemuk ini berdiri. Ia memandangi semua pengunjung kantin. "Siapa yang melempar ini?!" serunya.


Dara dan Bagus menunduk. Mereka saling pandang kemudian tertawa diam-diam. Saat si gemuk memandang mereka. Dara dan Bagus berpura-pura serius mengobrol.

__ADS_1


"Awas saja bila kutemukan. Habis pokoknya!" Ia mengancam semua orang yang tidak peduli dengannya. Ia kemudian duduk kembali.


Dara menutup mulutnya sembari tertawa. Ia menyepak kaki Bagus. Pemuda itu membalas pula.


__ADS_2